Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 128


__ADS_3

Satu minggu sudah usia pernikahan Seli dan Arman. Selama satu minggu itu pula keduanya kadang bertengkar kadang juga terlihat romantis, namun pertengkaran mereka tidak pernah serius, justru di setiap pertengkaran yang tercipta malah berakhir pada permainan yang sangat menguras tenaga.


"Sayang pasangin dasi Kakak dong."


Semenjak menikah Arman yang biasa mandiri kini mendadak menjadi tidak mandiri lagi semenjak ada Seli, Arman selalu meminta bantuan apapun pada Seli tanpa terkecuali.


"Sini," Seli berjinjit dengan susah payah karena terlalu pendek.


"Hehehe," Arman duduk di sisi ranjan dan menarik Seli juga duduk di pangkuannya agar sang istri lebih mudah memasangkan dasi.


"Udah deh," Seli tersenyum bangga karena sudah berhasil memasangkan dasi pada kerah kemeja sang suami.


"Kakak berangkat ya sayang," Arman mengecup mesra kebing sang istri.


"Okey, siang Seli ke kantor ya Kak," pinta Seli.


"Iya, kita makan siang bareng," Arman tersenyum lalu pergi berangkat berkerja.


Seli kini sudah tidak bekerja lagi, ia hanya di rumah saja dan ke kampus. Seli sudah tidak di ijinkan Arman lagi untuk bekerja karena merasa kasihan pada sang istri yang harus mengerjakan tugas dari kampus lalu di sibukan dengan pekerjaan di kantor, apa lagi Arman selalu membuatnya bergadang bahkan sering kali Seli tidur ketika sudah azan subuh.


Pagi harinya Seli harus mengurus sang suami lagi, belum lagi kalau ada meeiting Seli seperti anggin yang kesana kemari dalam waktu bersamaan. Arman juga ingin Seli cepat hamil dan ia takut kalau Seli terlalu lelah maka bisa memperlambat Seli mengdung anaknya, sebab terlalu lelah.


****


Prusahaan Sejahtera group.


Saat ini Arman tengah sibuk dengan banyak pekerjaan, Arman menggantikan posisi Seli di perusahaan milik si kembar Daffa dan Daffi. Pekerjaan sangat menumpuk sebab Arman yang baru menikah selama beberapa hari ini tidak bekerja, ia lebih memilih di rumah memeluk sang istri, dan di saat Arman sedang sibuk tiba-tiba ia di kejutkan dengan kehadiran seorang wanita yang selama satu minggu ini selalu ia hindari.


"Arman," Yuli langsung masuk keruangan Arman bahkan tanpa permisi atau pun salam terlebih dahulu.


"Yuli," Arman menghentikan pekerjaannya dan mulai menatap Yuli yang berdiri di depan meja kerjanya.


"Hiks, hiks," Yuli menangis dihadapan Arman.


"Yuli kamu kenapa?" Arman bingung mengapa Yuli menangis, dengan perlahan Arman menuntun Yuli duduk dan memberinya segelas air putih agar wanita itu lebih tenang.

__ADS_1


"Arman hiks, hiks," Yuli malah semakin menangis saat ia bertanya dan Yuli mencoba memeluk Arman tapi Arman menolak, ia sudah memiliki istri dan ia sangat takut pada sang istri. Jadi Arman sangat menghindari Yuli.


"Kamu kenapa?" tanya Arman lagi.


"Kamu kenapa menghidar dari aku terus, kamu jahat banget sih, aku sakit karena kamu. Terus kamu janji bakal selalu temani aku sampai aku sembuh," tutur Yuli kesal, Yuli tau Arman sudah menikah dan semenjak Arman menikah Yuli merasa Arman kini menghindarinya.


"Maaf Yuli, ada hati yang harus aku jaga," jawab Arman.


"Terus giman sama aku, giman sama janji kamu dulu," kata Yeni mulai emosi.


"Aku bakalan terus ada buat kamu, tapi nggak sama lagi seperti dulu dan itu pun aku harus mendapat ijin dari istri ku."


"Kamu jahat, hiks, hiks," Yuli malah menangis, dulu Arman selalu mendahulukannya tapi kini Arman sudah tidak seperti dulu lagi padanya.


"Maaf Yuli," kata Arman dengan perasaan menyesal.


CLEK.


Pintu terbuka dan Seli datang membawa rantang berisi makanan yang sudah ia masak untuk sang suami.


"Seli," kata Arman dengan rasa takut jika istrinya cemburu.


"Kakak Seli bawa makanan," kata Seli lalu meletakannya di meja dan langsung duduk di pangkuan Arman.


Arman bingun dengan Seli tidak biasanya Seli seperti itu. Bahkan biasanya di paksa saja ia tidak mau, dan tadinya Arman pikir Seli akan kembali ke sikap cengengnya yang selalu menangis. Tapi kini Seli justru melakukan hal yang di luar dugaan Arman.


"Kamu istri Arman?" tanya Yuli yang masih duduk di samping Arman.


"Iya," Seli mengalungkan tangannya di leher Arman dengan bersandar di dada bidang sang suami.


"Aku teman Arman," kata Yuli entah apa yang di rencana kan wanita itu hingga ia tetap berusaha tenang.


"Seli istri kakak Arman yang paling cantik," Seli mendongkak menatap Arman, "Kak Seli cantik kan?" tanya Seli.


"Ha," Arman yang masih di kuasai rasa bingung mulai tersadar, "I-iya sayang kamu cantik," kata Arman dengan jelas di telinga Yuli.

__ADS_1


"Iya dong kalau Seli nggak cantik, Kak Arman nggak akan maksa Seli buat nikah sama Kakak," jawab Seli santai yang justru membuat Arman sedikit malu, "Tapi Seli juga cinta sama kakak," kata Seli.


Arman bahagia mendengar ucapan Seli, pertama kalinya Seli bersikap manja padanya hal itu sangat di sukai Arman, hingga Arman tersenyum bahagia bahkan bahagia Arman rasanya sangat tak terhingga.


"Iya sayang, kamu bawa apa?" tanya Arman melihat Seli membawa makanan.


"Bawain makanan dong," kata Seli.


"Arman apa kita bisa bicara?" tanya Yuli menahan kesal karena merasa di abaikan setelah kedatangan Seli, bahkan Yuli semakin kesal dengan Seli yang duduk si pangkuan Arman.


"Bicara saja," kata Arman yang melihat Seli mulai menyuapinya.


"Tapi aku tidak ingin ada orang lain," kata Yuli.


"Saya Seli istri Arman Alfarizi bukan orang lain," kata Seli dengan tegas.


"Maksud ku kami mau berbicara hal yang penting," Yuli tetap menahan diri ia tidak mau Arman semakin menghindarinya bila saat ini ia menghajar Seli di hadapan Arman.


"Hal penting apa?" Seli mentap Arman penuh tanya, "Kak apa ada yang lain yang lebih penting dari Seli," tanya Seli.


"Nggak sayang, kamu yang paling penting dalam hidup Kakak," jawab Arman.


"Kamu dengarkan Yuli suami saya bilang apa? Jadi kalau mau bicara di sini saja," kesal Seli.


Yuli mengepalkan tangannya tetap berusaha tenang ia mungkin harus memikirkan cara lain, untuk bisa membuat Arman tetap bersamannya selalu ada untuknya seperti dulu lagi.


"Sayang nyuapinnya jangan banyak-bayak," Arman merasa mulutnya tidak muat sebab Seli menyuapinya dengana cepat dan banyak sekali.


"Kakak harus cepat habisin."


"Kenapa memangnya?" tanya Arman bingung.


"Seli mau di temanin bobo siang," jawab Seli sambik tetus menyuapi Arman.


Arman sangat bersemangat bila Seli berbicara hal berbau ranjang, tapi tidak dengan Yuli. Yuli merasa di anggurkan karena Arman dan Seli malah pamer kemesraan di hadapannya tanpa menganggapnya ada di sana.

__ADS_1


"Arman urusan kita belum selesai," Yuli pergi dengan rasa kesal meninggalkan Seli dan Arman yang sibuk bermesraan.


__ADS_2