
Saat Ziva akan menyalakan mesin mobil nya. Tiba-tiba satu mobil mewah milik Vano berheti tepat berada di depan mobil yang di kendarai Ziva. Vano datang bersama Arman keduanya turun dari mobil itu dan mendekati mobil Ziva. Vano membuka pintu mobil dan menarik Ziva keluar tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut nya.
Vano membuka pintu mobilnya dan memasukan Ziva. Dan ia memutari mobil lalu duduk di kemudi. Sedangkan Arman membawa mobil yang tadi Ziva kendarai dan Seli pulang bersama Arman. Vano hanya memperlihatkan wajah datar nya dan ia pun mengemudi dengan kecepatan tinggi. Karena emosi yang sangat memuncak akibat Vano mendapat laporan dari pengawal nya kalau Ziva menemui mantan kekasih nya.
Entah mengapa Ziva merasa takut dengan kemarahan Vano. Ia hanya diam saja berusaha menenangkan diri nya karena ia tidak mau terjadi sesuatu pada kanduangan nya. Namun tetap saja ia merasa tubuh nya sedikit gemetar mengingat kesalahan nya yang tidak meminta izin pada Vano untuk bertemu dengan Firman.
Namun mau bagai mana lagi. Ziva adalah manusia yang tercipa dengan hati yang lembut yang tidak mau menyakiti hati orang lain. Apa lagi Firman adalah orang yang sangat menyayanginya dan hubungan mereka pun belum ada kata berakhir walau pun Ziva sudah menikah dengan Vano.
"Turun" kata Vano sambil menarik lengan Ziva dari mobil setelah mereka sampai di rumah.
"Mas sakit" ringis Ziva.
Vano terus menarik tangan Ziva dan menghempaskannya di sofa ruang tamu. Wajah nya yang menahan kemaran dengan mata yang memerah, rahang yang mulai mengeras di tambah tangan nya yang terkepal.
"Apa kau tidak menghargai aku!!" kata Vano dengan suara yang meninggi.
"Maaf Mas" jawab Ziva.
"Apa kau lupa posisi mu sekarang!!" kata Vano masih dengan suara yang meninggi.
Ziva diam saja ia hanya terduduk di lantai dengan air mata yang terus mengalir. Sambil satu tangan nya memegang lengan nya yang tadi di cengkram Vano sangat kuat dan itu masih terasa sakit.
"Jawab!!!" kata Vano.
"Maaf Mas. Aku menemui nya hanya untuk meminta maaf pada nya" jawab Ziva dengan tubuh yang gemetar.
"Kenapa kau tidak meminta izin pada ku??" tanya Vano.
"Kalau aku meminta izin pada mu apa kau akan mengizinkan nya?" tanya Ziva.
"Kau berani sekali pergi tanpa meminta izin dari ku. Kau tau itu sangat menjatuhkan harga diri ku!!" kata Vano dengan suara berteriak.
"Vano!!" terdengar suara Sinta yang berteriak di depan pintu.
__ADS_1
Sinta masuk dan berjalan mendekati Ziva. Ia melihat Ziva yang menangis di lantai ia membantu Ziva bangun dan mendudukan nya di sofa. Setelah itu Sinta menatap tajam Vano dan berjalan mendekati Vano dengan emosi yang memuncak karena ia melihat dari awal Vano turun dari mobil mencengkram tangan Ziva sangat kuat dan dia sudah sampai beberapa menit yang lalu di rumah itu.
"Kau berani berbuat kasar pada menantu ku!!" kata Sinta.
"Aku tidak berbuat kasar pada nya Ma" jawab Vano.
"Kau pikir aku tidak melihat tadi. Kau bahkan menghempaskan nya di lantai aku melihat nya. Dan kau tau bila dia tidak menahan perut nya dengan tangan nya kau bisa membunuh cucuku yang masih di kandungan nya!!" kata Sinta yang terus berteriak di wajah Vano.
Vano diam ia mulai sadar dengan apa yang ia lakukan. Hampir saja ia lupa kalau Ziva sedang mengandung dan beruntung ia belum lepas kendali dan mencelakai anak nya. Bisa saja kalau itu terjadi ia akan kehilangan anak nya. Tapi Vano tetap masih menahan amarah nya bila menginngat Ziva bertemu Firman.
"Kenapa kau diam" kata Sinta.
"Dia bertemu mantan pacar nya. Bahkan aku mendapat laporan dari pengawal yang menjaga nya ia memeluk mantan pacar nya itu!" kata Vano.
"Ziva apa benar begitu?" tanya Sinta dengan suara yang lembut pada Ziva.
"Ya Ma" jawab Ziva.
"Kenapa Nak. Apalasan mu?" tanya Sinta tidak ada suara yang tinggi saat ia berbicara dengan Ziva.
"Diam!!!" kata Sinta.
"Ma Ziva menikah dengan Mas Vano dan Mama tau sendiri dengan cara seperti apa. Dan Ziva menemui Firman hanya ingin meminta maaf karena Ziva merasa bersalah Ziva menikah di saat Ziva masih berpacaran dengan Firman bahkan setelah beberapa bulan Ziva menikah kami masih berpacaran Ma. Dan Ziva ingin memutuskan hubungan itu dan meminta maaf" kata Ziva dengan sesegukan.
"Kau dengar itu Vano" kata Sinta.
"Mama kenapa membelanya dia salah" bentak Vano.
"Berani kau membentak ku ya!!" kata Sinta sambil bertolak pinggang di hadapan Vano.
"Bukan begitu Ma. Vano sangat tidak suka Ziva menemui bahkan memeluk Firman" kata Vano dengan suara yang merendah.
"Kau menikahi dia dengan cara apa? jawab" kata Sinta.
__ADS_1
"Mbok Yem sini bawa sapu itu" kata Sinta yang melihat mbok Iyem lewat di luar. Mbok Yem memdekat dan memberi sapu yang ia bawa pada Sinta.
"Jawab aku" kata Sinta sambil memegang sapu di tangan nya.
"Ya Ma Vano tau Vano salah. Tapi Ziva juga salah karena berani menemui Firman tanpa seizin Vano" kata Vano yang terus membela diri.
"Apa kau mengizin kan Ziva bertemu Firman bila dia meminta izin pada mu?" tanya Sinta.
"Tidak!" jawab Vano.
Buk buk buk!.
Sinta memukul Vano dengan sapu yang ia pegang dan Vano berusaha menghindar sambil tangan nya berusaha melindungi dirinya.
"Dasar bocah menyebalkan. Itu lah alasannya mengapa Ziva tidak meminta izin pada mu" kata Sinta.
"Ma sakit" kata Vano karena Sinta terus memukulinya dengan sapu.
"Kalau kamu mati juga Mama tidak apa. Karena kamu berani kasar dengan Ziva" kata Sinta yang sudah berhenti memukuli Vano dengan sapu.
"Ma anak Mama itu siapa? Ziva atau Vano?" tanya Vano.
"Anak Mama Ziva. Mama tidak sudi punya anak seegois kamu. Yang suka nya memaksa kan kehendak mu sendiri dan kalau boleh Mama memilih siapa anak yang akan Mama lahirkan Mama akan memilih Ziva dari pada kamu yang lahir dari rahim Mama" kata Sinta.
"Mama bicara apa?" kata Vano yang merasa jengkel mendengar ucapan Sinta.
"Dan ini untuk kamu yang sudah hampir mencelakai cucu ku"
Buk!.
Dengan sangat kuat Sinta memukul kaki Vano. Dan dengan semua tenaga yang ia kumpulkan.
"Ma sakit" kata Vano.
__ADS_1
"Ayo Ziva. Mulai hari ini kamu tinggal sama Mama" kata Sinta sambil menarik lembut tanggan Ziva menuju mobil nya dan Ziva pun tidak berani membantah ia pun mengikuti kemana mertuanya membawanya.