Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 92


__ADS_3

Takterasa terang mulai hilang, berganti dengan gelapnya malam dan cahaya sinar rembulan. Zia dan Vano kini dalam perjalanan pulang, karena sudah seharian keduanya jalan-jalan. Vano kini mulai menepi sesaat dari dunia dan pekerjaannya. Sampai Ziva melahirkan anak mereka dalam beberapa hari lagi, ia hanya bekerja jika memang ada hal yang sangat penting saja. Selebihnya Arman yang mengerjakan semuanya, Arman juga kerkadang merasa jenuh dengan bekerja dan selalu bekerja apa lagi saat ini semua pekerjaan di serahkan padanya. Namun Arman memaklumi dengan keadaan Vano yang memang harus selalu siaga di samping Ziva.


Di perjalanan pulang Ziva melirik ada pasar malam. Ziva tersenyum dan kembali meminta pada Vano untuk membeli boneka di dalam sana. Vano mengangguk tidak ada penolakan untuk istrinya asal Vano masih sanggup memberikannya. Dengan saling menggenggam, keduanya berjalan di tengah banyaknya kerumunan orang, walau pun perut Ziva sudah besar dan Ziva merasa sedikit susah berjalan, namun itu tidak menjadi halangan untuk Ziva melanjutkan keingiannya berjalan kaki, mencari boneka yangbia inginkan. Vano tidak banyak membantah ia hanya menurut saja, asal keinginan Ziva masih di batas normal.


"Yang itu penjual boneka" Vano menunjuk banyak boneka yang tersusun rapi di sebuah toko.


"Ayo Mas" Ziva menarik lengan Vano dan ditengah dempetan orang. Dengan tidak sengaja seorang pria yang mungkin berusia 27 tahun menyenggol lengan Ziva.


"Auw" ringgis Ziva, sambil megelus lengannya yang terasa sedikit sakit.


"Maaf mbak" pria itu menyatukan tangannya merasa bersalah, lalu pandangan Ziva dan pria itu saling bertemu. Pria itu memandan tubuh Ziva yang berisi dan perut membuncit, Ziva juga memandang pria bertubuh kekar dan tinggi itu. Sejenak pandangan keduanya bertemu. Namun Vano kembali menyadarkan kedua orang itu.


"Ehem" Vano berdehem ia tidak suka ada orang lain yang memandan istrinya. Apa lagi yang memandang istrinya adalah mantan kekasih Ziva, Ya orang itu adalah Firman. Setelah lama menghilang entah kemana kini Firman secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Ziva. Tidak ada rasa lagi di antara keduanya hanya saja ada sedikit kecanggungan. Dan ketengan antara Vano yang memandang tajam Firman.


"Jalan di lihat" ujar Vano dengan menatap tajam setajam elang. Suara yang berat tertaham. Membuat Ziva merasakan ada aura dingin di sana.


"Maaf ya" ucap Ziva tak ingin Vano salah paham, Ziva menarik lengan sang suami dengan kuat karena sang suami masih berdiri menatap tajam sang mantan kekasih istrinya.


"Selamat ya" Firman tersenyum dan berlalu dari hadapan kedua suami istri itu.


"Mas ayo" Ziva terus berusaha mengalihkan pikiran suaminya yang masih dalam mode cemburu.


"Mas" Ziva menggoyangkan lengan Vano. Tangannya menunjuk arah penjual bakso bakar. Vano mengikuti apa yang di tunjik Ziva.

__ADS_1


"Kamu mau yang" Vano tersenyum pada Ziva yang tidak pernah lepas memeluk lengannya.


Ziva tersenyum dan cengengesan. Lalu mengangguk. "Mau dong Sayang" jawab Ziva.


Ini kali pertamanya Ziva memanggil Vano dengan sebutan sayang. Vano merasa di atas awan, terbang melayang. Rasa bahagia kian terpancar. "Ayo kita kesana" Vano mulai membawa Ziva kearah penjual bakso bakar dan melupakan amarah yang tadi sempat menguasai dirinya, hanya dengan Ziva memanggilnya dengan panggilan sayang.


Ziva tersenyum dan mulai memesan. Namun Vano menghalanginya. "Kamu nggak boleh ngomong sama cowok selain aku. Bukan mahrom" Ujar Vano dengan tegas pada Ziva.


Ziva tertawa sampai tepikal-pikal. Mendengar alasan Vano tidak boleh berbicara pada pria lain. Padahal itu hanya memesan bakso, pada sipenjual. "Ahahahahaah" Ziva memegang lengan Vano dengan cukup kuat, sungguh Ziva tertawa tanpa bisa ia tahan.


"Ck" Vano kesal karena Ziva malah menertawainya. Padahal niat Vano ingin meperingatan Ziva, karena Vano tidak suka ada yang tersenyum pada Ziva walau pun itu hanya tukang bakso.


"Mas kalau nggak ngomong. Gimana cara pesennya" tanya Ziva di selingi tawa, yang masih saja keluar dari mulutnya.


Vano terus memeluk tubuh Ziva dari sampi, berjaga-jaga tidak ada seorang pun yang boleh membentur istrinya sedikit pun. Terutama lelaki. "Mas yang pesan" Vano mulai memesan Bakso bakar dan memberikannya pada Ziva.


"Yuk"


"Mas itu apa yang di jual di sana. Sepertinta enak" Lagi-lagi Ziva melihat makanan dari kejauhan. Vono memicingkan matanya, melihat kelakuan sang istri yang mulutnya tidak pernah berhenti mengunyah.


"Yang masih ada tempatnya?" tanya Vano sambil mengelus perut buncit Ziva.


Ziva terkeke dan mengangguk "Masih dong Mas. Eh. Tapi nggak Ziva udak kenyang" ujar Ziva yang merasa perutnya sudah kenyang.

__ADS_1


"Ssst" Ziva merasa kakinya begitu terasa pegal. Dan memang kaki Ziva sudah sangat bengak. Vano menyadarari hal itu,dengan sedikit pani Vano bertanya.


"Kenapa yang"


"Mas Ziva nggak kuat jalan. Ziva nggak sanggup Mas" teelihat nafas Ziva mulai terengah-engah merasa lelah, wajar saja ia merasa lelah seharian ia terus bersama Vano jalan-jalan. Bukan tanpa alasan sebenarnya itu semua. Vano merasa merek tidak pernah dulunya berpacarn dan jalan-jalan itu sama sekali tidak pernah dan kini Vano ingin membuat kenangan bersama Ziva, pacara yang seharusnya sebelum menikah. Mereka mulai dengan pacaran dengan setelah menikah.


"Ayo Mas gendong" Vano mengangkat tubuh Ziva. Ziva memeluk leher Vano, di tengah kerumunan itu banyak sekali yang memperhatikan mereka. Bahkan beberapa kamera mengarah pada mereka, hinga seorang pria dan wanita yang tampaknya sepasang kekasih menghentikan langkah Vano yang mengangkat Ziva.


"Maaf. Ini Kenzi Zavano kan?" tanya Si wani.


"Iya" Vano menganggukan kepalanya.


"Oh romantisnya. Kita minta fhoto ya" Pinta orang tersebut dan tiba-tiba banyak yang berkerumunan meminta fhoto. Ziva mengangguk tidak ada salahnya menurut Ziva.


"Iya" Ziva turun dari gendongan Vano, setelah sebelnya beberapa orang sudah mengambil gambar Ziva yang mengendong Vano.


"Semuanya udah ya. Mohon mengerti, saya sangat lelah" terlihat wajah Ziva yang lelah dan tidak kuat walau pun hanya berdiri.


"Ya mbak. Makasih ya mbak Zavano" ucap mereka semua.


"Ya.


Vano mengangkat tubuh Ziva ala bridal style. Hinga kini ia mendudukan Ziva di dalam bolin dan ia juga ikut masuk.

__ADS_1


"Capek?" Vano tersenyum dan mengacak rambut Ziva. Ziva hanya tersenyum matanya sudah sangat mengantuk. Ziva sudah tertidur pulas tidak tau lagi apa yang di bisacarakan Vano, matanya tidak bisa lagi di ajak kompromi. Vano melirik sekilas dan tangannya ter-ulur mengelus perut Ziva.


"Jangan nakal ya nak. Kasihan bunda. Kecapean" Ucap Vano sambil terus mengemudikan mobilnya, membelah jalanan yang terlihat sepi karena malam sudah sangat larut.


__ADS_2