
114
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
"Apa..??"Tidak mungkin, ibu pasti baik-baik saja.."Ana berkata, sambil menggeleng kan kepala nya tidak percaya, dan menutup mulut dengan kedua tangan nya, air mata sudah mengalir deras membasahi pipi nya.
"Sayang, kamu tenang dulu.."Fidy berkata, sambil berusaha mendekati dan meraih tubuh Ana, yang mundur beberapa langkah dari nya.
"Kenapa kamu melarang ku untuk menemui kak Laura..??"Tanya Ana, sambil berteriak dengan tatapan tajam ke arah Fidy.
"Aku tahu, dia istri syah mu, dan kamu sangat mencintai nya, tapi ibu kandung nya sedang membutuh kan pertolongan nya.."Teriak Ana lagi, dengan air mata yang semakin deras.
Dia sudah tidak menghiraukan keadaan sekitar nya, bahkan dia melupakan kehadiran Satria, yang selama ini di nanti nya.
"Lebih baik, sekarang kita ke rumah sakit, untuk lebih memastikan keadaan bi Minah.."Ucap dokter Jimmy, mencoba menenangkan Ana.
Sedang kan Fidy, terlihat frustasi dengan sikap Ana, dia tidak menyangka jika keadaan nya akan seperti ini, bahkan dada nya terasa sesak, saat melihat kebencian dan kesedihan di bola mata Ana.
Kembali rasa sesal dan sedih menyelimuti hati nya, seperti saat dia menikahi Ana, dan menghancurkan semua kebahagiaan dan masa depan nya.
Satria menatap lekat Ana, wanita yang sangat di rindukan nya, dia tidak pernah melihat Ana seperti ini, dada nya terasa sesak, ingin sekali dia membawa Ana dalam pelukan nya, sekedar menghibur dan melindungi nya, tapi kenyataan nya Ana sudah bukan milik nya.
"Benar kak Ana, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit.."Febi ikut bicara, berusaha menenangkan Ana.
Saat Ana menatap Febi, dia pun tersadar, jika kini sosok Satria sedang berada di hadapan nya.
Saat netra mereka bertemu, Ana langsing membuang pandangan nya, dia sangat malu, karena Satria melihat keadaan nya yang kalut dan mengetahui bagaimana status pernikahan nya dengan Fidy.
"An.."Panggil Fidy lembut, menyentuh lengan Ana.
Ana yang tidak mau, Satria semakin mengetahui keadaan nya, langsung menoleh dan tersenyum ke arah Fidy.
"Maaf kan aku mas.."Ucap Ana lirih, sambil mengusap air mata nya.
"Aku yang seharus nya minta maaf, karena keputusan yang aku ambil, membuat hati mu terluka.."Fidy berkata, sambil membawa Ana ke dalam pelukan nya .
"Kita ke rumah sakit, lihat ibu ."Bisik Fidy lembut, sambil membelai rambut Ana penuh kasih.
Dokter Jimmy, menatap mereka penuh haru.
Sedang kan, Bramantyo dan Febi saling melempar pandang, wajah Bramantyo yang tadi nya tidak percaya, dengan sikap Fidy, kini tersenyum bahagia melihat perubahan drastis pada diri kakak sulung nya itu.
Satria, hanya menatap nanar Ana yang berada dalam pelukan Fidy.
Rasa cemburu menyeruak di relung hati nya, ingin sekali dia menarik tubuh Ana dari pelukan Fidy, dan menghajar Fidy karena sudah berani menyentuh tubuh wanita yang sangat di cintai nya.
"Pram.."Panggil Febi lirih, menyentuh lrngan Satria.
"Ee..iya Feb.."Sahut Satria kikuk.
"Kamu, cemburu ya melihat kemesraan mereka..??"Tanya Febi, menatap lekat wajah Satria yang tepat berada di samping nya.
Satria terihat gugup, dada nya berdegup kencang.
__ADS_1
"Apa Febi tahu, hubungan aku dengan Ana..??"Tanya Satria dalam hati.
"Aku ingin menjadi seperti kak Ana, yang sangat di cintai oleh mas Fidy, kapan ya aku bisa mendapat kan cinta tulus dari seorang laki-laki.."Febi berkata, sambil menatap penuh iri ke arah Ana dan Febi.
Satria menoleh ke arah Febi, sambil menarik napas, berlahan jemari Satria menggenggam lembut jemari Febi.
Febi yang sedang menatap Fidy dan Ana, langsung terperanjat kaget, dia pun langsung menoleh ke arah Satria, dengan tatapan tak percaya.
"Kita akan mencoba.."Ucap Satria lembut dan tersenyum, menatap lekat wajah Febi.
"Benar kah .??"Tanya Febi tak percaya.
Satria tersenyum dan mengangguk.
Febi tersenyum bahagia dengan mata berbinar, dia pun langsung memeluk tubuh Satria, membuat semua mata menatap ke arah mereka.
"Jangan seperti ini."Bisik Satria malu, apa lagi saat netra nya bertemu dengan Fidy dan Ana.
Wajah dokter Jimmy, semakin memerah menahan rasa cemburu di dada nya.
Sedang kan Bramantyo menggeleng kan kepala nya, melihat dua pasangan yang sedang berpelukan.
"M..maaf."Ucap Febi malu, sambil melepas pelukannya.
"Ayo, kita ke rumah sakit sayang.."Fidy membawa Ana, meninggalkan area pemakaman.
Ana mengangguk.
"Kalian, ingin tetap bermesraan disini.??."Tanya Bramantyo menggoda.
Seketika wajah mereka terlihat kikuk.
"Kita ke rumah sakit.."Ucap Satria, mengajak Febi.
Febi mengangguk, mereka bertiga pun pergi meninggalkan area pemakaman.
Terlihat Fidy masuk ke mobil nya bersama Ana, sedangkan Bramantyo ikut di mobil dokter Jimmy, Febi sudah pasti ikut di mobil Satria.
**********
Di dalam mobil, tampak wajah dokter Jimmy, yang semakin terlihat gusar.
"Are u oke, kak..??"Tanya Bramantyo melirik dokter Jimmy, di sebelah nya yang sedang menyetir.
"Iya, aku baik-baik saja.."Ucap dokter Jimmy, sambil mengusap kasar wajah nya.
"Aku tidak tahu, jika kak Febi mengenal Satria.."Ucap Bramantyo, menatap lurus ke depan.
"Satria Pramudya ."Jawab dokter Jimmy.
Seketika, Bramantyo menoleh ke arah dokter Jimmy.
"Kak Jimmy, mengenal Satria.??"Tanya Bramantyo, sambil mengerutkan kening nya.
__ADS_1
"Tentu saja.."Jawab dokter Jimmy, dengan senyum smirk nya.
"Hanya kamu dan Febi, yang baru mengenal nya.."Jawab dokter Jimmy lagi, tetap fokus menyetir.
"Maksud nya, kak Fidy dan kak Ana sudah mengenal sosok Satria .??"Tanya Bramantyo, semakin tak mengerti.
Dokter Jimmy hanya mengangguk, sedang kan Bramantyo, sedang berpikir.
"Jelas saja mas Fidy mengenal Satria, karena dia salah satu pegawai di cabang perusahaan Bintang Maha Sakti.."Ucap Bramantyo, mencoba ber spekulasi.
"Tapi tunggu dulu, pegawai perusahaan Bintang Maha Sakti itu khan sangat banyak, kalau mas Fidy mengenal Satria, berarti Satria adalah seseorang yang penting dong di perusahaan.."Bramantyo mencoba berspekulasi lagi.
"Tapi setahu aku, Satria belum lama lulus kuliah, dia juga bercerita jika perusahaan nya langsung menyuruh nya bertugas di Jerman, apa sebelum nya mereka sudah saling mengenal..??"Tanya Bramantyo memutar tubuh nya menyamping, sehingga bisa menatap wajah dokter Jimmy lebih jelas.
Dokter Jimmy menghela napas.
"Fidy sangat mengenal Satria, tapi tidak dengan Satria ."Jawab dokter Jimmy.
Bramantyo mengerut kan kening nya, semakin tidak mengerti dengan ucapan dokter Jimmy.
"Apa ada suatu rahasia, yang tidak aku ketahui..??"Tanya Bramantyo, penuh selidik.
"Dengan seiring waktu, kamu akan mengetahui nya.."Jawab dokter Jimmy, yang tetap fokus menyetir.
"Beritahu aku kak, kenapa harus menyimpan rahasia .??"Ucap Bramantyo, penuh harap.
Kembali senyum smirk, terukir di bibir dokter Jimmy.
"Kamu juga punya rahasia besar, yang membuat mu memutuskan meninggalkan Jakarta, dan memilih menetap di Bali..??
Hah ..
*************
Yeay, bisa up lagi.
Rahasia besar apa, yang di sembunyikan Bramantyo ..??
Mampu kah, Satria menjalin hubungan dengan Febi..??
Apa yang akan terjadi dengan hubungan Fidy, Ana dan Satria..?
Apa kah Febi akan mengetahui nya.??
Bagaimana keadaan bi Minah, Laura dan Ayu..??
Cerita mereka masih panjang, jangan lewat kan bab selanjutnya 😁
Yuk berikan dukungan di novel autor yang baru masuk di bab 16, dan novel author yang sudah tamat 👇👇
__ADS_1