
Bab 59
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
"Hah..."Teriak Ana.
Mata Ana seketika membulat tak percaya, kekhawatiran menjalar di hati nya, tiba-tiba tubuh Ana pun lunglai jatuh ke lantai.
"Nyonya..."Bi Minah langsung menopang tubuh Ana.
"Aku ingin melihat mas Fidy, bi..."Ana berkata sambil menangis tersedu-sedu.
"Iya, nyonya kita akan kesana, bibi hubungi mang Ujang dulu..."Ucap bi Minah sambil meraih ponsel nya, dan langsung menghubungi mang Ujang.
Tak berselang lama,mang Ujang datang dengan tergopoh-gopoh dan langsung membantu bi Minah membawa Ana ke mobil.
Ana terus terisak di pelukan bi Minah. dia takut sekali terjadi sesuatu pada Fidy.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang perawatan Fidy.
Ana yang tadi terlihat lemah dan pucat, entah kenapa, tiba-tiba kaki nya sangat kuat untuk melangkah bahkan sambil berlari menuju ruang perawatan Fidy.
"Nyonya pelan-pelan..."Bi Minah berusaha mengikuti langkah kaki Ana, dengan wajah khawatir.
Sampai akhir nya mereka tiba di salah satu ruangan VIP.
Saat Ana tepat berada di depan pintu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, dan muncul lah lelaki setengah baya berkacamata, memakai jas putih dengan stetoskop di leher nya, dengan di dampingi dua perawat di belakang nya, yang tak lain adalah dokter Alan.
Dokter itu memicingkan mata sambil memperhatikan Ana.
"M.. mohon maaf dokter, apa benar ini ruangan tuan Fidy Eka Sakti...???"Tanya Ana gugup, dengan napas tersengal-sengal karena habis berlari dan rasa khawatir yang teramat sangat.
"Kamu Ana khan..??"Wanita yang tadi pingsan..??"Tanya dokter Alan mengamati wajah Ana yang terlihat masih pucat.
Ana terpaku dengan pertanyaan dokter di depan nya.
"Apa dokter yang tadi mengobati saya..."Tanya Ana.
Dokter Alan hanya tersenyum.
"Kenapa kamu kesini..??" Bukan nya kamu seharusnya istirahat...???"Tanya Dokter Alan, sambil menatap Ana.
"S..saya.."Jawab Ana gugup, sambil menggigit bibir bawah nya.
"Dokter Alan..."Seru bi Minah, ketika sudah berada di samping Ana.
"Bagaimana keadaan tuan Fidy, dokter...??"
Dokter Alan hanya tersenyum simpul, menatap bi Minah.
"Masuk lah, kalian sudah di tunggu di dalam.."Ucap Dokter Alan, dengan senyum ramah.
"Baik dok, ayo nyonya..."Ajak bi Minah.
Ana mengangguk hormat kepada dokter Alan, dokter Alan pun membalas nya dengan senyuman.
Ana dan bi Minah masuk ke dalam kamar perawatan, tampak Fidy sedang berbaring dengan selang infus, serta kepala dan kaki di perban.
"Mas..."Teriak Fidy langsung menghambur ke tubuh Fidy yang sedang terbaring.
Air mata nya langsung mengalir deras.
__ADS_1
"Mas, apa yang terjadi...??"Bangun mas jangan tinggalkan aku..."Tangis Ana yang semakin erat memeluk tubuh Fidy.
"Tolong jangan tinggal kan aku, hanya kamu yang aku punya sekarang mas..."Tangisan Ana semakin pilu di dada Fidy.
Tiba-tiba mata Fidy terbuka, dia langsung melihat ke arah bi Minah, dan mengedipkan mata nya, sebagai tanda kode bi Minah.
Wanita setengah baya itu pun paham, kemudian tersenyum dan mengangguk ke arah Fidy.
Berlahan dengan hati-hati bi Minah keluar dari kamar perawatan, sedang kan Ana masih menangis tersedu-sedu, sehingga tidak menyadari kepergian bi Minah.
"Maaf kan aku, karena sempat memikirkan dan mengharapkan laki-laki lain, padahal aku wanita yang sudah bersuami.."Ucap Ana di sela-sela isak tangus nya.
.
"Aku juga tidak mengerti dengan perasaan ini, hati ku sangat sakit saat melihat kenyataan jika ada istri sah yang sangat kamu cintai..."Ucap Ana yang semakin tersedu, merasakan sesak di dada nya.
Bibir Fidy menyunggingkan senyuman mendengar pengakuan Ana, ingin rasa nya dia membalas pelukan wanita yang kini sedang memeluk nya erat.
"Apa salah jika aku mempunyai rasa cemburu ..??"Tanya Ana di sela-sela tangis nya.
"Apa salah juga, jika aku juga mempunyai rasa cemburu.."Tanya Fidy tiba-tiba dengan suara bariton nya.
Seketika Ana menghentikan tangis nya, dia mengerutkan dahi nya, dan langsung melihat wajah Fidy.
Tampak mata hitam kelam sedang menatap Ana dengan senyum tersungging di bibir nya.
"M..mas.."Ucap Ana tersentak kaget, saat mata mereka bertemu tanpa jarak.
Ana mencoba menjauhkan wajah nya, dan bangkit dari tubuh Fidy, tapi Fidy langsung menahan nya, dengan tangan nya yang tidak di infus.
"Mau kemana istri kecil ku..."Ucap Fidy sambil tersenyum nakal, dan menghapus air mata Ana.
Membuat Fidy menjadi gemas, dia pun langsung menarik leher Ana, dan mendarat kan ciuman hangat di bibir Ana.
Tentu saja itu membuat Ana sangat terkejut, tapi ciuman yang di berikan Fidy benar-benar ciuman hangat dengan penuh kelembutan dan cinta.
Beberapa saat mereka terbuai, seolah-olah pangutan yang sedang mereka lakukan adalah cara mereka menyatakan perasaan masing-masing.
Sampai akhir nya ciuman itu terhenti, karena Ana hampir kehabisan napas.
"Maaf.."Bisik Fidy lembut, sambil mengusap bibir Ana.
Ana tersenyum malu.
"Boleh lepas kan pelukan mu..??"Badan ku pegal jika posisi terus begini..."Pinta Ana malu-malu.
"Kamu tidak suka di peluk suami mu..??"Goda Fidy, yang membuat wajah Ana semakin merona.
"Kamu sedang sakit mas, saat ini pasti beban tubuh ku berat..."Ana mencoba bernegosiasi.
"Kali ini kamu aku lepas kan, tapi tidak untuk besok..."Bisik Fidy, sambil mencium lembut kening Ana.
Kemudian mengacak pelan rambut Ana, dan melepaskan berlahan pelukan nya, walaupun terasa enggan.
"Mana yang sakit mas..??"Tanya Ana yang kembali khawatir dengan keadaan Fidy.
"Tidak ada.."Jawab Fidy tersenyum.
"Tapi kepala dan kaki mu terbalut perban mas, dan tangan mu juga di infus.."Ana berkata sambil menghela napas, tidak mengerti dengan pikiran laki-laki yang berstatus suami nya, dalam keadaan separah ini dia bilang tidak apa-apa.
Fidy tertawa kecil, menatap wajah Ana yang terlihat kesal mendengar jawaban nya.
__ADS_1
"Tolong panggil kan dokter, sayang..."Ucap Fidy sambil mengedipkan mata nya.
Ana hanya ternganga mendengar perkataan dan perilaku Fidy, dia tidak percaya jika lelaki sedingin es seperti Fidy, tiba-tiba berubah menjadi lelaki alay.
"Kenapa diam, mau minta cium lagi...??"Tanya Fidy sambil mendekat kan wajah nya ke Ana.
"I..iya aku panggil kan .."Jawab Ana gugup, dan langsung memencet tombol panggilan yang berada di samping ranjang Fidy.
Fidy pun tersenyum puas, melihat ketakutan Ana.
"Ishh, kenapa abis kecelakaan dia jadi mesum sie..??"Jangan-jangan akibat benturan di kepala nya..."Batin Ana yang tiba-tiba menutup mulut nya, kemudian menatap Fidy dengan penuh rasa cemas.
"Kenapa menatap ku seperti itu...??"Tanya Fidy menyatukan kedua alis nya yang tebal.
Tak lama, muncul lah dokter Alan dengan kedua perawat.
"Aku ingin melakukan perawatan di rumah saja om.."Ucap Fidy saat dokter Alan menghampiri nya.
"Oke, setiap hari om akan ke rumah mengontrol keadaan mu..."Jawab dokter Alan.
"Tapi dok, bukan nya luka-luka mas Fidy butuh perawatan...??"Tanya Ana, dengan wajah heran.
"Fisik nya memang terluka, tapi karena hati nya sedang bahagia, jadi luka seperti ini tidak ada arti nya..."Jawab dokter Alan santai.
"Aku hanya lecet sedikit, kamu tenang saja, sudah biasa sebagai laki-laki.."Ucap Fidy santai, di lubuk hati nya Fidy bahagia sekali, melihat Ana sangat mengkhawatirkan nya.
"Apa aku sudah bisa pulang sekarang om.??"Tanya Fidy.
"Tentu saja.."Jawab dokter Alan sambil menyuruh perawat untuk melepaskan infusan di tangan Fidy.
"Ana, nanti salah satu perawat akan mengajari mu merawat luka-luka Fidy..."Jelas dokter Alan, saat Ana terlihat akan protes lagi.
Ana hanya mengangguk, dia tidak mau bertanya lagi.
"Wah istri kecil ku, akan menjadi suster ku..."Ucap Fidy tersenyum, sambil menatap Ana penuh cinta.
Seumur hidup, baru kali ini dokter Alan melihat tatapan Fidy yang penuh dengan cinta kepada seseorang, terutama kaum hawa.
Senyum dan tatapan penuh kasih yang sudah puluhan tahun menghilang.
"Dasar bucin..."Ucap dokter Alan sambil menggelengkan kepala nya, membuat dua perawat ikut tersenyum.
Fidy pun tersenyum menatap Ana, sedang kan Ana wajah nya kembali memerah, dan seperti biasa jika sudah gugup atau malu, Ana akan menggigit bibir bawah nya.
Setelah semua urusan di rumah sakit selesai, akhir nya Fidy, Ana, bi Minah pun meninggalkan rumah sakit dengan mobil yang di kendarai mang Ujang.
Sedang kan perawat yang di tugas kan untuk mengajari Ana, satu mobil dengan dokter Alan menuju rumah Fidy.
Di dalam mobil Fidy, tampak bi Minah duduk di samping mang Ujang yang sedang mengemudi, sedang kan Fidy dan Ana duduk di kursi belakang.
Fidy menggenggam erat tangan Ana, penuh dengan rasa cinta, Ana pun membalas genggaman tangan Fidy, penuh dengan kebahagiaan.
*********
Mampukah Fidy dan Ana hidup bahagia...???
Kasih komen dong, biar rame novel author๐๐.
Jangan lupakan selalu mengingat kan untuk mampir ke novel author yang satu ini๐๐
__ADS_1