
"Sayang" kata Vano yang sedang duduk memangku Ziva sambil ia meletakan kepalanya pada tengkuk Ziva.
"Ya Mas" jawab Ziva yang mengenggam tangan Vano yang melingkar di perutnya.
"Kamu harus janji sama Mas. Kamu nggak akan pernah meninggalkan Mas" kata Vano semakin mempererat pelukannya.
"Kenapa Mas bicara gitu?" tanya Ziva bingung.
"Entah lah. Tapi Mas takut sekali kehilangan kamu atau pun kamu pergi meninggalkan Mas" kata Vano.
"Kalau Mas sayang sama Ziva. Ziva nggak akan tinggalin Mas. Tapi kalau Mas nyakitin Ziva. Itu baru Ziva pergi tanpa pamit sama Mas" jawab Ziva yang masih di dalam dekapan hangat tubuh kekar Vano.
"Mas janji Mas nggak akan nyakitin kamu. Asal kamu selalu berada di sisi Mas" kata Vano.
"Iya Mas" jawab Ziva sebelah tangannya menangkup wajah Vano yang berada di tengkuk nya dan Vano memegang tangan Ziva dan mencium nya dengan bertubi-tubi.
"Sayang nanti Mas mau punya anak lima ya" kata Vano mulai berbicara hal lain.
"Lima Mas?" tanya Ziva tidak percaya.
"Iyo dong sayang satu mana cukup" kata Vano lagi.
"Dua aja ya Mas" kata Ziva mencoba memberi penawaran pada Vano.
"Nggak yang Mas mau nya lima"
"Mas hamil dan ngelahirin itu nggak mudah loh Mas" jawab Ziva.
"Tapi mau gimana lagi yang. Bikin nya enak banget" kata Vano berbisik di telinga Ziva.
__ADS_1
"Mas" kata Ziva sambil menyiku Vono yang ada di belakangnya.
"Hehehe" Vano terkekeh melihat reaksi Ziva yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Mas kenapa ya mesum banget?" tanya Ziva dengan jengkel.
"Kenapa yang kan nggak ada yang larang. Kecuali Mas mesum sama tetangga itu baru tidak boleh" kata Vano sambil menarik hidung Ziva.
"Sakit Mas" kata Ziva dengan manja.
"Sayang Mas boleh tanya satu hal. Dan ini sangat peribadi dan Mas sangat ingin mendengar sendiri dari kamu. Karena Mas sangat penasaran tapi Mas mohon kamu jangan marah" kata Vano dengan wajah seriusnya tapi tangan nya tetap masih melingkar di perut Ziva yang sesekali tangan Vano mengelus perut Ziva.
"Mas mau tanya apa?" kata Ziva mulai memutar tubuh nya dan ia mulai bersandar pada dada Vano dengan posisi tubuhnya yang miring dan tangannya memainkan kancing kemeja Vano.
"Kamu janji tidak marah dan Mas pun begitu apa pun jawaban kamu Mas akan menerima dan Mas tidak akan marah" kata Vano berusaha meyakinkan Ziva.
"Mas mau tanya dulu kamu kenapa menjual kesucian kamu? Mas sudah tau sedikit-demi sedikit namun Mas ingin jawaban itu dari bibir manis kamu" kata Vano sambil mencium tangan Ziva dan ia meletakan tangan Ziva di pipinya. Sambil menunggu jawaban dari Ziva.
Huuufp.
Ziva menarik napasnya dan ia memang sudah menduga tadi saat Vano akan bertanya karena ia dapat melihat keseriusan di wajah Vano. Ziva diam sesaat ia mengingat kembali masa lalunya yang kelam tapi ia juga mulai berpikir kalau ia menceritakan semua nya lebih baik. Di tambah lagi ia juga ingin tau penyebab kematian orang tua nya yang begitu janggal. Ia berdo'a dan berharap Vano bisa membantunya.
"Ya Mas dulu Ziva butuh uang buat operasi Daffi yang sakit tumor" jawab Ziva dengan menundukan kepalanya ia mengingat hanya ada Nita yang menolongnya saat itu. Dan mungkin ia akan segera mengunjungi Nita dan mengucapkan banyak terimakasih.
"Em" Vano menganguk.
"Mas masih ingat saat itu adalah pertama kali untuk kamu. Dan Mas ingin bertanya apa setelah malam itu bersama Mas kamu pernah melakukannya dengan yang lain?" tanya Vano.
Ziva yang bersandar di tubuh Vano mulai menjauh. Matanya mulai memerah dan cairan bening mulai membasahi pipinya. Ingatan itu mulai kembali berputar di otaknya. Entah karena kondisi tubuhnya yang sedang hamil namun yang jelas hati nya terasa sakit mendengar pertanyaan Vano.
__ADS_1
"Sayang Mas tidak bermaksud melukai mu. Mas hanya ingin mendengar dari mulut mu dan Mas ingin memastikan apa semua info tentang kamu yang Mas dapat itu benar?" kata Vano dengan perasaan cemas karena Ziva mulai menangis dan itu membuat dada Vano terasa sesak.
"Mas aku terpaksa waktu itu menjual diri ku. Dan itu hanya satu kali saja. Setelah itu aku memang kembali bekerja di sana tapi aku hanya menjadi pelayan saja. Itu pun karena aku butuh uang cepat untuk menebus obat Daffi" jawab Ziva dengan segegukan.
"Sayang jangan menangis" Vano menarik Ziva kedalam pelukannya ia merasa menyesal dengan pertanyaannya namun jujur ia telah merasa lega dengan jawaban Ziva. Karena ia selalu di sebut wanita bayaran padahal Ziva hanya menjual dirinya pada Vano saja saat itu.
"Hiks hiks hiks" Ziva terus menangis di pelukan Vano.
"Sayang" kata Vano mulai menjauhkan tubuh Ziva dari nya dan ia menangkup pipi Ziva dengan kedua tangannya.
"Sayang istri Mas yang cantik. Jangan nangis ya Mas juga bisa sedih kalau kamu begini" kata Vano yang terus berusaha menghapus jejak air mata Ziva.
"Iya Mas" jawab Ziva dan Ziva kembali memeluk Vano karena menurutnya bersama Vano ia menemukan kenyamanan dan kedamaian hatinya yang gundah.
"Sudah jangan sedih lagi. Tapi Mas bingung sayang" kata Vano.
"Bingung?. Bingung kenapa Mas" tanya Ziva kembali.
"Ya kamu kan pernah bilang yang. Kalau rumah ini rumah orang tua kamu. Dan rumah ini di sita bank" kata Vano menjeda ucapannya karena ia masih memikirkan apa yang ia tau beberapa bulan lalu saat ia membeli rumah itu.
"Iya Mas terus?" tanya Ziva yang penasaran.
"Tapi Mas tidak beli rumah ini dari bank yang. Tapi dari seorang pengacara yang bernama Hutomo" jawab Vano ia pun sedikit bingung entah mengapa ia merasa ada kejanggalan dan ia sebenarnya dari awal sudah merasa janggal namun ia bingung bagaimana cara mengatakannya pada Ziva.
"Hutomo Mas" tanya Ziva lagi ia mengingat kembali semua ucapan Hutomo sewaktu ia di suruh pergi dari rumah itu.
"Iya sayang" kata Vano sambil menarik tengkuk Ziva dan ******* bibir mungil istrinya itu.
Ziva melepas ciuman itu dengan menjauhkan kepalanya. Karena ia makin penasaran dengan perkataan Vano. Namun sayang Vano dengan cepat kembali menarik tengkuk Ziva dan kembali melumatkannya.Menurut Vano ia memang penasaran dengan rumah Ziva namun saat ini ia lebih ingin melanjutkan kesenangannya yang ******* habis bibir istri mungilnya itu.
__ADS_1