Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Aryo


__ADS_3

Bab 42


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Aryo hanya diam saat Fidy berlalu meninggalkan ruang keluarga yang berada di lantai 2, setelah punggung Fidy menghilang masuk ke dalam lift, Aryo segera melangkahkan kaki nya menuju kamar Laura.


Dengan hati-hati Aryo membuka pintu kamar Laura, karena dia yakin Laura tidak akan mengunci pintu kamar nya.


Aryo tersenyum tipis saat pintu terbuka, menatap ranjang berukuran super king.


Tampak tubuh Laura yang sedang tidur telungkung dengan menenggelamkan kepalanya di bawah bantal, terlihat punggung nya naik turun menandakan jika diri nya sedang menangis.


Berlahan Aryo melangkah mendekati ranjang Laura, dia duduk di atas kasur tepat di sebelah tubuh Laura yang sedang terisak.


Dengan lembut Aryo menyentuh pundak Laura.


"Laura..."Panggil Aryo lembut.


"Kenapa kamu yang datang Yo....?"Tanya Laura menatap sendu Aryo dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.


Aryo tidak menjawab, dia menatap nanar Laura, hati nya terasa terenyuh melihat Laura begitu terluka dengan perlakuan Fidy sebagai suami nya.


"Kamu pasti sudah mengetahui jawaban nya Laura.."Jawab Aryo kembali menatap nanar wajah Laura yang sembab.


"Tolong jangan buang air mata mu..."Aryo berkata sambil mengusap air mata di wajah Laura.


"Kenapa dia tidak bisa mencintai ku Yo..???"Laura berkata sambil bangkit dari tidur nya dan duduk di samping Aryo, dia kembali terisak.


Aryo merengkuh tubuh Laura ke dalam pelukan nya.


"Kamu selalu mengulang pertanyaan yang sama Laura, padahal kamu sudah mengetahui jawaban nya.."Aryo menghela napas sambil membelai lembut rambut Laura


Laura tidak menjawab, dia membenamkan wajah nya di dada bidang Aryo.


"Jangan menangis lagi, kamu tahu khan aku akan selalu berusaha membahagiakan mu.."Ucap Aryo, mengangkat kepala Laura yang terbenam di dada bidang nya.


Berlahan Aryo kembali menghapus air mata Laura, kemudian menangkup wajah Laura dengan kedua tangan nya, netra mereka saling bertatapan.


Aryo mendekatkan wajah nya ke wajah Laura, saat bibir mereka hampir menyatu, tiba-tiba pintu terbuka.


"M..maaf tuan, nyonya.."Ucap Ayu saat berada di ambang pintu, dengan wajah menunduk."


"Ayu,, kamu kebiasaan sekali selalu masuk tanpa mengetuk pintu...!!!"Hardik Laura dengan mata melotot menatap Ayu.


"Hai, jaga emosi mu, tidak baik untuk kesehatan mu..."Aryo berkata sambil mengelus lembut pundak Laura.


"Saya hanya ingin memberitahukan jika makan siang sudah siap..."Ayu berkata sambil melirik ke arah Aryo yang tampak penuh kasih sayang memperlakukan Laura.


"Tadi saya lihat tuan Fidy pergi, saya pikir jika nyonya hanya sendiri di kamar, maaf saya tidak tahu jika ada tuan Aryo di kamar..."Ucap Ayu lagi, sambil mengangkat wajah nya menatap Aryo dan Laura.


Laura mendengus kesal, dia ingin turun dari ranjang untuk menghampiri Ayu, tapi Aryo mencegah nya.

__ADS_1


"Keluar lah, kami akan segera turun, lain kali kamu harus lebih sopan, di rumah ini status Laura adalah majikan mu..."Ucap Aryo memperingatkan, sambil menatap tajam ke arah Ayu.


"Saya sangat mengerti tuan Aryo, maaf kan saya..."Ucap Ayu sambil mengangguk.


"Bagus lah jika kamu mengerti, cepat keluar dari kamar ini..."Laura berkata dengan tatapan sinis memindai Ayu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Baik Nyonya..."Ayu mengangguk dan membalikkan tubuh nya dan melangkah pergi meninggalkan kamar Laura.


Lagi-lagi Laura mendengus kesal.


"Dia semakin keterlaluan, seperti nya aku harus mengembalikan dia ke tempat asal nya.."Dengus Laura kesal.


"Jangan bertindak karena emosi, gadis itu banyak mengetahui rahasia kita..."Aryo berkata sambil berbisik lembut di telinga Laura.


"Aryo..."Ucap Laura manja sambil mencubit pelan perut Aryo.


"Nanti malam di apartemen ku..."Bisik Aryo lagi sambil membawa Laura ke dalam pelukan nya.


Laura mengangguk, Aryo pun mencium sekilas bibir Laura.


"Ayo, kita turun makan siang, sebelum Ayu datang lagi.."Ajak Aryo turun dari ranjang sambil membantu Laura turun dari ranjang nya.


Mereka pun turun ke lantai 1 untuk makan siang.


***************


Sementara itu Fidy sudah memarkirkan mobil nya di halaman rumah nya, yang langsung di sambut oleh Wira.


"Siang Wira..."Jawab Fidy, langsung melangkah masuk ke dalam.


Fidy langsung menuju ruang makan, tampak Ana dan bi Minah sedang menata makanan di meja makan.


"Apa makan siang sudah siap..??"Tanya Fidy di belakang Ana.


Bi Minah dan Ana terperanjat kaget, karena mereka tidak menyadari kehadiran Fidy.


"Tuan Fidy..."Sapa bi Minah dengan senyum sumringah.


"Aku ingin makan siang sekarang, karena sebentar lagi aku ada meeting..."Fidy berkata sambil melihat jam di pergelangan tangan nya, dan menghempaskan pantat nya di kursi.


"Kalau begitu kebetulan tuan, nyonya Ana sudah menyelesaikan masakan nya dengan sempurna.."Bi Minah berkata sambil tersenyum melihat ke arah Ana.


Ana yang kaget karena kehadiran Fidy yang tiba-tiba, apa lagi mendengar godaan dari bi Minah, seketika wajah nya memerah tidak berani menoleh ke arah Fidy.


"Aku pikir kamu akan tumbuh menjadi gadis yang manja, dan hanya bisa tebar pesona saja, ternyata keahlian mu memasak sudah sama seperti koki-koki handal..."Ucap Fidy sambil memperhatikan lauk pauk yang berada di meja, yang sudah di masak Ana sebagai menu makan siang.


Ana mengernyit kan dahi nya berani menatap laki-laki di samping nya yang berstatus sebagai suami nya.


Saat Ana akan menjawab perkataan Fidy, bi Minah memotong nya.


"Tuan sebentar lagi akan meeting, lebih baik segera makan, saya permisi ke dapur dulu..."Bi Minah betkata sambil mengangguk dan melangkah pergi setelah Fidy membalas anggukan nya.

__ADS_1


"Mau kemana kamu..?"Saat kaki Ana akan melangkah menyusul bi Minah.


"Ke dapur..."Ucap Ana polos sambil menghentikan langkah nya.


Fidy menghela napas dan mengusap wajah nya kasar.


"Kamu itu bi Minah pembantu ku atau Ana istri ku, hah..????"Tanya Fidy dengan tatapan kesal ke arah Ana.


"A..aku..."Jawab Ana sambil menunduk dan seperti biasa menggigit bibir nya.


Fidy menarik napas dan membuang nya kasar.


"Wihana Maharani, layani dan temani aku makan, waktu ku terbatas..."Fidy berkata dengan nada cukup tinggi karena kesal.


"I..iya.."Jawab Ana langsung mengambil piring untuk Fidy.


"Segini cukup tuan...?"Tanya Ana sambil memperlihatkan sepiring nasi ke arah Fidy.


"Hmm.."Jawab Fidy males.


Dengan hati kesal, Ana pun memasukkan semua lauk yang di masak nya ke piring Fidy, dan meletakkan nya di depan Fidy.


"Silahkan tuan...."Ucap Ana berusaha tersenyum manis di depan Fidy.


Padahal hati nya terasa kesal dan berdebar dengan kehadiran Fidy, sedang kan Fidy terus menatap Ana.


"Ada yang tuan butuhkan lagi..."Tanya Ana merasa heran dengan tatapan Fidy.


"Cepat ambil piring mu, aku tidak punya banyak waktu..."Ucap Fidy terus menatap Ana.


"Tapi aku belum lapar.."Jawab Ana.


Fidy tidak menjawab, dia terus menatap Ana.


"Baiklah..."Ana mengalah dan berkata dengan malas kemudian mengambil piring dan mengisi nya dengan lauk.


Dalam hati Fidy merasa sangat senang, bisa makan siang bersama Ana, dia teringat tadi pagi mereka sarapan bersama sampai dia menghabiskan 2 mangkok bakso hangat buatan Ana.


Dan Fidy juga membayangkan, jika nanti malam mereka janji akan makan malam di luar bersama.


Tanpa Ana sadari, seulas senyum terlihat di sudut bibir Fidy.


*********


Mohon maaf atas keterlambatan up nya, karena banyak sebab.


Dan mohon maaf juga author belum bisa crazy up.


Jangan lupa mampir ke novel author yang sudah tamat.


__ADS_1


__ADS_2