
Saat ini Arman dan Seli sedang duduk bersantai di balkon, duduk lesehan di karpet bulu tebal berwana ungu. warna itu adalah warna kesukaan Seli dan hampir semua barang di rumah itu berwana ungu.
"Kak, Seli pengen makan yang asem-asem gitu deh," pinta Seli.
Di tengah teriknya matahari dan dinginnya cuaca Seli malah meminta sesuatu yang terdemgar aneh.
"Kamu minta yang asem yang?" tanya Arma ingin memastikan apakah yang di munta Seli itu benar.
"He'um," Seli mengangguk sengan perasaan sedang, "Kak, itu lihat deh," Seli menunjuk rumah tetangga yang bersebelahan dengan rumah mereka.
"Mangga yang?" tanya Arman.
"Iya, kita ambil yuk Kak," kata Seli dengan raut wajah berbinar.
"Kamu jangan malu-maluin dong yang, kita beli aja ya," kata Arman
Menurut Arman permintaan Seli sangat tidak masuk akal, bukan mengenai buah mangganya tapi Arman keberata kalau ingin makan mangga tapi minta pada tetangga, itu cukup memalukan bagi Arman.
"Tapi Seli pengen yang itu....." Seli tak mau mengalah ia tetap keukeuh untuk mendapatkan mangga tetangga yang terlihat sangat menggoda dan segar.
"Sayang, kita beli aja. Kita beli yang banyak kalau perlu seratus kilo," kata Arman mencoba bernegosiasi.
Tapi justru Seli kesal, ia hanya ingin makan mangga dan hanya mangga tetangga yang sedang ia lihat saat ini bukan mangga yang lain.
"Kakak nggak sayang sama Seli," Seli bangun dari pangkuan Arman dan pergi ke kamar sambil menangis.
"Sayang," Arman berjalan mengikuti Seli, "Nangis?" gumam Arman, hanya karena buah mangga Seli menangis? Arman merasa aneh dengan tingkah istrinya sendiri.
Kini Seli sudah berbaring miring di ranjang, ia menyelimuti tubuhnya denga selimut, pesaan sedih dan kesal menjadi satu. Rasanya Seli ingin meremas wajah Arman karena tak mengabulkan keinginannya saat ini.
"Seli...." Arman mengelus kepala sang istri dan ia duduk di sisi ranjang.
"Kakak barusa manggil apa?" Tanya Seli sambil membelakangi Arman.
"Seli..." jawab Arman.
Seli dengsn cepat mendudukan tubuhny, tatapan tajam ia berikan pada Arman tidak lupa Seli dengan cepat melempar bantal pada Arman.
"Kakak nggak sayang sama Seli," kata Selu sambil kembali berbaring dan membelakangi Arman.
__ADS_1
"Seli kamu kenapa, tingkah kamu kenapa aneh banget," Arman bertanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal melihat keanehan Seli saat ini.
"Nahkan.....sekarang Kakak bilang Seli aneh, Kakak udah nggak sayang sama Seli, Kakak keluar dari sini," kata Seli.
"Seli kamu nggak usah aneh-aheh ya, tadi kamu minta mangga tetangga terus sekarang kamu jadi begini. Nggak usah bikin Kakak emosi," kata Arman dengan tegas.
Seli turun dari ranjang dengan perasaan kesal, ia setengang berlari.
"Hiks, hiks," tangisan Seli pecah saat ia membuka pintu kamar Lastri.
"Nak kamu kenapa?" tanya Lastri bingung saat melihat putri kesayangannya menangis.
"Hiks, hiks," Seli memeluk Lastri yang baru selesai solat bahkan masih menggunakan mukenah. Tidak berselang lama Lastri melihat Arman yang berdiri di pintu kamar yamg terbuka, Lastri mengerti pasti saat ini keduanya sedang bertengkar.
"Seli kamu kalau ada masalah sama Arman selesaikan baik-baik Nak, kamu mau Arman pergi lagi seperti dulu," kata Lastri berusaha menasehati anaknya, agar tak bersipat kekanak-kanakan lagi.
Seli berhenti menangis mendengar perkataan Lastri, ia diam dan mengingat saat dulu Arman meninggalkannya.
"Seli, Kakak minta maaf ya," Arman masuk dan mendekati Seli.
"Sudah, ayo sana selesaikan masalah kalian jangan seperti anak-anak lagi," Lastri mendorong Seli dan Arman keluar dari kamarnya, agar anak juga menantunya itu bisa menyelesaikan masalahnya.
Arman kini malah merasa bingung dan juga merasa bersalah sudah memarahi istrinya, Arman juga memeluk Seli dengan erat dan berkali-kali mencium pucuk kepala sang istri.
"Kamu mau mangga tetangga itu," tanya Arman yang merasa kasihan pada istrinya.
"Tapi tadi Kakak bilang nggak boleh," mata Seli berkaca-kaca menatap Arman.
"Boleh, asal orang nya ijini ya," kata Arman sebab itu adalah mangga tetangga yang terkenal pelit jadi Arman tak yakin jika akan di ijinkan oleh si pemilik.
"Ok....." Seli tersenyum bahagia seolah ia tak ada masalah barusan dengan Arman.
"Hah, aneh...." gumam Arman melihat sang istri yang sudah berjalan terlebih dahulu di hadapannya dengan perasaan bahagia.
"Kak cepet," Seli berbalik karenakesal Arman bukannya ikut dengannya tapi malah diam di tempatnya, dengan menggaruk lengannya seperti irang kebingungan.
"I-iya," Arman melangkah dan memegang tangan Seli, keduanya berjalan menuju rumah tetangga yang terkenal pelit itu.
"Pak, kita boleh minta mangganya nggak?" tanya Seli pada satpam.
__ADS_1
"Saya nggak tau tuan, majikan saya pelit banget," kata satpam itu yang ia juga ragu untuk memberi ijin, tapi tidak berselang lama anak si pemilik rumah itu keluar dan melihat Arman dan Seli di halaman rumahnya.
"Om, mau ambil mangga ya?" tanya si anak berusia dua belas tahun itu.
"Iya, boleh nggak? Om kasih kamu uang kalau boleh," kata Arman agar anak itu mengijinkannya.
"Nggak usah pakek uang Om, lagi nggak ada Mama di rumah ambil aja, nanti dosa nya saya tanggung," kata si anak itu, Arman dan Seli malah saling pandang dalam kebingungan.
"Ini beneran boleh?" tanya Arman.
"Iya, Mama lagi ke pasar Om, dan Om cepetan ambil nanti kalau Mama pulang Om nggak akan di ijinin ambil itu mangga, lagian itu jumlah mangga udah di hitung sama Mama, nanti kalau Mama tanya mangganya aku bilang aku yang makan, Mama nggak akan marah asal jangan orang yang makan Mama bisa jadi macan Om," kata si anak lalu pergi membawa sepedanya bermain di luar.
"Kakak ayo sebelum Mama itu anak balik," Seli menarik lengan Arman.
"Ha," Arman ikut saja seperti orang bingung karena apa yang di ucapkan anak tadi.
"Kakak bisa manjat nggak?" tanya Seli.
"Nggak yang," jawab Arman.
"Nggak papa, Seli aja yang panjat," kata Seli yang jagonya dalam memanjat.
"Yang nanti jatoh," kata Arman pada Seli yang sudah naik setengah pohon mangga itu.
"Kakak tenang....kan Kakak udah ajarin Seli caranya manjat yang baik dan benar," jawab Seli yang kini sudah berada di atas pohon mangga.
"Kapan?" Arman saja tak pandai memanjat tapi Seli mengatakan kalau ia yang mengajarkan Seli memanjat.
"Setiap pagi, siang sore dan malam," jawab Seli setengah berteriak, karena ia sudah berada di puncak pohon mangga itu.
"Mana ada, Kakak ngajarin kamu manjat, aneh," kesal Arman.
"Ada manjat Kakak," seloroh Seli.
PAAAKK.
Arman melempar buah mangga kecil yang sudah kering mengenai pantat Seli.
"Ahahahahahah.....nggak enak Kak enakan yang Seli panjat Kakak," seloroh Seli dari atas pohon hingga membuat Arman geleng-geleng dengan tingkah sang istri.
__ADS_1