Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 60


__ADS_3

"Ayo Ziva" kata Sinta membawa Ziva kekamar tamu.


"Kemana Ma?" tanya Ziva yang masih bingung.


"Kita tidur di kamar tamu" kata Sinta.


Clekkk!.


Sinta membuka pintu kamar tamu dan mempersilahkan Ziva masuk. Ziva masuk mengikuti perintah Sinta.


"Ayo mandi dan pakai lingerie yang tagi Mama belikan" kata Sinta.


"Ma itu terlalu sexy" kata Ziva.


kalau aku cuman tidur sendiri itu tidak masalah. Tapi apa mungkin tidur sama mertua juga pakai beginian.


"Sudah jangan banyak perotes cepat!" perintah Sinta.


Ziva tidak mau lagi membantah karena tubuh nya sudah sangat lelah. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menguci pintu dan ia mulai menguyur tubuh nya di bawah air shower.


Sementara Vano yang sudah terbangun dari tidur nya mulai melihat sekelilingnya. Ia melihat ruangan tamu itu sangat sepi lalu ia melihat jam yang ada di pergelangantangannya. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam ia bangun dan mendudukan dirinya. Ia yakin Sinta dan Ziva sudah pulang.


"Papa mau kemana?" tanya Vano saat melihat Hardy yang melewatinya hendak keluar.


"Mau duduk di teras depan" jawab Hardy yang menghentikan langkahnya.


"Pa Mama sama Ziva sudah pulang?" tanya Vano.


"Sudah" jawab Hardy lalu ia keluar dan mendudukan dirinya di kursi teras rumah sambil mulai membuka laptop yang ia bawa karena ia ingin menyelesaikan pekerjaannya.


Vano tersentum dan ia berlari kekamar nya dengan wajah yang ceria karena bisa memeluk Ziva. Namun sayang saat ia masuk ke dalam kamar ia tidak melihat Ziva di sana. Vano membuka jas dan sepatu yang ia pakai setelah itu ia memeriksa kamar mandi karena ia sangat yakin Ziva ada di sana.


Namun sayang wajah nya yang ceria berubah murung karena Ziva tidak ia temukan di kamar itu. Vano keluar dari kamar nya dan ia hendak ke kamar Sinta ia yakin Ziva pasti berada di sana. Namun sama saja setelah ia masuk ke kamar Sinta ia juga tidak menemukan Ziva di sana.


Bahkan Sinta pun tidak ada Vano bingung dimana dua wanita itu. Ia mulai keluar dari kamar Sinta dan ia berlari menuju teras untuk menemui Hardy karena ia ingin bertanya di mana Ziva dan Sinta mengapa keduanya tidak ada.


"Pa Mama di mana?" tanya Vano saat ia sudah berdiri di hadapan Hardy.


Hardy tidak mau menjawab karena ia pun jengkel pada Vano ia tetap fokus pada laptop yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Pa?" tanya Vano lagi.


"Kamu tau Vano! gara-gara kamu Papa juga jadi korban" kengkel Hardy mulai mendongkak menatap Vano dengan tajam.


"Apa nya yang gara-gara Vano?" tanya Vano bingung.


"Kamu tau Mama kamu pergi tidur dengan Ziva. Dan Papa di tinggal tidur sendiri dan itu gara-gara ulah mu" kata Hardy.


"Mama tidur sama Ziva?" tanya Vano shock.


"Iya dan itu gara-gara kamu dan Papa juga jadi korban" kata Hardy dengan jengkel.


"Apa sih Pa udah tua jugak sok masih muda tidur harus dengan istri" jengkel Vano.


Plak!.


Hardy melayangkan bolpoin yang ada di saku kemejanya tepat mengenai kepala Vano.


"Auw" ringis Vano sambil menggosok kepalanya.


"Cepat kamu ke kamar tamu Mama kamu di kamar tamu. Dan bujuk Mama biar Mama balik tidur di kamar!" kata Hardy menatap tajam Vano.


Lalu ia meninggalkan Hardy dan mulai memasuki satu persatu kamar tamu untuk memeriksa di mana Ziva berada.


Clek!!.


Vano membuka pintu dan mata nya menatap Sinta yang sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya. Sinta menatap pintu karena ia mendengar suara pintu yang terbuka dan ia mulai melihat Vano yang berdiri di pintu.


"Ma" kata Vano mulai berjalan mendekati Sinta.


"Em" jawab Sinta kembali menatap layar ponselnya.


"Istri Vano mana Ma?" tanya Vano larena ia belum melihat keberadaan Ziva di kamar itu.


Clek!.


Belum sempat Sinta menjawab Ziva sudah membuka pintu kamar mandi. Dan Vano reflek melihat siapa yang keluar dari kamar mandi dan pandangan matanya menatap Ziva yang keluar dari kamar mandi itu. Bukan hanya shock saat matanya menatap Ziva tapi hasratnya juga mengebu saat menatap tubuh ramping Ziva dengan lingerie sexy yang ia gunakan dengan susah payah Vano mendeguk salivanya.


"Vano keluar!" kata Sinta.

__ADS_1


"Sayang" kata Vano yang ingin memeluk Ziva tapi dengan cepat Sinta mendorong tubuh Vano keluar dari lamar itu.


"Ma Vano mau istri Vano" kata Vano saat ia sudah di luar dan Sinta yang melipat tangannya di hadapan Vano.


"Kamu mau istri kamu?" tanya Sinta.


"Iya Ma" jawab Vano dengan melas.


"Besok itu pun kalau Mama izinkan" kata Sinta lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Tok tok tok!.


"Ma" teriak Vano sambil menggedor pintu yang sudah di kunci Sinta dari dalam.


"Rubah sipat egois mu dan hargai istri mu bila kamu ingin Ziva tetap bersama mu!" kata Sinta sambil berteriak agar Vano yang di luar dapat mendengar nya.


"Mama Vano janji Vano akan berubah dan Vano tidak akan kasar lagi dengan Ziva!!" teriak Vano.


"Bagus" jawab Sinta yang masih berteriak dari dalam kamar.


"Buka pintu nya Ma" kata Vano.


"Tidak untuk malam ini. Agar kamu tau bagaimana rasanya tanpa Ziva satu malam saja" kata Sinta.


"Ma Vano mohon Ma. Maafin Vano. Vano nggak bisa kalau tidak ada Ziva" kata Vano.


"Itu derita mu" kata Sinta dan ia mulai menaiki ranjang.


"Ziva ayo naik sini" kata Sinta sambil menepuk ranjang kosong di sebelahnya.


"Tapi Mas Vano Ma" kata Ziva yang merasa kasihan melihat Vano yang terus menggedor pintu sambil memohon pada Sinta agar ia bisa membawa Ziva.


"Biar dia tau rasa. Dan tidak lagi mengulangi kesalahannya" kata Sinta.


"Ma Ziva telpon adik Ziva dulu ya" kata Ziva.


"Iya dan besok weekend suruh saja Dokter kandungan kamu itu kemari dan membawa kedua nya Mama senang sekali kalau rumah ini ramai" kata Sinta.


"Iya Ma" jawab Ziva.

__ADS_1


Dan ia mulai mengambil ponselnya untuk menghubungi Anggia untuk mengatan ia tidak pulang dan besok Ziva memintanya untuk datang ke rumah Sinta. Anggia pun mengiyakan permintaan majikannya. Setelah pembicaraan keduanya selesai Ziva langsung merebahkan tubuh nya di samping Sinta karena rasa lelah yang ia rasakan hari ini tidak butuh waktu lama ia kemudian memasuki alam mimpinya meninggalkan Vano yang terus memanggilnya di luar kamar itu. Begitu juga dengan Sinta yang mulai terlelap disamping tubuh Ziva.


__ADS_2