Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 126


__ADS_3

"Arman, Vano, Ziva. Mama pulang ya," pamit Sinta karena Hardy sudah menjemputnya.


"Iya ma," jawab Ziva.


"Zie ikut Oma?" tanya Vano.


"Opaa," jawab Zie


"Ya udah hati-hati ya," Vano mengacak rambut Zie yang sudah dalam gendongan Hardy.


"Semuanya Papa pulang ya," pamit Hardy juga.


"Ya Pah, bye Zie," kata Vano melambaikan tangan pada putri kecilnya yang lebih menyayangi Oma dan Opanya dari pada ia.


Ziva, Seli, Arman dan Vano kini duduk lesehan di karpet bulu, bersandar pada sofa putih yang tertata rapi di ruang televisi. Vano sangat malas duduk di sofa bila sedang santai ia lebih memilih duduk di karpet bulu dan menjadikan paha Ziva sebagai bantal.


"Heh lu semalam dari mana?" tanya Vano sambil melempar kacang pada Arman.


Arman tersenyum dan menatap Seli yang duduk di sampingnya, Arman merangkul Seli tapi Seli dengan cepat melepasnya. Karena Seli masih malu dengan hal-hal berbau romantis, apalagi ada Vano dan Ziva di sana.


"Gue jalan-jalan sama bini gue," jawab Arman.


"Jalan-jalan doang?" tanya Vano lagi.


"Iya, emang napa?" Arman malah balik bertanya.


"Lu tau Sinta semaleman cemas banget mikirin lu dan gue jadi sasaran," kesal Vano.


"Lu sekolah di mana sih nggak ada sopan-soannya," kesal Arman pada Vano yang suka menyebut nama Sinta tanpa ada panggilan sopan di depan nama Sinta.


"Kitakan satu sekolah bego!" ketus Vano.


"Guru lu siapa?" tanya Arman lagi.


"Bu Hanum," jawab Vano, otaknya kembali mengingat guru idola saat itu.


"Yang mantan lu itu kan?" seloroh Arman.


"Lu jangan ngarang," Vano kesal dengan ucapan Arman walau itu benar tapi Vano tidak mau Ziva tau, Vano sangat takut pada sang istri yang marah dan cemburu.


"Gue inget banget lu nembak bu Hanum pas kita lagi di kantin," kata Arman lagi.


"Mas!" Ziva malah mengerucutkan bibirnya dan mengangkat kepala Vano agar tak lagi menjadikan pahanya sebagai bantal.

__ADS_1


"Yang jangan dengerin si gila ini, dia ngarang!" bohong Vano, Vano bukan niat membohongi Ziva tapi di kehamilan yang kedua ini Ziva sangan pecemburu dan manja, maka dari itu Vano memilih berbohong asal Ziva tidak emosi.


"Arman kamu serius atau ngarang?" Ziva tampak meragukan jawaban Vano.


"Serius lah."


"Mas, hiks, hiks," Ziva malah menjerit dan menangis karena ulah jail Arman.


"Sayang ku, cinta ku," Vano memeluk Ziva walau pun Ziva menolak tapi Vano tetap berusaha memeluk Ziva, "Mas memang dulu suka gonta ganti cewek itu benar, tapi setelah Mas ketemu kamu Mas nggak bisa lagi beralih pada yang lain. Di hati Mas cuman kamu dan kamu, kamu bukan cinta pertama Mas, Mas akui itu tapi buat Mas kamu cinta terakhir Mas nggak ada yang lain, kamu adalah Bunda dari anak-anak Mas sayang," Vano memeluk Ziva dan mengecup pucuk kepala sang istri.


"Beneran Mas?" tanya Ziva.


"Ya sayang, memangnya selama ini kamu lihat Mas ada sama wanita lain atau pun melirik wanita lain?"


"Enggak," jawab Ziva sambil menggeleng.


"Kamu tau kenapa?"


"Kenapa?"


Vano menarik Ziva dan berbisik di telinga Ziva, "Karena goyangan kamu itu hot banget yang," Vano berbisik dengan suara pelan hingga Arman dan Seli pun saling pandang karena tak mendengar apa yang di bisikan Vano pada Ziva.


"Ish," Ziva malah menarik gemas pipi Vano, "Mas otak Mas isinya apa sih," kesal Ziva tapi jujur saja Ziva juga tersenyum bahagia.


BUUK.


Arman melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Vano.


"Lebay lu," kesal Arman.


"Yang.....ada yang iri," Vano malah menarik Ziva kedalam pelukannya sambil mengejek Arman.


"Ngapain iri gw juga punya bini," jawab Arman sambil merangkul Seli, tapi lagi-lagi Seli menolak, bukan tidak mau Seli sangat mau. Hanya saja ia malu bila di hadapan orang lain sebab ia belum pernah berpacaran atau pun berdekatan dengan pria.


"Bini lu nggak mau lu peluk tandanya dia nyesel nikah sama lu," kata Vano.


"Seli kamu nyesel nikah sama Kakak?"


Seli tersenyum kecut dan tidak tau harus berkata apa, Seli sungguh tidak nyaman dengan suasana menjadi istri. Karena ia belum terbiasa akan hal itu.


"Lihat istri lu aja nggak jawab tandanya bener dia nyesel," kali ini Vano yang mengadu domba Arman agar Seli nanti marah dan Arman tidak dapat jatah.


"Seli kamu jawab dong yang di tanya Vano," kesal Arman.

__ADS_1


"Seli harus jawab apa Kak," Seli hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ahahahaaha," Vano semakin tertawa melihat wajah Arman yang mengharapkan jawaban dari Seli, tapi Seli masih malu-malu untuk hal yang menyangkut masalah suami istri.


"Yang kita malam ini nginap di sini aja ya," Vano memegang pipi Ziva.


"Mas apa sih, mana di ijini sama pengantin baru," Ziva juga malah ikut menggoda Seli.


"Nggak papa yang soalnya Arman malam ini puasa."


"Kok gitu Mas?" tanya Ziva.


"Karena nanti Seli jawab dia memang menyesal menikah dengan Arman," seloroh Vano.


"Apa sih lu nggak jelas banget," kesal Arman.


"Lihat tu Seli," telunjuk Vano mengarah pada Seli, "Di hatinya bilang nyesel," Vano tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Arman.


"Bukan gitu!" jawab Seli dengan cepat karena mau bagaimana pun Arman adalah suaminya dan Seli tidak menyesal menikah dengan Arman, hanya saja Seli terlalu malu untuk mengungkapkannya.


"Terus gimana?" tanya Ziva.


"Iya....eemm," Seli hanya meremas tangannya tidak tau harus berkata apa.


"Caelah..bini lu beneran nyesel nikah samalu!"


"Enggak bukan ngesel, ish Seli ngomongnya gimana ya," Seli takut melihat wajah Arman yang menatapnya datar, karena mengharap jawaban darinya, tapi Seli masih canggung mengatakan isi hatinya.


"Udah nggak usah ngomong," kata Arman kesal.


"Ciyeee ngambek niyee," Vano mengejek Arman, "Yang pulang yuk, ada yang kayaknya lagi pura-pura marah biar gampang minta jatah," seloroh Vano yang tau akal-akalan Arman.


"Sialan lu," Arman kesal dan melempar korek pada Vano, karena tujuan Arman marah agar Seli merayunya dan berakhi pada sesuatu yang di inginkan Arman.


"Ahahahah," Vano tertawa lepas membocorkan taktik Arman, "Tenang bro gw juga dulu gitu, itu mah taktik lama yang pernah gw gunain," kata Vano mengingat saat dulu ia berpura-pura marah padahal agar Ziva merayunya dan mendapat keinginannya.


"Heh...ada cara yang lainnya lagi nggak?" tanya Arman.


"Ada tar gue ajari," jawab Vano, sementara Seli sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan kedua lelaki itu, kalau Ziva tersenyum ia sangat mengerti dengan hal-hal yang sedemikian yang sudah menjadi makanannya sehari-hari.


"Okeh, lu pulang sono cepet!"


"Lu ngusir gw?" kesal Vano.

__ADS_1


"Iya untuk saat ini gw nggak terima tamu, gw mau kejar target, satu tahun dapet dua," jawab Arman sambil menarik Vano keluar dari apartementnya.


__ADS_2