
Saat ini Hardy tengah berada di dalam sebuah gedung tua, gedung tua itu adalah dulunya ia gunakan untuk menghukum orang-orang yang berani berhianat padanya, atau pun untuk orang-orang yang berani mengusiknya. Tidak ada yang lolos dari tangan Hardy, ia memiliki prinsip penghianat dan penipu harus di hukum.
Sepertinya begitu juga dengan saat ini, pria tua berdarah dingin itu akan kembali memberikan sedikit arahan dan juga pelajaran pada Hutomo yang sudah berani bermain-main dengannya. Hardy yang sudah meninggalkan dunia mafia tampaknya kali ini harus mengingkari janji saat ia mengatakan berhenti dari dunia gelap itu demi istrinya. Dan kali ini ia kembali dengan alasan yang sama, karena istrinya.
"Hutomo bagaimana peluru yang menembus kedua kaki mu, apa kau ingin aku mengambilnya?" tanya Hardy.
Masih ingatkah kalian dengan malam kemarin, malam kemarin Hardy melepaskan peluru panas pada kedua kaki Hutomo dan sampai saat ini peluru itu masih setia bersarang di sana dengan baik. Bahkan Hady sama sekali tidak berpikir untuk membebaskan Hutomo dari dua peluru itu. Saat ini Hutomo tengah terkulai lemah di hadapan Hardy dan juga Arman, disana tidak ada Vano sebab Hardy tidak mengijinkan Vano untuk ikut juga, karena Ziva yang sedang hamil.
Vano sangat ingin memberikan tanda bekas tangannya pada tubuh Hutomo, untuk menjadi kenangan kalau ia pernah menyakiti anak dan mamanya. Tapi Hardy melarang keras, Hardy memiliki keyakinan dari dulu untuk tidak membunuh atau pun menyakiti seseorang saat sang istri tengah mengandung.
"Hardy ini sakit sekali," Hutomo merasakan bertapa sakitnya peluru itu selama satu malam ia tersiksa.
"Aku bisa mengambilnya kalau kau mau?" Hardy memberi penawaran dengan senyum penuh misteri.
"Apa kau yang mengambilnya?" Hutomo tampaknya shock dengan jawabab Hardy yang enteng. Hardy mengambil peluru itu apa mungkin Hutomo seperti nya sangat merasa takut dengan tawaran Hardy.
"Ya," Hardy tersenyum bahagia melihat penderitaan Hutomo. Ia sudah lama tidak merasakan amisnya cairan berwarna merah itu.
"Hardy tolong aku sudah tidak sanggup," teriak Hutomo. Yang terlihat frustasi karena rasanya ia lebih memilih langsung mati dari pada di biarkan mati perlahan.
"Baiklah aku masih bermulah hati, maka aku akan memerintahkan anak ku Arman yang mengambilnya," ucap Hardy dengan tangannya memberikan benda tajam pada Arman.
Arman menerima dan berjongkok, ia langsung membelah kaki Hutomo untuk mengambil kedua peluru itu.
"Aku punya cita-cita menjadi dokter bedah, tapi tidak tercapai karena otak ku tidak terlalu pintar, tapi anggap saja saat ini aku adalah dokter," Arman malah mengoda Hutomo yang mengeluarkan keringat dingin.
"Sakit!" teriak Hutomo.
"Cengeng sekali, biar aku obati lagi, lihat lah bertapa baiknya aku. Kau orang pertama yang ku obati," Arman memberikan perasan jeruk sayur pada luka Hutomo. Dengan sangat banyak.
__ADS_1
"Aaaaaaaa, perih sekali aku tidak sanggup," Hutomo berteriak sekencangnya merasakan perih sungguh Arman tidak memiliki hati nurani sedikit pun, pria didikan Hardy itu seakan berubah menjadi srigala tanpa maaf bila sudah di hadapkan dengan hal berbau hukuman.
"Bagiku itu terlalu baik, kau ingat saat kau memperlakukan cucuku seperti binatang? Kau memukuli istri ku, kau harus membayar setiap bekas lebam yang ada di tubuhnya dengan nyawa mu!" tegas Hardy
"Aku minta maaf Hardy, aku minta maaf tolong lepaskan aku," Hutomo memohon ia benar-benar tidak tahan lagi.
"Tidak ada kata ampun dalam kamus ku, ah iya kau juga orang yang mencelakai orang tua Ziva kan, mengusir anak yatim itu kejalanan. Dan kini kau juga masih ingin mencelakai anak Ziva hanya demi uang, sepertinya perbuatan mu sangat kejam dan kau lihat Harimau lapar di kandang itu?" Hardy menunjukan seekor Harimau yang ia pinta pada pengawalnya.
"Jangan Hardy!" Hutomo merasa kerongkongannya sangat sakit sekali, ia sungguh tidak sanggup untuk menelan salivanya saja, ia tidak mau menjadi santapan Harimau lapar itu.
"Jangan takut, tidak apa dia baik!" kata Hardy.
"Aku mohon Hardy, aku mau di penjara seumur hidup asal kau tidak memberikan aku Harimau itu," Hutomo tidak mau diam ia terus berharap Hardy mengasihaninya.
"Tidak usah mengemis, aku bukan manusia pemaaf bila sudah mengenai wanita ku yang kau sakiti, di tambah lagi kau menyakiti cucu perempuan ku. Hingga membuat trauma istri ku sampai saat ini jadi kau pun harus tau rasa trauma itu seperti apa."
"Aku? Kau meminta tolong pada ku?" Arman tertawa mendengar ucapan Hutomo.
"Iya, aku tau kau manusia yang masih punya hati," Hutomo benar-benar mencoba membuat Arman luluh.
"Miko berikan cambuk mu," pinta Arman pada anak buahnya.
Hutomo mencoba mundur tapi tidak bisa, tampaknya keluarga Hardy memang memiliki sisi kejam yang sudah tertanam begitu dalam. Hingga semua di antara mereka tidak ada yang berbelas kasih.
BUKKK.
BUUKK.
"Cukup aku tidak sanggup," pinta Hutomo.
__ADS_1
"Kau lemah sekali ternyata baru juga dua kali cambukan, aku sedang bersedih karena sepertinya batal menikah. Jadi dengan adanya diri mu aku tidak perlu memukuli tembok karena ada kau di sini sasaran ku," tutur Arman.
"Jangan curhat bos," kata Miko.
"Aku tidak curhat, hanya saja aku bersyukur mendapatkan Hutomo. Dan semua mendorong ku untuk lebih keras memberikan hukuman tampa ampun," tutur Arman.
"Arman habisi dia, manusia seperti dia tidak berhak hidup. Dia hanya bisa menghabisi orang lain demi ambisi yang gila itu." tutur Hardy.
"Kau dengar Hutomo, tuan Hardy meminta ku menghabisimu. Itu bagian yang sangat aku sukai," Arman berjongkok di hadapan Hutomo dan menatap tajam, "Kau pernah juga mengancam seorang wanita di perusahaan kan?" tanya Arman mengingat kalau Hutomo datang keperusahaan hanya untuk mengancam Seli.
"Aku benar-benar menyesal, ampuni aku. Aku tidak akan pernah mengulanginya."
"Terlambat."
"Aku mohon Hardy ampuni aku."
"Arman buka kandang Harimau nya dan biarkan Harimau itu kenyang, parasit harus di musnahkan!" jawab Hardy penuh penekanan.
"Ada yang ingin kau katakan di sisa umur mu?" tanya Arman.
"Jangan aku mohon," teriak Hutomo.
"Hey aku meminta mu berdoa, bukan memohon, ayo berdoa atau kau nanti menyesal belum sempat berdoa sudah tiada," kata Arman.
"Sudahlah Arman, kasihan Harimau peliharaan ku sudah sangat lapar karena menungu santapannya," tutur Hardy menatap wajah Hutomo.
"Miko masukan dia kekandang," pinta Arman pada anak buahnya.
"Tidak, tidak, tidak! Aku mohon jangan. Ampuni aku aku berjanji akan menjadi lebih baik setelah kau membiarkan aku tetap hidup. Aku mohon," Hutomo dengan tubuh yang di pegang Miko terus memohon berharap Hardy atau Arman mengampuninya.
__ADS_1