Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kantor Polisi


__ADS_3

Bab 100


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Bu Minah Lestari.."Panggilan seorang petugas polisi membuyar kan lamunan bi Minah.


Sambil mengusap air mata nya, bi Minah segera berdiri mendekati jereji besi, dan menghampiri petugas di depan sel nya.


"Ada yang ingin bertemu dengan anda.."Ucap petugas, sambil membuka gembok sel.


Bi Minah hanya mengangguk, dengan wajah sendu dan mata yang sembab.


Kemudian dia keluar dari sel, berjalan menuju ruang tunggu, di iringi oleh petugas.


Fidy, Ana dan Ayu sampai di kantor polisi, setelah mereka memberikan laporan, mereka meminta bertemu dengan bi Minah, dengan di dampingi seorang pengacara.


Tak lama bi Minah muncul, dengan wajah sendu dan tatapan nanar, dia menatap orang-orang yang berada di depan nya.


Berlahan bi Minah duduk di depan mereka.


Fidy meminta waktu eksklusif dan ruangan khusus, kepada pihak polisi, untuk melakukan pembicaraan dengan bi Minah.


"Ibu.."Panggil Ayu lirih.


Ayu langsung menghambur ke pelukan bi Minah, sambil menangis tersedu-sedu.


Bi Minah pun menangis, sambil membalas pelukan Ayu, dan membelai lembut rambut Ayu.


"Ayu ga mau jauh dari ibu, Ayu merindukan ibu.."Tangis Ayu semakin pecah.


"Ayu, bisa kah tenang sedikit, ada hal yang penting yang harus kita bicara kan..!!"Fidy berkata, dengan suara bariton nya yang tegas.


"Mas.."Panggil Ana lembut, menyentuh lengan Fidy, sambil menggeleng kan kepala nya, menatap Fidy.


Fidy hanya menghela napas.


"Ayu, kami mengerti perasaan mu, tapi sekarang bi Minah harus bicara dengan pengacara, semua demi kebaikan bi Minah.."Ucap Ana lembut, sambil meraih pundak Ayu, untuk melepas kan pelukan nya dari bi Minah.


Berlahan bi Minah dan Ayu saling melepas kan pelukan nya.


"Kita harus berbicara dengan pengacara dulu nak.."bi Minah berkata sambil tersenyum, dan mengusap air mata di wajah Ayu.


Ayu pun mengangguk, mereka pun segera duduk di hadapan Fidy dan pengacara, sedang kan Ana duduk di samping Fidy.


"Perkenal kan bi, nama saya Basir, saya akan mendampingi bibi di kasus ini.."Pengacara yang bernama Basir pun mengulur kan tangan nya kepada bi Minah.

__ADS_1


"Iya pak Basir, terima kasih banyak.."Jawab bi Minah lirih, sambil membalas uluran tangan pak Basir.


"Terimakasih juga tuan Fidy dan nyonya Ana, sudah mau repot-repot memberikan saya pengacara.."Ucap bi Minah, sambil mengangguk ke arah Fidy dan Ana.


"Ini sudah kewajiban kami bi, apa lagi bagi Febi bi Minah sudah seperti ibu kandung nya sendiri.."Ucap Ana tersenyum.


"Yang arti nya, bi Minah juga sudah seperti ibu kandung untuk saya dan Fidy, iya khan mas..??"Ucap Ana, sambil bertanya dan menoleh ke arah Fidy.


"I..iya.."Ucap Fidy gugup.


Bi Minah menatap Ana tak percaya, terlihat di mata nya sudah mulai beranak sungai kembali.


Terlihat kerinduan di mata nya, saat menatap Ana, ingin sekali dia memeluk Ana, meluap kan segala kerinduan nya.


"Baik lah bi, disini saya harap, bibi bicara jujur dengan semua fakta yang bibi sembunyikan selama ini, untuk membantu saya melakukan pembelaan terhadap bibi, setidak nya untuk meringan kan hukuman bibi.."Ucap pak Basir menatap bi Minah.


"Iya pak, saya akan berkata sesuai dengan fakta sebenar nya.."Ucap bi Minah dengan suara parau.


Pak Basir pun mengangguk.


"Apa alasan bibi menikam tuan Aksa Sakti..?"Tanya pak Basir, menatap penuh tanya kepada bi Minah.


"Karena dia sudah membunuh anak saya Wira.."Jawab bi Minah tegas.


Ana tersentak kaget, walaupun dia sudah menduga ada satu ikatan di antara Wira dan bi Minah, sedang kan Fidy dengan ekspresi dingin nya, terlihat tenang.


Bi Minah menghela napas, kemudian menyunggingkan senyuman smirk nya.


"Kejahatan baji**an tua itu, sudah banyak yang saya ketahui.."Ucap bi Minah, dengan suara bergetar penuh amarah.


"Apa saja yang anda ketahui tentang kejahatan tuan Aksa Sakti..?"Tanya pak Basir lagi.


"Banyak, di antara nya pembunuhan, fitnah, pemerkosaan, bahkan penculikan, dan masih banyak lagi tindak kriminal yang sudah ke**rat itu lakukan.."Bi Minah berkata dengan suara bergetar, menahan kesedihan dan amarah nya.


Dia kembali teringat dengan masa lalu yang sangat menyedih kan dan menyakit kan hati nya.


Berpuluh tahun juga, dia harus jauh dengan kedua putri nya, padahal dia sangat tahu di mana keberadaan mereka berdua.


Bahkan salah satu putri nya, sangat berada dekat dengan nya, tapi tangan nya tak mampu menggapai nya.


"Tapi apakah anda, punya bukti itu bi..??"Tanya pak Basir, dengan tatapan penuh tanya.


"Ada beberapa yang kami punya pak.."Ucap bi Minah lirih.


Pak Basir kembali mengangguk.

__ADS_1


"Bukti-bukti yang ada berikan kepada saya, untuk keterangan nanti bi Minah bisa ungkap kan di pengadilan.."Ucap pak Basir.


"Saya dan pak Fidy juga akan mencari bukti-bukti yang memberat kan tuan Aksa.."Ucap pak Basir, sambil melihat ke arah Fidy.


Fidy menarik napas, dan membuang nya kasar.


"Saya sudah banyak mengantongi barang bukti, yang bisa menjeblos kan Aksa ke penjara.."Ucap Fidy, sambil menatap bergantian bi Minah dan pak Basir.


"Tapi, tindakan bi Minah yang memberikan penyerangan kepada tuan Aksa, itu pasti akan ada hukuman nya, apa lagi bibi melakukan nya di depan umum, di saksikan oleh orang banyak.."Ucap Fidy lagi, sambil menatap bi Minah.


"Iya, saya tahu tuan, dan saya sudah siap menerima hukuman apa pun, asal baji**an itu membusuk di penjara.."Bi Minah, berkata dengan suara bergetar.


"Ibu.."Ucap Ayu lirih, sambil menggenggam jemari tangan bi Minah, dengan air mata yang kembali mengalir di wajah nya.


"Jangan menangis sayang, ibu tidak apa-apa.."Bi Minah berkata, sambil menghapus kembali air mata Ayu.


"Apa yang terjadi pada baji**an itu belum ada apa-apa nya, dengan penderitaan yang dia berikan kepada kedua orang tua mu, dan suami ibu.."Bi Minah berkata kembali, sambil mengelus rambut Ayu.


Perkataan bi Minah, seketika membuat Ana mengerut kan kening nya, semakin tidak mengerti dengan apa yang bi Minah katakan.


Begitu juga pak Basir yang tidak tahu apa-apa, hanya mendengar dan menyimak apa yang bi Minah dan Ayu bicara kan, karena sebagai pengacara, dia tidak bisa menyimpul kan sesuatu, tanpa ada bukti yang kuat.


Sedang kan Fidy hanya diam, sesekali dia melirik Ana yang berada di samping nya, ingin sekali dia memberitahu kan suatu kebenaran kepada nya, tapi seperti nya ini bukan waktu yang tepat.


"Bi, boleh saya bertanya sesuatu..??"Ucap Ana tiba-tiba, dengan tatapan penuh tanya, ke arah bi Minah.


Fidy, bi Minah, Ayu dan pak Basir, bersamaan menatap Ana.


"Maaf bi, sebenar nya apa hubungan bibi dengan almarhum Wira dan Ayu..??"


Deg..


****************


Maaf ya, untuk waktu eksklusif dan ruangan khusus di kantor polisi, itu cuma khayalan author saja, jangan fi perdebat kan ya😊😁


Up hari ini cukup 2 bab saja ya, semoga besok bisa up lagi ☺️


Karena harus bagi waktu dengan novel yang masih baru.


Novel"You Are Writer Season8 "



Novel tamat jangan lupa mampir👇

__ADS_1



__ADS_2