
"Sayang kita bikin adik bayi yuk," kata Arman yang baru saja pulang dari kantor.
"Kakak apasih ngomong itu hati-hati, ini bukan di kamar," kesal Seli.
Semenjak Seli sudah bisa di tengok, Arman terus saja meminta taknya. Tak perduli siang atau pun malam yang jelas ia ingin lagi dan lagi. Bahkan saat ini Seli yang sedang menyirami bunga kesayangannya, Arman tiba-tiba datang dan langsung melingkarkan tangan di pinggang Seli, lalu birbisik di telinga Seli tentang leinginannya.
"Nggak ada yang denger yang, kalau di sini juga nggak ada yang lihat," kata Arman yang melihat sekitar mereka memang tak ada siapa-siap.
"Ish, apasih," Seli mencubit tangan Arman yang masih melingkar di pinggangnnya.
"Aduh sakit yang...." Arman melepas pelukannya karena cubitan Seli, "Sakit banget tau yang," Arman berusaha mencari perhatian seolah ia kini merasa sangat kesakitan.
"Alah lebay," tutur Seli sebab ia yakin kalau cubitannya tak separah keadaan Arman saat ini yang seorah Arman sangat kesakitan.
"Sakit banget loh yang, Kakak serius," kata Arman yang ingin membuat Seli khawatir padanya, agar lebih mudah pula mendapatkan ke inginannya.
"Bentar Kak," Seli mengambil ponselnya dari saku celana dan terlihat ia mulai mencari sesuatu di sana.
"Sayang kamu ngapain?" tanya Arman bingung.
"Mau telpon ambulance, buat bawa Kakak ke rumah sakit soalnya parah banget tangannya," jawab Seli hingga membuat Arman terkejut.
"Yang kamu apasih," Arman malah terkekeh melihat kelakuan Seli, dengan cepat Arman merebut ponsel sang istri.
"Balikin Kak," pinta Seli.
"Kamu jail banget sih....apa iya pangil ambulance segala," jawab Arman yang kini sibuk mengotak atik ponsel sang istri.
"Kakak ngapain sih sama ponsel Seli?" tanya Seli berpura-pura bingung, padahal ia tau suaminya itu kini sedang melakukan razia pada ponselnya.
Arman bukan tidak percaya pada sang istri, hanya saja ia tidak mau semua kesalahannya dulu terulang kembali. Dan dalam rumah tangga mereka tidak ada peluang orang ketiga sedikit pun untuk bisa menghancurkan rumah tangga yang mereka bangun.
__ADS_1
"Kakak lagi pacaran sama ponsel kamu," kata Arman terkekeh, ia pun merasa aneh dengan jawabannya sendiri.
"Ahahahaha," Seli menyemprotkan air selang yang tadinya ia gunakan untuk menyiram bunga pada Arman.
"Basah yang," teriak Arman sambil tertawa lepas melihat sang suami basah-basahan.
Sementara Lastri yang kini berdiri tidak jauh dari keduanya tersenyum bahagia, Lastri sangat terharu dengan keharmonisan rumah tangga sang putri bersama suami yang sangat mencintainya. Kini Lastri tidak lagi merasa khawatir dengan rumah tangga putrinya yang di hiyasi penuh cinta itu.
"Ahahahahaa, Seli mandiin Kakak biar Kakak bersih, terutama otak Kaka yang kotor itu harus segera Seli bersihin," seloroh Seli.
"Kamu nakal ya," Arman merebut selang di tangan Seli lalu berbalik menyemprot Seli dengan air.
"Kakak, Seli basah...." teriak Seli yang masih terus di guyur air oleh sang suami tercintanya itu.
"Ahahaha," Arman tertawa lepas melihat sang istri basah kuyup.
Namu tiba-tiba Seli memegang kepalanya dan tubuhnya terjatuh di tanah, wajah Arman memucat dan ia panik seketika.
"Seli...." Arman menggoyang-goyangkan tubuh Seli tapi tak juga sadar, Lastri juga yang sedari tadi melihat saja mulai panik ia dengan cepat menghampiri Seli dan Arman.
"Arman...Seli kenapa?" tanya Lastri tidak kalah panik.
"Nggak tau Bunda tiba-tiba Seli jatuh pingsan," Arman mengangkat Seli ke kamar dengan cepat dan Lastri mengikutinya dari belakang, Arman membaringkan tubuh basa Seli di ranjang.
"Arman ambil baju ganti buat Seli, biar hangat dengan begitu Seli bisa cepat sadar," perintah Lastri yang terlihat panik.
"Iya Bunda," jawab Arman dengan cepat Arman berjalan menuju lemari meninggalkan Seli dan Lastri di sana.
"Bunda," Seli membuka mata dan Lastri hampir berteriak, tapi dengan cepat Seli menutup mulut Lastri dengan telapak tangannya, "Seli cuman pura-pura, Bunda jangan bilang-bilang," bisik Seli dengan suara pelan, Lastri mengangguk dan Seli melepaskan telapak tangannya yang menutup mulut sang Bunda.
"Bunda ini bajunya," Arman datang sesaat Seli sudah kembali berbaring dan menutup matanya kembali.
__ADS_1
"I-iya," Lastri masih dalam kebodohan bingun bercampur perasaan takut yang kini ia rasakan.
"Bunda kenapa?" Arman juga bingung dengan Lastri.
"Em," Lastri bangun dari duduknya, ia berpikir ini adalah urusan anak muda, "Bunda keluar dulu," pamit Lastri lagi pula Seli hanya sedang beracting saja saat ini jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Tapi ini Seli gimana Bunda?" Arman semakin di buat bingung sebab Lasti kini terlihat tak panik sedikit pun.
"Terserah mau kamu apakan, Bunda keluar dulu," Lastri melenggang keluar dan menutup pintu kamar, meninggalkan Seli yang pura-pura pingsan dan Arman yang masih di landa kebingungan.
"Ha," Arman hanya bisa melongo mendengar jawaban Lastri yang tak masuk akal, sementara Seli kesal mendengar apa yang di katakan Lastri.
Arman mulai membuka pakaian Seli satu persatu, namun anehnya saat Arman memegang lengan sang istri. Arman sekilas melihat bibir Seli seperti menahan tawa, seketika ia mengingat Lastri sama sekali tidak panik saat meninggalkan mereka. Arman pura-pura tak sengaja memegang ketiak Seli, dan benar Seli seperti menahan geli. Arman kini mengerti ia tengah di kerjai oleh sang istri.
Arman berpura-pura masih ketakutan dan ia terus membuka semua pakaian Seli, bahkan tanpa sehelai benang pun yang melekat pada tubuh Seli. Setelah itu Arman bukan memakaikan pakaian sang istri tapi justru melepas pakaian yang ia kenakan. Seli sedikit mengintip sebab ia pun merasa janggal karena Arman tak kunjung memakai kan pakaiannya.
"Kak Arman...." teriak Seli dengan reflek, sebab Arman kini malah memainkan gundukannya, "Ups, keceplosan," Seli yang kini duduk menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan.
"Apa?" Arman menyentil kepala Seli, sebab ia sangat kesal, "Pinter boong ya, pura-pura pingsan, biar Kakak panik....iya?" tanya Arman menatap Seli.
"Heheheh, ketahuan...." Seli merutuki ke bodohannya ternyata Arman sudah tau ia berpura-pura pingsan dan Arman kini sedang mengetes dirinya.
"Kamu udah bikin Kakak, panik setengah mati tau nggak, pantesan pas Kakak balik bawa baju buat kamu Bunda keluar dan nggak panik lagi, ternyata......" Arman mengkelitiki Seli tanpa ampun sebab sudah berani mengerjainya.
"Ahahhahaha, geli Kak, Seli nggak kuat, AMPUN...." teriak Seli.
"Nggak ada ampun," kata Arman yang mulai menindih tubuh sang istri.
"Kakak kok malah cari kesempatan sih," Seli baru sadar ternyata keduanya sudah polos.
"Kamu harus bayar, karena udah bikin Kakak panik setengah mati."
__ADS_1