Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 152


__ADS_3

"Bunda," Zie yang baru saja datang bersama Sinta langsung berlari untuk mendekati Ziva.


"Anak Bunda," Kata Ziva tanpa berjongkok.


"Bunda Zie, duduk cini," Zie menunjuk paha Ziva dan ingin di pangku.


Sinta duduk di sofa juga, kini mereka semua berada di rumah Arman yang seminggu yabg lalu sudah siap untuk di huni, rumah milik Arman terlihat begitu mewah dan sudah di bangun sebelum ia menikah dengan Seli. Sebab Sinta sudah mengatakan pada Arman untuk mempersiapkan rumah terlebih dahulu barulah menikah.


"Zie pangku Ayah aja ya," Ziva tidak bisa lagi memangku Zie walaupun usia kandungannya masih eman bulan, tapi tetap saja kandungannya sudah sangat besar.


"Enda, Zie cama Bunda," Zie sudah sangat rindu di pangku Ziva hingga ia kesal karena Ziva menolak.


"Ayah.." Ziva memanggil Vano saat Vano mendekati mereka, "Ayah anak kita minta pangku ni," Ziva menirukan suara anak kecil dan merayu Zie yang sedang cemberut.


"Anak Ayah mau di gendong?" Vano mendekat dan berniat menggendong Zie, tapi Zie melolak ia ingin Ziva yang menggendongnya.


"Zie sama Bunda," Ziv memeluk kaki Ziva dengan erat.


Vano berjongkok dan ingin merayu Zie, "Zie ayo main kuda-kuda, Ayah jadi kuda terus Zie naik di pundak Ayah," Tawar Vano berharap Zie tertarik dan benar saja mata Zie berbinar ia terlihat bahagia, dan langsung meminta di naikan ke punggung Vano, dengan cepat Sinta membantu Zie naik di punghung Vano.


"Siap?" Tanya Vano yang hendak berjalan.


"Beyom," Tutur Zie menunjuk Ziva, "Bunda aik tini," Pinta Zie yang menginginkan Ziva ikut naik.


"Sayang Bunda nggak usah ya," Vano merinding membayangkan Ziva dengan tubuh yang sangat gemuk nai ke punggunya.


"Bunda tini," Pinta Zie dengan memaksa.


"Bunda nggak usah ya nak," Ziva bukan hanya kasian pada Vano bila ia naik tapi Ziva juga takut jatuh, dan kandungannya kenapa-napa.


"Ayo," Zie masih bersikeras memita Ziva naik bersamanya.


"Bunda nggak kuat Zie, tuh lihat perutnya," Arman yang baru saja datang dan mendengar perdebatan itu lansung membatu untuk menjawab.


"Napa Om?" Tanya Zie menatap Arman yang sudah duduk bersama Seli yang baru saja sampai.

__ADS_1


"Zie nggak lihat Bunda gemuk gitu gimana mau naik," Kata Arman.


"Bunda tangan banya mamam ya, biyay kuyus, tata Oma makan banya hayam," Zie mengajari Ziva masalah halal dan haram, "Benel kan Oma," Tanya Zie pada Sinta yang tidak kauh darinya, Sinta hanya tersenyum menanggapi jawaban cucunya.


Semua anggota keluarga menahan tawa mendengar Zie yang mengajari Ziva, bocah itu sudah seperti orang dewasa sebab Sinta juga sudah mulai mengajari cucunya mengaji. Tidak


"Dengar tu, anak kamu aja tau," Kata Arman di selingi tawa.


"Zie Bunda itu bukan banyak makan makanan," Bilmar juga yang baru saja sampai mulai ikut bergabung, bersama Anggia juga tentunya.


"Telus?" Zie bocah ingusan yang masih berusia hampir dua tahun itu terlihat banyak bertanya, sebab kini ia ingin tahu banyak hal di sekitarnya. Kadang Zie juga bertanya mengapa Ziva menggunakan bra sedangkan Vano tidak, lalu pertanyaan berikutnya kenapa Ziva dan Vano tidak mau tidur bersama Hardy dan Sinta, padahal Zie ingin tidur bersama Oma, Opa, Bunda juga sang Ayah.


"Kebanyakan di kasih eskrim, jadinya Bunda kamu gemuk," Jawab Bilmar yang langsung di lempar Vano dengan temot televisi.


"Mulut!" Vano menatap tajam Bilmar.


"Sakit banget," Bilmar dan Vano tidak akan berbicara kasar dan seenaknya bila ada anak kecil di antara mereka.


"Ayah jangan seling, seling kasih Bunda eskim ya, Zie aja nggak di kasih sama Oma makan eskim teyus," Kata Zie lagi yang menasehati Vano.


Mata Vano kini mengarah pada Bilmar, Bilmar membuang tatapannya ke lain arah sambil menahan tawa.


"Mau jadi istli," Jawab Zie lagi tanpa beban.


"Kok jadi istri," Tanya Ziva aneh.


Zie tidak menjawab ia malah melihat pada Bilmar yang biasanya sangat tahu jawabannya, tapi kali ini Bilmar pun diam.


"Assalamualaikum," Terdengar suara Daffa dan Daffi yang baru saja masuk.


"Walaikumsalam," Jawab semuanya.


"Lama banget," Tanya Vano, sebab Daffa dan Daffi yang sudah memiliki motor baru tidak mau lagi berangkat naik mobil bersama keluarga lainnya.


"Daffa abis godain cewek di jalan Kak," Jawab Daffi.

__ADS_1


"Apa sih," Daffa malah kesal mendengar perkataan kembarannya yang membocorkan tentang dirinya.


"Daffa udah punya cewek?" Tanya Vano.


"Belum Kak, tadi di jalan Daffa ini, berhenti buat minta tukeran nomer telpon ama cewek, taunya ada Bapaknya galak banget mana Bapakya polisi yang kebetulan bawa Anjing, Daffa yang ada hampir di timpuk sama di gonggongi Anjing Bapaknya," Daffi tertawa lepas menceritakan sodara kembarannya yang sial dalam mendapat kan pacar.


"Apasih, tu mulut bocor banget," Daffa kesal dan hampir memukuli kembarannya, tapi Sinta datang memisahkan keduanya.


"Sudah-sudah, anak Mama jangan berantem," Sinta membawa Daffa duduk di sebelahnya sebab kali ini Daffa adalah korbannya.


"Bro kamu hebat, cuman usahanya di tingkatkan," Bilmar memberikan jempol pada Daffa atas kehebatannya.


"Dasar playboy tobat, nggak usah ngasih ajaran sesat sama bocah," Kesal Vano.


"Alah perlu kita bongkar ni," Kata Arman yang ikut menimpali pembicaraan sebab Vano dan Bilmar adalah mantan playboy.


"Heh, brani lu?" Vano dan Bilmar malah kompak berencana menghajar Arman karena Arman tau semua cerita ke playboyan keduannya, Vano dan Bilmar adalah lelaki yang sangat takut pada istri jika keduanya tahu maka mereka terancam tidur di luar.


"Kompak! Takut bini," Jawab Arman terkekeh.


"Alah elu ngatain kita, elu juga gila nggak ada bini lu kan?" Kesal Bilmar melempar kulit kacang pada Arman.


"Tau ni, sok.....dia juga kayak enggak," Timpal Vano.


"Ya dong, Seli kan nafas Kakak jadi Kakak akan mati kalo Seli nggak ada," Arman mencolek dagu Seli yang duduk di sampingnya.


"Kakak, malu tau," Seli menyimpan wajahnya di dada Arman hingga membuat anggota keluarga yang lain bersorak gembira.


"Waaaahahahhaah," teriak keluarga dengan gemas.


"Daffa pantang menyerah ya pepet terus, cewek tadi," Tutur Bilmar mengejek Daffi.


"Nggak males, Daffa udah di tolak pantang buat ngejar cewek biar cewek aja yang ngejar Daffa, lagian Daffa mau jadi polisi," Jawab Daffa dengan membusungkan dada.


"Emang kenapa kalau jadi polisi apa hubungannya sama dapetin cewek?" Arman dan keluarga lainnya belum mengerti dan ia bertanya.

__ADS_1


"Soalnya, nanti Daffi mau jadi Bapak Kapores, terus Bapak cewek yang Daffa suka tadi takut sama Daffa jadi Daffa bisa gampang nikahin anaknya," Jawab Daffa dengan percaya Diri.


Semua keluarga saling pandang mendengar jawaban Daffa, dalam sekejap semua keluarga tertawa terbahak-bahak mendengar rencana Daffa yang ingin dapat jalan mulus mendapatkan wanita.


__ADS_2