
104
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Ayah ku.."Jawab Ayu tegas.
Tentu saja membuat Ana dan Febi kaget, sedang kan Fidy, kembali bersikap tenang, karena memang dia sudah mengetahui semua kebenaran nya.
"Maksud mu Aksa Sakti...???"Febi berkata, sambil menghampiri Ayu, dengan tatapan penuh penuntutan.
"Iya benar, kita satu ayah tapi kita berbeda nasib.!!"Jawab Ayu penuh penekanan, sambil membalas tatapan Febi.
"Wajah kita hampir mirip khan..??"Dan kamu tahu pasti garis wajah siapa yang menurun kepada kita..??"Tanya Ayu, dengan senyum smirk nya.
"Kata kan kebenaran nya, kenapa kita bisa satu ayah..??"Febi balik bertanya.
"Apa ibu mu seorang perayu, sehingga bisa melahir kan kamu..??!!"Tanya Febi lagi, dengan suara meninggi, dan senyum mengejek.
"Jangan pernah menghina ibu ku...!!!"Teriak Ayu, sambil mendorong tubuh Febi.
Febi yang tidak menyangka jika Ayu marah dan menyerang nya, seketika tubuh nya terdorong ke belakang.
Huff..
Tubuh Febi langsung di tangkap oleh tangan kekar, yang tak lain adalah dokter Jimmy yang baru saja tiba di ruang makan.
Jimmy dan Robert yang tiba secara bersamaan, saat mendengar keributan dari arah ruang makan, mereka pun langsung menuju ke ruangan makan.
"Ada apa ini..-?" Ayu apa yang kamu lakukan.?!"Bentak dokter Jimmy, menatap nyalang Ayu.
Deg..
Bentakan dokter Jimmy, bagai kan sembilu yang menghujam ke jantung Ayu.
Air mata pun terus mengalir di pipi nya, dia membalas tatapan nyalang dokter Jimmy.
"Ternyata, kamu masih mencintai nya dan mengharap kan nya.."Ayu berkata, sambil menggeleng kan kepala nya, menatap dokter Jimmy penuh amarah.
Dan tiba-tiba Ayu langsung berlari, meninggal kan ruang makan.
"Ayu.!"Seru dokter Jimmy.
"Aku yang akan mengejar nya."Robert berkata, sambil berlari mengejar Ayu.
Febi melepas kan dan menjauh kan tubuh nya dari dokter Jimmy.
"Aku bisa menjelaskan nya, Feb.."Dokter Jimmy berkata, dengan wajah cemas.
Febi tidak menjawab, dia justru menatap ke arah Fidy, meminta penjelasan yang baru saja keluar dari mulut Ayu.
Fidy menghela napas, saat dia ingin mengatakan sesuatu, Ana langsung memotong nya.
"Tolong, selamat kan ibu ku.."Pinta Ana, dengan suara bergetar, dan tatapan memohon.
__ADS_1
Fidy pun langsung mengangguk.
Sedang kan Febi kaget, tidak menyangka jika Ana sudah memanggil bi Minah dengan panggilan ibu.
"Aku janji, setelah semua selesai aku akan menjelas kan semua nya.."Fidy berkata, sambil menatap bergantian Ana dan Febi.
"Jim, gw titip mereka, sebentar lagi pak Basir datang.."Fidy berkata lagi, sambil menoleh ke arah dokter Jimmy, dan menepuk pelan pundak nya.
"Lo tenang saja, gw pasti jagain mereka.."Jawab dokter Jimmy, sambil menepuk pelan juga pundak Fidy.
"Thank's Jim.."Fidy berkata, sambil kembali menatap ke arah Ana dan Febi.
Fidy pun langsung melangkah pergi, meninggal kan meja makan.
Ana pun langsung terduduk kursi meja makan, sambil memijit pelipis nya.
Febi juga ikut duduk di kursi meja makan, sambil memejam kan mata nya, seketika buliran bening, mengalir di pipi mulus nya, tapi Febi buru-buru mengusap nya.
Melihat Ana dan Febi, dokter Jimmy menggaruk tekuk nya yang tidak gatal, dia pun ikut duduk di kursi meja makan, dengan posisi berhadapan dengan Ana dan Febi.
Dokter Jimmy pun melirik ke arah meja makan, terlihat nasi beserta lauk pauk yang lengkap, dan tampak menggugah selera.
"Apa kalian tidak lapar.??"Tanya dokter Jimmy hati-hati, menatap ke arah Ana dan Febi.
Ana dan Febi pun saling tatap, kemudian mereka pun menatap ke arah dokter Jimmy, tentu saja tatapan mereka membuat dokter Jimmy salah tingkah.
"Kenapa, kalian menatap ku seperti itu..??"Tanya dokter Jimmy, sambil menelan saliva nya.
"Antar kan, kami ke tempat bi Minah di culik..!!"Febi langsung memotong dokter Jimmy yang ingin mengeluar kan suara.
Tentu saja permintaan mereka membuat dokter Jimmy bingung.
"Seperti tidak bisa, karena tempat itu sangat berbahaya, dan aku di tugas kan untuk menjaga kalian.."Tolak Dokter Jimmy.
"Ayo lah Jim, masa kamu tega melihat kak Ana terus bersedih, dia ingin mihat ibu nya.."Pinta Febi, sambil menatap dokter Jimmy penuh harap.
Melihat wajah dan perkataan Febi, tentu saja membuat Dokter Jimmy bingung.
"Dokter pasti tahu khan, jika bi Minah adalah ibu kandung saya .??"Tanya Ana, dengan tatapan penuh selidik.
Lagi-lagi dokter Jimmy tersentak kaget, tapi dia buru-buru bersikap tenang.
Sambil menghela napas, dia pun mengangguk.
"Kalau begitu, antar kan kami kesana.."Febi berkata, sambil bangkit dari duduk nya, dan langsung menghampiri dokter Jimmy, memegang lengan nya, dan memaksa nya untuk berdiri.
"Hai, tapi kita tidak bisa kesana sayang, karena situasi nya sangat berbahaya.."Ucap dokter Jimmy, menatap gemas ke arah Febi yang keras kepala.
"Ya sudah, jika kamu tidak mau mengantar kan kami, biar kami pergi berdua, ayo An.."Febi berkata sambil melepas kasar lengan dokter Jimmy, dan bergegas pergi, dan Ana pun segera melangkah mengikuti Febi.
"Hai tunggu.."Ucap dokter Jimmy, mengejar Ana dan Febi.
Saat mereka sampai di ruang tamu, tiba-tiba mereka berpapasan dengan pak Basir yang baru sampai.
__ADS_1
"Nyonya, nona kalian mau kemana..??"Tanya pak Basir, menatap heran ke arah Ana, Febi dan dokter Jimmy yang tampak mengejar mereka.
"Pak Basir kebetulan, saya minta tolong bapak untuk ikut bersama kami.."Pinta Febi.
Pak Basir tidak menjawab, dia kemudian menatap dokter Jimmy, seolah-olah minta pendapat, dokter Jimmy menjawab dengan sebuah anggukan.
"Baik nona."Jawab pak Basir.
Mereka pun, pergi meninggal kan rumah mewah Fidy, menuju lokasi penculikan bi Minah.
Dengan perdebatan yang alot, akhir nya mereka pun pergi dengan mengendarai mobil dokter Jimmy, dan dokter Jimmy sendiri yang menyetir.
*********
Sementara itu Fidy, yang mengendarai mobil nya sendiri, tiba-tiba ponsel nya berbunyi.
"Apa kalian sudah sampai..??"Tanya Fidy langsung.
"Baik lah, aku sedang menuju kesana.."Ucap Fidy, sambil menutup ponsel nya.
Fidy menarik napas dan membuang nya kasar.
"Ana, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan nya.."Gumam Fidy, dengan raut wajah sedih.
"Akhhh..."Tiba-tiba Fidy berteriak frustasi, sambil memukul setir.
Terlihat gurat kesedihan di wajah tampan bak dewa Yunani itu.
"Dulu, waktu aku menunggu mu, walau pun terpaksa aku belajar ikhlas, karena sejauh apa pun kamu terbang, pasti kamu akan kembali kepada ku.."Gumam Fidy lagi.
"Tapi ternyata melepas mu, lebih menyakit kan dari pada menunggu mu.."Fidy berkata sendiri, sambil mengusap kasar wajah.
Di tengah kegalauan nya, dia pun mendapat pesan jika Robert sedang bersama Ayu, untuk mengambil bukti-bukti yang memberat kan Aksa, setelah itu baru mereka ke tempat penculikan bi Minah.
Fidy menghela napas, kemudian sebuah aenyum kemenangan pun terlihat dari sudut bibir nya.
*******
Maaf baru bisa up, karena kegiatan yang padat.
Akan kah mereka bisa menyelamat kan bi Minah..??
Apa masih ada rahsia lagi yang belum terungkap.??
Siapa kah yang akan hadir, dalam hubungan Fidy dan Ana..??
Jangan lewat kan bab selanjut nya.
Jangan lupa melimpir👇😊
__ADS_1