
Setelah kepergian Yuli, kini hanya tinggal Seli dan Arman. Seli sangat kesal pada Arman padahal sang suami tidak salah apa-apa. Namun karena Yuli mengatakan Arman sudah melakukan lah itu dengan Yuli sungguh membuat Seli tidak bisa menahan kemarahannya, tanpa bicara Seli pergi kekamar begitu saja. Meninggalkan Arman dalam kebingungan.
"Sayang," Arman juga ikut menyusul Seli masuk kedalam kamar.
"Apa!" ketus Seli yang kini duduk di ranjang, tidak ada wajah ceria seperti biasanya, yang ada hanya kekesalan saja.
"Sayang," Arman duduk di samping Seli dan mengelus kepala Seli tapi dengan cepat tangan Seli menepis tangan Arman, membuat Arman harus menahan sabar. Semenjak menikah Seli sudah tidak ketus padanya, namun beberapa hari ini Seli kembali berubah jutek bila Arman sedikit saja berbuat tidak di sukai Seli.
"Apasih," Seli tidak suka Arman dekat-dekat dengannya.
"Sayang kau kenapa?" tanya Arman.
Seli menutup mulut dan berlari kekamar mandi memuntahkan semua isi perutnya.
"Huueekk, huueekk."
"Sayang," Arman juga panik dan menyusul Seli kekamar mandi, melihat sang istri muntah-muntah ia memijat tenkuk sang istri agar memudahkan Seli mengeluarkan isi perutnya.
"Kak," Seli memegang Arman dengan tubuh yang tak lagi kuat berdiri.
"Sayang apa kau sakit," Arman mengangkat tubuh Seli dan membaringkan di ranjang.
"Kak Seli pengen di peluk Kakak deh," tutur Seli.
Arman membuka jasnya dan membaringkan tubuhnya di samping Seli, Arman merasa aneh dengan istrinya yang kadang marah kadang ceria. Tapi Arman tidak berani mengatakan apa-apa sebab ia takut jika Seli marah karena tersinggung dengan pertanyaannya.
"Muka kamu pucat yang, kita ke dokter yuk," kata Arman.
"Seli mau kerumah Bunda aja, Seli lagi pengen masakan Bunda," Seli sudah membayangkan bertapa lezatnya masakan sang Bunda yang sudah lama tak ia rasakan.
"Iya udah, nanti kita kerumah Bunda terus nginep di sana ya," tutur Arman.
Seli kembali mengingat perkataan Yuli tadi dan matanya kini kembali menatap tajam Arman, Arman kembali memasang perasaan was-was dan jawaban yang hati-hati bila Seli bertanya, agar istrinya tidak marah-marah lagi sebab Arman sudah dua malam tidak mendapat haknya, karena Seli mengatakan tidak ingin dekat dengannya hal itu sangat menyiksa Arman.
__ADS_1
"Kakak Seli mau tanya, tapi Kakak harus jawab jujur," Telunjuk Seli mengarah pada wajah Arman, tapi bukannya Arman menjawab ia malah menghisap jari Seli seperti makan loli pon.
"Em," jawab Arman.
"Kakak," Seli kesal ada saja cara Arman yang terlihat aneh di mata Seli.
"Hehehe," Arman terkekeh melihat wajah kesal sang istri, "Kamu mau tanyak apa, sebentar lagi Kakak ada meeiting," Arman melihat jam yang masih melekat di tangannya, ia masih punya waktu dua jam.
"Tadi kata Yuli Kakak udah pernah begituan sama dia, bener nggak?" Tanya Seli dengan kesal dan bersiap-siap pergi bila benar Arman pernah melakukan itu dengan Yuli.
"Menurut mu?" Arman malah menggoda Seli, bahkan Arman mencolek dagu Seli.
"Kak Arman jawab," Seli lagi-lagi menepis tangan Arman yang mencolek dagunya tanpa henti.
"Kau mau tahu?"
"Kak Arman!"
Seli menatap tajam dan memukul dada Arman, tapi dengan cepat kedua tangan Seli di pegang Arman kuat dengan sebelah tangannya saja, dan Arman kembali memeluk Seli dengan erat.
"Kak, perut Seli sakit, jangan kenceng," kata Seli menutup mata merasakan sakit saat bagian perutnya tertindih.
"Sakit?" Arman melepaskan Seli ia sangat takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"He'um," jawab Seli memegang perutnya, tadi saja saat Yuli mendorongnya Seli juga merasa sakit.
"Sekarang masih sakit?" tanya Arman panik.
"Enggak Kak, tadi aja," jawab Seli.
"O, apa kita kedokter saja?"
"Kakak tidak usah mengalihkan pembicaraan, jawab pertanyaan Seli yang tadi," Seli kembali mengingat pembicaraanya dengan Arman, sebelum Arman menjawan ia tidak akan bisa tenang.
__ADS_1
"Kakak belum pernah lakuin itu selain sama kamu tapi....." Arman menggantung ucapannya merasa mendapatkan ide bagus.
"Tapi apa Kak?" tanya Seli penasaran.
"Tapi udah dua hari dua malam Kakak puasa," Arman memijat kepala seolah ia sangat pusing memikirkan tak dapat jatah.
"Kakak mau?" Seli yang takut sang suami melampiaskannya pada yang lain lansung menawarkan diri.
"Iya," Arman mengangguk dan memasang wajah melas.
"Ayo," kata Seli meletakan tangan Arman padanya.
"Tapi kamu nggak iklas deh kayanya," tutur Arman.
"Seli iklas Kak, nih," Seli turun dari ranjang dalam sekejap tubuh Seli yang polos terpampang nyata di mata Arman.
Gila pagi-pagi dapat jatah yang beginian, asik banget punya istri yang polos gampang di pancing, mana sexy bener lagi.
"Yang coba kamu goyang, di situ," Arman malah memanpaatkan keadaan meminta Seli bergoyang
Seli bergoyang seperti permintaan Arman, Arman hanya mendeguk saliva dalam sekejap Seli merasa tubuhnya melayang begitu saja, sebab tubuhnya di angkat oleh Arman.
"Sayang," Arman mulai melancarkan aksinya, dengan suara parau berkabut gairah ia terus meraup apa saja yang bisa ia raup.
"Kak Arman," Seli yang takut suaminya melakukan hal itu dengan wanita lain terlihat lebih agresif dari biasanya, Seli sudah seperti wanita bayaran yang harus memuaskan para pelanggan.
Arman tersenyum penuh kemenangan kini ia tahu bagaimana cara membuat istrinya terpancing, hingga satu jam memudian Seli terkapar lemah di ranjang, Arman menarik selimut menutupi tibuh sang istri.
Arman turun dari ranjang ia membersikah tubuh dan memakai pakaian bersih, sebab lima belas menit lagi ia ada rapat penting, Arman tak membagunkan Seli ia mengecup mesra kening sang istri dengan perasaan semangat melakukan meeiting setelah apa yang di berikan Seli padanya.
"Istri ku sayang terimakasih, kau sidah menjadi candu bagi ku, aku tidak akan pernah pergi ke lain wanita, hanya kau yamg mampu meruntuhkan keras dan dinginnya sikap ku. Di hadapan mu aku seperti lelaki yang takut pada istrinya, aku rela asal kau selalu ada bersama ku, semoga di sini ada Arman juniar segera."
Setelah mengatakan itu ia langsung pergi dengan senyum yang terus saja menghiasi bibirnya, tidak ada kata yang bisa di ucapkan menggambarkan bertapa ia bahagianya. Tidak ada isyarat yang mampu melukiskan perasaan bahagia yang kini ia rasakan, Arman baru tahu indahnya jatuh cinta ternyata bisa membuat gila. Seketika Arman mengingat Vano yang bucin parah pada sang istri, dan kini Arman tahu ternyata istri memang membawa danpak yang baik untuknya, dan ia pun sama kini dengan Vano yang tak bisa jauh dari istrinya bahkan untuk satu menit saja rasanya sudah sangat menyiksa.
__ADS_1