Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Kesedihan Ana


__ADS_3

Bab 55


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Ana terisak dengan tubuh meringkuk di sofa bed.


"Kenapa semua ini begitu menyiksa...???"Tanya Ana pada diri sendiri, di tengah isak tangis nya.


Tiba-tiba wajah lelaki yang begitu kharismatik, dengan garis wajah tegas, mata yang selalu memberikan keteduhan dan kehangatan untuk Ana, kini tampak jelas di pelupuk mata nya.


Rasa rindu itu datang kembali, rindu yang beberapa bulan ini di pendam nya, bahkan Ana berusaha sekeras mungkin melupakan nya.


Ana berharap cinta dan kasih sayang bisa tumbuh kepada lelaki yang kini menjadi suami nya.


Tapi saat rasa berbeda itu di rasakan Ana, justru rasa sakit dan cemburu menggerogoti hati nya.


"Satria,, apa kabar mu sekarang..???"Tanya Ana dengan suara lirih dengan air mata yang terus mengalir di wajah cantik nya.


Dulu dia tidak pernah mengeluarkan air mata sebanyak ini, baru saja kesedihan menghampiri hidup nya, pasti semua orang yang menyayangi nya segera datang menghibur nya.


Ana terus menangis, sehingga menguras air mata dan tenaga nya, tak lama Ana pun terlelap dengan mata dan wajah sembab, tampak air mata masih mengalir dari sudut mata nya.


*************


Sementara di RS, tampak Dokter sudah memberikan pengobatan pada kaki Laura.


"Keadaan kaki nyonya Laura tidak begitu mengkhawatirkan tuan, hanya butuh waktu istirahat beberapa hari untuk memulihkan kaki nya..."Ucap Dokter kepada Fidy.


"Baik dok, terimakasih, apa kami bisa pulang sekarang...??"Tanya Fidy menatap datar kepada sang dokter.


"Silahkan tuan..."Jawab Dokter ramah.


"Terimakasih dok..."Fidy berkata sambil mengulurkan tangan kepada dokter.


"Sama-sama tuan.."Ucap Dokter sambil menerima uluran tangan Fidy.


"Kalau begitu saya permisi dulu, cepat sembuh nyonya Laura..."Ucap Dokter lagi sambil mengangguk penuh hormat.


"Iya dok, terimakasih banyak..."Jawab Laura tersenyum, sedangkan Fidy hanya mengangguk.


Dokter pun berlalu dari ruang perawatan Laura, Fidy di bantu perawat mendudukkan Laura di kursi roda.


"Biar saya saja.."Ucap Fidy saat perawat ingin mendorong kursi roda Laura.


"Silahkan pak..."Jawab perawat sambil memberikan kursi roda Laura ke tangan Fidy.


Laura tersenyum penuh kebahagiaan, ini sudah ke dua kali nya Fidy mau mendorong kursi roda nya, tanpa terpaksa murni kemauan Fudy sendiri.


Tapi Laura tidak mau bertanya atau berbicara apa pun, dia takut menyulut kemarahan Fidy seperti di mall tadi.


Saat mereka sampai di lobby RS, tampak mang Ujang yang sudah bersiap membuka kan pintu untuk mereka.


Fidy membantu Laura masuk ke dalam mobil, dengan sigap mang Ujang langsung melipat kursi roda dan menaruh nya di bagasi.


"Maaf merepotkan, terimakasih..."Ucap Laura sambil menggenggam telapak tangan Fidy, saat mereka sudah ada di dalam mobil.


"Hmm..."Jawab Fidy dengan wajah datar, dan mata menatap lurus ke arah jalan raya.

__ADS_1


Berlahan Laura merebahkan kepala nya di pundak Fidy.


Tidak berapa lama, mereka pun sampai di mansion mewah keluarga Aksa Sakti.


Fidy kembali membantu Laura duduk di kursi roda, dan mendorong nya masuk ke dalam mansion.


"Nyonya Laura.."Seru Ayu langsung menghampiri Laura, terlihat kekhawatiran di wajah nya.


Laura tidak menjawab, dia memalingkan wajah nya dari Ayu.


"Nyonya kenapa tuan....??"Tanya Ayu penuh tanya pada Fidy.


"Hanya sedikit terkilir..."Jawab Fidy sambil mendorong Laura masuk kedalam mansion di ikuti oleh Ayu di belakang nya.


Sesampainya di lantai 2, di mana kamar Laura berada, tampak Aksa yang baru keluar dari ruangan kerja nya, yang kebetulan terletak di antara kamar utama Aksa dan Laura.


Aksa yang baru keluar terperanjat kaget, dengan kehadiran Fidy dan Laura tiba-tiba, tapi Aksa langsung menguasai diri nya setenang mungkin.


"Laura, kamu kenapa..??"Tadi pagi di bandara kamu terlihat baik-baik saja..!"Tanya Aksa menatap khawatir Laura.


"Bukan kah hari ini tugas mu harus ke palembang, mengecek proyek di sana..???"Tanya Fidy, sambil menatap Aksa penuh selidik.


"Aku direktur utama, dan aku sudah mempunyai orang kepercayaan ku untuk nengecek nya.."Jawab Aksa menatap tajam Fidy.


Fidy menghela napas, dan tersenyum sinis mendengar jawaban Aksa.


"Ayu, antar kan nyonya Laura untuk istirahat...!!"Perintah Fidy, sambil menatap penuh kebencian ke arah Aksa.


"Baik tuan..."Ucap Ayu tegas, langsung menggantikan Fidy memegang kursi roda Ana, setelah tubuh Fidy bergeser.


Fidy menghela napas.


"Tadi nya aku ingin menemani mu sebentar, tapi karena ada orang yang sok berkuasa dengan hak yang bukan milik nya, membuat aku muak.."Fidy berkata sambil melangkah pergi meninggalkan mereka.


Aksa mengepalkan tangan nya, dengan wajah merah padam.


"Mas..."Teriak Laura.


Fidy tidak menggubris, tubuh nya langsung hilang di telan lift.


Laura menangis sesenggukan, menatap nanar lift yang membawa Fidy turun ke bawah.


"Sudah sayang, dia pasti akan kembali lagi, papa jamin.."Aksa berkata sambil menghampiri Laura, kemudian mengelus lembut rambut Laura.


"Biar saya saja yang mengurus Laura, kamu terus kan saja pekerjaan mu..."Aksa berkata sambil memberi kode untuk Ayu segera pergi.


"T..tapi tuan...."Jawab Ayu.


"Apa telinga mu tuli...!!!"Bentak Aksa dengan mata melotot menatap Ayu.


"Baik tuan .."Ayu berkata sambil melangkah pergi meninggalkan Aksa dan Laura.


"Ayo, aku antar ke kamar..."Ucap Aksa lembut, sambil mendorong kursi roda Laura masuk ke dalam kamar.


Laura tidak menjawab, dia terus terisak.


Saat lift terbuka, tiba-tiba ponsel Fidy berdering

__ADS_1


Fidy pun langsung mengangkat nya, tanpa memperdulikan para bodygurd Aksa.


"Hallo, tumben telepon, memang nya lagi tidak ada pasien...??"Tanya Fidy saat telepon tersambung.


"Apa...???"Teriak Fidy, yang otomatis menarik perhatian para bodyguard Aksa.


Tapi Fidy tidak peduli, dia tetap fokus pada topik yang sedang di bicara kan.


"Oke..!!"Fidy berkata sambil menutup telepon nya.


Kemudian membuka salah satu aplikasi medsos, ternyata dia dan Laura menjadi trending topik di semua media.


"Si*l.. Ternyata sudah ada yang berani bermain licik dengan ku..."Dengus Fidy kesal, dengan tangan mengepal.


Menatap tajam para bodyguard yang tak jauh dari posisi Fidy.


Fidy menatap tajam mereka, walaupun tubuh bodyguard yang tinggi besar dengan tangan berotot, kumis dan cambang yang lebat, membuat wajah mereka terlihat seram.


Tapi saat Fidy menatap tajam ke arah mereka, seketika wajah para bodyguard itu pun menunduk.


Dari tatapan nya saja, seorang Fidy sudah menunjukkan aura seorang pemimpin, dan di setiap tatapan nya begitu membunuh.


Tiba-tiba Fidy teringat seseorang, dan bergegas pergi menuju mobil nya.


"Kita tidak perlu balik ke kantor lagi, langsung pulang ke rumah saja.."Ucap Fidy kepada mang Ujang saat sudah berada di dalam mobil.


"Baik tuan..."Jawab mang Ujang sopan, langsung melajukan mobil nya, meninggalkan mansion mewah, peninggalan orang tua nya.


Yang sudah pasti itu milik nya, karena dia anak tunggal dari keluarga besar Aksa Sakti.


Tapi Aksa tidak terima, karena dia suami sah dari Ranti ibu kandung Fidy, yang notabene nya pewaris Aksa Sakti.


Fidy tidak ambil pusing, karena kehidupan nya dari segi apapun sudah jauh lebih dari kata cukup.


Fidy memijat pelipisnya, kemudian langsung menelepon seseorang.


"Bagaimana keadaan nya..??"Tanya Fidy saat Panggilan tersambung.


"Apa...??"Teriak Fidy, membuat mang Ujang melirik Fidy dari kaca spion yang berada di dalam mobil.


"Aku sedang menuju kesana..."Fidy menutup telepon nya dengan wajah penuh kecemasan.


********


Ada yang bertanya, kenapa Satria tidak kembali..??


Karena Satria, sengaja di ikat kontrak oleh Fidy di salah satu cabang perusahaan Aksa Sakti di Jerman.


Ini adalah salah satu rencana Fidy memisahkan Ana dan Satria, ada di bab 32, tentang Satria Pramudya.


Sengaja author tidak menampilkan sosok Satria dulu, karena permasalahan yang masih penuh teka teki, jadi author ingin buat cerita yang alur nya jelas, tentu saja biar lebih di pahami oleh para reader.


Terimakasih banyak buat reader yang selalu setia di setiap cerita author.


Jangan lupa mampir ke novel pertama author.


__ADS_1


__ADS_2