
"Uam," Seli merasa sangat mengantuk sementara Arman kembali kepesta yang masih berlangsung sebab para tamu masih banyak. Apa lagi Arman adalah orang nomer dua di perusahaan keluarga Zavano semua orang sangat mengenalnya dengan baik. Arman bukan tidak bisa membangun perusahanan sendiri, pundi-pundi rupiah yang di miliki Arman sudah lebih dari cukup kalau hanya untuk membuka usaha.
Tapi Arman tidak melakukan itu, sebab ia merasa berhutang budi pada Hardy sang ayah angkat yang sudah menjadikannya sukses dan juga Hardy yang sudah membuatnya berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga s3 bersama Vano. Hardy juga memberikan anak perusahaan pada Arman tapi Arman menolak ia lebih memilih menjadi wakil Ceo saja di perusahaan keluarga Zavano sebab ia tidak mau berhutang budi terlalu banyak, semua yang di berikan Hardy padanya sudah lebih dari cukup hingga Arman lebih memilih setia pada keluarga Zavano.
Pukul dua belas dini hari pestapu selesai perlahan tamu undangan mulai meninggalkan pesta, semua keluarga pun sudah masuk kekamar mereka, sebab semua merasa lelah. Tidak terkecuali pasangan Vano dan Ziva.
"Yang kira-kira Arman sama Seli ngapain ya?" kata Vano yang duduk di samping Ziva, keduanya sudah selesai mandi dan beranjak tidur.
"Mas apa sih pertanyaannya aneh banget deh," Ziva terkekeh mendengar pertanyaan Vano.
"Mas penasaran aja yang," kata Vano lagi sambil berbaring di samping Ziva.
"Main catur kali Mas," jawab Ziva asal sambil menutup mata dengan tangannya melingkar di tubuh Vano.
"Emang ada yang, pengantin baru malam-malam main catur?" Vano sepertinya memberi kode pada Ziva untuk sesuatu hal.
"Mas, lagian ada-ada aja pertanyaannya," kesal Ziva.
"Ya kan Mas tanya yang, mana tau kamu bisa tebak," kata Vano sambil mulai menarik tengkuk Ziva.
"Bilang aja mau," kesal Ziva.
"Heheheheheh, tau ajah."
Sementara Arman yang sudah masuk ke kamar tersenyum karena Seli kini benar-benar menjadi istrinya.
Tapi Arman hanya mendeguk saliva saat melihat tubuh Seli yang hanya memakai handuk tertidur dengan lelap di ranjang. Seli yang sehabis mandi ingin memakai piama tidurnya namun sayang ia tidak melihat koper miliknya di sana, dan ia tak mungkin memakai gaun pesta untuk tidur. Dengan kantuk yang sudah menyerang Seli merebahkan tubuhnya di ranjang dalam hitungan detik Seli sudah berada di alam mimpi, hingga melupakan kalau ia tak memakai pakaiannya.
"Sial," gumam Arman.
Arman masuk kekamar mandi dan membersihkan tubuhnya, setelah itu ia juga ikut bebaring di samping Seli dengan perasaan yang tidak karuan. Arman tau alasan Seli tidak memakai pakaian sebab koper milik Seli baru di berikan Ziva tadi saat pesta sudah selesai, bahkan ia baru saja membawanya masuk.
Pagi harinya Seli merasa tidurnya terusik karena ada cahaya yang menembus kaca langsung menyinari wajahnya, perlahan Seli membuka mata dan melihat seorang pria yang tidur terlelap di sampingnya.
"Aaaa," teriak Seli.
Arman yang mendengar teriakan Seli juga ikut terbangun.
"Kamu kenapa?" Arman bangun ikut duduk di ranjang, ia bertanya dengan suara serak has bangun tidur sambil tangan mengucek mata sebab masih sangat mengatuk. Semalam ia tidak bisa tidur karena tersiksa melihat Seli yang sangat menggoda.
__ADS_1
"Arman kamu ngapain tidur disini!" teriak Seli yang sepertinya belum di hampiri kesadaran penuh.
"Kenapa?" tanya Arman sambil menatap Seli yang hanya berbalut handuk, bahkan setengah gundukan Seli menyembul.
Tuhan ini sangat menyiksa.
"Apanya yang kenapa, lu ngapain tidur seranjang sama gue?"
"Karena lu istri gue," jawab Arman kesal.
Seli mulai mencerna ucapan Arman, otaknya mengingat kejadian kemarin saat Arman menikahinya.
"Ya ampun gue berharap mimpi, taunya nyata," gumam Seli yang masih bisa di dengar Arman.
"Maksud kamu apa?" Arman sepertinya tersinggung mendengar perkataan Seli.
"Nggak ada maksud papa!"
"Saya suami kamu jadi jaga ucapan mu," Arman mengeraskan rahannya dan memegang rahang Seli, dengan pelan tapi tetap saja wajahnya terlihat menyeramkan di mata Seli.
"Arman....sakit hiks, hiks," Seli malah takut dan menangis, padahal Arman hanya ingin menggertakan istrinya saja agar lebih sopan kepadanya.
Arman melepaskan tangannya pada rahang Seli, "Apa kau bisa sopan sedikit saja pada suami mu?" tanya Arman.
"Apa tidak bisa kau memanggil ku lebih sopan?"
"Iya Kak Arman," kata Seli.
"Apa kau sengaja menggoda ku pagi ini," Arman menatap intens tubuh Seli yang hanya terbalut handuk putih.
Dengan reflek Seli menutup dadanya, ia baru ingat ternyata semalam ia tidur dengan terbalut handuk saja.
"Koper Seli nggak tau di mana Kak," kata Seli berharap Arman tidak berpikir jika ia menggodanya.
Arman terseyum miring di otaknya bagai ada lampu pijar, karena pagi ini ia bisa menggoda istri tercintanya.
"Itu apa?" Tangan Arman menunjuk sebuah koper, Seli mengikuti arah yang di tunjuk Arman, mata Seli melotot melihat koper miliknya.
"Tapi semalam nggak ada," Seli merasa malu ia yakin pasti Arman berpikir ia menggoda Arman.
__ADS_1
"Sudahlah kalau kau menggoda ku pun tidak apa, mungkin kau sudah tidak sabar," Arman dengan cepat menarik tubuh Seli hingga terlentang dengan cepat Arman menindih Seli.
"Kak Arman, aku tidak menggoda mu sungguh," Seli mendorong tubuh Arman tapi tenaga Seli telalu lemah hingga kalah dengan tenaga Arman.
"Kalau kau tidak menggoda ku, kenapa kau seperti ini," Arman malah semakin bersemangat menggoda istrinya dipagi hari yang cerah ini.
"Kak Arman, jangan aku takut hiks, hiks," Seli yang belum pernah berdekatan dengan laki-laki mendadak gemetar saat Arman menindihnya.
"Tidak usah takut."
"Kak Arman aku mohon jangan ya," Seli melas di hadapan Arman seperti kucing yang kedinginan kedua tangan Seli meremas handuk di dadanya.
Arman tidak perduli dengan Seli yang menolaknya, ia terus mendekatkan wajahnya pada Seli.
"Kak Arman."
TOK TOK TOK.
Terdengar suara ketukan pintu.
"Sial," gumam Arman kesal karena ada yang mengganggu.
"Pakai pakaian mu atau ku makan kau pagi ini," kata Arman turun dari ranjang lalu membuka pintu.
TOK TOK TOK.
"Ada apa?" tanya Arman saat melihat seorang karyawan hotel ternyata yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tuan, semua keluarga sudah menunggu di untuk sarapan pagi," jawab karyawan tersebut.
"Ya saya akan segera turun," jawab Arman lalu kembali masuk.
"Seli."
"Iya Kak," Seli benar-benar takut dengan kemarahan Arman seperti barusan jadi ia memilih untuk ikut saja dengan ucapan Arman.
DRETT DRETT DRETT.
Ponsel Arman berdering.
__ADS_1
"Halo Yuli," jawab Arman.
"Kak Arman aku duluan," Seli pergi tanpa menunggu Arman selesai berbicara di telpon, dengan perasaan kesal.