Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 140


__ADS_3

Ziva dan Vano kini sedang sibuk memikirkan nama untuk keempat bayi kembar mereka, Ziva bingung mereka memberi nama apa sebab kembar empat, dan sangat sulit sekali. Namun anehnya adalah Ziva sibuk dengan mencoret-coret nama di kertas, tapi Vano malah memperhatikan saja tingkah istrinya. Pipi Ziva sangat cabi membuat Vano semakin gemas saja pada sang istri.


"Mas gimana kalau nama anak kita, A, B, C, D, kan gampang manggilnya," Kata Ziva pada sang suami, namun Vano sama sekali tak menanggapi. Yang Vano tanggapi hanya kemontokan sang istri hingga membuat Ziva kesal, "Mas...." Ziva yang kesal memukul wajah Vano dengan buku di tangannya.


"Eh," Vano tersadar dari khayalan yang sudah masuk ke dunia yang sangat indah.


"Mas denger nggak sih, Ziva barusan ngomong apa?" Ziva menahan kesal yang terlihat akan ada kemarahan yang akan segera melanda.


"Maaf yang, Mas nggak denger karena Mas cuman bisa denger kata kalau Ziva bilang cinta sama Mas," Jawab Vano berusaha lolos dari macan cantik di hadapannya.


"Kan Ziva emang cinta sama Mas," Jawab Ziva berbunga-bunga.


Kadang-kadang lebih gampang, sekalian aja yang indah-indah.


"Makasih sayang, Mas juga cinta Ziva," Vano langsung mengangkat sang istri menuju kamar dan membarikannya di ranjang.


"Mas kok Ziva di bawa ke sini?" tanya Ziva.


"Ayo lah yang usia kandungan kamu udah lima bulan, sebentar lagi Mas libur panjang yang," Tutur Vano penuh harap, Ziva menggangguk dan tersenyum pada sang suami.


"Mas puasa cuman 44 hari emang susah apa?" Seloroh Ziva, ia tau seperti apa suaminya dalam hal itu, yang ada di otak suaminya hanya itu dan itu. Bahkan kadang hari libur Ziva ingin jalan-jalan tapi Vano tidak mau, ia lebih memilih di rumah berdua saja dengan sang istri sebab yang lain pergi jalan-jalan.


Vano sudah tidak tertarik dengan hal berbau liburan, yang kini membuat Vano tertarik adalah istri cantiknya. Waktu libur bekerja adalah waktu yang paling di rindukan Vano bahkan pernah Vano melingkari kalender dengan tinta berwarna merah, sebab kesal dalam bulan itu tak ada tanggal yang merah.


Ziva hanya bisa menggeleng sambil senyum-senyum mengingat tingkah konyol sang suami, bahkan tingkah baru Vano adalah sebelum pergi bekerja ia wajib mendapatkan haknya terlebih dahulu. Mungkin Vano tau setelah bayi mereka lahir Vano akan sulit mendapat keinginannya sebab ada bayinya yang harus di urus, menguru satu bayi saja sudah membuat banyak waktu apa lagi empat bayi, bisa di bayangkan bertapa repotnya.


"44 Hari kamu bilang nggak susah? Satu hari aja Mas libur rasanya pingin ngejedotin kepala ke dinding," Gerutu Vano.

__ADS_1


"Mas tapi Ziva pengen tau kenapa Mas kasih anak kita namanya Ziezie kan itu nama panggilan Ziva, dulu Mama manggil Ziva juga Zi," Ziva sangat penasaran dengan alasan Vano.


"Iya memang, kan dia anak kita yang. Jadi dia itu sama kayak kamu di hati Mas, Ziva dan Zie satu paket di hati Mas yang, Yang yuk," Vano menaik turunkan alis matanya.


"Apa sih, Ahahahaa," Vano merusaha mendapatkan apa yang di inginkannya, tapi Ziva menutupi miliknya dengan kencang dan hasilnya adalah Ziva melindungi diri dan Vano memaksa.


"Kamu mau ajakin Mas main paksa-paksa ya," Vano duduk dan menunjukan tangan kekarnya dalam sekejap dua tangan Vano mendarat di kedua ketiak Ziva, dan mengkelitiki sang istri.


"Ahahahahaaa, Mas, Ahahahaa," Ziva meronta-ronta dan ingin membebaskan diri.


"Apa," Vano semakin mengklitiki sang istri, "Mau lagi?" Tanya Vano.


"Ampun," Ziva tertawa sambil memohon Vano berhenti mengkelitikinya.


"Yang kok bau pesing ya?" Vano mengipas-ngipas tangannya di depan wajah karena ada bau tak enak tercium.


"Yang kamu ngompol?" Vano malah terkekeh melihat kekonyolan sang istri.


"Hehehe," Ziva cengengesan, "Iya, tapi salah Mas udah tau Ziva lahi begini," Ziva menunjukan bagian perutnya, "Tapi Mas kelitiknya nggak pakek ampun, Ziva kalau lama ke kamar mandi aja kalau udah kebelet banget bisa nggak tahan, apa lagi Mas klitikin," Kesal Ziva menutupi malunya.


"Kamu jorok banget yang," Seloroh Vano, padahal ia mengerti sangat mengerti. Ziva hamil empat bayi kembar berbeda saat dulu hamil Zie, kini Ziva lebih gampang lelah mungkin karena berjalan sambil membawa empat bayi.


"Udah Ziva nggak mau lagi nurutin maunya Mas, Mas nya gitu padahal ini ulah Mas loh. Pas itunya merem melek udah begini ngejek terus," Tutur Ziva kesal.


"Yang kamu apa sih, Mas becanda tau," Vano kembali berusaha merayu Ziva agar luluh.


"Nggak lucu!" Ketus Ziva sambil bangun dari ranjang untuk membersikan diri.

__ADS_1


"Yang Mas aja yang bersihin kamu diem ya," Vano mengangkat Ziva tanpa mendapat persetujuan dari sang istri, ia juga tau itu karena ulahnya dan ia ingin sedikit berguna membantu sang istri meringankan rasa lelah.


Vano memandikan Ziva, tidak lupa menggosok dengan sabun, bahkan sampai kaki Ziva di bersihkan oleh Vano. Setelah selesai memandikan sang istri Vano melilit tubuh Ziva, dengan handuk dan membaringkannya di ranjang.


"Mas abis mandi seharusnya pakai baju kan? Tapi kok Ziva malah di suruh tidur?" Tanya Ziva bingung.


Namun Vano tak menjawab ia hanya menjawab dengan perlakuannya, menghisap habis dua gundukan Ziva yang luar biasa.


"Ssst, Mas," Ziva menutup mata merasakan indahnya pagi yang penuh damba, suaminya memang sangat pandai dalam hal itu dan Ziva pun tidak munampik untuk mengatakan sangat menyukai hal itu.


"Yang Mas mau," Pinta Vano dan Ziva mengangguk.


Dengan semangat Vano melakukan hal yang sudah mendapat izin dari sang istri, tidak ada yang lebih indah bagi Vano selain sesuatu yang di tawarkan wanitanya itu. Dan kini selesai sudah permainan keduanya hingga Vano harus kembali membersihkan tubuh Ziva.


Kini Ziva dan Vano keluar dari kamar, keduanya tersenyum bahagia. Lalu Zie tiba-tiba berlari memeluk kaki Ziva.


"Unda..," Teriak Zie.


"Iya Nak," Ziva hanya diam Zie yang masih kecit tidak bisa di lihat Ziva dengan jelas sebap terhalang perut buncit Ziva.


"Sini Ayah gendong," Vano mengangkat Zie dan Zie menciumi pipi sang Bunda.


"Unda angan buanyak mamam agi ya," Zie malah menasehati Ziva.


"Kok Bunda banyak mamam?" Tanya Ziva bingung.


"Itu," Zie menunjuk perut buncit sang Bunda, Zie yakin Bundanya kekenyangan karena terlalu banyak Makan.

__ADS_1


Ziva dan Vano saling lempar senyuman, menanggapi kelucuan Zie.


__ADS_2