
Dua hari sudah Ziva dirawat di rumah sakit dan kini ia sudah Ziva sudah di bolehkan pulang oleh dokter. Dan selama dua hari pula Vano selalu berada di samping Ziva. Bahkan semua pekerjaan yang seharus nya ia kerjakan di kantor selama dua hari itu ia kerjakan di rumah sakit.
Dan kini Ziva sudah berada di rumah nya. Setelah tadi Vagi ia kembali kerumah. Tubuh nya memang sudah sehat tapi ia masih di haruskan banyak istirahat dan Vano pun memerintahkan seorang dokter yang selalu menjaga Ziva di rumah nya.
Sebenar nya Ziva menolak menurut nya itu terlalu berlebihan namun mau bagai mana lagi Vano sudah bersikeras tetap seorang Dokter harus selalu merawat Ziva. Karena Vano sangat takut sesuatu hal yang tidak di inginkan terjadi pada Ziva.
Vano terlalu posesif pada Ziva untuk saat ini. Itu memang benar ada nya. Dan bukan tanpa alasan keposesifan nya itu muncul. Semua itu karena ia sudah sangat menantikan seorang anak dan ia tidak ingin kalau sampai kehilangan anak yang selama ini sangat ia nantikan.
Vano tidak mempermasalahkan kelak memiliki anak laki-laki atau perempuan yang terpenting anak nya. Dan juga istri nya sehat serta selamat itu pun sudah lebih dari cukup bagi nya. Dan pagi ini dengan berat hati Vano harus bekerja karena banyak rapat yang ia batalkan karena ia lebih memilih merawat Ziva di rumah sakit.
Sebenarnya Vano enggan untuk berangkat ke kantor. Ia lebih suka di rumah seharian penuh sambil memeluk perut rata Ziva. Namun bagaimana lagi pekerjaan sudah sangat menunggu nya dan ia harus segera membereskannya. Karena Arman pun sudah beberapa hari membantu nya dan kini Arman pun sudah mulai perotes karena semua pekerjaan Vano kini menjadi pekerjaanya.
"Sayang pasangin dasi Mas dong" kata Vano.
Sebenarnya Vano bukan hanya ingin di pasangkan dasi oleh Ziva. Tapi ia juga ingin Ziva juga yang memakaikan pakaiannya. Namun mau bagai mana lagi untuk saat ini ia harus mengurungkan keinginannya untuk di manjakan Ziva. Karena Ziva masih butuh istirahat yang cukup.
"Selesai" kata Ziva setelah ia memasangkan dari pada kerah kemeja suaminya.
"Kiss" kata Vano sambil menunjuk bibir nya.
Cup!.
Indah mencium sekilas namun apa mau di kata Vano justru menahan lekuk Ziva. Agar Ziva tidak menjauhkan bibir nya. Dengan cepat Vano mulai menghis*p dan melum*m bibir Ziva.
Huuuhh.
Ziva membuang napas nya dengan kasar setelah Vano melepaskan nya. Dan Ziva mulai menjauhkan diri nya.
"Mas" kesal Ziva.
__ADS_1
"Hehe" Vano terkekeh hampir saja ia lepas kendali.
"Maaf khilap Yang" kata Vano sambil mencubit gemas pipi istri nya.Vano berjongkok dan ia mulai mensejajar kan diri nya dengan perut Ziva.
"Sayang Ayah kerja dulu ya" kata Vano pada perut Ziva yang masih rata.
"Iya Ayah" jawab Ziva.
"Jangan nakal ya. Nanti kalau kamu tidak nakal Ayah tengokin" kata Vano.
"Issh Mas" kesal Ziva mendengar ucapan Vano.
Cup!.
Vano mencium dan mengelur perut Ziva.
"Sayang Mas pergi dulu ya. Mas janji setelah pekerjaan Mas selesai Mas segera pulang." kata Vano.
Kini Vano mulai menuruni tangga sambil membawa tas kerja di tangan nya. Begitu pun dengan Ziva. Ia berjalan di samping Vano sambil memeluk lengan Vano dan mereka kini sampai di pintu utama rumah itu.
"Mas berangkat ya sayang" kata Vano.
"Ya Mas hati-hati" kata Ziva.
"Ingat kamu jangan melakukan apa pun. Kamu cukup duduk manis saja dan kalau kamu membutuhkan sesuatu. Kamu harus meminta bantuan pelayan" kata Vano.
Ya rumah itu kini sudah memiliki banyak pekerja. Kalau dulu hanya embok Yem kini tidak lagi rumah itu sudah ramai dengan pekerja. Apa lagi setelah ini Vano ingin merenopasi rumah itu. Karena ia dan Ziva akan menetap dan membesarkan anak-anak mereka kelak di rumah itu.
"Iya Mas" jawab Ziva.
__ADS_1
Ziva tersenyum dan mencium punggung tangan Vano. Begitu juga dengan Vano. Vano memcium kening istrinya dan ada rasa tidak rela harus melepaskan ciuman itu.
Vano berjalan menjauh dari Ziva ia mulai membuka pintu mobil. Dengan Arman yang mengemudi. Vano terus melihat wajah Ziva sampai ia tidak dapat lagi melihat wajah cantik istrinya karena jarak yang semakin jauh.
"Bye" kata Ziva.
Ziva yang berdiri di teras mulai membalikan tubuh nya dan ia ingin masuk. Karena semenjak kemarin napsu makan nya tiga kali lipat bertambah dari pada hari biasanya sebelum ia hamil. Dan pagi ini pun sama ia ingin makan rujak yang sudah di masukan terlebih dahulu kedalam lemari pendingin.
"Mbok ambili rujak yang tadi. Yang mbok bikin" kata Ziva.
Ziva kini mendudukan dirinya di kursi meja makan. Dan menunggu mbok menyiapkan semua nya. Ia sebenarnya sangat malas kalau harus memerintah orang lain kalau ia masih bisa melakukannya. Namun para pelayan di sana sudah terlalu takut mendengar ancaman Vano bila ia mengetahui Ziva melakukan pekerjaan nya sendiri dan pelayan tidak membantu istri nya.
Maka semua pelayan akan mendapat amukan dari Vano. Dan mereka lebih memilih melarang Ziva melakukan sesuatu dari pada nanti menerima kemarahan dari tuan mereka itu. Yang sangat posesif bila menyangkut istri dan anak nya.
"Ini neng" kata mbok Yem.
Diantara semua pembantu hanya mbok Yem yang memanggil Ziva dengan sebutan neng karena ia sudah lebih dulu bekerja di rumah Ziva. Dan dulu Ziva melarang mbok Yem memanggil nya nyonya dan sampai sekarang pun begitu. Namun tidak dengan yang lain nya. Yang lain nya terlalu segan pada Vano dan mereka semua memanggil Ziva nyonya muda.
"Terimakasih mbok" jawab Ziva.
Karena ia mendapat makanan yang ia inginkan. Padahal ia hanya memakan rujak saja dan itu rujak sederhana buatan mbok Yem yang kemudian di diamkan di lemari es. Namun bagi Ziva rujak itu melebihi berlian yang mahal untuk saat ini. Mata nya sangat berbinar saat mbok Yem menyuguhkan rujak itu.
"Sama-sama" jawab mbok Yem.
Ziva mulai menyendok rujak itu dengan lahap. Bahkan ia tidak melihat siapa pun yang berada di samping nya yang ia perduli hanya makanan yang ada di meja makan saat ini.
"Mbok Anggia di mana?" tanya Ziva.
Anggia adalah seorang Dokter wanita yang masih muda yang di tugaskan khusus merawat nya di rumah. Dan Anggia selalu melihat apa saja yang di makan oleh Ziva.
__ADS_1
"Tadi Anggia di belakang neng" jawab mbok Yem.