Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Ektra part 3


__ADS_3

Kini Gibran, Alif, Alfa, Bastian, Chandra, Davit, sudah berada di sekolah. Alif sebenarnya lebih tua satu tahun dari yang lainnya, karena saat Anggia hamil untuk Alma dan Alif. Jarak usia kandungannya dengan Ziva hanya berselisih empat bulan saja, di mana saat ini Ziva tengah mengandung Zie. Namun Alif tak mau berpisah kelas dari saudara lainnya, akhirnya Bilmar memutuskan untuk menggabungkan Alif bersama anak-anak Vano dan Arman juga.


Sedangkan Zie dan Alma keduanya kini sudah duduk di bangku Sd, keduanya tak bisa terpisahkan walau pun sering bertengkar namun dalam waktu bersamaan keduanya bisa tertawa bersama. Sangat sama seperti Bilmar dan Vano, mungkin tingkah usil kedua anak itu juga menurun dari Ayah mereka. Seperti saat ini Alma terus bertanya tanpa berhenti, padahal sang guru mulai merasa bingung harus menjawab apa.


"Bu, itu bebeknya kenapa cuman empat?" tanya Alma menatap kedepan dimana sang guru tengah menggambar bebek, dan menjelaskan pada anak didiknya.


"Karena soalnya bilang, tiga anak bebek sedang berenang bersama ibunya satu. Jawabannya berapa?" tanya guru tersebut pada Zie.


"Empat Bu," jawab Zie setelah ia menghitung di jari-jarinya.


"Pinter, anak ibu," kata si guru lagi dengan bangga, karena anak didiknya sudah pintar.


"Zie anak Ayah sama Bunda, Bu guru. Ayah Vanu dan Bunda Ziva," terang Zie kesal sebab sang guru mengatakan ia anaknya, sedangkan ia tau ia anak dari Vano dan Ziva.


Si guru tersenyum melihat bertapa lucunya bocah yang kini tengah menatapnya dengan bingung.


"Iya," jawab ibu guru itu, lalu ia kembali mengajukan pertanyaan lagi, "Anak-anak semuanya, kalau di sini ada empat bebek dan mereka berenang. Satu anak bebek terpisah dari yang lainya, jadi sisanya berapa?" tanya si guru kembali memberi pertanyaan.


"Tiga Bu guru," jawab seorang murid laki-laki yang duduk di belakan kursi Zie dan Alma.


"Pinter sekali anak Ibu," jawab si guru memberikan rasa bangga pada anak murid pintarnya.


"Bu, Sandy anak pak Dahlan," kata Zie.


Si guru diam mendengar apa yang di katakan Zie, ia tersenyum lembut, "Iya, tapi di sekolah semuanya anak Ibu," jawab si guru.


"Memangnya Ibu sudah nikah sama pak Dahlan?" tanya Zie lagi.


"Berarti Ibu Mom tirinya Sandy dong," timpal Alma.


"Tapi kalau semua anak Ibu berarti Ayah juga nikah sama Ibu dong, Zie nggak mau punya Ibu tiri.....karena nanti kasian ibu di cekik sama Bunda," tambah Zie lagi.


"Kok di cekik sama Bunda?" tanya si guru yang sedikit penasaran dengan cerita Zie.

__ADS_1


"Bunda Zie galak soalnya, Zie aja kalau makan permen terus di marahin sama Bunda," terang Zie pada si guru, yang ingin tertawa.


"Waaaaaa hiks.....hiks...." Sandy malah menangis dengan kencang, "Sandy nggak mau punya Ibu tiri, ibu tiri itu kan jahat," lanjutnya sambil terus menangis.


"Maksud Ibu bukan begitu, em......" si guru bingung harus menjawab bagaimana lagi, "Kita lanjut belajar lagi ya," kata guru tersebut berusaha menyudari pembicaraan mereka.


"Ya Bu......" jawab semua murid-muridnya.


"Tadi berapa bebek yang terpisah dari Ibunya?" tanya si guru lagi.


Yang lain masih berbisik-bisik Alma dengan cepat menunjuk tangangannya ke atas, dan menjawab, "Satu Bu guru," jawab Alma menunjukan gigi ompongnya.


"Bagus, benar sekali," si guru kali ini menjawab dengan cara yang lain, demi menghindari adanya pertanyaan konyol dari bocah-bocah yang sedang ia ajari itu, "Ada pertanyaan lagi?" lanjut si guru.


"Bu. Kalau satu bebek terpisah, apa dia nggak nangis?" tanya Zie.


"Iya Bu, apa Mom bebek nggak nangis?" tambah Alma, karena Anggia sering mengatakan padanya. Kalau Alma tak boleh nakal dan pergi bermain kalau tidak berpamitan dulu, kalau Alma hilang maka Anggia akan menangis.


"Kemarin itu, ayam kesayangan nenek aku hilang. Nenek panik, dan Nenek lapor sama polisi," Sandy juga ikut menimpali pembicaraan itu, (Sandy hanya teman Zie di sekolah,).


Semua murid sibuk dengan cerita mereka masing-masing terutama Sandy yang tengah bercerita, perihal ayam sang Nenek yang hilang. Dengan teman yang lainnya sibuk mendengarkan cerita Sandy.


"Anak-anak semuanya, ayo kita lajutkan kembali belajarnya," kata si guru yang mulai terabaikan karena murid-muritnya malah lebih antusias mendengarkan cerita perihal ayam hilang itu.


Setelah di rasa semua muridnya tenang, si guru kembali melanjutkan belajar mengajarnya.


Jam pulang sekolah sekolah tiba, semua pulang kerumah, Alma dan Alif di jemput oleh Bilmar. Sedangkan Gibran di jemput Arman. Dan Zie, Alfa, Bastian, Chandra, Davit, di jemput oleh Vano. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah. Dan enam orang anak Bilmar langsung turun.


"Bunda......" teriak Zie.


"Bunda......" teriak yang lainnya lalu memeluk Ziva.


"Anak Bunda udah pulang," Ziva langsung mencium satu-satu pipi anak-anaknya.

__ADS_1


"Bunda masak apa?" tanya Zie.


"Masak soto kesukaan Zie," jawab Ziva, lalu Ziva menatap Davit yang terlihat cemberut. Padahal yang lainnya terlihat bahagia hingga membuat Ziva penasaran, "Davit kok cemberut?" tanya Ziva.


"Bunda Davit boleh pindah sekolah aja nggak?" tanya Davit, yang membuat semua orang menatapnya.


"Kenapa?" tanya Ziva lagi.


"Ibu gurunya udah tua," jawab Davit masih dengan wajah kesalnya.


"Loh....kalau tua memangnya kenapa? Yang pentingkan ilmunya," jelas Ziva.


"Nggak semangat belajar, Davit nggak mau sekolah kalau nggak di ajarin sama guru cantik dan sexy," jelas Davit.


Sinta tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang di katalan Davit.


"Kenapa Ma?" tanya Vano bingung.


"Emang ini kecebong titisan Vano, dulu Vano juga begitu. Gurunya harus cantik dan sexy. Terus Vano pindah-pindah sekolah sampek sepuluh kali, karena gurunya nggak cantik. Sampek akhirnya yang Vano lihat dulu gurunya cantik apa enggak, kalau nggak cantik Vano nggak jadi masuk di sekolah itu," terang Sinta bertapa konyolnya dulu putra tercintanya itu dan kini menurun pada anaknya.


"Mama, apa sih. Kenapa malah bawa-bawa Vano, di depan anak-anak lagi," Vano merasa malu karena Sinta membuka aibnya di depan anak-anaknya.


"Ahahahha, terus Davit mau sekolah dimana?" tanya Sinta tanpa perduli dengan perkataan Vano.


"Di sekolah Kak Zie aja, Kak Zie gurunya cantik soalnya," jawab Davit.


"Nggak usah!" jawab Zie dengan cepat.


"Kenapa?"


"Bunda," Zie menatap tajam Vano, setelah itu memeluk Ziva, "Ayah udah nikah sama Bu guru di sekolah Zie," jelas Zie yang ingat tadi si guru mengatakan ia anak gurunya juga.


Vano malah di buat melongo mendengar apa yang di katakan Zie, sedangkan Ziva yang bucin tingkat akut pada Vano. Kini menatap tajam dengan penuh tanya.

__ADS_1


__ADS_2