Istri Simpanan Presdir

Istri Simpanan Presdir
Bab 37


__ADS_3

Kediaman Zivanya.


***


Kini Vano sudah berada di rumah Ziva. Setelah ia memasukkan mobil mewah milik nya ke garasa ia langsung menyeret kopernya masuk. Vano terus masuk menuju kamar nya dan Ziva tapi saat Vano sudah masuk Ziva tidak ada di dalam kamar itu. Vano juga memeriksa kamar mandi namun kamar mandi itu juga kosong.


Vano mulai keluar dari kamar dan mencari di dapur. Karena Vano sering melihat Ziva memasak jadi ia berpikir Ziva ada di sana. Namun sayang Vano tidak juga menemukan keberadaan Ziva. Hanya Art saja yang sedang memasak di sana.


"Mbok apa Ziva sudah pulang?" tanya Vano.


"Belum tuan" jawab pembantu itu.


"Belum. Apa dia pergi menemui Pirman?" batin Vano.


Vano mulai melangkah keluar ia ingin memastikan apakah dugaannya benar. Tapi saat ia akan keluar dari rumah pandangannya menatap seorang wanita cantik. Ya Ziva pulang dan sedang berjalan menuju kamar nya. Ziva terus melangkah masuk dan Vano mengikutinya dari belakang. Ziva heran kenapa ada koper yang berukuran cukup besar di kamarnya. Ia tidak tau kalau itu koper milik suami nya.


"Dari mana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Vano.


Ziva membalikan badannya karena ia memang tidak tau Vano pulang kerumahnya. Ziva sekarang mengerti koper itu milik siapa namun Ziva sedikit marasa aneh dan bertanya-tanya kenapa Vano membawa kopenya kemari.


"Aku tadi pergi bersama Seli" jawab Ziva.


Ziva mengambil handuk di lemari dan ingin membersihkan tubuh nya. Tapi ada yang menggajal di pikirannya tentang koper itu.


"Mas ini koper milik siapa?" tanya Ziva.


"Koper Mas" jawab Vano.


"Buat apa Mas bawa koper kemari. Bukan kah kebiasaan Mas datang dua jam kemari untuk memenuhi hasrat Mas saja setelah itu Mas pulang ke rumah istri tercinta mu itu" kata Ziva.


Entah mengapa hati Ziva masih sekeras batu. Ia belum bisa menerima Vano. Atas apa yang pernah Vano lakukan padanya. Padahal Vano sudah sangat tulus pada nya.


"Ya Mas mulai hari ini tinggal di sini" jawab Vano dengan sangat lembut.


"Berapa hari" ketus Ziva.


"Selamanya" jawab Vano.


"Hahahaha" Ziva tertawa terpaksa. Mendengar jawaban Vano entah mengapa ia sangat susah sekali percaya pada Vano dan entah sampai kapan hati nya akan terbuka untuk menerima Vano.


"Kalau Mas mau tinggal di sini. Beli lemari baru. Lemari ku sudah tidak muat" kata Ziva.

__ADS_1


Ziva langsung masuk kedalam kamar mandi karena ia sangat malas melihat wajah Vano.


Sebenarnya Vano ingin menanyakan. Apa Ziva terlambat pulang karena menemui Pirman. namun ia sangat takut dengan kemarahan Ziva jadi lebih baik ia menahan ke ingin tahuannya itu saja.


"Kenapa Ziva berubah galak ya" gumam Vano.


Tidak berselang lama Ziva keluar dari kamar mandi. Masih seperti sebelumnya Ziva hanya melilikan handuk di tubuh nya. Entah apa yang ada di pikirannya ia tidak suka Vano memandangnya dengan pandangan haus. Namun ia juga selalu melupakan untuk membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Ziva terus melangkah mendekati lemari. Sementara Vano yang sedang merebahkan dirinya di ranjang mulai mengeluarkan keringat dingin.


"Di kasih enggak ya" batin Vano.


"Apa mungkin aku harus bermain solo lagi. Ziva kau sungguh sangat menyiksa adik ku ini" batin Vano.


Vano terus memandangi tubuh Ziva dengan tatapan haus. Sementara Ziva sama sekali


tidak perduli setelah ia mengambil piama nya ia kembali lagi ke kamar mandi dan memakai pakaiannya di dalam sana.


"Sayang Mas lapar" kata Vano setelah Ziva keluar dari kamar mandi.


"Makan lah" ketus Ziva.


"Temenin Yang" kata Vano.


Ziva memutar bola mata nya dengan sangat malas ia melangkah keluar dari kamar. Tapi Vano masih setia rebahan di ranjang. Ziva berbalik ke belakang karena ia menyadari Vano tidak mengikutinya.


Vano tersenyum dan bangun lalu berjalan mendekati Ziva. Lalu keduanya berjalan beriringan.


"Yang aku haus juga" bisik Vano sambil berjalan.


"Nanti di dapur minum" ketus Ziva.


"Maunya minum susu yang" kata Vano.


"Ya aku buatin" kata Ziva masih dengan jutek nya.


"Tapi mau nya bukan yang di dapur yang" kata Vano.


Ziva yang mendengar perkataan Vano. Mulai menghentikan langkahnya. Dan menatap Vano yang berada di samping nya. Ziva bertolak pinggan dan memandang tajam Vano.


"Terus yang mana" tanya Ziva dengan emosi. Namun dengan suara yang pelan.


"Hehe" Vano mengaruk lekuk nya dan memandang intens Ziva. Sambil menaik turun kan alisnya.

__ADS_1


Ziva mengangguk mengerti. Ziva maju dan mendekati Vano. Vano sangat bersemangat sekali karena ia berpikir kali ini Ziva lah yang akan memulainya. Ziva terus mendekat dan semakin dekat lalu ia sedikit berjinjit mendekati wajah Vano dan Ziva berbisik.


"Mau?" tanya Ziva dengan sangat lembut.


"Iya" jawab Vano dengan tersenyum bahagia.


Ziva tersenyum dan mengambil gelas yang ada di meja dan memberikannya pada Vano.


"Pakak ini saja" kata Ziva.


"Gimana cara nya yang" tanya Vano.


"Pikirin sendiri" kata Ziva.


Ziva mulai menata makanan di meja makan dan membuat kan kopi untuk Vano. Lalu Vano mulai duduk dan Ziva mulai mengambil nasi dan lauk untuk Vano. Vano tersenyum bahagia ia semakin yakin dengan hati nya untuk memilih Ziva. Apa pun akan terjadi ia tidak akan pernah melepaskan Ziva.


Keduanya mulai makan dan tidak ada yang bersuara sama sekali. Hanya Vano yang sesekali memandang wajah Ziva.


"Sayang" kata Vano sambil menyuapi nasi ke mulut nya.


"Em" jawab Ziva dengan malas.


"Sabar tahan ini ujian" batin Vano.


Vano tidak berani lagi berbicara karena takut dengan kemarahan Ziva. Setelah menyelesaikan makan malam nya Ziva mulai membereskan meja makan dan Vano juga ikut membantunya. Setelah itu keduanya kembali ke kamar.


"Mas kamu ngapain" tanya Ziva.Karena Vano juga ikut merebahkan dirinya di samping Ziva.


"Tidur" jawab Vano.


"Bangun" kata Ziva.


Vano bangun dan bediri di samping ranjang. Ziva mengambil bantal dan memberikan nya pada Vano.


"Tidur di luar. Atau cari kamar lain!" kata Ziva dengan tegas.


"Tapi aku mau disini sama kamu yang. Aku tidak salahkan tidur dengan istri ku" kata Vano yang melas di hadapan Ziva.


"Kalau kamu mau tinggal di sini Tidur di luar!. Kalau tidak mau silahkan keluar dari rumah ini" kata Ziva.


Vano menundukkan kepalanya dan berjalan keluar. Ia terus berjalan dan menutup pintu lalu ia membaringkan tubuh nya di sofa di depan puntu kamar Ziva.

__ADS_1


"Aku akan tetap bertahan walau kau membenci ku. Aku yakin hati mu sangat mulia dan kau pasti akan menerima maaf ku. Karena aku akan terus berjuang demi bisa menebus perbuatan ku pada mu" batin Vano


__ADS_2