Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Proses Pemakaman Dokter Aryo 2


__ADS_3

Bab 67


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


"Aku ingin dia segera pergi dari sini..!!"Ucap Laura penuh penekanan, dengan mata menatap sinis ke arah Ana.


"Laura, kamu.-!!!."Kata-kata Fidy terhenti, saat tangan Ana mengelus lembut pundak Fidy, mencoba menenangkan Fidy dari amarah nya.


"Seperti nya aku memang harus pergi mas, tidak baik ada pertengkaran di tengah orang yang sedang berduka.."Ucap Ana lirih di telinga Fidy..


Fidy menghela napas, dia menatap Laura, kemudian mata nya menangkap tatapan Aksa yang penuh arti.


Fidy membalas tatapan Aksa, dia sangat paham dengan tatapan dari lelaki paruh baya yang di kenal publik sebagai ayah kandung nya, pemilik perusahaan Aksa Sakti, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.


"Aku akan memanggil mang Ujang, untuk mengantar kan kamu pulang..."Fidy berkata sambil meraih ponsel nya.


Kali ini Ana tidak membantah, nyali nya sedikit ciut, karena tatapan penuh kebencian yang di berikan Laura dan Aksa untuk nya.


Sampai sekarang Ana tidak mengerti, kenapa Aksa sangat membenci nya.


Dan Laura yang dia tahu seorang wanita yang terlihat elegan dan sopan, dengan tutur kata yang lembut, tapi hari ini Ana seperti melihat sosok Laura yang sangat berbeda.


Padahal, Ana ingin sekali menghibur nya dan memberikan dukungan pada Laura, yang pasti nya merasakan trauma karena sebagai saksi pembunuhan.


"Mungkin nyonya Laura cemburu, dan masih syock dengan apa yang di lihat nya..."Ucap Ana dalam hati.


Tak lama mang Ujang pun datang tergopoh-gopoh, menghampiri Ana dan Fidy.


"Antar kan nyonya Ana sampai rumah dengan aman dan selamat..."Fidy berkata dengan penuh penekanan, dan tanpa melepaskan tatapan tajam nya ke arah Aksa, yang tak kalah tajam juga menatap Fidy.


"Siap tuan..."Jawab mang Ujang, yang langsung paham dengan keadaan sekitar nya.


"Pulang lah, hati-hati di jalan, beberapa hari ini seperti nya kita belum bisa bertemu..."Bisik Fidy , sambil mengelus lembut tangan Ana.


Ana pun mengangguk, kemudian mencium punggung tangan Fidy.


Ana mengangguk pada Laura dan Aksa, yang di balas dengan tatapan sinis penuh kebencian kepada nya.


Ana pun bergegas mengikuti langkah mang Ujang meninggalkan rumah duka..


Seketika wajah Laura langsung merah padam melihat pemandangan di depan nya.


Tentu saja Laura terbakar api cemburu, karena perlakuan Fidy dan Ana benar-benar layak nya suami istri yang saling menyayangi.


Tatapan penuh kebencian pun, dia perlihatkan kepada Ana saat mengangguk pamit.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja mas..??"Kenapa tidak memberitahu ku jika kamu kecelakaan...??"Tanya Laura menghampiri Fidy, dan mengelus lembut pundak Fidy.


"Tidak perlu di bahas sekarang, ada banyak juga yang harus kamu jelas kan kepada ku...!!"Fidy berkata sambil terus menatap tajam ke arah Aksa, yang terus menatap Fidy dengan senyum sinis.


Jenazah dokter Aryo pun selesai di mandikan, dan langsung di bawa ke masjid yang berada di lingkungan rumah dokter Alan untuk di shalat kan.


Fidy ikut serta men sholat kan jenazah dokter Aryo, air mata tidak terasa menetes dari sudut mata Fidy, buru-buru dia mengusap air mata nya dengan kasar.


"Aku akan mencari tahu siapa yang telah membunuh mu dengan sadis..."Batin Fidy dengan hati yang penuh amarah dan dendam.


"Laura, kalau sampai ternyata ada sesuatu antara kamu dan Aryo, aku akan segera melepaskan mu..."Batin Fidy lagi.


Jenazah Fidy pun langsung di bawa ke TPU ( Tempat Pemakaman Umum ) XX, di mana almarhumah ibu nya dokter Aryo di makam kan.


Karena rencana nya jenazah dokter Aryo akan di makam kan di samping makam mendiang ibu nya di makam kan.


************


Hampir satu jam prosesi pemakaman di lakukan, setelah jenazah dokter Aryo di masukkan ke liang lahat, tubuh jenazah dokter Aryo di tutup dengan tanah merah, isak tangis dokter Alan pun tak bisa di bendung lagi.


Fidy pun meneteskan air mata, tak percaya, jika sahabat nya dari kecil secepat ini kepergian nya.


Setelah proses pemakaman di tutup dengan do'a yang di pimpin oleh pak ustadz, akhir nya prosesi pemakaman pun selesai, para pelayat mulai pulang satu persatu, hanya tersisa Fidy, Aksa, Laura, dokter Alan, suster Eva dan beberapa petugas polisi.


"Dokter Alan, kami sudah mulai melakukan penyelidikan, tapi data yang kami dapat hari ini belum bisa menunjukkan hasil, tapi kami janji akan menuntas kan kasus ini..."Jelas salah satu petugas kepolisian.


"Pasti dokter, kami akan berusaha sekeras mungkin untuk mengungkap kasus pembunuhan ini, saya harap dokter dan keluarga bersabar..."Ucap tegas petugas polisi itu.


"Baik, terimakasih pak..."Jaeab dokter Alan.


"Dan saya harap semua bisa bersikap kooperatif guna mempermudah proses penyelidikan..."Ucap pstugas polisi sambil menatap bergantian dokter Alan, Fidy, Aksa, Laura. dan suster Eva.


"Tenang saja pak, kami semua akan bersikap kooperatif..."Jawab Aksa.


"Terimakasih pak Aksa atas kerjasama nya..."Ucap petugas polisi sambil menganggukkan kepala ke arah Aksa.


Aksa membalas dengan anggukan.


"Oh iya nyonya Laura, terimakasih karena sudah mau memberikan kesaksian, kami berharap nyonya bersedia jika kami membutuhkan nyonya untuk memberikan kesaksian kembali..."Petugas polisi berkata sambil melihat ke arah Laura, yang berada di belakang kursi roda Fidy.


"Pasti pak, kapan pun pihak kepolisian membutuhkan informasi saya siap di mintai keterangan..."Laura berkata dengan suara sangat sopan dan sikap yang elegan


"Terimakasih nyonya, kalau begitu kami permisi dulu , sekali lagi saya turut berduka cita dokter Alan.."Ucap petugas polisi sambil menyalami dokter Alan, Fidy dan Aksa, di ikuti oleh petugas yang lain.


Para polisi pun berlalu pergi meninggalkan pemakaman.

__ADS_1


"Apa rencana dokter Alan setelah ini..??"Tanya Fidy lirih saat polisi sudah pergi, sambil menatap nanar dokter Alan.


Dokter Alan menghela napas, sambil mengusap wajah nya.


"Entahlah Fidy, om belum bisa berpikir untuk sekarang..."Ucap dokter Alan sambil menatap nanar makam Fidy.


"Om ingin fokus dulu mengungkap kematian Aryo, dan orang yang sudah tega menghabisi nyawa Aryo dan apa motif orang itu membunuh Aryo dengan sadis.."Ucap dokter Alan, dengan wajah memerah, kesedihan dan kemarahan menjadi satu di hati dokter Alan.


Suster Eva mengelus lembut lengan dokter Alan mencoba memberikan ketenangan untuk dokter Alan.


"Om tidak perlu khawatir, Fidy pasti akan membantu secepat nya mengungkap kematian Aryo..."Fidy berkata sambil menatap makam Aryo juga, yang masih berbentuk gundukan tanah merah yang masih basah.


"Terimakasih Fid.."Ucap dokter Alan dengan mata berkaca-kaca.


"Santai saja om, kita khan keluarga..."Jawab Fidy.


Dokter Alan tersenyum, walaupun senyum nya adalah senyum yang di penuhi kesedihan.


"Sudah malam, lebih baik kita segera pulang, karena dokter sangat membutuhkan istirahat.."Ucap suster Eva dengan wajah memancarkan kekhawatiran.


Aksa dan Laura mengerutkan kening nya, menatap heran suster Eva


"Suster Eva ini, asisten saya, maka nya dia sangat mengkhawatirkan saya .."Ucap dokter Alan, yang tahu dengan tatapan Aksa dan Laura.


"Tidak perlu menjelaskan apa-apa om, ada atau tidak ada hubungan di antara kalian, pasti om tahu keputusan terbaik apa yang bisa om ambil..."Jelas Fidy


"Terimakasih Fid.."Ucap dokter Alan, sambil menepuk pelan pundak Bima.


"Hari sudah malam, lebih baik kita pulang. terimakasih karena kalian sudah mau menemani saya.."Ucap dokter Alan


"Hai, kita ini keluarga.."Ucap Aksa menepuk pelan pundak dokter Alan.


"Terimakasih Aksa..."Ucap dokter Alan menatap sendu Aksa.


Aksa mengangguk dan mereka berpelukan sebentar.


Akhir nya mereka pun meninggalkan pemakaman dokter Aryo


**********


Siapa yang membunuh Fidy secara sadis...???


Jangan lewat kan cerita di setiap bab nya.


Mampir dan baca novel author yang sudah tamat 👇

__ADS_1



.


__ADS_2