
"Selesai bos" kata Arman karena pekerjaannya sudah selesai.
"Baiklah aku juga ingin pulang" kata Vano dan ia mulai berdiri dari duduk nya dan hendak pergi.
"Bos sebentar ada yang ingin saya sampaikan" kata Arman menghentikan Vano.
"Apa" tanya Vano dengan wajah jengkelnya karena ia sudah ingin cepat-cepat pulang.
"Tentang Keyla Bos" kata Arman.
Vano mengangkat sebelah alisnya dan kembali mendudukan dirinya dengan rasa malas.
"Katakan!" kata Vano dengan tegas.
"Semua sesuai dugaan Bos. Dan orang kita mendapat rekaman bukti percakan antara Keyla dan Heri di rumah sakit kedua nya memang benar merencanakan ini" kata Arman dengan wajah yang serius.
"Em" kata Vano.
Drettt drettt drettt..
Ponsel Vano berdering dan terlihat nama Hardy yang menghubunginya
"Ya Pa" jawab Vano.
....
"Ya Pa" jawab Vano.
Biip.
"Arman ayo kita pulang!" kata Vano setengah berlari.
Arman tidak mau banyak bertanya ia tau ini pasti masalah yang serius dan ia mulai berjalan dengan cepat mengikuti Vano.
"Sini" kata Vano yang meminta kunci mobil.
Arman memberikannya pada Vano. Vano mulai mengemudi dengan kecepatan penuh dan Arman sudah terbiasa dengan Vano yang seperti itu karena itu memang salah satu hoby Vano. Hanya sampai lima belas menit keduanya sudah sampai di rumah. Vano mulai turun dari mobil begitu juga dengan Arman.
__ADS_1
Tap tap tap.
Vano mulai berjalan dengan gagah nya. Dan Arman yang mengikutinya dari belakang. Ia mulai melihat di ruang tamu sudah banyak yang menunggunya termasuk juga kedua orang tua Keyla bersama seorang pengacara. Dan di samping Sinta ada Ziva.
"Vano kemari" kata Hardy.
Vano berjalan mendekat dan mendudukan dirinya.
"Ma bawa Ziva ke kamar saja" kata Vano karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anak nya.
Sinta tidak banyak bicara ia bangun dari duduk nya dan membawa Ziva pergi ke kamar. Tapi dengan cepat ibu dari Keyla berbicara dan berhasil menghentikan langkah Ziva dan Sinta.
"Kenapa? kenapa harus pergi," tanya Rina.
"Ma bawa Ziva" kata Vano.
"Tunggu!" Rina berdiri dan ia berjalan mendekati Ziva dan Sinta kini Ziva tepat berada di hadapan Rina dan di samping Ziva ada Sinta yang memegang kedua pundak menantunya itu.
"Kau jal*ng yang berhasil merebut suami anak ku bukan?" kata Rina dengan senyum seolah merendahkan Ziva.
Ziva diam saja ia tidak menjawab dan tidak ada yang tau apa yang di pikir kan Ziva karena expresinya benar-benar tidak bisa di tebak.
"Kalau kau sudah tau kenapa masih bertanya?" kata Ziva dengan santai ia tidak mau ambil pusing dengan hal yang menurutnya tidak penting.
"Oh dan kau Vano! hanya karena jalang ini kau mencelakai anak ku dan hampir membunuh nya?" kata Rina dengan tegas.
"Ma bawa Ziva kedalam" kata Vano dengan wajah datarnya.
"Kenapa? apa kau takut dia shock mengetahui kau dengan sengaja menabrak istri pertama mu" Rina menjeda ucapanya lalu ia memandan remeh Ziva.
"Dan apa mungkin pelakor ini yang menghasut mu menghabisi istri mu?" kata Rina.
Ziva tidak perduli ia memilih pergi meninggalkan ruang tamu itu dan ia memegan lengan Sinta. Menurutnya itu bukan urusannya ia lebih memilih kembali ke taman belakang bergabung bersama Anggi memakan rujak yang belum sempat ia makan karena tadi Rina berteriak masuk mencarinya. Dan sekarang ada Vano ia membiarkan Vano yang menyelesaikan semuanya.
"Lihat lah jal*ng itu tidak punya sopan santung. Orang lebih tua darinya sedang berbicara tapi dia pergi begitu saja" kata Rina yang terus menghina Ziva.
"Ada apa kalian ke sini?" tanya Vano to the point.
__ADS_1
"Begini tuan Vano. Kami kemari karena klien saya saudari Keyla melaporkan anda suaminya atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap saudari Keyla Puzila" kata seorang pengacara yang di bawa oleh orang tua Keyla.
"O" Vano tersenyum sinis dan ia menatap Arman. Arman mengerti dengan tatapan Vano ia mengambil bukti rekaman percakapan Keyla dan kekasih gelapnya dan mulai memutarnya dan di dengar boleh semua orang yang ada di ruangan itu termasuk orang tua Keyla yang terlihat shock.
"Bagaimana?" tanya Vano setelah rekaman itu selesai di putar.
"Itu pasti kau yang merekayasa" kata Rina yang terus membela Keyla.
"Tidak ada yang di rekayasa dan sepertinya kalian melupakan siapa saya" kata Vano dengan angkuhnya.
"Lalu bagaimana dengan Keyla. Kau menikah lagi tanpa persetujuan Keyla. Dan kau menelantarkan Keyla" kata Rina dengan emosi.
"Kami sudah bercerai" jawab Vano.
"Bercerai?" tanya Rina kembali ia belum percaya dengan apa yang ia dengar karena Keyla tidak mengatakan apa-apa pada nya tentang perceraian itu. Keyla hanya mengatakan Vano suaminya yang mencelakai nya dengan sengaja karena wanita simpanannya.
"Iya benar nyonya" jawab Arman dan ia memberikan selembaran pada Rina berisi tentang perceraian Keyla dan Vano.
"Kalau kau menceraikan anak ku lalu mana harta bagian nya selama menjadi istri mu? dia juga berhak atas apa yang kau dapat selama dia hidup dengan mu!" kata Rina dengan tidak tahu malunya.
"Harta? Bagian?" tanya Vano tidak percaya mendengar ucapan Rina.
"Iya. Kau sudah menikahi anak ku. Jadi kau tidak boleh menceraikannya tanpa sepeserpun yang ia dapat kan setelah menikah dengan mu" kata Rina.
"Ya Vano bukan kah selama kalian menikah kalian memiliki harta bersama?" tanya Ayah Keyla yang kali ini ikut menimpali.
"Arman berikan cek pada ku" kata Vano.
"Tidak. Kami tidak mau cek itu tidak mungkin. Kami mau harta yang kalian dapat bersama di bagi dua" kata Rina.
Vano tersenyum miring ia baru sadar ternyata selama ini ia tidak sadar telah di manpaatkan keluarga Keyla. Setiap bulan Vano mengirim uang ke rekening mertuanya itu tapi seperti nya itu belum cukup sama sekali dan yang lebih lucu mereka bukan datang untuk anak mereka saja tapi lebih untuk harta yang mereka tuntut.
"Tapi harta apa yang kami dapat bersama?" tanya Vano.
Karena seingatnya mereka tidak membeli aset dan mereka tinggal di rumah orang tua Vano. Dan apa yang mereka dapat kan bersama tidak ada.
"Kau harus memberikan saham di perusahaan mu lima puluh persen. Bagaimana pun anak ku sudah pernah menjadi istri mu" kata Rina dengan tegas.
__ADS_1
"Iya istri saya benar dan kau tidak boleh menceraikan putri kami begitu saja seenak kalian. Karena putri kami tidak memiliki kesalahan. Dan wajar kalau memang putri kami merekayasa penabrakan itu karena ia ingin berusaha merebut suaminya kembali dari pelakor itu" kata Ayah Keyla.