
Bab 65
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Akhhhh....!!!"Teriak Laura saat melihat sesosok tubuh pria yang sangat di kenal nya, terbaring di atas tempat tidur, dengan tubuh berlumuran darah.
Laura menangis sambil menjerit, tidak percaya dengan pemandangan di depan mata nya, tempat tidur yang biasa dia gunakan untuk menghabiskan waktu, bersama sosok yang kini sudah terbujur kaku dengan berlumuran darah.
Di tengah kepanikan nya, Laura langsung menghubugi Fidy yang saat ini sedang menghabiskan waktu bersama Ana di taman.
Fidy sangat syock, tidak percaya dengan kabar dari Laura, sampai Laura meminta nya untuk datang dan menghubungi polisi.
Fidy meminta Laura untuk tidak menyentuh benda apa pun di sana, dia juga mengajak Ana untuk menemani nya di TKP ( Tempat Kejadian Perkara ).
Laura juga segera menghubungi Aksa dan Aksa pun langsung menghubungi dokter Alan, yang merupakan ayah dari sosok yang sudah tidak bernyawa itu, yang tak lain adalah dokter Aryo, sahabat Fidy dan Laura, sekaligus teman tidur untuk Laura.
Tak berselang lama, suasana sekitar apartemen pun menjadi ramai sekali, suara ambulans dan sirene polisi terdengar sahut menyahut, para polisi sudah sampai di TKP., garis poisi pun sudah di pasang di depan kamar Aryo, dan awak media pun sudah membanjiri apartemen.
Tampak Laura sedang menangis terisak di pelukan Aksa, dan tampak dokter Alan juga begitu syock melihat keadaan putera nya yang meninggal dengan keadaan mengenaskan.
Jenazah dokter Aryo langsung di bawa menuju rumah sakit XX untuk di lakukan autopsi, sementara Laura di minta untuk ke kantor polisi untuk di mintai kesaksian.
Fidy memutuskan untuk tidak datang ke TKP, tapi dia langsung menuju rumah sakit XX untuk melihat jenazah Aryo.
Dan salah satu alasan Fidy tidak jadi datang ke TKP, karena kehadiran nya bersama Ana pasti menjadi pusat perhatian media, yang pasti nya akan membahayakan keselamatan Ana.
Sedangkan di rumah sakit, sangat di jaga ketat keamanan nya, sehingga Fidy bisa lebih aman membawa Ana.
"Maaf kan aku, jika belum bisa membawa dan memperkenalkan mu ke depan publik..."Ucap Fidy sambil menggenggam jemari Ana, yang sedang mendorong kursi roda Fidy, melewati lorong rumah sakit.
"Tidak apa-apa mas, aku mengerti.."Jawab Ana lembut.
"Terimakasih sayang.."Fidy berkata sambil mempererat genggaman nya, kemudian mencium punggung tangan Ana dengan penuh kasih sayang.
Pertama kali nya Ana merasakan benar-benar menjadi seorang istri, menemani suami dalam keadaan berduka, walaupun identitas nya sebagai istri entah kapan akan di akui di depan umum.
Ana sudah tidak mau memikirkan itu, dia ingin menikmati peran nya sebagai istri, karena lelaki yang sudah menikahi nya kini benar-benar mencintai nya, itu sudah cukup.
Ana sudah tidak memikirkan apa itu kebahagiaan yang sempurna, karena 22 tahun dia memiliki kebahagiaan itu, dengan kehidupan yang begitu sempurna, sampai takdir mengambil nya dalam sekejap.
Tapi Ana tidak pernah menyalahkan takdir, Ana yakin ini adalah lembaran hidup nya yang baru, yang harus ikhlas di jalani nya, karena dia masih hidup dengan penuh kecukupan, bahkan mendapat kan cinta dan kasih sayang suami nya, walaupun status nya di sembunyikan dan hanya menikah secara siri.
__ADS_1
Akhir nya Fidy dan Ana hampir sampai di depan ruang autopsi, terlihat beberapa polisi yang melakukan penjagaan yang ketat.
Para polisi tahu siapa itu Fidy Eka Sakti. mereka tersenyum dan mempersilahkan Fidy untuk menemui dokter Alan, yang terlihat terduduk lesu, dengan kepala bersandar di tembok serta mata terpejam.
Tampak guratan kesedihan yang teramat dalam di wajah nya.
"Om Alan..."Sapa Fidy lirih sambil memegang lengan dokter Alan.
Mendengar nama nya di panggil, dan sentuhan di lengan nya, membuat dokter Alan berlahan membuka mata.
"Fidy..."Dokter Alan langsung memeluk Fidy dan menumpahkan tangis nya.
"Aku turut berdukacita Om, maaf aku tidak bisa menjaga Aryo, sahabat aku sendiri..."Fidy berkata dengan suara parau, sambil menepuk pelan punggung dokter Alan.
Ana yang melihat pemandangan di depan nya ikut menetes kan air mata.
Walaupun dia baru mengenal dokter Alan dan Aryo, tapi dia merasakan kesedihan teramat sangat, apa lagi dokter Alan mengingatkan nya pada sosok Adrian.
"Apakah papah Adrian sesedih ini, saat menyerah kan aku pada Aksa...??Batin Ana, dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa di tahan nya.
"Apa tidak ada rasa cinta, kasih dan kasihan sedikit saja pada anak yang sudah kamu rawat dan besar kan pah..."Tanya Ana lagi dalam hati, sungguh sangat menyesakkan dada nya.
Ana buru-buru menyeka air mata nya, mencoba menenangkan hati nya, saat dokter Alan melepaskan pelukan nya pada Fidy.
Dokter Alan menarik napas, dan menghembuskan nya kasar.
"Om tidak tahu pasti yang terjadi, tapi Laura lah yang pertama kali menemukan jenazah Aryo di kamar apartemen nya.."Dokter Alan berkata sambil menyeka air mata nya.
"Laura...??"Tanya Fidy.
Dokter Alan mengangguk.
"Tapi yang memberitahu ku bukan Laura, tapi Aksa..."Jawab dokter Alan sambil menghela napas.
Fidy tampak sedang berpikir.
"Kenapa Laura sampai berada di kamar Aryo...??"Tanya Fidy dalam hati.
"Apakah hubungan mereka sangat dekat sekali, tanpa sepengetahuan aku..???"Tanya Fidy sambil memijat pelan pelipis nya.
"Kamu baik-baik saja mas..??"Ana berkata dengan nada cemas, sambil memegang pundak Fidy.
__ADS_1
"Oh, iya sayang aku baik-baik saja.."Fidy berkata dengan suara lembut sambil mengelus tangan Ana yang berada di pundak nya.
Dokter Alan yang sedang sedih, terpaku dengan perlakuan Fidy kepada Ana, baru pertama kali Fidy menunjukkan rasa cinta nya yang begitu dalam kepada seorang wanita.
"Bagaimana Laura bisa berada di kamar Aryo om...???"Tanya Fidy, yang membuat dokter Alan tersadar dari tatapan nya ke arah Fidy dan Ana.
"Om juga kurang tahu, sekarang Laura sedang di kantor polisi di temani Aksa, untuk membuat kesaksian dan di mintai keterangan.."Jawab dokter Alan.
"Apa mas tidak menemani nyonya laura..??"Kasihan sekali pasti nyonya Laura sangat syock, apa lagi sekarang nyonya berurusan dengan polisi..."Ucap Ana, mengingat kan Fidy.
"Nanti aku pasti menemui nya..."Jawab Fidy datar, tampak keraguan di wajah nya.
"Setelah autopsi selesai, lebih baik mas langsung menemui nyonya, kasihan, pasti nyonya Laura sangat membutuhkan mas di samping nya.."Ucap Ana, seolah-oleh merasakan bagaimana syock nya Laura, sebagai orang pertama yang menemukan jenazah dokter Aryo.
"Setelah ini, kita akan bersama menemui nya..."Ucap Fidy sambil menghela napas.
"Aku nanti pulang naik ojek atau naik taxi saja, kehadiran aku hanya akan memperkeruh keadaan mas .."Ucap Ana lirih.
Fidy pun memutar kursi roda nya menghadap Ana, menatap dalam wajah Ana.
"Aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir..."Ana berkata sambil tersenyum mencoba meyakinkan Fidy.
"Nyonya lebih membutuhkan mas sekarang..."Ucap Ana lagi dengan lembut sambil menggenggam jemari Fidy.
"Baik lah, demi istri kecil ku..."Fidy berkata sambil menoel gemas hidung Ana.
"Mas.."Panggil Ana lirih, yang merasa malu dengan dokter Alan yang sedang menatap kelakuan mereka.
Wajah Ana pun kini sudah memerah.
"Pantas saja Fidy sangat mencintai Ana, sifat nya sungguh berbeda dengan Laura..."Ucap dokter Alan dalam hati.
***********
Siapakah yang sudah tega membunuh Aryo dengan cara yang keji..???
Apakah Laura dan Aksa terlibat dalam kasus pembunuhan Aryo...???
Ikuti bab selanjutnya, yang akan menguak misteri kematian Aryo.
Jangan lupa mampir ke novel author yang sudah tamat.
__ADS_1