
117
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Mata yang terlihat merah itu, menatap kepergian Fidy dan Laura. Dia pun melangkah kan kaki nya dengan perasaan yang bercampur aduk.
Karena waktu sudah menunjukkan waktu shalat, dia pun segera membawa langkah kaki nya, menuju masjid yang berada di dekat rumah sakit.
Setelah menunaikan kewajiban nya, dan akan melangkah keluar dari masjid, mata nya menangkap siluet seseorang yang sangat di kenal nya.
Bergegas dia menghampiri seseorang itu, yang seperti nya akan meninggal kan masjid.
"Wiana Maharani.."Panggil nya, tepat saat berada di samping seseorang yang ternyata adalah Ana.
Deg..
Suara itu, membuat jantung Ana berdegup, suara yang selalu menemani nya selama 10 tahun. Dia pun menggigit bibir nya, berusaha untuk menenangkan hati nya.
"Wiana Maharani.."Lelaki itu memanggil nya kembali.
Sekian detik, Ana mencoba menenang kan hati nya, dengan jantung yang masih berdegup kencang, dia pun menoleh ke sumber suara.
Saat dia menoleh, ternyata benar, suara itu adalah milik dari lelaki yang sangat di rindukan nya, Satria Pramudya.
"S.. Satria.."Panggil Ana lirih.
"K..Kamu ngapain disini..??"Tanya Ana gugup.
"Seperti nya, aku sama dengan mu dan muslim lain nya, jika ke masjid untuk apa.."Jawab Satria, sambil mengulum senyum.
"Kamu benar-benar tidak berubah An, jika sedang gugup seperti ini.."Satria berkata, dengan tersenyum suara menggoda.
Sambil tersenyum, Satria menatap lekat Ana, ada kerinduan yang begitu dalam menyeruak di hati nya.
"A..aku.."Ana berkata dengan wajah memerah, dan menggigit bibir nya.
Satria tertawa kecil, menatap gemas Ana, sedang kan Ana langsung menundukkan wajah nya, entah lah dia merasa sangat gugup berhadapan dengan Satria.
Tiba-tiba, wajah Satria langsung berubah sendu menatap Ana, tatapan penuh kerinduan.
"Bisa kita ngobrol sebentar An.."Ucap Satria, tanpa mengalih kan sedikit pun tatapan nya dari wajah Ana, yang sedang menunduk.
Berlahan Ana mengangkat wajah nya, menatap Satria, netra mereka pun saling bertemu.
"Aku harus kembali ke kamar perawatan ibu ku.."Ucap Ana, dengan memalingkan wajah nya, menghindari kontak mata dengan Satria.
"10 menit saja An, aku meminta waktu mu.."Satria memohon, sambil berusaha meraih jemari Ana.
"Maaf Sat, aku wanita yang sudah bersuami.."Ana berkata sambil menghindari tangan Satria, yang berusaha menyentuh jemari nya.
__ADS_1
"Maaf kan aku.."Terasa sesak dada Satria, saat Ana mengatakan itu.
"Aku harus segera pergi, suami ku pasti sekarang sedang mencari ku, Febi juga pasti sedang mencari mu.."Ana berkata, sambil berlalu meninggalkan Satria.
Satria hanya mematung, menatap nanar punggung Ana yang berlalu dari hadapan nya.
Hati nya terasa pedih, wanita yang sangat di rindukannya, sudah tidak bisa untuk di raih nya.
"Secepat itu kah, rasa cinta mu hilang untuk ku An..??"Tanya Satria dalam hati.
Dengan langkah gontai dan hati yang terluka, Satria pun melangkah meninggalkan masjid dan kembali menuju rumah sakit.
********
Ana sampai di pintu ICU tempat bi Minah di rawat, bertepatan dengan Fidy dan Febi yang baru keluar dari ruang ICU.
"Dari mana kamu, An..??"Tanya Fidy, penuh selidik.
"Aku dari masjid mas.."Jawab Ana, menunduk.
"Pram, maksud aku Satria juga tadi ijin ke masjid, apa kak Ana bertemu dengan nya..??"Tanya Febi.
Pertanyaan Febi, membuat Fidy mengerutkan kening nya, dengan tatapan tajam nya menatap Ana.
"A..aku tidak bertemu dengan Satria, karena terlalu banyak orang di masjid.."Jawab Ana, yang tidak berani membalas tatapan Fidy.
Di tengah-tengah kegalauan hati Ana, tiba-tiba Satria muncul.
"Kalian sama-sama dari masjid, apa kalian tidak bertemu..??"Tanya Febi, langsung bergelayut manja di lengan Satria.
"Iya, kami tadi bertemu.."Jawab Satria santai, menatap bergantian Fidy dan Ana.
Deg..
Ana, merasakan jantung nya hampir copot, dia mencoba menatap Fidy.
Jantung nya semakin berdetak kencang, saat netra nya bertemu dengan netra Fidy.
Tenggorokan nya juga tiba-tiba terasa begitu kering, dan lidah nya menjadi kelu, kala melihat tatapan Fidy yang penuh intimidasi.
"Tapi sayang, kak Ana tidak melihat ku, saat aku ingin memanggil dan menghampiri, kak Ana sudah berlalu.."Ucap Satria lagi dengan santai, sambil tersenyum penuh arti menatap Fidy.
Fidy yang mengerti arti senyuman dari Satria, dia pun membalas nya dengan senyum smirk.
"Bagus lah, jika istri ku tdak melihat mu, karena aku tidak mau jika istri kecil ku ini berbicara dengan lelaki mana pun, tanpa seijin ku, walaupun dengan calon adik ipar ku sendiri.."Fidy berkata, sambil mendekati Ana dan langsung melingkar kan tangan nya di pinggang Ana.
Tentu saja, perlakuan Fidy membuat Ana terkejut, sedang kan Satria berusaha menyembunyikan amarah dari rasa cemburu nya.
"Ish, kamu benar-benar posesif mas, masa sama Pram kamu cemburu juga.."Ucap Febi, dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Pram mu itu laki-laki, dan aku tidak menyukai istri ku di tatap apa lagi berbicara dengan laki-laki lain.."Ucap Fidy, dengan lebih mengeratkan pelukan nya di pinggang Ana, sambil menci*m lembut rambut Ana.
Wajah Ana semakin memerah, sedang kan Satria merasakan dada nya semakin bergemuruh.
"Dasar bucin, aku sudah lapar nie.."Febi berkata, sambil mengerucutkan bibir nya.
"Ayo lah, kita makan siang sekarang.."Ajak Fidy, membawa Ana melangkah.
"Tapi ibu mas."Ucap Ana, menahan langkah Fidy.
"Jangan khawatir, aku sudah menitip kan ibu kepada perawat.."Jawab Fidy.
"T..tapi.."
"Iya kak Ana tenang saja, kita juga hanya makan siang kok.."Ucap Febi, menyela ucapan Ana.
"Aku sudah berjanji untuk menjaga dan memberikan pengobatan yang terbaik buat bu Minah, karena dia ibu ku juga.."Bisik Fidy, tepat di telinga Ana, membuat tubuh Ana meremang.
"Terimakasih mas.."Ana berkata sambil mengangguk.
Mereka pun segera melangkah meninggalkan ruang ICU, di ikuti oleh Satria dan Febi yang terus bergelayut manja di lengan Satria.
Sementara Satria, terus menatap ke arah Fidy, yang terus memeluk erat dan mesra pinggang ramping Ana.
"Mas, aku malu jadi pusat perhatian."Bisik Ana yang merasa risih dengan sikap Fidy, tapi dia tidak berusaha melepaskan tangan Fidy dari pinggang nya.
"Kamu malu jadi pusat perhatian, atau karena lelaki yang berada di belakang mu.??"Tanya Fidy, sambil berbisik dan menoleh ke arah Satria, yang sedang menatap penuh kekesalan.
Ana terperanjat kaget, menatap Fidy penuh tanya.
Fidy hanya tersenyum simpul, dia pun membelai rambut Ana dengan lembut, sambil kembali menoleh ke belakang menatap Satria, dengan senyum yang penuh arti.
Tampak, rahang wajah Satria yang mengeras karena penuh amarah. Febi menyadari itu, tapi dia semakin erat memeluk lengan Satria, dan dengan lembut dia menyentuh wajah Satria..
Sentuhan lembut tangan Febi, membuat Satria tersadar, dan langsung menoleh ke arah Febi, dan tanpa di sadari nya, jika hampir tak ada jarak di antara mereka.
"Kenapa wajah mu tegang sekali..?"Tanya Febi penuh selidik, lagi-lagi tangan Febi menyentuh wajah Satria.
"Feb, ini Indonesia bukan Jerman, tidak enak di lihat orang."Satria yang merasa risih dengan kelakuan Febi, berlahan melepaskan dengan pelan tangan Febi.
"Tapi kak Fidy dan kak Ana, santai saja tuh.."Ana berkata, sambil menunjuk ke arah Fidy dan Ana.
"Mereka itu suami istri, sudah halal.."Jawab Satria, ada gemuruh yang bergejolak di dada nya, saat kata-kata itu terlontar dari bibir nya.
"Kalau begitu, kapan kamu akan menghalal kan ku.??"
*************
Maaf ya, cerita nya di gantung dulu, biar tambah kepo😁😁
__ADS_1
Jangan lupa, untuk kepo di semua karya author 👇👇