Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 39


__ADS_3

Pagi hari nya..


Ziva yang sudah bangun dan sudah siap menggunakan pakaian kerjanya. Tapi tidak dengan Vano. Vano masih tertidur dengan nyenyak nya. Ziva berjalan medekati ranjang untuk membangunkan Vano. Ziva mulai memanggil sambil menggoyang-goyang kan tubuh Vano.


"Mas"


"Mas"


"Eemmm" jawab Vano.


"Mas bangun. Kita pagi ini ada meeiting dengan tuan Arkan" kata Ziva.


"Ia" kata Vano masih di bawah selimut nya.


"Mas!!" Ziva setengah berteriak.


"Iya Mas bangun" kata Vano.


Vano bangun dan turun dari ranjang. Berjalan memasuki kamar mandi.


"Mas aku tunggu di meja makan ya" kata Ziva.


"Iya sayang" jawab Vano.


Ziva keluar dari kamar nya. Seperti biasa Ziva akan menyiapkan sarapan untuk suami nya. Setelah tadi Ziva mengambil dan meletakan baju kerja Vano untuk di pakai suaminya di atas ranjang.


Ziva melihat Daffa dan Daffi sedang duduk memakan sarapannya di meja makan. Ziva berjalan mendekati keduanya sudah beberapa hari Ziva tidak sarapan bersama kedua adik nya. Karena kesibukan Ziva dan pagi ini Ziva sangat bahagia bisa sarapan bersama adik kembar nya.


"Daffa. Daffi." kata Ziva menyapa kedua adik nya.


"Pagi kak" kata Daffi.


"Pagi kak Ziva" Kata Daffa.


"Pagi sayang" kata Ziva.


"Gimana sekolah kalian?" tanya Ziva.


"Baik Kak" kata Daffa.


"Iya Kak nilai kita juga bagus-bagus" kata Daffi.


"Pintar adik kakak" kata Ziva sambil menarik hidung kedua adik kembar nya.


"Sakit Kak" pekik Daffa.


"Iya Kak sakit" kata Daffi lagi.


"Kak Vano dimana Kk?" tanya Daffa.


"Ada tadi Kak Vano lagi mandi" jawab Ziva.


"O" jawab Daffa dan Daffi. Lalu kembali melanjutkan sarapannya.


"Kak Ziva bikin kopi buat Kak Vano dulu" kata Ziva. Ziva bangun dari duduk nya dan mulai membuat kopi setelah itu Ziva kembali kemeja makan untuk sarapan.


"Selamat pagi" sapa Vano dan memdudukan diri nya di meja makan.


"Pagi!!" jawab anak kembar itu dengan sopan.

__ADS_1


"Ini kopi ny Mas" Ziva meletakan kopi di meja.


"Makasih sayang" kata Vano lalu menyeruput kopi buatan istri nya.


"Mas pagi ini mau sarapan apa?" tanya Ziva.


"Biasa sayang nasi goreng" kata Vano.


Vano memang dari kecil sangat menyukai nasi goreng. Dan kini Vano sangat bahagia karena Ziva selalu memasak makanan kesukaannya.


"Oke." kata Ziva. Lalu ia mengambil nasi goren dan ayam goren di piring Vano.


"Ayo makan Mas" kata Ziva.


Vano memulai sarapan pagi nya dengan memakan nasi goreng. Begitu juga dengan Ziva. Ziva duduk dan memakan sarapan di piring nya.


"Sayang nasi goreng nya kenapa beda dari kemarin-kemarin?" tanya Vano.


"Maaf Mas pagi ini Mbok yang masak. Aku telat bangun" kata Ziva sambil tersenyum pada Vano.


"Kak Vano masakan Kak Ziva memang enak. Dan kita juga suka" kata Daffa yang di angguki Daffi.


"Ya kalian benar" kata Vano pada kedua adik kembar nya itu.


"Sudah ayo lanjut sarapanya lagi" kata Ziva.


"Kak Daffa berangkat ya Bus nya sudah jemput"


"Daffi juga Kak"


Daffa dan Daffi mencium punggung tanggan Vano dan Ziva dan berlari keluar karena ke duanya sudah mendengar klakson bus sekolah nya di luar.


"Iya Kak!!!!" Jawab si kembar sambil berlari.


Kini tinggal Vano dan Ziva di meja makan itu. Kedua nya kembali melanjutkan sarapan pagi nya.


"Sayang berangkat yuk" kata Vano.


"Yuk" kata Ziva.


Kedua nya keluar dari rumah dan Arman sudah menunggu di luar.


"Mas kamu di jemput Arman?" tanya Ziva.


"Bukan aku tapi kita" jawab Vano.


"Kita?" tanya Ziva.


"Ya. Mulai pagi ini kita berangkat sama-sama" kata Vano.


"Mas serius?" tanya Ziva.


"Ya Ayo" kata Vano.


Lalu ia membuka pintu mobil untuk Ziva. Ziva masuk lalu duduk Vano menutup pintu. Dan memutari mobil nya. Dan duduk di samping Ziva.


"Jalan " kata Vano pada Arman yang mengemudi.


"Mas kamu serius berangkat sama aku ke kantor" tanya Ziva lagi karena ia masih belum yakin.

__ADS_1


"Memang nya kenapa?" tanya Vano.


"Kamu enggak takut kalau karyawan lain nya curiga?" tanya Ziva.


"Siapa yang berani mencurigai Mas. Kamu itu asisten Mas di kantor. Dan itu kan sudah biasa kalau Asisten dan atasannya satu mobil" kata Vano.


"O" kata Ziva.


"Tapi kalau pun mereka tau kamu istri Mas. Mas tidak perduli" kata Vano.


Ziva mengangkat sebelah alisnya. Mendengar ucapa Vano.


"Mas yakin ?" tanya Ziva.


"Iya" kata Vano.


Vano menarik Ziva kedalam pelukan nya. Dengam cepat ia **** bibir Ziva.


"Mas malu sama Arman" kata Ziva.


"Arman kamu lihat atau tidak?" tanya Vano.


"Tidak bos" jawab Arman.


"Dasar bos aneh. Iya lah gua lihat dari kaca spion" batin Arman.


"Dia enggak liat Yang jadi boleh lanjut lagi" kata Vano.


"Mas apa sih. Aku udah rapi begini malah gara-gara Mas aku berantakan lagi" jengkel Ziva


"Mas gemes soal nya sama kamu Yang" kata Vano.


Kini kedua nya sudah sampai di perusahaan milik Vano. Keduanya turun dan jalan beriringan. Semua mata yang melihat Presdir mereka lewat menundukan kepalanya dan tidak ada satu pun yang berani mengumpat Vano dan Ziva. Karena mereka tau Vano punya banyak mata-mata dan mereka tidak mau mencari masalah dengan Presdir mereka yang terkenal kejam itu.


Ting!.


Kedua nya keluar dari lift dan berjalan masuk ke ruangan itu. Ziva duduk di kursi kerjanya dan Vano juga begitu.


"Sayang jam berapa meeiting nya?" tanya Vano.


"Satu jam lagi Mas. Aku siapin materi nya dulu ya Mas" kata Ziva.


"Oke. Perlu aku bantuin?" tanya Vano.


"Tidak usah" kata Ziva.


Setelah materi yang di siap kan Ziva selesai. Meeiting segera di mulai. Dan kini mereka duduk di ruang meeting bersama rekan bisnis mereka. Dan membicarakan tetang kerja sama mereka yang baru. Berikut dengan ke untungan yang akan mereka dapat kan jika bekerja sama dengan perusahaan Vano. Setelah mereka selesai dengan pembicaraan nya. Meeiting pun di tutup dan mereka mulai memundurkan diri satu persatu.


"Nona Ziva tunggu" kata Arkan salah satu rekan bisnis perusahaan Vano.


"Ada yang bisa saya bantu tuan" kata Ziva menghentikan langkah nya saat akan keluar dari ruangan itu.


"Iya. Apa nanti malam kita bisa makan bersama?" tanya Arkan.


"Em maaf tuan Arkan. Nanti malam kami ada meeiting penting" kata Vano. Menjawab dengan cepat.


"Saya permisi tuan" kata Ziva mulai meninggalkan ruang itu. Ziva mengerutkan alisnya saat berjalan keluar dan menuju ruang kerjanya. Ketika mengingat Vano yang menjawab pertanyaan Arkan.


"Meeiting? Nanti malam? Meeiting panas di ranjang mungkin" batin Ziva.

__ADS_1


__ADS_2