
Ziva masih saja kesal pada Vano, wajahnya masih menampakan kemarahan yang begitu besar.
"Yang, Mas nggak pernah nikah lagi. Dan Mas nggak akan nikah lagi," jelas Vano lagi-lagi karena memenang begitu adanya.
Ziva tak perduli dengan perkatakaan Vano, Ziva kini justru duduk diam di sisi ranjang. Akhirnya Vano keluar dari kamar meninggalkan Ziva sendirian.
"Hiks.....hiks......" Ziva menagis karena Vano benar-benar pergi meninggalkannya, namun beberapa saat kemudian Vano kembali masuk dan membawa Zie juga. Tak lupa Vano kembali mengunci pintu kamarnya, agar anak-anaknya yang lain tak mendengar.
"Bunda....." teriak Zie sambil berlari melompat ke ranjang dan memeluk Ziva, "Bunda kenapa nangis?" tanya Zie bingung.
"Bunda kelilipan," jawab Ziva sambil menghapus air matanya.
"O, iya Bunda. Zie juga kalau kelilipan suka nangis tapi Zie minta di tiupin Ayah, Bunda juga kelipan minta Ayah yang tiup," jawab Zie dengan wajah polosnya.
"Nggak usah, udah sembuh," kata Ziva karena ia masih sangat kesal pada Vano, dan ini bukan kelilipan melainkan kekesalan.
Vano berdiri di hadapan Zie dan Ziva, "Zie Ayah mau tanya boleh?" ucap Vano menatap Zie karena Zie harus menyelaskan tentang ucapannya barusan, hingga ia dan Ziva kini terjadi salah paham.
Zie mendongkak dan menatap Vano dengan menganggukkan kepalanya, wajah polos itu terlihat penasaran dengan apa yang akan di tanyakan sang Ayah, "Apa?" tanya Zie menunggu pertanyaan Vano, sambil memainkan tangannya, dan bergoyang-goyang.
"Kenapa Zie bilang Ayah nikah sama Ibu guru Zie di sekolah?" ucap Vano yang mengutarakan pertanyaannya.
Zie langsung berdiri berkacang pinggang, "Karena Bu guru bilang begini," Zie mempraktekan cara gurunya berbicara di hadapan Vano dan Ziva, "Anak-anak Ibu pinter," ucap Zie, "Terus Zie bilang, Zie bukan anak Ibu guru. Zie anak Ayah Vanu sama Bunda Ziva. Bu guru bilang Zie anak Bu guru, semua murit di sekolah anak Bu guru. Bu guru pasti udah nikah sama Ayah terus sama Pak Dahlan Papanya Sandy," terang Zie dengan menaik turunkan napasnya, seolah kini ia tengah marah.
"Bu guru bilang, kalau Zie anak Bu guru?" tanya Vano pada Zie, namun Vano menatap Ziva.
"He'um, Zie kesel emang kapan Ayah nikah sama Bu guru. Zie kan anak Ayah sama Bunda," terang Zie lagi dengan sangat kesal, bagaimna mungkin ia bisa menjadi anak gurunya. Sementara ia tahu selama ini anak kedua orang tuanya.
"Terus kenapa Zie bilang Ayah udah nikah sama Bu guru?" Vano sengaja bertanya berulang kali agar Ziva mendengar dengan jelas, penjelasan sang anak.
"Karena Bu guru bilang, Zie dan semua temen-temen Zie anak Bu guru," ucap Zie dengan kecang, bahkan sampai air liurnya juga ikut menyebur ke luar, "Zie nggak mau, Zie anak Bunda aja sama Ayah," tambah Zie lagi.
"O.....begitu," Vano mengangguk dan mencolek dagu Ziva.
"Bu gurunya aneh kan Yah, bilang Zie anaknya, Alma juga Bu guru bilang anaknya Bu guru, enak aja main ambil anak orang. Alma kan anaknya Daddy Bilmar," ucap Zie lagi dengan kesal.
__ADS_1
"Kamu harus bilang juga sama Mommy Anggi, kalau Daddy Bilmar udah nikah sama Bu guru ya," kata Vano agar Bilmar juga merasakan apa yang ia rasakan, "Kalau tidak nanti Alma juga bisa di ambil terus di jadikan anak Bu guru, Zie mau Mommy Anggi nangis karena Alma di ambil Bu guru?" tanya Vano agar Zie juga menyampaikan hal itu pada Anggia.
"He'um, Zie ke rumah Alma dulu sama Oma, sebelum terlambat, Zie nggak mau Mommy Anggi juga sedih, Zie harus berjuang demi Mommy Anggi. Bye Bunda, Ayah......" teriak Zie lalu berlari keluar dari kamar kedua orang.
"Berjuang ya Zi...." kata Vano dengan suara yang cukup kencang, sebab Zie sudah berlari.
"Berjuang Ayah....." teriak Zie sambil menarik pintu.
BRAK....
Zie membanting pintu saat menutupnya kembali, karena ia harus segera menemui Anggia. Agar Alma tak di rebut oleh Bu guru. Sementara Ziva terkejut mendengar suara pintu itu.
Dan Vano kini mendekati Ziva, dan berdiri di hadapannya. Ziva kesal dan malu ia langsung menggeser duduknya agar menjauh dari Vano. Vano tersenyum ia ikut duduk di samping Ziva, Ziva kembali bergerak, Vano juga ikut bergerak mengeser duduknya. Dan begitu seterusnya.
BRUUK......
Ziva terjatuh, karena ia ternyata sudah tak duduk di sisi ranjang lagi.
"Hiks......hiks......." tangis Ziva pecah karena pantatnya terasa sakit, terjatuh di lantai.
Ziva, menepis tangan Vano ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Ia bangun dan langsung berlari.
BRUUK.
Ziva terbentur pintu kamar mandi karena, ia langsung masuk tanpa membuanya terlebih dahulu.
"Ahahahhaaaa," tawa Vano pecah karena melihat Ziva yang terbentur.
"Mas........." teriak Ziva, ia duduk di lantai dan menggerakan kakinya seperti anak-anak yang menangis karena tidak di berikan mainan.
Sementara Vano langsung berhenti tertawa dan menutup telinganya, suara Ziva yang begitu kencang membuat gendang telingannya serasa mau pecah.
"Sayang ayo bangun," kata Vano berusaha membatu Vano berdiri.
"Nggak usah, Ziva bisa bangun sendiri," kesal Ziva.
__ADS_1
"Yaudah, Mas keluar terus nikah lagi," kata Vano menggoda Ziva dan ia berpura-pura pergi.
"Mas jangan," Ziva dengan cepat berlari dan memeluk Vano dari belakang.
"Bakalan dapat jatah nih...." gumam Vano, "Mas pergi kamu juga tadi udah ngusir Mas. Mana koper Mas tadi, Mas sakit hati karena di usir barusan Mas pergi aja," kata Vano berpura-pura mencoba melepaskan tangan Ziva yang melingkar di pinggangnya.
"Nggak mau," kata Ziva yang hampir menangis, "Maaf," kata Ziva dengan cepat.
"Udah Mas mau pergi, lepasin," kata Vano masih berpura-pura marah.
"Mas, jangan pergi. Ziva kan udah minta maaf," ucap Ziva penuh harap.
"Kamu minta maafnya nggak iklas," jelas Vano lagi, padahal ia ingin tertawa melihat wajah Ziva. Namun ia sengaja berpura-pura marah agar Ziva merasa bersalah.
"Iklas," jawab Ziva cepat.
"Buktiin kalau iklas," kata Vano.
"Caranya," Ziva berdiri di hadapan Vano dengan bingung.
"Mana Mas tau usaha dong, kalau nggak Mas pergi. Kamu juga udah usir Mas tadi," kata Vano mencoba melangkah.
"Jangan," Ziva bersandar di daun pintu agar Vano tak pergi.
"Minggir, Mas mau pergi," kata Vano seolah benar-benar serius ingin pergi.
"Nggak, Mas di sini aja. Ziva minta maaf," ucap Ziva lagi.
"Yudah....kalau kamu iklas buktiin."
"Ok."
Ziva membuka dressnya dan mendekati Vano.
"Tanpa bejerka keras, tapi dapat hasil," gumam Vano tersenyum bahagia.
__ADS_1