
Dua hari sudah berlalu, Arman dan Seli tinggal berdua saja di apartement milik Arman sampai rumah Arman yang sedang dalam proses pembangunan selesai. Namun anehnya selama dua hari keduanya tinggal bersama, selama dua hari itu pula keduanya selalu terlibat cekcok. Tidak ada malam pengantin atau pun keromantisan-keromantisan seperti pasangan lainnya setelah menikah.
Arman selalu datang dan pergi sesukanya membuat Seli merasa kesal, tidak perduli siang mau pun malam bila wanita yang bernama Yuli itu meminta Arman menemaninya, maka tidak ada kata penolakan yang di ucapkan Arman. Seperti malam ini Seli sangat kesal ia sudah memasak untuk Arman bahkan makanannya sudah dingin tapi Arman belum juga menunjukan batang hidungnya.
Dengan kesal Seli membuang makanan yang ia masak sebab jam pun sudah menunjukan pukul satu malam, jadi ia tidak yakin Arman akan pulang lalu makan-makanan yang sudah ia masak. Seli yakin malam ini mungkin Arman tidak pulang seperti malam kemarin ia pamit pergi sebentar, tapi ternyata pagi harinya Arman baru pulang, Seli hanya diam menyimpan kekesalannya.
"Pulang kerja belain masak dulu, tapi ternyata dia nggak pulang-pulang," gumam Seli setelah ia membuang semua masakanya.
Seli yang tidak bisa tidur memilih menyalakan televisi, matanya menatap televisi yang menyala tapi pikirannya melayang entah kemana. Hingga tidak lama berselang pintu terbuka Seli hanya diam ia tahu itu pasti Arman.
"Seli kau belum tidur?" tanya Arman saat melihat Seli masih duduk manis di sofa.
"Belum," jawab Seli tanpa menatap Arman.
Arman sudah biasa dengan kejudesan Seli, ia membersihkan tubuhnya terlebih dahulu hingga tak berselang lama Arman kembali menemui Seli kembali setelah tubuhnya lebih segar.
"Seli buatin kopi dong," pinta Arman saat ia sudah duduk di samping Seli.
"Buat aja sendiri!" ketus Seli tanpa melihat Arman.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Arman menatap tajam sang istri.
Seli memutar lehernya kekiri untuk melihat Arman di sana, hati Seli sangat kesal mengingat Arman lebih perduli pada wanita lain dari pada dirinya.
"Apa kau tuli, aku bilang kalau kau mau kopi kau buat sendiri!" jawab Seli dengan penuh emosi.
Mendengar jawaban Seli, Arman langsung berdiri dengan tubuh condong pada Seli yang masih duduk di sofa.
"Kau berani berbicara bergitu pada ku!" tanya Arman memegang rahang Seli.
__ADS_1
"Ck," Seli menepis tangan Arman lalu berdiri, "Kenapa memangnya?" tanya Seli tidak dengan nada tidak kalah kalah tinggi.
"Aku suami mu jangan kurang ajar!" bentak Arman.
"Lalu kenapa kalau kau suami ku!"
"Seli," Arman hampir melayangkan tangannya di wajah Seli, dengan reflek Seli menutup mata dan menunggu rasa sakit yang akan ia terima, Arman menyadari tubuh Seli yang bergetar dan perasaan takut, hingga Arman dengan cepat mengendalikan emosinya.
"Kenapa kau tidak menampar ku, kalau kau mau membunuh ku pun aku tidak apa!" teriak Seli dengan mata yang berkaca-kaca.
"Seli apa mau mu sebenarnya kau kenapa?" tanya Arman yang merasa bingung dan tidak menyadari kesalahannya.
"Kau tanya aku kenapa?" Seli tersenyum miring mendengar pertanyaan Arman.
"Iya, kalau kau tidak memberitahu aku tidak tau," tutur Arman dengan nada yang lembut ia tidak ingin khilaf karena termakan emosi.
"Kau sebenarnya mencintai aku atau tidak?" pertanyaan yang selalu membebani otak Seli kini mulai ia utarakan.
"Lalu bisakah kau jelaskan pada ku siapa itu Yuli, wanita yang selalu membuat mu pergi tanpa tau siang maupun malam!" tanya Seli lagi
"Yuli hanya sabat ku," jawab Arman lagi.
"Bisakah kau jelaskan lebih detil Arman?"
"Apa maksud mu?" tanya Arman dengan berapi-api sebab Seli berbicara sesuka hatinya dan tidak menghormatinya.
"Maksud ku, aku beberapa kali melihat dia datang menemui mu ke kantor dan beberapa kali pula aku melihat kau memeluknya, bahkan sehari sebelum kau menikahi aku. Tolong jelaskan!"
"Baiklah aku akan menjelaskan semuanya," kata Arman.
__ADS_1
"Ya, ayo aku ingin dengar."
"Yuli sahabat ku sejak kami masih duduk di bangku SMA, dulu aku memang pernah jatuh hati padanya. Tapi itu dulu sewaktu SMA dan kami terpisah setelah aku ikut bersama Vano dan Bilmar kuliah di Amerika, setelah aku kembali lagi ke tanah air tanpa sengaja kami bertemu kembali hingga suatu insiden menyebabkan aku hampir kecelakaan, tapi Yuli menolong ku. Dan saat aku lolos dari maut saat kecelakaan itu Yuli malah menjadi korban, kepalanya terbentur batu hingga kini dia mengalami geger otak, dan aku sudah berjanji akan selalu menemaninya sampai dia sembuh. Aku ingin kau mengerti akan hal itu," kata Arman dengan tegas.
"Kalau kau sudah berjanji selalu ada untuknya kenapa kau tidak menikahinya? Tapi malah menikahi aku?" tanya Seli kesal merasa di permainkan.
"Karena aku mencintai mu bukan mencintainya!"
"Kalau begitu kau harus memilih aku atau dia?" tanya Seli dengan perasaan sakit.
"Cukup! Aku tidak bisa melepas mu. Tapi aku juga tidak bisa pergi meninggalkannya begitu saja, Seli aku mohon mengertinya hanya sampai dia dinyatakan sembuh agar aku tidak merasa berdosa," tutur Arman dengan tangannya memegang lengan Seli.
"Sampai kapan? Kapan dia sembuh! Sampai kapan kau lebih memikirnya dari pada aku!" teriak Seli.
"Aku selalu memikirkan mu dan ada untuk mu, jadi tidak usah lebay dengan memperbesar masalah yang tidak seberapa," tutur Arman seolah tanpa dosa.
"Kau bilang aku lebay Arman?" Seli menitihkan air mata yang sedari tadi ia tahan, "Baiklah kau bebas mau pergi dan pulang sesuka mu, silahkan. Tapi berikan aku juga kebebasan untuk pulang dan pergi sesuka ku," pinta Seli dengan menghapus kasar air matanya.
"Jangan samakan posisi mu seperti aku, aku memiliki hak untuk bertanggung jawab pada Yuli dia sakit seperti ini karena aku," tegas Arman.
"Lalu apa kau tau hak dan kewajiban mu sebagai seorang suami terhadap istri mu! Kau tidak pernah ada untuk ku Arman."
Seli pergi kedalam kamar tidak berselang lama Seli keluar dengan balutan dress sexy dan high heels hingga menampakan kaki mulusnya, Arman melihat kesal Seli hendak memega gagang pintu tapi dengan cepat Arman memegang lengan Seli.
"Kau mau kemana, tengah malam begini dengan pakaian seperti ini," Arman bahkan dapat melihat setengah gundukan Seli menyembul.
"Bukan urusan mu!" Seli menghempas tangan Arman lalu pergi dengan cepat dari hadapan Arman sebab ia tidak ingin Arman mengejarnya.
Seli pergi dengan perasaan sakit dan kesal ia bahkan dengan sengaja meninggalkan ponsenya agar Arman tidak bisa melacak keberadaan. Seli hanya membawa tas tangan kecil kesayangannya. Tidak perduli dengan jam yang sudah menunjukan pukul dua malam.
__ADS_1
****
Jangan lupa like nya kakak semua saya hari ini bakal grazy up. Vote juga ya.