Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 117


__ADS_3

Pagi ini semua berkumpul di ruang tamu, Sinta juga kini lebih memilih tinggal bersama sang cucu. Karena ia sangat takut berjauhan dengan Zie yang sekarang sedang demam, mungkin saja karena insiden yang baru di alami bocah berumur 12 bulan itu.


"Zie main boneka yuk," kata Sinta mengajak sang cucu bermain.


Tapi Zie hanya menggeleng di pelukan Sinta, Sinta hanya memeluk Zie sambil menonton televisi, Ziva tidak ingin semua keluarga dalam kesedihan. Jujur saja Ziva merasa bersalah karena masalahnya mertua dan anaknya juga menjadi korban.


"Ma Ziva bingung deh boleh nanyak nggak sih?" kata Ziva yang berusaha mengalihkan trauma yang Sinta alami.


"Tanya apa Nak?" Sinta menatap Ziva.


"Mama marah nggak sama Ziva?"


"Kenapa harus marah?" Sinta bingung sendiri dengan pertanyaan Ziva.


"Karena Ziva Mama juga ikut jadi korban, kalau saja Mama tidak cepat di selamatkan Papa, dan terjadi sesuatu pada Mama Ziva pasti orang yang paling merasa bersalah," Ziva menunduk karena merasa malu pada Sinta.


"Ziva, jangan sedih ini sudah musibah," Sinta memeluk dengan Zie juga berada di tengah mereka.


"Cie pelukan kayak telletubues ikutan dong," Vano juga ikut memeluk Sinta dan Ziva.


"Aaayah," Zie yang berada di tengah berteriak karena kesal terjepit.


"Ahahahah," semuanya tertawa melihat lucunya Zie yang sedang demam.


"Ulu,uluh, anak Ayah marah," Vano menarik pipi Zie.


"Omaaa," Zie memeluk Sinta dengan kuat.


"Vano kamu jail banget deh," Sinta juga ikut kesal karena cucunya di jaili.


"Mah tapi Ziva bingung deh, nama Papa Hardy Zavano kan Ma?" tanya Ziva pada Sinta.


"Iya," kata Sinta menatap Ziva dengan serius dan menunggu apa yang akan di tanyakan Ziva selanjutnya.


"Terus Mas Vano namanya Kenzi Zavano kan aneh Ma, terus kenapa Mas Vano malah di panggil nama belakan milik Papa?"


Sinta tersenyum menatap Vano dan Arman yang duduk lesehan di karpet bulu, sementara para wanita itu duduk manis di sofa dengan televisi yang menyala, karena Zie yang menonton kartun kesukaannya.


"Karena Mas mu ini, dulunya sok keren!" jawab Arman sambil tertawa mengingat bertapa konyolnya dulu Vano.


"Iya betul yang Arman bilang?" tampaknya Sinta juga membenarkan apa yang di katakan Arman.


"Maksudnya Ma?" Ziva masih bertanya dan bingung.

__ADS_1


"Sayang kamu kenapa sih nanyaknya kesana?" Vano sepertinya tidak suka dengan pertanyaan Ziva.


"Ya enggak aku penasaran aja, biasanya orang di panggil nama depannya. Ini Mas kok nama belakang?"


"Mas Ken jawab!" seloroh Arman.


"Lu apa sih," Vano menendang Arman yang duduk di sampingnya.


"Bini lu nanya di jawab!" kesal Arman lagi.


"Sayang kamu kok kepikiran sih nanyak itu, dari sekian banyak pertanyaan yang lain?" sepertinya Vano memang tidak suka dengan pertanyaan Ziva.


"Dulu Vano itu di panggil Ken, tapi....." Ucapan Sinta tiba-tiba terputus karena Vano menutup mulut Sinta.


"Mama apa sih!" Vano kesal sekali tampaknya hingga ia tidak mau Ziva tau.


"Kamu yang apa sih, istri kamu nanyak itu mungkin saja karena baby kamu," Sinta berdalih.


"Iya tapi Ma," Vano menggaruk kepalanya, sementara Ziva beratambah penasaran.


"Sini biar gue jelasin," Arman menawarkan diri.


"Heh," Vano malah ingin mengunyah Arman hidup-hidup.


"Nggak tau!" kesal Vano.


"Iya kelas dua," Arman semakin berniat bercerita pada Ziva sebab Vano sangat kesal, "Jadi dulu Vano kenalan kerumah tetangga itu, rambut di buat kayak berdiri srmua gitu lebih tepatnys mirip Landak tajam-tajam minyak rambut udah abis, terus pafum satu botol baunya udah bukan wangi lagi tapi pait, terus dompetnya ada rantai gitu, di kantong dan pakek rompi yang kaya kulit gitu di jamannya itu udah gaya paling keren," Arman sambil terkekeh menceritakan bertapa lucunya dulu penampilan Vano.


"Arman udah dong," Vano menutup wajah dengan telapak tangan.


Tapi Arman tidak perduli ia malah tampak antusias dalam bercerita.


"Jadi Vano kenalan dengan tu cewek, nama mu siapa, tanya Vano, terus cewek itu jawab, aku Miranda...." tiba-tiba tubuh Arman terjatuh karena Vano menendangnya.


"Wah lu Man ya berani lu ya," kesal Vano.


"Terus kan, Vano jawab nama aku Vano panggil Mas Vano ahahahha," Arman tidak perduli dengan tangannya yang di pelintir Vano kebelakang tubuhnya, yang jelas misinya untuk menceritakan keanehan Vano saat itu harus ia ceritakan pada Ziva.


"Terus?" Ziva makin penasaran dan kesal juga.


"Terus.."


"Arman berani lu ya," kesal Vano.

__ADS_1


"Sakit kurangajar," teriak Arman karena Vano malah mencekik lehernya.


"Biar Mama yang lanjutin," kata Sinta.


"Mama apa sih," kini malah Vano menatap Sinta dengan tanjam tapi Sinta tidak perduli.


"Terus Miranda bilang Mas Vano ganteng banget deh, dan singkat cerita mereka jadian, semenjak saat itu Vano tidak mau lagi di penggil Ken dan harus di panggil Vano karena ada Miranda yang memanggilnya Mas Vano dari Smp, ahahahah," Sinta malah tertawa lepas.


"Mama inget nggak dulu, Miranda teriak dari pagar bilang, Mas Vano jalan-jalan yuk, terus Vano di dalam kasak kusuk merapikan penampilannya yang takutnya ada yang kurang, haahaha," Arman semakin tertawa lepas menggoda Vano.


"Terus Vano senyum-senyum bahagia abis pulang jalan-jalan sama Miranda, karena..." kata Sinta yang keceplosan ia tidak yakin Ziva siap mendengarnya. Sinta malah menepuk bibir nya dengan telapak tangan.


"Mama terus karena?" tanya Ziva penasaran.


"Hehehehe, Mama nggak jadi ikutan," Sinta diam dan menjauh.


"Karena dapat ciuman dari Miranda, malahan itu ciuman pertama Vano dan Miranda orang pertama yang panggil Mas Vano, ahahahah," Arman berlari sekecangnya menuju kamar dan menguncinya, karena takut di terkam singa yang sedang marah.


"Mama hiks,hiks," Ziva malah kesal dan menyesal karena sudah bertanya yang ternyata ia malah kesal sendiri dan menatap benci pada Vano.


"Sudah ya," Sinta mengelus kepala Ziva.


Ziva bangun dari duduknya dan pergi masuk kedalam kamar, Vano berusaha mengejar dan menghalangi Ziva yang hendak berbaring di ranjang.


"Sayang jangan marah dong," Vano berusaha memeluk Ziva.


"Sana jauh-jauh nggak usah pegang-pegang," kesal Ziva.


"Sayang itu kan cuman masa lalu," kata Vano lagi.


"Tapi Ziva kesel," teriak Ziva.


"Kamu kok marah sih itu kan sebelum kita menikah, kalau sebelum menikah kamu juga pasti pernah di cium Firman kan?" kata Vano yang berusaha memenangkan sang istri yang sedang cemburu.


"Mas sekarang kok malah balik marahin Ziva," kesal Vano.


"Nggak gitu yang," Vano bingung dan Arman sepertinya akan mendapat hukuman karena Vano malam ini terancam tidak dapat jatah malam.


"Mas tidur di luar ajah, kalau Mas nggak mau biar Ziva yang tidur di luar," tutur Ziva.


"Tapi ini masih pagi yang," Vano mengingatkan pada Ziva.


"Ziva tau Mas pikir Ziva pikun!"

__ADS_1


"Iya enggak gitu yang," Vano pergi meninggal kan Ziva menuju kamar Arman.


__ADS_2