
Bab 58
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Berlahan Ana membuka mata nya.
"Nyonya, sudah sadar..??"Tanya bi Minah tersenyum senang melihat Ana sudah tersadar.
"A..aku kenapa ya bi..??"Tanya Ana sambil memegang kepala nya, mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Tuan Fidy menemukan nyonya pingsan di sofa bed, dan suhu tubuh nyonya panas tinggi.."Jawab bi Minah menjelaskan.
"Tuan..??"Maksud bibi mas Fidy...??"Tanya Ana coba meyakinkan.
Bi Minah pun mengangguk.
"Bukan nya dia sedang bersama nyonya Laura di rumah sakit..."Gumam Ana bingung.
"Tadi tuan pulang, karena tuan sangat mengkhawatirkan keadaan nyonya..."Jelas bi Minah.
Ana mengerutkan dahi nya, tidak mengerti dengan perkataan bi Minah.
Bi Minah tersenyum menatap wajah Ana
"Tuan tadi sempat menelpon bibi, menanyakan keadaan nyonya..."Ucap bi Minah lembut.
Ana masih terus menatap bi Minah, meminta penjelasan lebih.
"Setiap hari tuan Fidy selalu menanyakan keadaan nyonya, tapi hari ini entah lah tuan sangat mengkhawatirkan nyonya..."Jelas bi Minah.
Ana menghela napas.
"Khawatir untuk apa bi,..??"Saya tidak mengerti, bukan nya dia sedang menikmati hari bersama istri nya yang cantik..."Ana berkata dengan wajah berubah sendu.
Bi Minah kembali tersenyum.
"Lebih baik nyonya makan dulu, setelah ini minum obat dan vitamin..."Bi Minah berkata sambil duduk di kursi yang berada di samping ranjang Ana.
"Aku belum lapar bi..."Ucap Ana masih dengan wajah sendu.
"Tapi kata dokter, salah satu penyebab nyonya demam tinggi, karena perut kosong..."Jelas bi Minah.
"Dokter...??"Tanya Ana menatap bi Minah, sambil mengerutkan dahi nya.
"Tadi nyonya panas tinggi, sampai tidak sadar kan diri, tuan yang memindahkan nyonya ke ranjang, dan tuan juga yang memanggil dokter Alan, yang merupakan dokter pribadi kekuarga Aksa untuk memeriksa nyonya..."Bi Minah memberikan penjelasan lagi, dengan harapan bisa mengurangi kesedihan Ana.
Ana hanya diam, dia tidak percaya kalau Fidy pulang hanya mengkhawatirkan keadaan diri nya, ada senyum kecil yang terukir di bibir tipis nya
Dan sebuah kebahagiaan yang tiba-tiba memenuhi relung hati nya, setelah beberapa saat di rudung kesedihan yang teramat sangat.
Tapi tiba-tiba wajah Ana kembali murung.
"Setahu aku, mas Fidy sedang menghabiskan waktu bersama nyonya Laura...??Tanya Ana menatap sendu bi Minah.
'Dan berita terakhir, jika mas Fidy mengantar nyonya Laura ke rumah sakit, karena kaki nya terkilir.."Ana berkata dengan suara lirih, sambil menundukkan wajah nya.
__ADS_1
"Jangan terlalu memikirkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan nyonya..."Ucap bi Minah.
"Belajar lah untuk lebih mengenal pasangan kita.."Ucap bi Minah lagi, sambil tersenyum lembut menatap Ana.
Ana mengangkat wajah nya, menatap bi Minah, ada kehangatan di mata teduh nya.
"Makan lah nyonya, biar sehat, jangan buat tuan Fidy khawatir lagi.."Ucap bi Minah yang ingin menyuap kan bubur ke mulut Ana.
"Apa mas Fidy benar-benar mengkhawatirkan aku bi...??"Tanya Ana sambil menerima satu sendok bubur yang mendarat ke mulut nya.
"Nyonya pasti tidak percaya, saat melihat wajah panik tuan Fidy..."Bi Minah tertawa kecil, sambil memberikan satu sendok bubur lagi ke mulut Ana.
"Oh ya..!?" yang benar bi..-??"Tanya Ana tidak percaya, tapi mata dan wajah nya berbinar penuh kebahagiaan.
Ana tersenyum bahagia, sambil menikmati bubur yang masuk ke mulut nya.
"Saking panik nya, pintu kamar ini hampir di dobrak sama tuan nyonya..."Bi Minah berkata sambil tertawa kecil, dan kembali memberikan satu suapan ke mulut Ana.
"Masa bi...??"Tanya Ana dengan mengulum senyum, dengan wajah bersemu merah.
"Iya, tapi bibi mengingat kan jika tuan mempunyai kunci cadangan..."Ucap bi Minah masih tertawa, dan menggeleng kan kepala nya saat mengingat kepanikan Fidy tadi.
"Benar kah, dia sangat mengkhawatirkan aku..??"Tanya Ana ragu-ragu.
"Tentu saja nyonya.."Ucap bi Minah sambil tertawa kecil, dan terus menyuapi bubur ke mulut Ana, sampai di suapan terakhir.
"Minum dulu obat dan vitamin nya nyonya..."Bi Minah berkata sambil memberikan obat, vitamin dan segelas air.
"Terimakasih bi.."Ana langsung meminum obat dan vitamin yang di berikan bi Minah.
"M..mas Fidy sekarang di mana bi...??"Tanya Ana malu, wajah nya bersemu merah.
Tampak seraut kekecewaan tergambar di wajah Ana, terlihat sudah tidak sepucat tadi.
"Apa nyonya mau saya bantu untuk membersihkan diri..??"Tanya bi Minah mengingat waktu menjelang sore.
"Iya bi..."Jawab Ana lemah, seperti hilang semangat.
"Apa nyonya ingin menelpon tuan Fidy dulu sebelum mandi...??"Tanya bi Minah, sambil memberikan ponsel nya kepada Ana.
"Tidak perlu, mungkin dia sedang sibuk.."Jawab Ana menolak ponsel yang di berikan bi Minah.
"Kalau begitu, saya siap kan air hangat dulu nyonya.."Ucap bi Minah, yang di jawab anggukan oleh Ana.
Bi Minah pun masuk ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Ana.
Ana menghela napas.
"Benarkah kamu mengkhawatirkan aku..??Tanya Ana sambil memejamkan mata.
"Tapi kenapa aku memimpikan Satria...???"Tanya Ana pada diri sendiri, dan mengusap kasar wajah nya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan perasaan ku.."Ucap Ana sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan nya.
Tak lama bi Minah keluar dari kamar mandi, wanita setengah baya itu merasa heran, melihat tingkah Ana yang menutupi wajah nya dengan kedua tangan nya.
__ADS_1
"Maaf nyonya, air nya sudah siap.."Ucap bi Minah dengan tatapan lembut nya.
"Oo iya bi, terimakasih.."Ucap Ana yang menyadari kehadiran bi Minah.
Berlahan Ana pun turun dari tempat tidur, bi Minah segera menghampiri dan membantu Ana sampai masuk ke kamar mandi.
"Biar saya bantu nyonya..."Ucap bi Minah merasa khawatir dengan keadaan Ana.
"Tidak usah bi, aku bisa sendiri.."Ucap Ana yang ingin segera melakukan ritual mandi.
Karena setelah makan bubur, minum obat dan vitamin, membuat Ana berkeringat, sehingga dia ingin segera mandi.
"Baik nyonya, bibi tunggu di luar.."bi Minah berkata sambil berlalu dari kamar mandi.
Ana pun segera melakukan ritual mandi yang super kilat, karena dia sadar jika tubuh nya sedang tidak sehat.
Sementara bi Minah terlihat sedang merapikan tempat tidur Ana.
Tiba-tiba ponsel nya berbunyi, sebuah nomor tak di kenal terpampang di depan layar ponsel nya.
"Hallo..." Ucap bi Minah saat ponsel sudah terhubung.
"Iya benar.."Ucap bi Minah.
"Apa..??teriak bi Minah, sehingga dia tidak sadar jika Ana sudah keluar dari kamar mandi.
"Iya, kami akan segera kesana..."bi Minah berkata dengan raut wajah yang sedih.
"Ada apa bi..??"Tanya Ana penuh selidik.
"Ny..nyonya sudah selesai mandi...??"Tanya bi Minah terlihat mata nya berkaca-kaca.
"Ada apa bi..????siapa yang telpon tadi..-?-"Tanya Ana yang membuat bi Minah bertambah sedih.
Bi Minah hanya bisa menunduk.
"Bi..!!"Ana betkata dengan suara agak tinggi, sambil memegang kedua bahu bi Minah.
"T..tuan nyonya..."Ucap bi Minah menahan isak nya.
"Kita harus segera ke rumah sakit nyonya..."Ucap bi Minah.
"Tidak perlu bi, aku sudah lebih baik, sudah tidak demam juga.
"Tuan Fidy kecelakaan, sekarang sedang di rawat di rumah sakit XX nyonya.."Ucap bi Minah sambil berusaha menahan tangis nya.
"Hah..."
**********
Apa benar Fidy kecelakaan..??
Tunggu bab berikutnya ya..
Mampir euy ke novel pertama ku
__ADS_1
.