
Bab 106
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Dorr...
Suara tembakan kembali terdengar, membuat jantung semua orang yang hadir di situ berdebar.
Laura tiba-tiba berdiri, sambil mengacung kan pistol ke arah Aksa yang terbaring, dengan memegangi perut nya yang penuh dar*h.
"Laura, jangan .!!"Teriak Fidy.
"Nyonya, jatuh kan senjata mu..!!"Perintah salah satu polisi.
Tapi dendam dan amarah di hati Laura, tidak mengindah kan teriakan Fidy dan perintah polisi.
"Ini untuk semua kejahatan yang sudah kamu lakukan Aksa Sakti, dan semua penderitaan yang sudah kamu ciptakan..!!!"Laura berkata, sambil melepas kan tembakan ke tubuh Aksa.
Dor..
Dor..
Dor..
Saat Laura ingin melepas kan tembakan ke empat nya, tiba-tiba Laura menjerit.
Akh...
Tubuh Laura lansung ter duduk di lantai, dia merintih kesakitan sambil memegangi mata kaki nya yang mengucur kan dar*h, karena tembakan yang di lepas kan oleh satu petugas kepolisian.
"Laura."Fidy langsung menghampiri Laura.
Petugas kepolisian pun langsung menghampiri tubuh Aksa, yang penuh dar*h dan sudah tidak bernyawa, dan mengaman kan pistol yang di pakai Laura, sebagai barang bukti.
"Sakit sekali mas.."Rintih Laura.
"Tahan sebentar.."Fidy berkata, sambil melepas kemeja nya dan merobek nya, lalu di balut kan ke mata kaki Laura, untuk menghentikan pendarahan nya.
"Kita akan segera ke rumah sakit.."Fidy berkata lagi sambil mengangkat tubuh Laura, dan menggendong nya ala bridal style.
"Tuan Fidy maaf, sebaik nyonya Laura, di bawa ke rumah sakit kepolisian, karena nyonya Laura sudah melakukan tindak pidana, dan maaf petugas kami akan mengikuti mobil anda."Ucap salah satu petugas kepolisian.
"Baik pak.."Jawab Fidy, sambil mengangguk
"Terimakasih pak atas kerjasama nya.."Polisi berkata, sambil menyuruh dua orang teman nya untuk mengikuti Fidy.
Pada saat Fidy ingin keluar dari pabrik, bertepatan dengan kedatangan Ana, Febi, dokter Jimmy dan pak Basir.
Fidy terperanjat kaget melihat kehadiran Ana, begitu juga dengan Ana, dia kaget saat Fidy menggendong tubuh Laura yang tampak tak berdaya, dengan mata kaki nya yang di balut dengan bahan seperti sebuah kemeja.
Ana menatap tubuh Fidy yang hanya memakai kaos dalam.
"Kaki Laura tertembak, kita harus segera membawa nya ke rumah sakit, Ayu dan bi Minah juga sudah lebih dahulu di bawa ke rumah sakit.."Fidy berkata, tanpa menunggu pertanyaan dari Ana atau Febi.
__ADS_1
Fidy seolah-olah tahu apa yang ada di pikiran Ana.
"Ikut lah, di mobil ku.."Ucap Fidy, yang segera berlalu dari hadapan Ana, dan segera menuju ke mobil nya.
Ana menatap punggung Fidy penuh tanya, kemudian menatap Febi, dan Febi mengangguk seolah menyuruh Ana segera mengikuti Fidy.
Ana pun segera berlari mengejar Fidy.
Dia langsung membantu Fidy membuka pintu mobil untuk penumpang.
"Duduk lah di belakang, tolong temani Laura.."Fidy berkata, dengan menatap penuh rasa cemas ke arah Laura, yang terlihat tidak berdaya, sambil meringis kesakitan, sedang kan mata nya tetap terpejam.
Tiba-tiba Ana merasa kan kesedihan di hati nya.
"Tidak, ini bukan waktu yang tepat untuk cemburu Ana.."Ucap Ana dalam hati.
Dia pun segera naik je kursi penumpang, menempat kan kepala Laura di paha nya.
Sedang kan Fidy, segera menuju kursi kemudi, dan melajukan mobil nya membelah jalan raya.
"Sabar lah nyonya, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."Ana berkata, sambil membelai kepala Laura, dan menggenggam erat jemari Laura, mencoba menguat kan nya.
Berlahan Laura membuka mata, menatap sendu Ana, terlihat seulas senyum di bibir nya, dan air mata yang mulai mengalir dari mata nya.
Sambil fokus menyetir, Fidy sekali-kali mencuri pandang ke arah mereka, melalui kaca spion kecil yang berada di depan kemudi.
"Nyonya, kenapa menangis.??"Pasti sakit sekali ya..??"Tanya Ana dengan wajah khawatir.
"Iya nyonya.."Jawab Ana.
Laura mencoba mengangkat tangan yang berada dalam genggaman Ana, kemudian menyentuh lembut wajah Ana.
Ana di buat kebingungan dengan sikap Laura, dia pun melirik ke arah Fidy yang terlihat wajah nya dari spion dalam mobil, karena kebetulan Ana duduk tepat di belakang Fidy menyetir.
Mereka saling tatap, saat netra mereka bertemu.
Laura menyadari itu, dan sebuah senyum terukir di bibir nya.
"Bi Minah An.."Ucap Laura, yang terus menatap lekat wajah Ana yang sedang memangku nya.
"Bi Minah ibu kita, An.."
Deg..
Baru saja Ana ingin bertanya, tapi pernyataan Laura membuat Ana kaget.
"Aku tahu jika bi Minah, adalah ibu kandung ku, tapi kenapa nyonya bilang jika bi Minah ibu kita.??"Tanya Ana, sambil menyipit kan mata nya, menatap wajah pucat Laura.
"Kita sudah sampai, cerita nya nanti saja."Fidy berkata, sambil turun tergesa-gesa.
Terlihat petugas rumah sakit pun sudah menyiap kan brankar dorong atau tempat tidur stretcher untuk menuju ruang operasi, karena peluru yang bersarang di kaki Laura, harus segera di keluar kan.
Ana pun ikut membantu tubuh Laura, saat di keluar kan dari mobil Fidy untuk di pindah kan ke brankar dorong rumah sakit.
__ADS_1
Para perawat pun segera membawa Laura ke ruang operasi, Fidy segera menggenggam jemari Ana, dan menarik nya untuk melangkah mengikuti para perawat.
Ana hanya diam membisu, sambil menatap jemari Fidy yang sedang menggenggam jemari nya, dan menatap sekilas wajah Fidy yang berada di samping nya.
Sambil menggigit bibir bawah nya, Ana mengikuti langkah Fidy.
Mereka berhenti di depan pintu operasi, tampak ada dua petugas kepolisian juga.
Fidy mengajak Ana untuk duduk di kursi tunggu, di depan ruang operasi.
"Apa kamu lapar.??"Tanya Fidy lembut, saat mereka sudah duduk, dan menatap lekat wajah Ana yang berada di samping nya.
"Aku tidak lapar.."Jawab Ana lirih, sambil menunduk dan seperti biasa mengigit bibir bawah nya.
Tentu saja membuat Fidy gemas.
"Tapi aku lapar, istri kecil ku.."Fidy berkata sambil tersenyum kecil, dan mengacak pelan puncak kepala Ana.
"Tapi, nyonya Laura masih di operasi, aku juga mengkhawatir kan keadaan bu Minah dan Ayu.."Ucap Ana, dengan mata berkaca-kaca.
Fidy menghela napas.
"Sebentar ya.."Ucap Fidy lembut, sambil bangkit dari duduk nya, dan menghampiri petugas kepolisian, terlihat mereka pun terlibat dalam satu obralan.
Tak lama Fidy pun kembali duduk di samping Ana.
"Info terakhir yang aku terima, Ayu baru selesai di operasi dan melewati masa kritis nya, sedang kan bi Minah masih dalam perawatan di ruang ICU.."Fidy menjelas kan sambil menggenggam jemari Ana.
"Aku ingin melihat mereka, terutama bu Minah.."Pinta Ana, dengan suara lirih.
"Kita akan segera melihat mereka, tapi setelah kita makan dulu."Fidy mengajukan syarat, masih dengan jemari Ana dalam genggaman nya.
"Tapi aku tidak lapar.."Tolak Ana.
Fidy tidak menjawab, hanya tatapan tajam nya yang berbicara, jika sudah begini Ana tak mampu untuk menolak permintaan Fidy.
"Baik lah, aku akan makan, tapi ada satu syarat lagi.."Tawar Ana, sambil menggigit bibir bawah nya.
Lagi-lagi Fidy tidak menjawab, dia hanya mengerut kan kening nya, dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari wajah Ana.
"Apa aku dan nyonya Laura satu ibu..???"
********************
Up nya sampai sini aja ya, biar bisa lanjut ke bab berikut nya😁😁
Bagaimana reaksi Ana, saat mengetahui jika Laura kakak kandung nya.??
Insya Allah besok author up lagi.
Dukung novel terbaru aurhor "You Are Writer Season 8"👇👇👇
__ADS_1