
Beberapa bulan kemudian.
"Kak, Seli pengen jagung bakar," pinta Seli sambil memegang perut buncitnya yang sudah berusia sembilan bulan.
"Yaudah, Kakak beliin sekarang. Kamu tunggu sebentar ya," kata Arman sambil mengambil kunci mobil lalu berniat pergi, membeli jagung bakar.
"Kak tunggu," Seli menghentikan langkah Arman, "Perut Seli mules banget Kak," tutur Seli dengan napas yang terengah-engah.
"Kamu mau ke toilet?" tanya Arman, sebab mendekati persalinan ini Seli sangat terlihat kesulitan melakukan banyak hal, dan Arman sering kali membantunya karena kasihan pada Seli yang sedang mengandung anaknya.
"Iya Kak," jawab Seli.
Arman mengangkat Seli dan membawanya ke toilet, bahkan Arman menunggu di luar setelah Seli selesai ia kembali menganggat tubuh gemuk istrinya.
"Kak Seli mules lagi," tutur Seli sambil memegangi perutnya.
Sudah berulangkali Seli keluar masuk toilet, karena perutnya terasa tak nyaman hingga akhirnya Lastri masuk ke kamar Seli. Sebab sedari pagi Seli mau pun Arman tak keluar dari kamar dan membuat Lastri khawatir. Karena memang usia kehamilan Seli kini tinggal menunggu kelahirannya saja
TOK.....TOK....TOK....
Lastri mengetuk pintu, sebab bagaimana pun ada Arman di dalam sana.
"Masuk Bun nggak di kunci," kata Seli dari dalam kamar.
Lastri memegang gagang pintu dan membukanya, karena pintu kamar Seli memang tidak tertutup rapat.
"Seli kamu kenapa masih di kamar, ini udah jam sembilan tapi kamu belum makan?" tanya Lastri sambil menatap Seli.
"Bunda, perut Seli nggak nyaman banget. Seli juga udah kontraksi dari pagi tadi," kata Seli sambil memegangi perutnya.
Mendengar apa yang di katakan Seli, Lastri langsung mendekat dan melihat kondisi sang anak.
"Arman, sebaiknya Seli kita bawa kerumah sakit Nak. Dia udah mau lahiran," kata Lastri menatap Arman.
"Ya, biar Arman gendong saja Bunda," Arman mengangkat Seli hingga akhirnya kini mereka berada di dalam mobil.
"Kak, Seli pengen jagung bakar," ucap Seli padahal ia sedang kontraksi.
"Tapi kamu udah mau lahirankan, kita juga lagi perjalanan kerumah sakit sayang," kata Arman berusaha membujuk Seli.
__ADS_1
"Kak, Seli pengen jagung bakar.....hiks....hiks..." Seli malah menangis karena Arman tak mengabulkan keinginannya.
"Yasudah.....kita ke rumah sakit dulu, nanti setelah kamu di periksa baru Kakak pergi sebentar buat beli jagung bakarnya ya," kata Aran lagi.
"Iya, tapi janji ya Kak," kata Veli sambil sesegukan.
"Iya, jangan nangis dong," Arman menghapus jejak air mata istri tercintanya yang terukir di wajah cantiknya.
Rumah Sakit.
Sesampai di rumah sakit, Anggia langsung menangani Seli. Karena semua sudah di persiapkan dan di perjalanan Arman sudah menghubungi Anggia jika Seli sudah di perjalanan ke rumah sakit. Dan kini Seli sudah terbaring di ranjang rumah sakit.
"Anggia, apa Seli baik-baik saja?" tanya Arman panik, sesaat Anggia selesai memeriksa keadaan Seli.
"Seli," Sinta yang baru saja mendapat kabar tentang Seli, langsung menuju rumah sakit bersama Ratih dan kini mereka baru sampai. Bahkan tanpa salam Sinta langsung menerobos masuk.
"Mama.....hiks....hiks...." Seli malah menangis saat melihat Sinta.
"Ya Nak," Sinta mengelus kepala Seli, "Sakit?" tanya Sinta namun Seli menggeleng.
"Sekarang enggak Ma," jawab Seli.
"Terus?" tanya Sinta bingung.
"Arman kamu belikan sekarang jagung bakarnya cepat!" kata Sinta menatap tajam Arman.
"Tapi Ma, Arman nggak bisa pergi. Arman khawatir sama Seli," kata Arman, sebab Seli akan segera melahirkan jadi bagaimana mungkin ia bisa pergi.
"Arman, kamu pergi paling cuman 10 menit. Bukan sepuluh hari, di deket rumah sakit juga ada," kata Sinta kesal pada Arman.
"Tapi kalau nanti Seli udah lahirin Arman nggak ada gimana Ma?" tanya Arman dengan bingung.
"Kak, Seli pengen banget jagungnya. Beneran, anak Kakak juga pasti tungguin Kakak baru lahir," kata Seli.
"Beneran?" tanya Arman dengan serius, lalu ia mendekati perut Seli dan berbicara, "Nak, tunggu Papa kembali baru kamu keluar ya," ucap Arman seolah berbicara pada bayi yang masih di kandung Seli.
"Iya Pa," jawab Seli.
"Anggia bagaimana keadaan Seli?" tanya Sinta.
__ADS_1
"Semua baik-baik sama Ma, dan sudah pembukaan 4. Kita tunggu dulu," jawab Anggia tersenyum.
"Anggi kok sakit banget," kata Seli sambil memegangi perutnya.
"Semakin sering kamu merasakan sakit, itu semakin bagus. Tandanya waktu persalinan akan semakin dekat," kata Anggia sambil memegang perut Seli, "Semangat, seorang wanita akan sempurna bila ia menjadi ibu. Walau pun anak itu tidak terlahir dari rahimnya, namun seorang ibu akan lebih sempurna bila melahirkan anak dari rahimnya sendiri," ucap Anggia lagi.
"Anggi, sakit banget Ngi," kata Seli lagi.
"Halo Seli," kata Veli yang baru saja masuk.
"Brisik lu!" ketus Seli, "Sakit nih," kata Seli lagi, keduanya memang terbiasa berbicara kasar. Namun tetap saja mereka saling menyayangi, hanya saja keduanya sama-sama wanita tomboy jadi berbicara sedikit ketus tidak masalah bagi keduanya.
"Ahahahaha, sakitnya di mana?" Veli terkekeh melihat wajah kesal Seli.
"Veli diem, ini sakit banget!" kata Seli lagi.
"Tapi bikinnya enak kan?" seloroh Veli, seorang dokter tak boleh panik menghadapi pasiennya yang panik seperti Seli. Mereka harus tenang agar semua berjalan dengan lancar tanpa ada hal yang menghambat atau pun menjadi masalah. Maka dari itu ia tetap berusaha membuat Veli merasa nyaman, salah satunya dengan bercanda.
"Ck....." Seli yang merasa sakitnya berkurang kini mulai menatap Veli, "Veli ambilin minum, jangan makan gaji buta lu," kata Seli sambil terkekeh.
"Sialan lu!" kata Veli, namun ia tetap memberikan apa yang di minta Seli. Sebab ia tahu Seli hanya bercanda dan ia pun bukan terlahir dari keluarga susah.
"Makasih ya," kata Seli.
"Assalamualaikum....." terdengar suara Ziva yang baru saja datang bersama Vano, keduanya tak pernah berpisah. Karena di mana ada Ziva pasti ada Vano begitu pun sebaliknya, bahkan Ziva sering kali menemani Vano bekerja.
"Walaikum salam," jawab yang lainnya.
"Seli," Ziva langsung memeluk Seli.
"Ziva," Seli juga memeluk Ziva dengan erat.
"Sakit nggak?" tanya Ziva menggoda Seli.
"Enak banget, sapa bilang sakit," jawab Seli terkekeh.
Tak lama berselang Seli kembali kontraksi dan ia mulai menjerit.
"Bunda.....hiks...hiks....sakit," kata Seli sambil menatap Lastri.
__ADS_1
"Iya....sabar ya, nanti sakitnya hilang kalau sudah lahiran dan sakit kamu akan beganti jadi kebahagiaan," kata Lastri sambil menciumi wajah sang putri yang sebentar lagi menjadi ibu.
"Iya Bunda," Seli menggenggam tanggan Lastri karena rasa sakit yang kembali menghampirinya.