Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Season ll ■ Bab 109


__ADS_3

Vano bersama Hardy masuk kesebuah gubuk reot di tengah hutang tengah malam, gubuk itu hanya di terangi oleh lampu seadanya.


PROKK PROKK PROKK.


Terdengar suara tepuk tangan yang menyambut kedatangan Vano dan Hardy, dia adalah seorang pria yang tak lagi muda bernama Hutomo, seorang pengacara terpercaya dulunya di keluarga Ziva.


"Selamat datang tuan-tuan," terdengar suara Hutomo di iringi senyum kemenangan saat menyambut kedatangan dua orang, yang paling ia tunggu ya itu Vano.


"Dimana Mama dan putri ku?" tanya Vano tanpa basa basi.


"Sabar dulu tuan Zavano, pahlawan kesiangan yang sudah datang menyelamatkan Zivanya Sabilla." seloroh Hutomo.


"Cepat katakan di mana cucu dan istri ku, lalu tutup mulut mu," kali ini Hardy juga ikut berbicara sungguh ia sudah tidak sanggup.


"Oowaaaa ooowaaa," terdengar suara Zie yang menangis dari sebuah ruang.


"Diam!" bentak seseorang.


"Ooowaaa ooowaaa," tanpaknya Zie merasa takut dan haus.


"Kau dengar suara itu," tanya Hutomo.


"Lepaskan anak ku!" kata Vano dengan tangan terkepal.


"Tentu saja, tapi setelah kau berikan yang ku minta," ucap Hutomo.


Tanpa basa-basi Vano melempar tas yang di pegannya berisi berkas berharga milik Ziva pada Hutomo.


"Saya periksa dulu," Hutomo membuka tas dan melihat satu persatu kertas berharga itu dengan mata berbinar, semuanya dapat di pastikan asli.


"Cepat lepaskan anak ku!"


"Tidak semudah itu," jawab Hutomo.


"Kurang ajar apa maksud mu bajigan," teriak Vano yang mulai tersulut emosi.


Tiba-tiba seorang pengawal membawa baby Zie keluar, bayi itu menangis saat melihat Vano. Mungkin saja ia merasa lapar dan haus.


"Berikan anak ku," tangan Vano terkepal saat melihat anak nya menangis.


"OOwaaaa, Oowwaa" Zie merentangkan tangannya pada Vano seolah ingin di gendong sang Ayah.

__ADS_1


"Berikan anak ku!" kata Vano yang mulai mendekati Zie.


"Diam, kau kira aku bodoh! Aku tidak yakin kalian datang hanya berdua saja kan?" Hutomo sepertinya ingin membebaskan diri menggunakan Zie.


"Papah hiks, hiks," tubuh Sinta bergetar terlihat lebam di bagian tubuhnya.


Beberapa jam yang lalu.


Sinta bersama seorang supir juga Zie, sedang mengendarai sebuah mobil. Mereka baru pulang dari mall sehabis membawa Zie jalan-jalan dan berbelanja mainan sangat banyak.


Namun saat keduanya akan pulang, di perjalanan ada mobil yang menghalangi laju kendaraan mobil mereka.


"Turun," lima orang preman berbadan besar menggedor kaca mobil. Namun sang sopir tidak mau membuka pintu.


Dengan cepat sopir pribadi Sinta mengambil ponsel berniat ingin menghubungi Arman. Namun sayang kalah cepat dengan preman yang ternyata sudah memecakan kaca mobil, hingga pintu berhasil di buka.


Tanpa basa basi, sang sopir di tikam benda tajam hingga ia sudah tidak sadarkan diri, Sinta tidak tau entah ia masih hidup atau telah tiada. Sang sopir di tinggal begitu saja dengan darah yang terus mengalir, tanpa ada pertolongan sedikit pun dari si preman.


Suasana jalanan terlihat ramai, namun Sinta tidak berani berteriak karena preman itu mengarahkan benda tajam pada Zie. Sinta tidak mau apa yang di alami supirnya ikut juga di alami oleh Zie.


"Ikut dan jangan berteriak!" kata preman itu.


Zie terus saja mengis, bagaimana balita itu tidak menangis ia di biarkan tergeletak di atas tanah sementara tangan Sinta di ikat. Dengan cukup kencang, Zie menangis berjalan dengan lambat sambil menangis pada Sinta, akhirnya Sinta memohon agar melepaskan ikatan pada tangannya.


"Cepat diamkan bayi itu brisik!" bentak seorang preman.


"Iya," jawab Sinta sambil menggendong Zie.


Zie terus menagis karena haus dan lapar, dengan terpaksa Sinta memberi air mineral yang ada di dekatnya, Sinta menangis saat Zie mendeguk dengan cepat air mineral itu dan ia berhenti menagis. Namun 30 menit kemudian Zie kembali menangis, mungkin ia merasa lapar dengan hanya minum air mineral tidak akan bisa mebuatnya kenyang perut bayi mu gil itu.


Demi melindungi Zie dari pukulan preman yang benci dengan keributan Zie, Sinta memeluk Zie hingga ia yang di pukuli. Dan tidak lama berselang Sinta mendengar suara Vano yang memanggil nama Zie. Sinta sedikit merasa lega paling tidak Zie yang merasa kehausan dan kelaparan bisa cepat di tolong.


Dan kini Sinta meluhat Vano bersama sang suami ada di hadapannya. Dengan suara gemetar dan lemah Sinta berteriak sungguh Sinta sangat takut, ia tidak pernah mengalami hal seburuk ini.


"Lepas kan mereka!" kata Hardy yang merasa tidak kuat dengan Zie yang terus menagis.


"Tidak akan!" jawab Huromo.


"Kenapa kau curang!" kata Vano.


"Karena kau juga bermain curang," jawab Handoko.

__ADS_1


Ia mengingat saat Vano mengambil semua yang sudah ia dapat kan dengan cara yang susah payah, lalu dengan mudah nya Vano membawa pengacara dan polisi untuk mengusirnya dari perusahaan milik Ziva.


"Tapi kali ini kau sudah menang dengan mendapatkan apa yang kau inginkan," kata Vano.


"Mana Ziva kenapa kau tidak membawanya,"


Saat Hutomo menghubungi Vano ia memerintahkan Vano untuk ikut membawa Ziva juga, sebab Hutomo ingin Ziva menandatangani berkas yang ia bawa. Sejak dari dulu ia mencari Ziva tapi ia tidak menemukan di mana, hingga akhirnya terkuak Ziva menjadi istri sinpanan Kenzi Zavano, saat itu Hutomo mulai mencari peluang untuk bisa menculik Ziva. Namun karena Ziva di kelilingi orang-orang yang menjaga nya Hutomo tidak pernah berhasil.


"Untuk apa lagi bukankah kau sudah mendapatkan berkas itu, lagi pula saat ini tanda tangan Ziva tidak akan berarti apa-apa!" kata Vano.


"Apa makaud mu?" Handoko mulai bingung.


"Kau pengacara atau bukan?" ejek Vano.


"Jangan kurang ajar."


"Oowaaa," Zie menangis saat dengan teganya Hutomo menarik rambut Zie.


"Kurang ajar!" teriak Hardy.


"Ziva masih memiliki dua adik lak-laki yang lebih berhak atas harta itu, jadi tanda tangan Ziva sama sekali tidak berguna." jelas Vano.


BUUUUUK.


Tubuh Hutomo terjatuh di tanah dengan terlungkup karena hantaman benda keras.


Dengan cepat Arman memijak punggung Hutomo. Dan menodongkan senjata api.


"Cepat lepaskan mereka!" kata Arman.


"Tidak akan!" teriak Hutomo ia tidak mau kalah


"Heh lepas kan anak!" kata Vano.


"Jangan, habisi saja," teriak Hutomo yang masih terlungkup di tanah.


BUKKK.


Lagi-lagi Arman menendang Hotomo.


"Kalian habisi mereka, kalau pun kuta mati semua tidak sia-sia. Mereka juga berduka karena bayi dan wanita tua itu mati!" teriak Hutomo pada anak buahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2