Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kita Hadapi Bersama


__ADS_3

Bab 108


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Fidy dan Ana saling tatap dengan perkataan bi Minah.


"Saya akan selalu menjaga Ana bu, karena saya sangat mencintai nya.."Fidy mengatakan dengan penuh keyakinan.


Bi Minah menatap mata Fidy, sangat terlihat kejujuran dan ketulusan dari mata nya.


"Terimakasih nak Fidy, tapi Laura, istri mu juga nak, dan dia adalah kakak kandung Ana.."Bi Minah berkata dengan suara parau, menatap bergantian Fidy dan Ana.


Ana menelan saliva nya.


"Ibu jangan khawatir, kami hanya menikah siri, sedang kan kak Laura istri adalah syah mas Fidy.."Ucap Ana mencoba tersenyum, menenang kan bi Minah.


Bi Minah tersenyum, dia tahu bagaimana perasaan Ana kepada Fidy, yang sudah tumbuh benih cinta di hati mereka.


Tapi dia juga sangat tahu, bagaimana Laura putri sulung nya, dari dulu mengejar cinta Fidy, yang hati nya sudah terpikat dengan Ana sejak lama.


"Maaf bu, Walaupun hanya menikah siri, saya sangat mencintai Ana.."Fidy berkata, sambil menggenggam jemari Ana yang berada di samping nya.


"Tapi mas..."Ana mencoba melepas kan genggaman Fidy, dia merasa tidak enak, apa lagi bi Minah sedang menatap mereka dengan tatapan nanar.


"Ibu, hanya meminta, jangan sampai ada yang tersakiti di antara kalian, apa lagi saat ini, kalian baru mengetahui kebenaran nya.."Terlihat kecemasan di wajah bi Minah.


"Tidak akan ada yang tersakiti bu."Jawab Fidy.


Bi Minah hanya mengangguk, dia tahu harus menjawab apa.


"Nak Fidy, tolong tanya dokter, apa ibu bisa bertemu Laura..??"Tanya bi Minah, mengalih kan pembicaraan.


"Sebentar bu, biar saya tanya kan.."


"An, aku keluar dulu untuk menemui dokter.."


Fidy memegang bahu Ana.


"Terimakasih mas.."Jawab Ana sambil mengangguk, di balas senyuman oleh Fidy.


Fidy pun melangkah keluar luar ruangan.


Tinggal lah mereka ber dua.


"Ana, apa cinta itu sudah tumbuh di hati mu nak..??"


Bi Minah menatap Ana, yang terlihat kaget dan gugup dengan pertanyaan nya.


"Apa aku mencintai nya..??"Tanya Ana pada diri sendiri.


Dia pun masih bingung dengan perasaan nya.


"Tidak mungkin cinta itu tumbuh dengan cepat, pernikahan kami baru beberapa bulan, sedang kan hubungan ku dengan Satria sudah 10 tahun.."Ana bertanya lagi pada diri nya sendiri.


"Satria, kenapa beberapa bulan ini aku bisa melupakan mu.??"Ana tersadar, jika akhir-akhir ini, bayangan Satria mulai menghilang dari pikiran nya.


Justru saat ini, Ana sangat menikmati peran nya sebagai istri yang selalu berada di samping Fidy.


Ana menghela napas.


Baru saja Ana akan menjawab pertanyaan bi Minah, tiba-tiba pintu terbuka, tampak lah Fidy masuk bersama dokter dan perawat.


"Hallo nyonya Minah, biar saya periksa dulu ya.."Dokter berkata, saat berada tepat di samping ranjang bi Minah.


"I..iya dok.."Jawab bi Minah dengan suara bergetar.

__ADS_1


Bi Minah merasa terharu, karena di perlakukan istimewa sebagai pasien, dan dia sangat sadar jika semua fasilitas dan perlakuan di rumah sakit ini karena Fidy menantu nya.


Walau pun, dari dulu dia tahu jika Laura dan Ana putri nya, tapi masih seperti mimpi jika seorang Fidy Eka Sakti adalah menantu nya, bahkan suami dari kedua putri nya.


Beberapa saat dokter memeriksa keadaan bi Minah.


"Untuk saat ini, nyonya lebih baik beristirahat dulu, nanti jika keadaan fisik nyonya sudah pulih, kami akan mengijin kan nyonya untuk bertemu dengan nyonya Laura."Jelas dokter.


"Tapi, saya merasa sudah jauh lebih baik dok.."Rajuk bi Minah.


Dokter tersenyum, mendengar perkataan bi Minah.


"Iya benar, kondisi nyonya memang sudah jauh lebih baik, tapi alangkah lebih baik jika nyonya bertemu dengan nyonya Laura, dalam keadaan yang benar-benar jauh lebih baik.."Dokter memberikan penjelasan kembali.


"Lebih baik ibu sekarang istirahat dulu, Ana janji akan membawa kak Laura kesini.."Ana berkata, dengan menggenggam jemari bi Minah.


"Terimakasih nak.."Bi Minah berkata sambil mengangguk, dengan tatapan dan senyuman hangat nya.


Ana membalas dengan senyuman, sambil membenar kan letak selimut bi Minah.


Mengusap lembut kening dan rambut bi Minah, dan tak membutuh kan waktu lama bi Minah pun terlelap.


Ana tersenyum dan mencium kening bi Minah dengan penuh kasih.


"Maaf, tuan Fidy dan nyonya Ana.."Ucap dokter, menatap bergantian Fidy dan Ana.


"Ada apa dok..??"Tanya Fidy.


"Ada yang harus saya sampai kan, tentang keadaan nyonya Minah..??"Jawab dokter.


Fidy tahu, jika ada yang tidak beres dengan kesehatan bi Minah.


"Ibu saya, kenapa dok..-??Tanya Ana, dengan wajah terlihat cemas.


"Tenang sayang, ibu akan baik-baik saja..?"Hibur Fidy, sambil mengelus pundak Ana.


"Baik dok.."Ucap Fidy sambil mengangguk.


Dokter tersenyum, kemudian melangkah meninggal kan ruang perawatan, di ikuti oleh perawat.


Fidy pun mengajak Ana, sambil merangkul pundak nya.


Tapi Ana menolak nya.


"Aku minta tolong, mas saja yang menemui dokter, biar aku di sini saja menjaga ibu.."Pinta Ana, sambil melepas kan tangan Fidy dari pundak nya.


"Dari aku atau dokter yang menyampaikan itu sama saja sayang, kamu harus mendengar dan mengetahui nya.."Fidy berkata, sambil menggenggam jemari Ana.


"Tapi mas, aku takut jika mendengar sesuatu yang bermasalah dengan kesehatan ibu.."Dengan suara bergetar Ana berkata, dan rampak mata nya yang sudah mulai berembun.


"Sayang, apa pun nanti yang di katakan dokter tentang kesehatan ibu, kita harus menerima nya, dan kita akan mencari solusi nya bersama.."Fidy mencoba meyakinkan.


"Sudah jangan menangis, apa pun yang terjadi kita akan menghadapi nya bersama-sama, aku mencintai mu An.."Fidy berkata, sambil memegang wajah Ana, dengan kedua tangan nya.


Seketika hati Ana terasa sejuk, lagi-lagi Ana merasa sangat nyaman dengan kehadiran Fidy.


"Benar kah, aku sudah jatuh cinta kepada mu.."Ana berkata dalam hati, sambil menatap hangat wajah Fidy.


Tidak terasa, buliran bening pun membasahi wajah nya.


"Terimakasih mas.."Ana langsung memeluk erat tubuh Fidy.


Fidy membalas pelukan Ana, dia mengelus lembut rambut hitam Ana, membiar kan Ana menumpah kan tangis nya.


Karena dia sadar, salah satu penyebab kesedihan dan duka yang di rasakan Ana selama ini, karena perbuatan nya.

__ADS_1


Setelah tangis Ana mereda, dan pelukan Ana yang mengendor, Fidy pun melepas kan pelukan nya.


"Jangan menangis dan bersedih lagi, aku janji mulai saat ini dan sampai kapan pun, akan selalu membuat mu tersenyum.."Ucap Fidy lembut, sambil menghapus air mata Ana, dan menarap lekat wajah Ana.


Ana pun menatap lekat Fidy, seketika netra mereka bertemu, saat wajah mereka tanpa jarak, Fidy langsung mencium kening Ana.


Cup .


"Mau cium yang lain, tapi momen nya ga tepat dan kita sedang di tunggu dokter.."Bisik Fidy, dengan senyum menggoda.


Seketika wajah Ana pun langsung memerah, sambil menunduk kan wajah nya, dan menggigit bibir bawah nya, membuat Fidy tertawa kecil.


"Ayo cepat kita temui dokter sayang, kalau kamu begini terus, aku bisa ga tahan.."Goda Fidy lagi.


"Ish, mas apaan sie .??"Protes Ana, dengan mata sedikit melotot ke arah Fidy.


"Tuh khan, tambah cantik kalau melotot.."Goda Fidy lagi.


Kali ini tawa Fidy agak terdengar, karena takut mengganggu tidur bi Minah, Ana pun langsung menarik tangan Fidy untuk keluar dari ruang perawatan.


********


Akhir nya, mereka pun sampai di ruangan dokter.


"Silah kan duduk tuan, nyonya.."Ucap dokter, saat Fidy dan Ana masuk ke dalam ruangan nya.


"Bagaimana keadaan ibu saya, dok..??"Tanya Fidy, langsung ke pokok permasalahan.


Dokter pun memberikan catatan medis dan beberapa hasil pemeriksaan dari bi Minah.


"Mohon maaf, jika saya harus menyampai kan ini."Dokter berkata dengan hati-hati, sambil menatap bergantian Ana dan Fidy.


Ana tampak gelisah, terlihat sekali perubahan wajah nya, Fidy langsung kembali menggenggam jemari Ana, mencoba untuk menenang kan nya.


"Apa yang terjadi pada ibu saya dok.??"Tanya Fidy.


Dokter menarik napas, kemudian membuang nya pelan.


"Setelah kami melakukan serangkaian pemeriksaan, ternyata ada masalah di ginjal nyonya Minah.."Dokter memberikan penjelasan, sambil memperlihat kan serangkaian beberapa pemeriksaan pada bi Minah.


Ana tersentak kaget, mata nya mulai kembali berkaca-kaca.


Fidy semakin erat menggenggam jemari tangan Ana, sedang kan tangan satu nya mengelus lembut pundak Ana.


"Apa ginjal nya masih bisa di selamat kan.?"Tanya Fidy.


Dengan ragu, dokter berkata.


"Maaf tuan, karena gula darah dan tensi nyonya Minah yang tinggi, dan kedua penyakit itu sudah di derita sangat lama, jadi ada kerusakan di ginjal kanan pasien...


Deg..


******


Maaf baru bisa up 🙏


Kasihan ya Ana, baru mengetahui siapa ibu kandung nya, tapi harus menerima kenyataan yang menyedih kan lagi.


Tapi babang Fidy tetap setia di samping Ana😊


Satria gimana dong..??


Tenang cinta segi empat segera hadir, sabar ya..


Ikuti terus per bab nya, sampai cerita nya usai😁

__ADS_1


Jangan lupa mampir ke karya author lain nya.


__ADS_2