Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 167


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu, kini Ziva sudah kembali ke rumah bersama dengan ke empat baby A,B,C,D. Kini rumah besar dan megah itu sudah sangat di ributkan oleh tangisan bayi, padahal ada empat suster yang di pilih untuk membantu merawat bayi ke kembar itu.


"Ooe, Ooe."


Suara salah satu bayi yang menangis.


"Sayang itu Al nangis," Vano yang sedang menggendong salah satu bayinya, melihat bayi yang lainnya menangis yang di letakan di dalam box bayi.


"Bukan Mas, Al yang kamu gendong, itu yang nangis Chan, adik nya Al," kata Ziva yang sedang menyusui Dav.


"O, Mas nggak tau yang," kata Vano.


Vano memang Ayah dari bayi kembar itu, tapi ia tak bisa membedakan yang mana Kakak dan yang mana adik di antara ke empat bayi itu, hanya Ziva yang bisa membedakannya dan Sinta juga sudah mulai bisa membedakan ke empat cucu tampannya itu.


"Sus, tolong bawa Chan ke sini, biar sekalian saya kasih asi," perintah Ziva pada seorang Suster yang kusus merawat Chan.


"Yang emang bisa duanya sekalian kamu kasih asi?"


Vano di buat bingung sendiri, hilang sudah kepintaran yang selama ini melekat padanya. Kini ia seperti seorang Ayah pada umumnya yang masih bingung dengan suasanya barunya.


"Bisa Mas, kasihan Chan, dari pagi tadi dia cuman minum susu formula," Ziva menyusui kedua bayinya sekaligus di bantu suster yang memegang Chan.


Ziva sedikit merasa sulit untuk bergerak bebas, karena bekas oprasinya yang belum sembuh jadi ia harus meminta bantuan pada ke empat suster yang memang di pekerjakan Vano untuk merawat anak-anaknya agar sang istri bisa lebih banyak istirahat dan segera sembuh kembali seperti sedia kala.


"Al bobonya Ayah pindah di box ya Nak, Ayah juga lagi nunggu antirian selesai. Nanti kalau Chan sama Dav kenyang selanjutnya Ayah," Vano meletakan Al, pada box bayinya dengan sangat hati-hati.


"Mas....." Ziva hanya bisa menarik nafas, suaminya itu tak pernah mengenal tempat jika berbicara.


Bayangkan saja mereka kini di kamar baby boy itu, dengan empat bayi di tambah empat suster tapi tetap saja Vano tak pernah menganggap suster itu ada, mungkin bagi Vano suster itu bukan manusia tapi robot yang tak mengrti tentang ranjang.


"Halo cucu Oma," Sinta baru saja datang bersama Zie.


Zie semalam menginap di rumah Sinta, karena Ziva masih sakit, lagi pula rumah Sinta dan rumah Ziva tak terlalu jauh. Hanya perlu 20 menit saja sudah sampai.


"Halo Oma," jawab Ziva menirukan suara anak kecil.


"Bunda," Zie berlari dan langsung naik ke ranjang untuk bisa mencium Ziva, bahkan Zie berniat melompat untuk memeluk leher Ziva, namun dengan cepat Vano memeluk Zie sebelum si kembar tertindih oleh Zie yang belum mengerti apa-apa, mungkin bagi Zie dua bayi itu hanya boneka mainan yang tak akan rusak bila di tindih sekalipun.

__ADS_1


"Ayah....." teriak Zie kesal, ia sudah sangat rindung dengan sang Bunda tapi sang Ayah malah mencegahnya, "Zie mau peyuk Bunda," kata Zie lagi dengan kesal.


"Zie, kalau mau peluk Bunda boleh, tapi pelan-pelan itu Bunda lagi kasih asi buat adik-adik Zie," Vano menunjuk dua bayi yang sedang di susui Ziva.


"Tapi Zie, peyuk Bunda," Zie masih kesal, sebab kini tak sama lagi seperti sebelumnya karena ada adik kembarnya juga, dan Zie belum mengerti soal berbagi.


"Zie sayang sama Bunda?" tanya Ziva yang di angguki Zie dengan wajah polosnya, "Kiss Bunda," Ziva memajukan pipinya agar Zie bisa menciumnya. Zie langsung mencium sang Bunda di bantu oleh Vano agar tak mengenai dua bayi yang masih minum asi.


"Tayang..." kata Zie tersenyum.


"Sama....Bunda juga sayang sama Zie, dan sekarang Zie udah jadi Kakak. Kakak Zie, jadi Zie nggak boleh nakal terus harus sayang sama adik-adiknya ya," kata Ziva pada Zie.


"Iya Bunda," Zie tersenyum dan kini mengerti karena sang Bunda sudah memberikan penjelasan.


"Zie sayang Ayah nggak?" tanya Vano.


"Tayang dong," Zie memeluk leher Vano dan menciumi seluruh wajah Vano.


"Zie mau cium adiknya nggak?" tanya Vano lagi hingga membuat Zie melihat adik-adiknya.


"Udah nggak boleh banyak-banyak," kata Vano sebab Zie tak pernah berhenti meminta mencium sang adik.


"Peyit," Zie memanyunkan bibirnya kesal.


"Ya lah, biar Ayah cepat kaya," seloroh Vano.


"Assalamualaikum," suara Ratih yang datang bersama Riada, untuk melihat anak-anak Vano.


"Walaikumsalam," jawab Sinta yang kini memangku Dav, setelah selesai meminum asi.


"Wah, Oma Ratih mau kiss dong," Ratih mengambil babyi Chan dari tangan Ziva.


Zie kini sangat kesal, karena biasanya Ratih datang dan memeluknya tapi kini pada Oma itu seperti melupalannya.


"Oma," Zie cemburu dan ingin di gendong Sinta.


"Apa Zie," tanya Sinta menunduk karena Zie menarih dress yang ia pakai.

__ADS_1


"Zie gendong Oma," kata Zie meminta Dav turun dari gendongan sang Oma, dan mengendongnya saja.


"Oma gendong adik dulu," kata Sinta menggoda Zie.


"Oma," Zie terus menarik baju Sinta dan melompat-lompat agar Sinta memeluknya.


"Yaudah bentar, adiknya Oma letak di box dulu," kata Sinta.


"Ini namanya siapa ya?" Ratih bingung dengan bayi yang ia gendong.


"Itu Chan Mi," Vano pergi dan mengambil bolpoin, "Vano tulis namanya di setiap jidat para baby ini biar Mami tau," kata Vano dengan bolpoin yang sudah ia pegang.


"Mas apa sih, perasaan Mas punya ide nggak ada yang bener deh," Ziva jadi kesal pada Vano.


"Biar nggak bingung yang," kata Vano.


"Iya tapi nggak di jidat juga di tulis Mas," Ziva lagi-lagi hanya bisa menarik nafas, entah sudah berapa kali untuk hari ini saja tapi yang jelas semenjak baby mereka lahir Vano memang banyak mengeluarkan ide konyol.


"Ya udah rambut nya aja di cat, biar tau," kata Vano mengingat idenya beberapa hari yang lalu.


"Mami ikut ya, wah lucunya," Ratih tersenyum setuju dengan ide Vano.


"Mami apa sih," kata Ziva.


"Biar kayak oppa-oppa idola Mami itu loh Ziva, wah keren banget deh," Ratih terkekeh membayangkan bertapa kerennya bila para bayi itu memiliki rambut seperti idolanya.


"Kamu ada aja Ratih, jangan di cat dong kasian cucu aku," kata Sinta.


"Mama nggak gaul banget deh," kesal Vano pada Sinta, "Padahal rambutnya di cat terus kasih anting, sebelah aja, waw keren banget anak-anak Vano," kata Vano.


"Mami yes, setuju Mami...." teriak Ratih lupa jika kini ia sedang di kamar dengan banyak bayi yang sedang tidur lelap.


OOeeeee OOeeeee


Semua bayi malah menagis karena keributan ratih.


"Hehehe," Ratih menunjukan dua baris gigi rapinya sedangkan yang lain tersenyum melihat keunikan Ratih.

__ADS_1


__ADS_2