
Kini Zie tengah sibuk dengan pensil warnanya, ia menggambar semua anggota keluarga Rianda dan juga Zavano. Saat Zie tengah asik dengan gambarnya, tiba-tiba Vamo dan Ziva mendatangi Zie.
"Zie gambar apa Nak?" tanya Vano sambil melihat gambar Zie.
Zie tidak menjawab, ia masih fokus pada gambarnya. Vano mendesus kesal karena merasa di acuhkan, sementara Ziva menutup mulut melihat kekesalan sang suami.
Ziva duduk di samping Zie, "Zie gambar apa Nak?" tanya Ziva, sambil memperhatikan gambar sang putri.
Zie berhenti dari aktifitas nya, kemudian ia menatap Ziva, "Bunda ini Zie lagi konsenterasi sama gambal," omel Zie.
"Eeppppp," Vano menutup mulut karena mengejek Ziva yang di omeli Zie, "Konsenterasi Bunda, sama gambal," Vano menirukan ucapan Zie yang terdengar masih belum sempurna, tapi putri ompangnya itu memang masih belum sempurna mengucapkan setiap katanya.
"Ish....." Ziva mengibaskan tangannya karena kesal.
"Ayah juga diam!" kata Zie.
"Ahahahhaha......." Ziva tertawa lepas melihat wajah Vano yang mendadak murung saat di marahi sang putri.
"Ini Zie lagi gambar Ayah," Zie menunjuk sebuah gambar dimana maksudnya adalah itu Vano.
Vano penasaran dan ia mendekati Zie sambil melihat gambar yang di tunjuk Zie.
"Kok kepala Ayah miring?" tiba-tiba Davit datang melihat gambar sang Kakak.
"Ini bukan menyeng, tapi model rambut terbalu," omel Zie yang tidak terima gambarnya di ejek.
PLAK.....
Alfa yang baru saja datang langsung menjitak kepala sang Kakak, "Meyeng-meyeng.....mereng Kak Zie mereng," kata Alfa.
"AYAH........" Zie berteriak dengan kencang, "Sakit tau Al....." kata Zie lagi ia kesal sekali kepalanya di jitak.
"Sayang.....sayang anak Ayah," Vano langsung memeluk putri tunggal nya itu dan menatap ke empat putranya, "Kalian semua jangan macam-macam sama Kak Zie, dia anak perempuan Ayah satu-satunya," Vano memarahi semua putranya dan itu membuat Zie bahagian.
"Anak perempuan Ayah ompong...." seloroh Bastian.
"Cadel lagi," kata Chandra.
"Ahahhahaha......." ke empat putra Zavano itu tertawa dengan lebar.
Ziva hanya geleng-geleng melihat anak-anak, dan itu memang sudah menjadi keseharian Ziva.
"Ayah........" Zie merengek dan memeluk Vano, sebab ia hanya bisa mengadu pada Vano saja.
"Uhhhh.....jangan nangis Kak Zie, biar Alfa nyanyi ya.......sama Bas, Chan, Dav....ayo nyanyi," kata Alfa.
Ke empat Pria itu berbaris dan langsung mengeluarkan suaranya, "Sudah mabuk minuman di tambah lagi judi, masih saja Abang tergoda Zie bau terasi....." teriak ketiganya.
"AYAH.....hiks...hiks.....hiks......" Zie semakin berteriak histeris karena ke empat adiknya yang sangat usil.
"Waaaaaaaahaaaahahahhah......" ke empatnya tertawa terbahak-bahak, "Kaborr....." sebelum mendapat amukan dari sang Ayah ke empatnya memilih lari dengan cepat.
"Ayah mereka nakal," kata Zie pada Vano.
__ADS_1
"Udah, mereka udah pergi," Vano mengusap kepala Zie dan menciumi pipi sang putri dengan gemas.
"Ayah jangan cium Zie," Zie menjauh.
"Kenapa?"
"Zie udah besar, malu kalau di cium Ayah kecuali di cium cowok keren," Zie turun dari gendongan sang Ayah.
Ziva dan Vano saling pandang saat me dengar jawaban Zie.
"Assalamualaikum......" Sinta datang bersama dengan Bilmar dan juga Ratih.
"Waalaikumsalam Oma....." Zie tersenyum tapi tidak memeluk dan mencium kedua Omanya, bahkan ia menolak saat Sinta maupun Ratih yang menciumnya.
"Loh Oma langen, Oma mau cium Zie," kata Ratih.
"Oh....nowwww," Zie menggerak-gerakan jari telunjuknya, "Zie udah gede....dan cuman boleh di cium cowok kelen."
"Yang bilang begitu siapa?" tanya Ratih.
"Daddy," Zie menunjuk Bilmar, dengan air liur yang ikut menyembur juga.
Semua mata menatap Bilmar, semunya bingung saat melihat Bilmar.
"Ya.....kan Daddy?" tanya Zie lagi.
"Kok Daddy," karena merasa semua menatapnya dengan kesal, Bilmar lebih memilih berdalih.
"Bilmar......." Sinta menatap Bilmar dengan tajam.
"Kamu itu benar-benar Daddy durhaka ya?" Ratih juga ikut kesal pada putra semata wayangnya itu.
"Hehehehe......" Bilmar menggaruk kepalanya dengan ragu-ragu karena ia memang sedikit takut di marahi Ratih dan juga Sinta.
"Oma.....Ini gambar Zie," Zie menunjukan gambar nya pada Sinta dan Ratih, hingga semunya ikut penasaran dan melihat tanpa di minta Zie.
"Ini siapa?" tanya Ratih, menunjukan salah satu gambarnya.
"Itu Ayah Oma," jawab Zie.
"Kok kepalanya miring?" tanya Ratih lagi.
"Kan Ayah suka nggak jelas, makanya Zie buat kepalanya mereng.....karena suka kanslet," jawab Zie dengan polosnya.
"AHAHAHHAHA....." semua tertawa lebar sambil melihat Vano dengan wajah masamnya.
"Kalau ini siapa?" tanya Bilmar.
"Itu Daddy," kata Zie.
"Kok kupingnya miring?' tanya Vano yang ingin membalas ejekan Zie.
"Karena Daddy suka nggak dengar kalau di panggil, kalau di kantor Daddy nggak bisa senyum. Jadi kalau Zie buat telinga Daddy le ar Daddy bisa senyum karena dengar orang-orang lagi becanda," jelas Zie, karena ia ingat betul saat ikut ke kantor Bilmar, di sana Bilmar sangat irit bicara, bahkan senyum saja tidak.
__ADS_1
"Ahahahha......" Vano balik menertawai Bilmar.
"Ini siapa?" Sinta bertanya gambar yang di sebelahnya.
"Itu Oma Ratih."
"Kok mulutnya kecil banget," tanya Ratih dengan antusias.
"Biar Oma nggak cerewet lagi," jawab Zie sambil memperkecil mulut Ratih pada gambarnya.
"Aduh....." Ratih menggaruk kepalanya, sementara yang lainnya menertawakan Ratih.
"Kalau ini Oma Sinta," Zie menunjuk gambar paling ujung, dan ia menghapus mulut Ratih yang tadi ia gambar secantik mungkin.
"Kok mulut Oma di hapus?" tanya Sinta.
"Karena Oma cerewet, jadi kalau Oma nggak punya mulut Oma nggak akan ngomel lagi," terang Zie.
"Waw....." Sinta dengan cepat memegang mulut nya.
"Mending aku Mbak, masih ada mulutnya dari pada kamu enggak ada mulut Mbak," ejek Ratih.
"US....kalau ngomong jangan sembarangan," jawab Sinta yang tidak terima di ejek Ratih.
"Ahahahahah......." Bilmar tertawa melihat kedua Oma itu yang saling berdebat tidak jelas hanya karena gambar.
"Bil kamu ngetawain Mami?" Ratih menatap Bilmar dengan tajam.
"Mama juga ya Bil?" tanya Sinta.
"Eh.....aduh...." Bilmar bingung harus bagaimana, "Enggak Ma, Mi," Bilmar menggeleng kan kepala ketakutan, karena sepertinya ia akan mendapat amukan dari kedua wanita yang barusan ia ejek.
"Berani kamu Bi?" Sinta berkacak pinggang mendekati Bilmar.
"Oma....pakek ini Oma," Zie memberikan kemoceng pada Sinta, dan Sinta langsung menerimanya.
"Ampun Ma," Bilmar menangkup kedua tangannya, dan meminta maaf, "Ampun Mi," Bilmar menatap Ratih juga dengan wajah melasnya.
"Hajar Oma, Daddy memang nakal kemarin Daddy bilang Oma Ratih cerewet dari Daddy kecil selalu di marahi," kata Zie.
"Apa benar begitu?" tanya Ratih pada Zie.
"Zie kamu kecil usah pinter boong ya?" kata Bilmar menatap Zie dengan kesal.
"Zie nggak boong, kemarin Daddy bilang begitu, kalau Oma nggak pelcaya tanya Alam," Zie tidak mau di anggap berbohong karena memang Bilmar mengatakan demikian.
"Bilmar," Ratih menatap Bilmar, ia mengambil kemoceng dari tangan Sinta dan memukuli Bilmar seperti layaknya seorang ibu yang memukuli Sang anak yang masih duduk di bangku SD.
"Ampun Mi...." Bilmar berlari tapi Ratih amsih mengejarnya.
"Ahahhahaha...
" yang lain tertawa dengan lebar.
__ADS_1