
Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi sebelum nya hanya saja bedanya kini Vano sudah benar-benar tinggal bersama Ziva. Dan semenjak Vano tinggal bersama Ziva. Kini Ziva selain mengurus ke dua adik kembarnya. Ia juga di repotkan dengan satu bayi besar nya yaitu Vano. Bayi besar nya itu sangat manja sekali bahkan sampai memakai pakaiannya saja sekarang harus Ziva yang memakai.
Apa lagi cuman memasang dasi sudah pasti Ziva juga yang memakai. Di tambah lagi pagi ini Vano ingin makan namun ia ingin Ziva yang menyuapi. Beruntung kedua adik kembar nya sudah pergi bersekolah jadi mereka tidak melihat kelakuan Vano yang super manja di pagi hari ini.
Kini Vano dan Ziva sudah berada di kantor. Kedua nya baru saja sampai dan Vano duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa laporan perusahaan yang ia terima.
Begitu juga dengan Ziva. Ziva juga menyelesaikan beberapa pekerjaan yang di berikan Arman pada nya.
"Akhir nya" kata Ziva. Setengah berteriak karena pekerjaannya sudah selesai dan ia sangat bahagia karena bisa bersantai.
Vano tersenyum saat melihat tingkah lucu istrinya. Tingkah Ziva persis seperti bocah yang di beri mainan baru.
"Sayang" Vano memanggil Ziva. Sambil menyandarkan tubuh nya di kursi kebesaran nya.
"Iya Mas" jawab Ziva. Sambil menoleh pada suami nya.
"Kamu kenapa?" tanya Vano. Karena Ziva mulai merenggang kan otot-otot tubuh nya yang terasa letih. Bagai mana tidak letih Ziva bekerja siang dan malam namun gaji yang ia terima hanya di hitung saat bekerja di siang hari saja.
Sedangkan pekerjaan nya malam hari yang harus melayani suami nya itu secara suka rela. Sama sekali tidak mendapat gaji hanya mendapat gelar istri soleha karena tidak menolak keinginan suami.
"Oh. Ini Mas kerjaan aku selesai" kata Ziva dengan senyum bahagia.
"Coba Mas lihat" kata Vano.
Ziva bangun dan mengambil berkas yang di minta Vano. Lalu ia berjalan mendekati Vano. Ziva berdiri di depan meja Vano. Namun Vano menarik tangan Ziva. Agar Ziva mendekat pada nya. Setelah Ziva mendekat Vano berdiri dan mengangkat tubuh mungil Ziva duduk di atas meja kerja nya. Dan Vano kembali duduk di kursinya.
"Mana berkarkas nya" kata Vano.
"Ini" kata Ziva.
Vano mengambil berkas yang di berikan Ziva. Dan Vano menjadikan paha Ziva sebagai meja nya sambil melihat isi dokumen yang di di berikan Ziva. Vano mengangguk dan menutup dokumen itu lalu ia meletakannya di samping Ziva.
"Gimana Mas" tanya Ziva yang masih duduk di meja kerja Vano.
"Bagus. Dan kamu memang wanita yang sangat pintar" kata Vano sambil meletakan tangannya di paha Ziva.
"Mas aku hari ini mau santai boleh dong" kata Ziva. Karena memang pekerjaan nya hari ini tidak begitu banyak.
__ADS_1
"Memang nya kamu hari ini mau melakukan apa?" Tanya Vano.
"Jalan-jalan boleh ya Mas?" tanya Ziva.
"Sayang" kata Vano. Tanpa menjawab pertanyaan Ziva barusan.
"Apa Mas" jawab Ziva.
"Mas punya hadiah buat kamu" kata Vano.
"Oh ya" tanya Ziva.
"Iya" jawab Vano. Vano mengeluarkan kotak perhiasan dan membukanya di hadapan Ziva.
"Waw" kata Ziva setelah melihat apa yang di tunjukan Vano pada nya.
"Ini kalung buat istri Mas yang cantik" kata Vano. Vano mengambil kalung itu dan memakaikan nya di leher Ziva.
"Makasih Mas" kata Ziva. Ziva sangat terharu karena Vano memberikannya sebuah kalung.
"Kamu suka?" tanya Vano.
"Ini tidak seberapa kalau di bandingkan dengan perhatian yang kamu berikan" batin Vano.
"Kiss dong Yang" kata Vano sambil menunjukan bibir nya.
Cup!.
Ziva mencium sekilas bibir Vano.
"Yang kenapa cuman sebentar" tanya Vano.
"Mas aku hari ini libur" kata Ziva.
"Libur?" tanya Vano dengan bingung maksud dari ucapan Ziva.
"Ya hari ini aku mau libur jadi istri Mas" jawab Ziva.
__ADS_1
Vano tersenyum dan sedikit tertawa mendengar ucapan Ziva. Yang meminta libur menjadi istrinya. Vano memang tidak berniat membandingkan Ziva dan Keyla namun Vano merasa bersama Ziva jauh lebih bahagia dari pada bersama Keyla. Karena Ziva selalu tampil apa ada nya dan senyum nya terlihat tulus. Di tambah lagi dengan Ziva yang begitu menghargai pemberian Vano barusan. Itu sangat membuat Vano bahagia.
"Mana ada jadi istri libur" kata Vano sambil menarik hidung Ziva.
"Auu. Mas sakit" kata Ziva sambil melepas tangan Vano dari hidung nya.
"Abis kamu lucu" kata Vano sambil memeluk pinggang Ziva yang masih duduk di atas meja kerjanya.
"Issh Mas pikir aku mainan lucu" kesal Ziva.
"Hehehe. Kamu imut sekali sayang" kata Vano sambil mencubit kedua pipi Istri nya.
"Mas" kata Ziva dengan kesal.
"Mas minta maaf ya. Karena kita sudah menikah selama tiga bulan dan Mas baru kali ini bisa berikan kamu hadiah" kata Vano dengan wajah yang terlihat bersedih.
"Sukur" ketus Ziva.
"Sukur?" tanya Vano.
"Sukur kalau Mas sadar" kata Ziva sambil memanyunkan bibir nya. Dan mengejek Vano.
"Sayang bibir nya. Aku bisa nyerang kamu di sini. Aku paling tidak kuat dengan godaan kamu" kata Vano pada Ziva yang selalu mampu membuat nya ingin selalu melakukan hal panas di ranjang.
"Maaf ya Mas. Tapi beneran aku hari ini libur jadi Istri" kata Ziva lagi pada Vano.
"Oh ya?" tanya Vano sambil menaruh kepala nya di atas paha Ziva.
"Mas" kata Ziva karena ia sedang tidak suka Vano dekat dengan nya. Karena itu bisa membuat tubuh nya yang sudah remuk bertambah remuk karena ulah suami sekaligus Presdir nya itu yang suka sekali menerjang tubuh nya di ranjang.
"Sebentar saja seperti ini. Mas janji cuman jadiin paha kamu bantal engga lebih" kata Vano tanpa menggangkat kepala nya dari pada Ziva.
"Janji ya Mas" kata Ziva.
"Iya sayang Mas janji" kata Vano yang meyakinkan Ziva. Kalau ia tidak akan meminta lebih pada Ziva siang ini.
"Oke baiklah" kata Ziva dan mulai mengelus kepala Vano yang berada di atas paha nya.
__ADS_1
Vano benar-benar menjadi kan paha Ziva sebagai bantai nya. Ia benar-benar menepati ucapan nya. Untuk tidak menyerang Ziva. Karena Vano memang ingin mencari ketenangan yang selama ini tidak pernah ia dapat kan bersama dengan Keyla.
Vano tersenyum dan menutup mata nya. Ia ingin tertidur di paha istrinya karena rasa lelah nya bekerja dan selama ini ia ingin menpunyai istri yang mampu mengobati lelah karena harus bekerja juga istri yang mau mendengarkan keluh kesah nya.