
Arman kini sudah kembali ke perusahaan, sudah tidak ada lagi jenggot panjang dan penampilan dekil. Yang ada Arman kini memiliki rahang tegas dengan jambang tipis dan rambut gondrong yang terikat kebelakang. Kini wajah Arman lebih sangar dari sebelumnya mungkin karena rambut gondrongnya yang terikat, bahkan bila berjalan dengan Seli kini terlihat seperti Arman membawa adiknya, sebab Seli pendek, kurus namun putih rambut Seli yang hanya seleher saja. Sementara Arman seperti pria dewasa dengan kesan dingin mungkin orang-orang tidak akan yakin bila Arman dengan penampilan sangarnya tapi aslinya bucin pada sang istri.
"Apa kalian sudah menemukan bukti?" Tanya Arman pada Tomi orang kepercayaannya.
"Belum bos, tapi kami sudah mulai menemukan beberapa bukti yang kini sedang kami selidiki mungkin nanti bukti itu akan akurat," Tomi menjawab lalu Arman memerintahkan Tomi keluar dari ruangannya untuk kembali mencari siapa dalang dalam rumah tanggannya.
Arman diam kembali tubuhnya bersandar pada kursi kebesarannya, Arman ingat kemarin Lastri menceritakan tentang seorang wanita yang hendak menghabisi Seli. Hingga Arman merasa amarahnya mulai menggebu ternyata anaknya yang seharusnya masih hidup dan berada di kandungan Seli kini meninggal karena insiden itu.
Lastri meminta pada Arman agar tak menceritakannya pada Seli, sebab Seli kini sudah sangat membaik dan Lastri takut bila Seli tau ia akan kembali bersedih. Lagi pula semua sudah terjadi dengan kehilangan janin itu jangan sampai terjadi kembali hal buruk pada Seli. Hingga beberapa saat kemudian Arman mendapat bukti-bukti jika Yuli lah yang ternyata selama ini mempermainkannya.
Arman pergi menemui Yuli, Yuli tinggal di apartement. Arman tau tentunya sebab ia bukan kenal sehari dua hari dengan Yuli, Arman tau Yuli memang tertarik padanya tapi Arman tak menyangka jika Yuli tega melakukan hal yang membuat Seli hampir kehilanggan nyawa, bahkan Arman sampai kehilangan buah cintanya bersama Seli.
TING TONG.
Arman berkacak pinggang sesaat setelah ia menekan bell, Arman datang tidak sendiri ia datang bersama dengan anggota kepolisian tentunya, namun Arman pergi terlebih dahulu menemui Yuli. Sementara Tomi kini sedang di kantor polisi menyerahkan bukti kejahatan Yuli dan sebentar lagi Tomi dan anggota kepolisian akan menjemput Yuli.
__ADS_1
"Arman," Yuli sangat bahagia, sebab Arman datang menemuinya hal yang sudah lama sekali tidak ia rasakan, bahkan setelah Arman menikah Yuli merasa jarak di antara mereka. Namun lihatlah saat ini Arman menemuinya hati sangat berbahagia, pikiran Yuli jika Seli sudah tiada dan Arman kini dengan sendiri kembali padanya.
"Em," Arman melangkah masuk tanpa di pinta oleh Yuli, tapi Yuli tak keberatan dengan cepat ia menutup pintu dan menyusul Arman yang terlebih dahulu berjalan di hadapannya.
"Kamu udah lama nggak ke sini," Yuli tersenyum menatap Arman hatinya kini sangat berbunga-bunga, "Kamu duduk ya, aku bikinin kopi," Yuli langsung berlari menuju dapur ia sangat tidak sabar untuk duduk berdua bercerita seperti dulu dengan Arman, sesaat kemudian Yuli kembali dengan secangkir kopi yang ia letakan di meja.
Arman diam ia hanya berdiri dan menatap kopi yang di suguhkan Yuli dan kini terletak di meja, Arman tersenyum miring dengan rasa curiga jika kopi itu ada campuran yang lain. Entahlah Arman justru kini merasa sudah tidak percaya pada Yuli, ia terlalu menghargai Yuli atas apa yang sudah di lakukan Yuli padanya. Namun tampaknya Yuli salah menilai perhatian itu hingga menimbulkan kesalah pahaman.
"Arman duduk," Yuli menarik lengan Arman agar ikut duduk bersebelahan dengannya, mungkin Yuli berpikir Arman akan ikut saja, tapi justru respon Arman berbeda bahkan yang ada dengan cepat Arman menepis tangan Yuli.
"Tidak usah berbasa-basi," Arman mendekati Yuli dan mencenggkram dagu Yuli, tidak lupa Arman sebelah tangan Arman menyirap kopi panas itu pada bagian tangan Yuli.
"Aku hanya ingin memberi hukuman pada tangan mu ini yang hampir melenyapkan istri ku, dan karena ulah mu aku kehilangan anak ku, kau pem-bu-nuh!" Jelas Arman dengan menekankan kata pembunuh, Yuli tak pernah melihat Arman semengerikan saat ini namun ia pun tak akan mau mengakui hal yang di tuduhkan padanya tanpa ada bukti.
"Maksud mu apa, hiks, hiks," Yuli berpura-pura menangis seolah ia adalah gadis lugu dan polos tanpa dosa. Seperti yang selama ini selalu di tunjukannya pada Arman.
__ADS_1
"Kau masih bertanya," Arman melepas cengkramannya dan menjauh, rasanya Arman ingin menghabisi wanita di hadapannya itu namun tak pernah ada sejarahnya tangan Arman yang langsung menyakiti wanita. Tapi kali ini Yuli sudah memancing jiwa iblis Arman kembali.
"Panas Arman, tolong apa yang kamu lakukan bahkan aku tidak mengerti apa kesalahan ku dan kau menyebut anak? Apa aku tidak mengerti," Tidak ada nada kasar yang ada hanya nada yang lebut saja berharap Arman luluh padanya.
"Tidak usah bersandiwara, kau sudah sangat menguji kesabaran ku selama ini dan bodohnya aku membiarkan mu begitu saja saat kau pernah berusaha masuk ke dalam rumah tangga ku! Dan kini aku ingin kau berakhir saja, agar kau tak lagi bisa mencoba menghabisi wanita yang ku cintai," Arman bukan merasa iba tapi justru merasa semakin kesal kini ia benar-benar tau seperti apa Yuli selama ini.
"Arman....tangan ku panas, yolong aku," Yuli menangis mengharap Arman iba padanya.
PLAK.
Arman bukan merasa iba tapi malah jijik berlama-lama melihat tingkah Yuli, Arman hanya ingin Yuli mengaku sebelum ia kehilangan kesabaran yang sudah sangat ia tahan.
"Arman!" Yuli berdiri di hadapan Arman dengan tangannya yang memegang pipi bekas tamparan Arman, "Kenapa kau malah kasar pada ku!" Yuli tidak terima dengan perlakuan Arman.
"Kau, Sudah membuat aku ke hilangan anak ku! Kau juga yang waktu itu mengirim fhoto istri ku di tolong oleh seorang lelaki, lalu yang paling kejam kau hampir membunuh istri ku!" Tegas Arman.
__ADS_1
"Aku memang mengirimkan fhoto itu, tapi semua itu nyata Arman istri mu itu memang seorang wanita tak berharga diri, lalu kenapa kau masih membelanya? Bukankah semua sudah jelas nyata? Apa yang kau harapkan dari wanita yang tidak setia itu!" Tegas Yuli bersaha meyakinkan Arman.
"Kurang ajar! Berani kau menghinanya?" Kini mata Arman sangat terbuka lebar dengan tingkah yang tak berhati bahkan wanita di hadapanya ternyata sangat egois, ingin memiliki sesuatu yang sudah di miliki oleh orang lain. Bahkan ingin memiliki tanpa perduli cara salah yang ia tempuh yang melukai banyak melukai orang lain.