Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 74


__ADS_3

Setelah Sinta menerima telpon dari Anggia yang mengatakan kalau Ziva sempat tak sadarkan diri. Sinta langsung bergegas bersama Hardy menuju kediaman Ziva dan Vano. Ia merasa cemas dan hatinya tidak karuan karena ia memikirkan cucunya yang sedang di kandung Ziva. Di tambah lagi dengan kondisi Ziva yang sangat lemah.


Sinta memang mengatakan pada Anggia. Kalau Sinta harus di hubungi secepat mungkin bila terjadi sesuatu pada Ziva. Dan benar Anggia menghubungi Sinta saat itu juga. Karena Anggia juga merasa takut bila Sinta tau Ziva sakit namun ia tidak mengabarkan pada Sinta.


"Ziva" kata Sinta saat ia sudah berada di rumah Ziva dan ia sudah membuka pintu kamar Ziva dengan cepat dan Hardy berdiri di belakang tubuhnya.


Ziva yang sedang menatap baju Vano yang kotor karena terkena muntahannya mulai menatap asal suara mertuanya yang masih berdiri di pintu.


"Mama" kata Ziva dengan senyuman yang di paksakan.


Sinta berjalan mendekati Ziva sementara Hardy hanya berdiri di dekat pintu sambil memasukan tangannya kedalam saku. Dan matanya menatap tajam Vano dengan wajah sangarnya. Vano tau Hardy menatapnya dengan tajam namun ia bingung apa penyebabnya ia merasa ia tidak memiliki kesalahan.


"Mas aku benar-benar tidak sengaja" kata Ziva lagi karena Vano hanya diam tanpa pergi untuk mengganti kemeja nya yang sudah kotor. Dan Ziva merasa cemas takut Vano memarahinya seperti kemarin ia meminta jambu.


"Iya tidak apa" jawab Vano.


Sinta menatap baju Vano dan ia menatap wajah Ziva yang pucat dan seperti orang ketakutan. Sinta diam dan ia mulai memikirkan sesuatu. Sinta kini berdiri di sisi ranjang dan tangan nya mengelus kepala Ziva.


"Kamu sudah lebih baik?" tanya Sinta.


"Ya Ma" jawab Ziva.


"Vano kamu ikut Papa" kata Hardy lalu Hardy berjalan menuruni tangga dan ia duduk di sofa ruang keluarga menunggu Vano.


"Ziva kamu di sini dulu. Nanti Anggia akan Mama panggilkan menjagamu, dan ingat kamu tidak boleh bangun kalau kamu perlu sesuatu minta bantuan pada Anggi" kata Sinta.


"Ya Ma" jawab Ziva.


"Ayo" Sinta menarik tangan Vano. Yang baru saja selesai menganti kemejanya. Tadi setelah Hardy meminta nya turun kebawah ia langsung mengganti kemeja nya terlebih dahulu. Setelah itu baru ia menemui Hardy.


***


"Duduk!" kata Hardy dengan suara baritonnya.

__ADS_1


Vano duduk di sofa berhadapan dengan Hardy. Sedangkan Sinta duduk di samping Hardy mendengarkan apa yang akan di bicarakan kedua lelaki itu. Karena ia juga ingin tau.


"Ada apa Pa?" tanya Vano.


"Jelaskan?" kata Hardy dengan tegas.


Vano mengeti dengan ucapan dan maksud Hardy. Karena ia sudah sangat tau tetang Hardy dan semua yang ada pada Hardy memang di warisi oleh Vano. Termasuk dengan berbicara yang sedikit dan mungkin orang banyak akan sulit mengeti hanya orang orang yang sudah cukup mengenal mereka yang tau dengan itu semua.


"Vano dua hari yang lalu membentak nya Pa" jawab Vano dengan menundukan kepalanya.


"Jelas kan dengan benar!" kata Hardy.


Vano menatap Hardy dan mulai menceritakan semua yang terjadi pada nya dan Ziva. Juga tentang perubahan Ziva yang drastis dan yang terakhir tentang penjelasan kondisi Ziva yang di jelaskan Anggia.


"Apa kau tidak berniat menjaga cucu ku?" tanya Hardy.


"Apa maksud Papa?" tanya Vano bingung.


"Kalau kau tidak berniat biar Ziva Papa bawa dan Papa juga tidak akan mengijinkan mu bertemu dengannya lagi" kata Hardy.


Plak!.


Tangan Hardy melayang di pipi Vano. Dan sudut bibir Vano berdarah. Sinta berusaha meredam amarah Hardy dan ia berusaha menengahi keduanya. Sinta memeluk Hardy dan menjaukannya dari Vano.


"Pa sudah" kata Sinta dengan cemas.


"Jaga ucapan mu!" kata Hardy menatap tajam Vano. Dan Hardy melangkah pergi keluar dari rumah itu karena Vano bisa membuat emosinya meninggi.


"Vano kamu bisa tidak sopan pada Papa" kata Sinta yang hanya tinggal berdua saja dengan Vano di ruangan itu.


"Vano minta maaf Ma. Vano merasa khawatir pada Ziva. Dan itu membuat kepala Vano tidak bisa berpikir dengan jernih" kata Vano dengan wajah menyesalnya.


"Kamu menyesal iya" bentak Sinta.

__ADS_1


"Iya Ma" jawab Vano.


"Untuk apa kamu menyesal? Bukan kah ini yang kamu mau?" tanya Sinta. Sinta yang kini mulai berbicara dengan nada tinggi dan marah karena ulah Vano.


"Maksud nya Ma?"


"Kamu ingin Ziva takut dan selalu menuruti apa pun mau kan? iya?. Dan selamat sekarang kamu berhasil!. Kamu berhasil membuat Ziva takut dengan mu sehingga dia menganggap mu bukan tempat berlindung tapi ancaman di dalam hidup nya" kata Sinta.


"Tapi maksud Vano bukan begitu Ma"


"Dan kalau Ziva merasa takut dengan mu. Itu berarti ia mungkin akan berusaha menghindar dan pergi meninggalkan mu. Itu kan yang kamu mau?. Kamu sadar tidak kamu tidak pernah memberinya kebahagiaan. Kamu hanya memberinya tekanan" kata Sinta dengan menujuk Vano yang berdiri di depannya.


"Vano nggak bisa kalau Ziva tinggalin Vano Ma"


"Kalau kamu tidak bisa Kenzi Zafano. Rubah tingkah egois mu. Kamu tau Vano Mama sangat jengkel pada tingkah mu dan kalau Mama bisa menelan mu kembali. Mama akan lakukan agar kau kembali keperut Mama dan kau bisa menyesali perbuatan mu" kata Sinta sambil berteriak.


"Mama bicara apa?" tanya Vano yang merasa aneh dengan ucapan Sinta.


"Kamu cuman tau enak nya saja. Dan kamu mau memiliki anak lalu terima beresnya saja. Kamu egois. Kamu tau Zivaa hamil karena kamu dasar anak kurang ajar" kata Sinta yang semakin emosi.


"Ma Vano minta maaf dan Vano janji setelah ini Vano tidak akan egois lagi" kata Vano dengan melas.


"Tidak. Kau tidak perlu lagi merawat Ziva. Mulai hari ini kau tidak Mama ijin kan bertemu Ziva lagi. Sampai Ziva melahirkan!" gertak Sinta agar Vano mau berubah dan tidak egois lagi.


"Ma tolong jangan begitu"


"Tidak ini sudah keputusan Mama. Dan kau tidak boleh membantah. Bila perlu kau keluar saja dari rumah ini" kata Sinta.


"Mama mengusir Vano?"


"Iya dan lagi pula ini bukan rumah mu. Ini rumah Ziva kau tidak punya rumah dan kau tidak boleh pulang kerumah Mama"


"Mama bicara apa. Ini rumah Vano yang membelinya" jawab Vano.

__ADS_1


"Ya tapi kau sendiri yang pernah mengatakan dulu. Rumah ini kau beli untuk mahar Ziva. Itu artinya kau tidak berhak di sini. Kau hanya menumpang. Dan orang yang menumpang harus sopan pada pemilik rumah" kata Sinta.


Vano bingun dan tidak percaya Sinta bisa berkata seperti itu.


__ADS_2