Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
SEASON II ■ BAB 162


__ADS_3

Kini Ziva dan Vano tengah duduk lesehan di gazebo taman belakang rumah, Ziva kini hanya menunggu waktu kelahirannya saja. Ada rasa takut yang kini Ziva rasakan rasa saat melahirkan Zie dulu masih jelas ia ingat.


"Sayang kamu mikirin apa?" Vano menarik kepala istrinya agar bersandar di dadanya.


"Ziva takut banget Mas, Ziva takut nanti pas di meja oprasi Ziva malah nggak selamat," tutur Ziva mengutarakan apa yang kini di rasakan oleh hati dan perasaannya.


Vano menarik nafas dengan panjang, ia mengerti dengan ketakutan istrinya sebab dulu saat melahirkan Zie sang istri dengan keadaan sangat mengkhawatikan. Namun Vano tak mau menunjukan perasaan ketakutan yang kini melanda hatinya, kini sang istri tengah di landa perasaan takut dan kalau ia pun ikut menujukan rasa takut itu maka siapa lagi yang bisa menguatkan sang istri.


"Sayang," Vano mengecup pucuk kepala Ziva, dan mengelusnya, "Kamu harus semangat, nggak boleh sedih. Kalau kamu sedih nanti anak-anak kita juga ikut merasa kesedihan kamu," tutur Vano.


"Mas kalau nanti Ziva nggak selamat apa Mas bakal nikah lagi?"


Pertanyaan konyol itu justru lolos dari bibir istri Kenzi Zavano itu, perasaan takut saat mendekati persalinan sangat terasa di hatinya. Sepertinya perasan ibu hamil itu kini sedang tidak menentu dengan bayangan ia tak selamat saat berjuang di meja oprasi. Vano memang meminta agar Ziva sebaiknya melakukan oprasi sesuai saran dokter, sebab Ziva melahirkan empat bayi. Ia takut sang istri kehabisan tenaga atau pun kejadian sewaktu melahirkan Zie terulang lagi.


"Sayang, kamu harus yakin semua baik-baik aja, kalau kamu nyerah bahkan kamu sebelum oprasi di lakukan. Kamu nggak boleh ngomong gini, kalau kamu kenapa-kenapa gimana dengan aku," Vano tak tau harus berkata apa, perlahan air matanya menetes karena dilanda rasa cemas.


"Mas, jangan nangis," Ziva membenarkan duduknya dan menghapus air mata Vano yang jatuh setetes di wajah sang suami dengan tangannya, Vano memegang tangan Ziva dan mengecup dengan mesra.


"Kamu harus janji sana Mas, kamu harus kuat demi Mas, demi Zie dan demi anak kembar kita," kata Vano penuh harap, Ziva tersenyum dan mengangguk.


Ziva kini merasa lebih kuat karena esok Ziva akan melalukan oprasi caesar, sedikit rasa takutnya hilang berkat semangat yang di berikan Vano padanya.


"Ya Mas, doa in Ziva ya," pinta Ziva menggenggam tangan Vano.

__ADS_1


"Pasti sayang, kita harus hidup demi buah cinta kita, apa jadinya kalau kamu tinggalin Mas bisa gila dan anak-anak akan menjadi korban, jadi kamu harus kuat. Mas selalu ada buat kamu."


Ziva diam dalam dekapan sang suami dengan harapan semoga besok persalinannya lancar saja, agar ia bisa menbesarkan anak-anaknya bersama sang suami yang sangat ia cintai.


"Kamu mau makan apa?"


Vano tau istrinya masih memikirkan hari esok, dan ia ingin mengalihkan pikiran sang istri agar tak terlalu terbeban dalam ketakutannya yang tak berkejelasan itu. Karena dokter sudah mengatakan jika tak ada masalah dengan kehamilan Ziva saat ini semua baik-baik saja, dan kandungan Ziva sangat sehat tanpa ada yang harus di khawatirkan.


"Ziva cuman pengen di peluk Mas."


Vano tersenyum dan memeluk erat sang istri, walau pun tak bisa memeluk istri dengan terlalu dekat. Tapi tatap saja rasanya Vano memeluk Ziva sekaligus memeluk anak-anaknya di rahim sang istri.


"Sayang kamu hamil yang kedua nggak suka ngidam ini dan itu ya?"


Vano ingat saat dulu ia harus pergi keluar kota karena ada tugas sangat penting, Ziva sampai menangis karena Vano tak mengijinkannya ikut. Sebab Vano takut jika sang istri kelelahan ia pun tak akan pergi bila ada yang bisa menggantikannya, namun sayang Arman orang yang bisa menggantikannya juga sedang menangani perusahaan milik Daffa dan Daffi yang saat itu di ambang kebangkrutan karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab.


"Mas Ziva pengen beli jet pribadi itu ngidamnya Ziva," seloroh Ziva.


Ziva juga ikut memikirkan ucapan Vano, di hati Ziva membenarkan apa yang di katakan oleh Vano. Ia kini tidak meminta sesuatu yang berlebihan atau pun banyak meminta sesuatu, ia justru memakan apa yang ia lihat dan bila ia tak melihat ia tak ada keinginan untuk meminta, yang penting ada Vano di pandang matanya.


"Kamu mau jet pribadi yang?"


"Becanda Mas, Ziva yang penting ada Mas itu aja udah cukup," Ziva kembali bergelayut manja di lengan sang suami, karena itu yang sangat ia sukai.

__ADS_1


"Nanti kalau kamu udah lahiran, Mas beliin buat kamu ya," Vano menarik gemas hidung sang istri.


"Ziva becanda Mas," kata Ziva.


"Mas serius, itu hadiah buat kamu yang udah kasih Mas anak lima," Vano tak tau harus berterima kasih dengan cara apa pada sang istri.


Vano hanya bisa memberi sesuatu yang menurutnya tak seberapa jika di bandingkan dengan apa yang di berikan Ziva padanya, bayangkan saja Ziva menghadiahkannya lima anak sungguh hal yang tak pernah di bayangkan Vano dalam usia bernikahannya baru menginjak tiga tahun tapi sudah menjadi Ayah dari lima orang anak.


"Okey, kalau Mas maksa, tapi Ziva mau ada nama Ziva ya Mas yang tertulis di Jet nya," pinta Ziva dengan senyum bahagia.


Ziva tau itu cara suaminya untuk membahagiakannya, walau pun caranya sangat terkesan berlebihan dan terlalu lebay tapi Ziva tau itu cara Vano menghargai nya. Dan Ziva tidak mau menolak ia takut suaminya nanti jutru tersinggung dengan penolakannya.


"Tapi janji kamu harus kuat," kata Vano lagi.


"Kuat," Ziva menunjukan pada Vano dua tangannya mengepal seolah menggambarkan bertapa kuatnya ia saat ini.


"Mas nanti anak kita di kasih nama siapa ya?" Ziva bingung harus memberi nama apa pada anak-anaknya, sebab pikirannya kini terlalu fokus pada oprasinya esok hari.


"Ya nanti kita pikirin ya sayang, yang penting sekarang kita semangat," Vano mengacak rambut Ziva dengan gemas.


"Mas....tolong ikatin dong," rambut Ziva sudah sangat panjang sebab selama hamil ia tak memotong rambutnya, sebab Sinta mengatakan tidak baik jadi ia ikut saja apa pun perkataan baik orang lain. Apa lagi yang mengatakan adalah Sinta, Ziva tidak akan membantah.


"Iya sini mana ikatannya....apa Mas ikat pakek tali rapia aja?" seloroh Vano.

__ADS_1


"Ahahahahaa, Mas apa sih," Ziva tertawa mendengar perkataan sang suami.


__ADS_2