Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kenyataan Pahit Untuk Ana


__ADS_3

Bab 7


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Adrian hanya berdiri mematung,, menatap panggilan telepon yang sudah di tutup oleh sepihak.


Adrian merasakan kekalutan di hati nya,,apa yang harus dia lakukan,,Ana baru saja keluar dari masa kritis setelah banyak kehabisan darah.


"Apakah mereka benar-benar akan membuat Ana alat balas dendam..??"Tanya Adrian dalam hati dengan hati yang terasa pedih.


"Mereka sama sekali tidak peduli dengan keadaan Ana yang terbaring lemah.."Adrian berkata dalam hati sambil memijit keningnya.


Hati Adrian terasa sesak bagaimana pun dia sudah mengurus dan merawat Ana dari bayi,,kasih sayang nya melebihi apa pun.


"Seandainya Ana anak yang di rawat nya tidak di takdir kan sebagai alat balas dendam,,pasti kita semua sudah berbahagia dengan pertunangan bahkan pernikahan Ana dan Satria.."Batin Adrian,, dengan mata berkaca-kaca tapi sekuat mungkin Adrian menahan air matanya.


Berlahan Adrian membuka pintu kamar dimana Ana di rawat ,,saat masuk ke dalam tampak Rima sedang mengelus rambut Ana,, sesekali Rima mencium pipi dan telapak tangan Ana.


Terdengar Isak tangis nya begitu menyayat hati,, Adrian berusaha keras sekuat mungkin menahan gemuruh di dada nya dan menahan air hangat yang ingin keluar dari sudut mata nya.


Hmm


Adrian berdehem,,Rima pun menoleh dan langsung mengusap air mata nya.


"Apakah dia belum juga sadar...??"Tanya Adrian dingin menatap wajah Ana tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rima.


Melihat tubuh Ana yang tak berdaya,,dengan selang infus di tangan nya,,dan perban yang menghiasi pergelangan tangan nya,,hati Adrian benar-benar hancur.


Adrian merasa apa yang menimpa Ana memang perbuatan nya,,tapi Adrian tidak tahu harus bagaimana karena dari awal Ana adalah titipan,,dan sudah waktunya Ana di ambil dari nya.


"Menurut Dokter,,kapan Ana akan sadar..??Tanya Adrian dengan suara dingin dan wajah datar ,,tetap masih menatap Ana tanpa memperdulikan Rima.


"Tidak tahu,, yang jelas Ana sudah melewati masa kritis nya.."Ucap Rima sambil terus mengelus rambut dan wajah pucat Ana.


"Aku akan menemui Dokter..."Adrian berkata sambil membalikkan tubuhnya.


"Pah,,tunggu..."Sinta berkata sambil berdiri dan menatap punggung Adrian.


"Ada apa..??"Adrian langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Rima dengan tatapan tajam.


"Maaf pah,,kalau aku lancang.."Rima berkata sambil menggigit bibir bawahnya.


"Katakan cepat ,,waktu ku tidak banyak.."Ucap Adrian sambil melihat ke arah jam tangan nya.


"Maaf pah,, Apa pernikahan Ana dan tuan Fidy tidak bisa di tunda dulu..-??"Tanya Rima dengan wajah khawatir dengan kemarahan suami nya.

__ADS_1


Adrian menghela napas.


"Tuan Aksa tadi menelepon,,kalau pernikahan tuan Fidy dan Ana harus segera di laksanakan.."Andrian berkata sambil mengusap kasar wajah nya.


"Aku akan menemui tuan Aksa..!!"Rima berkata sambil mengusap kasar air mata nya dan menghampiri Adrian.


"Jangan macam-macam Rima..!!"Bentak Adrian menatap tajam Adrian.


"Kenapa..??"Walaupun Ana bukan terlahir dari rahim ku,,tapi aku yang sudah merawat nya dari bayi merah,, membesarkan nya dengan sepenuh hati dan kasih sayang..!!!"Teriak Rima.


Rima tidak pernah seberani ini pada Adrian,, jangan kan berteriak,, untuk berkata yang membuat Adrian marah saja Rima tidak berani.


"Kamu..!!"Adrian berkata dengan wajah merah padam dan tangan nya melayang ke udara dan saat tangan nya akan meluncur ke wajah mulus Rima,, tiba-tiba...


"Mah,,pah..."Panggil Ana lirih dengan mata sendu nya menatap Adrian dan Rima.


"Ana..!!"Teriak Rima langsung bergegas menghampiri Ana.


Begitu juga Adrian yang langsung menghampiri Ana.


"Sayang kamu sudah sadar..??"Rima berkata sambil memeluk Ana dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Ana.."Ucap Adrian lembut sambil menggenggam tangan Ana.


Adrian dan Rima terkejut dengan pertanyaan Ana,, mereka saling melempar pandang.


"Berarti Ana sudah sadar dan mendengarkan pembicaraan kami,, berarti Ana tahu kalau aku bukan mamah kandung nya.."Batin Rima,tiba-tiba Rima merasa takut,,takut jika Ana tidak mengakui nya lagi sebagai mamah.


Rima tidak menjawab pertanyaan Ana,,dia langsung menundukkan wajahnya,,air mata kembali jatuh di pipi nya.


Ana menatap tajam Adrian,, seolah-olah meminta penjelasan kepada nya.


Adrian yang mendapat tatapan setajam itu dari Ana, seketika menjadi gugup,, tatapan mata Ana ini seakan seperti belati yang akan menghujam ke jantung nya.


Tatapan mata itu mengingatkan nya dengan kejadian 22 tahun yang lalu,, persis seperti mata seseorang yang menatap nya tajam saat napas terakhir nya harus berakhir di tangan Adrian.


"T..tuan Aksa itu..."Ucap Adrian gugup tidak berani membalas tatapan tajam mata Ana.


"Orang yang meminta aku untuk menikah Khan..??Ana memotong perkataan Adrian.


"Aku bersedia..!!"Ucap Ana tegas dengan sorot mata yang terus menatap tajam ke arah Adrian dan Rima.


Adrian dan Rima tersentak kaget,, mereka menatap tak percaya ke arah Ana.


"Kenapa kalian kaget..??"Bukan kah ini yang kalian inginkan..??"Ana berkata sambil tersenyum sinis menatap kedua orang yang selama ini di anggap orang tua kandung nya.

__ADS_1


Ingin rasa nya Ana menjerit dan berharap ini hanya sebuah mimpi buruk,,tapi percuma ini adalah kenyataan pahit yang harus di terima dalam hidup nya.


Setelah menyelesaikan kuliah dan setelah wisuda,,dia berharap mendapatkan dan meraih semua impian nya,, tapi ternyata kenyataan pahit dalam hidup nya harus dia terima satu persatu.


Rasa sesak begitu menghimpit dada nya,, kalau cahaya terang itu ada kenapa kegelapan itu harus datang,,Ana menangis dalam hati.


Tapi Ana sudah tidak mau menangis lagi,, usaha nya untuk bunuh diri pun ternyata gagal,. menandakan jika Sang Pencipta menginginkan nya untuk tetap bertahan hidup,,dan harus tetap berjuang serta harus ikhlas untuk menjalani semua takdir hidup nya.


"Jika perjodohan ini bisa membalas Budi kepada kalian,,aku siap melakukan nya..!!"Ucap Ana lagi dengan penuh penekanan tentu saja dengan menahan rasa sakit di hati nya.


"Maafkan mamah An.."Rima berkata sambil menangis tersedu dan memegang tangan Ana.


"Nyonya Rima tidak salah,,aku lah yang tidak tahu berterimakasih.."Ana berkata sambil melepaskan tangan Rima dari tangan nya.


"Jangan panggil mamah seperti itu sayang.."Ucap Rima semakin tersedu.


"Tuan Adrian bisa menghubungi tuan Aksa dan tuan Fidy sekarang,,bilang sama mereka kalau Wihana Maharani siap untuk menikah.."Ucap Ana tegas.


"Sekarang kalian keluar lah dari kamar ini,,kembali lah dengan penghulu dan calon suami ku.."Ana berkata sambil membuang wajah nya,, tidak ingin menatap wajah kedua orang yang sudah membesarkan nya.


Sakit itulah yang sekarang Ana rasakan,,dalam waktu sekejap kebahagiaan yang selama ini di rasakan nya berubah menjadi duka.


Ana juga sadar bersedia atau tidak,,dia harus menikah dengan lelaki yang tak pernah dia kenal bahkan dia pun belum pernah melihat wajah lelaki yang akan menjadi suami nya.


Air mata Ana langsung mengalir deras dari sudut matanya,,saat terdengar langkah kaki keluar dari kamar dan kemudian suara pintu di tutup.


*************


Bisa kah Ana menjalani kehidupan nya,, setelah semua berubah dalam sekejap mata...??


Rahasia apa yang tersembunyi di balik perjodohan itu..???


Ikuti terus cerita di setiap bab nya,,di jamin cerita nya semakin seru dan akan menguras emosi dan air mata kalian.


Jejak, dukungan , Vote like dan komen kalian adalah semangat author.


Jangan lewatkan juga novel pertama author yang hampir tamat.



Terimakasih.


Tetap semangat.


Selamat malam dan Selamat beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2