
Bab 120
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Satria terkesiap, mendengar pertanyaan Fidy, apa lagi tatapan Ana, yang seperti menuntut jawaban.
Satria menarik napas, mencoba bersikap setenang mungkin.
"Kami sepakat untuk mencoba.."Jawab Satria, dengan membalas tatapan Fidy.
Seketika, Ana tersentak kaget dengan ucapan Satria, terlihat kesedihan di wajah nya. Sedang kan Satria sendiri, berusaha sekuat mungkin tidak melihat ke arah Ana yang berada di hadapan nya.
Dia hanya memfokuskan tatapan nya ke arah Fidy dan Bramantyo. Fidy melirik Ana, dengan lembut dia mengusap punggung Ana.
"Febi adalah adik perempuan ku satu-satu nya, aku tidak mau melihat dia kecewa apa lagi terluka.."Ucapan Fidy, terdengar penuh penekanan.
"Sebelum nya mohon maaf tuan Fidy, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi saya akan mencoba.."Jawab Satria, dengan suara tegas nya.
Suara yang sangat di rindukan Ana, apa lagi masa-masa sekolah dulu, karena suara itu mempunyai karakter yang khas, jika di sekolah ada acara debat panas tentang suatu topik, maka Satria lah yang selalu menjadi pemenang nya, bahkan beberapa kali Satria mendapatkan penghargaan sebagai juara debat yang berpotensi.
Mengingat semua, membuat Ana merindukan masa-masa dulu yang begitu indah. Dan seharusnya Satria lah yang kini berada di samping nya, dan dengan mesra memeluk diri nya.
"Apa kak Ana baik-baik saja..??"Tanya Bramantyo, yang sejak tadi memperhatikan sikap Ana yang terlihat tidak nyaman.
Pertanyaan Bramantyo, membugar kan lamunan Ana.
"A..aku baik-baik saja Bram.."Jawab Ana, sambil menggigit bibir bawah nya.
"Seperti nya, kamu lelah sayang, setelah selesai makan, aku akan mengantar mu pulang untuk beristirahat.."Fidy mengelus lembut rambut Ana.
"Tidak usah mas, aku baik-baik saja kok, setelah ini kita harus segera ke rumah sakit.."Ucap Ana, dengan gestur tubuh yang merasa tidak nyaman.
Seandai nya, di hadapan nya tidak ada Satria, sudah pasti perlakuan mesra Fidy, pasti akan membuat hati nya berbunga-bunga.
Lagi-lagi Ana merasa bingung dengan perasaannya, di satu sisi saat bersama Fidy yang berstatus suami nya, dia mulai merasa kan kenyamanan dan selalu ada getaran aneh di hati nya, tapi saat Satria muncul kembali ke hadapan nya, perasaan cinta nya selama 10 tahun, kini hadir kembali.
"Baik lah, tapi jika kamu lelah jangan di paksakan.."Fidy berkata dengan suara yang begitu lembut, sambil mencium puncak kepala Ana.
Ana hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.
Satria pura-pura sibuk dengan ponsel nya, terlalu sakit melihat pemandangan di hadapan nya. Sedang kan Bramantyo, lagi-lagi di buat tidak percaya dengan sikap kakak sulung nya ini.
Makanan yang di pesan Fidy pun datang, tak lama makanan pesanan Satria dan Bramantyo juga tiba.
"Tadi kami pesan dulu mas, sebelum ikut bergabung di meja kalian.."Jelas Bramantyo, saat melihat Fidy mengerutkan kening nya menatap mereka, karena Bramantyo tahu maksud dari tatapan Fidy.
__ADS_1
Fidy tidak menjawab, tapi dia langsung menyendok kan beberapa lauk ke piring Ana.
"Makan yang banyak, biar kamu kuat."Bisik Fidy, dengan suara yang menggoda, dan seulas senyum nakal nya.
Wajah Ana, langsung memerah seperti kepiting rebus, apa lagi Satria dan Bramantyo sedang menatap nya.
Dia menelan saliva nya, tenggorokan nya tiba-tiba terasa sangat kering.
"Minum lah, An..."Tiba-tiba Satria menyodorkan sebotol air mineral yang di pesan nya.
Ana tersentak kaget, dengan sikap dan perkataan Satria, Ana langsung melihat ke arah Fidy.
Tampak wajah Fidy yang memerah menahan amarah, rahang nya terlihat mengeras, dengan tangan yang mengepal kuat, tentu saja hal ini membuat Ana sangat takut dan cemas.
Begitu juga dengan Bramantyo, dia sampai tidak jadi memasukkan sesendok nasi berserta lauk nya, yang sudah hampir mencapai mulut nya. Dia juga merasa aneh, dengan sikap Satria yang seolah-olah sudah mengenal akrab Ana.
"Terimakasih, suami ku sudah memesan kan minum untuk ku."Jawab Ana, sambil meraih segelas lemon tea yang di pesan kan Fidy untuk nya.
Satria hanya mengangguk, dengan tersenyum kecut.
Ana pun segera menyeruput segelas lemon tea di tangan nya, kemudian mulai berusaha menikmati makanan nya.
Begitu pun dengan Satria, dia langsung melahap makanan nya, berpura-pura tidak mengetahui jika Fidy sedang menatap nya dengan sorot mata yang sangat tajam, seolah-olah ingin menguliti tubuh nya.
Dengan wajah yang masih memerah menahan amarah, Fidy pun melahap makanan nya, dengan sesekali mata nya melirik bergantian Ana dan Satria.
Mereka pun makan dalam diam.
*************
Sementara itu, mobil dokter Jimmy sudah sampai di parkiran resto, tanpa menunggu, saat mobil sudah berhenti di parkiran, Febi segera melepas kan seat belt nya, membuka pintu mobil, dan bergegas turun dari mobil.
Dokter Jimmy hanya mampu menghela napas, dan mengusap kasar wajah nya. Dia sudah tidak tahu lagi, apa yang harus di lakukan nya untuk mendapatkan cinta seorang Febi Ema Sakti.
Berlahan dia pun turun dari mobil, dengan langkah gontai dia pun mengikuti langkah Febi memasuki resto.
Dengan langkah cepat, Febi memasuki resto, mata nya pun langsung mencari-cari keberadaan seseorang.
Akhir nya, dia menangkap empat orang yang sedang duduk di lesehan, yang tampak sedang menikmati makanan mereka.
Febi pun tersenyum dan segera melangkah mendekati mereka.
Karena, mereka berempat fokus dengan pikiran masing-masing, membuat mereka tidak menyadari dengan kehadiran Febi.
"Hai, serius banget sie kalian makan.."Ucap Febi, yang langsung duduk menempel di samping Satria.
__ADS_1
Mereka berempat pun tersentak kaget, dan menatap ke arah Febi, yang sedang memperlihatkan senyuman nya.
"Hai, kenapa kalian menatap ku seperti ini..??"Tanya Febi, sambil mengerutkan kening nya.
"Kak Febi, di mana dokter Jimmy..??"Tanya Bramantyo.
"Aku tidak tahu.."Jawab Febi malas, sambil mengerucutkan bibir nya.
Semua kembali menatap aneh Febi, tapi Febi tidak mempedulikan nya, dia semakin merapat kan tubuh nya dengan Satria.
"Kamu, makan apa Pram..??"Seperti nya enak banget.."Ucap Febi lembut, sambil bergelayut manja di lengan Satria.
"Kalau kamu mau, biar aku pesan kan.."Jawab Satria.
"Tidak usah, aku mau makan satu piring berdua saja Pram."Ucap Febi setengah berbisik di telinga Satria.
Satria merasa risih, hati nya merasa tidak enak dengan Ana.
Sedang kan Ana, kembali fokus dengan makanan nya, Fidy melengkung kan sebuah senyuman penuh arti di bibir nya, dengan menatap bergantian Febi dan Satria, dan sesekali melirik ke arah Ana.
Fidy tahu sekali, jika Ana tidak sepenuh nya menikmati makanan nya.
"Kalau makan berdua, nanti Pram mu tidak kenyang kak.."Celetuk Bramantyo, di sela-sela kunyahan nya.
"Tidak apa-apa Bram, porsi ini juga lumayan banyak untuk di makan sendiri.."Jawab Satria.
"Tuh, Pram saja tidak keberatan.."Febi berkata, dengan semakin bergelayut manja di lengan Satria.
"Kalau begitu, biar aku suruh pelayan mengambil kan sendok."Ucap Satria, yang hendak memanggil pelayan.
"Tidak usah Pram, kita makan satu sendok saja.."Febi berkata, sambil melepas kan pelukan nya dari lengan Satria.
Dengan semangat, dia pun mengambil sendok dari tangan Satria, mengisi nya dengan nasi dan lauk nya, kemudian dengan semangat mengarah kan sendok ke mulut Satria, yang membuat Fidy, Ana dan Bramantyo kaget.
Begitu juga dengan dokter Jimmy, dia menghentikan langkah nya, saat melihat Febi yang akan menyuapi Satria.
**********
Bagaimana akhir kisah segi empat di antara mereka..??
Maaf ya kalau up nya ga rajin🙏.
Lagi ingin nerusin cerita yang masih baru nie👇
__ADS_1
Melimpir juga ke novel tamat👇