Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Mereka Kembali


__ADS_3

Bab 112


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


"Bram.."Pekik Febi tak percaya, menatap lelaki yang kini berada di hadapan nya.


Seketika Febi langsung memeluk lelaki itu, tangis nya pun pecah.


Lelaki bertubuh tegap, dengan kulit agak kecoklatan karena terbakar sinar matahari, dengan brewok yang menghiasi wajah nya.


Tampak penampilan lelaki itu lebih dewasa dari yang Febi lihat, beberapa tahun yang lalu.


"Hmm, sekian tahun tidak bertemu, aku pikir kamu akan menjadi wanita yang kuat, tapi ternyata tetap saja cengeng.."Ejek lelaki itu, sambil membalas pelukan Febi.


"Dasar adik kurang aj*r, tidak pernah ada kabar, datang saat keadaan sedang berduka.."Febi melepas kan pelukan nya, dan memukul pelan dada lelaki itu.


Lelaki itu hanya tertawa, Febi diam memindai penampilan lelaki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kenapa, penampilan mu sekarang seperti ini.??"Tanya Febi sambil memegang wajah brewok lelaki itu.


"Bagaimana, apa penampilan aku sekarang lebih macho khan..??"Lelaki itu, bertanya balik kepada Febi.


Febi berpikir sesaat.


"Iya terlihat lebih dewasa dan maskulin, seperti nya Bali sudah mengajar kan mu banyak hal.."Jawab Ana.


"Ketenangan, itu lah yang aku dapat.."Lelaki itu berkata, sambil menghela napas.


Febi mengangguk, wajah nya yang tadi tersenyum pun berubah menjadi sendu.


"Jangan bersedih lagi, aku kembali sebagai lelaki yang jauh lebih kuat, yang bisa memberikan perlindungan kepada kakak perempuan ku.."Ucap lelaki itu, menatap lekat wajah Febi.


Febi tersentak dengan perkataan lelaki itu.


Dia kembali tidak percaya, lelaki yang dulu sangat lembek dan manja, selalu berada di ketiak papah mereka Aksa, menuruti semua keinginan Aksa, sampai tidak menghiraukan keinginan dan bakat terpendam nya sebagai seorang pelukis.


Sehingga suatu hari, ada fakta yang menyakit kan, yang mengharus kan mereka pergi meninggalkan tempat tinggal dan kelahiran mereka.


Febi memutus kan untuk menerus kan study nya ke Jerman, Sedang kan lelaki yang tak lain adalah adik kandung nya Bramantyo Sakti, memutus kan untuk hijrah ke Bali, selain untuk menenang kan diri, dia juga ingin mengasah bakat yang dia pendam selama ini.


"Aku sangat merindukan mu, kak.."Ucap lelaki itu, yang tak lain adalah Bramatyo Sakti, anak bungsu dari Aksa.


Bramantyo pun langsung memeluk Febi kembali, tentu saja membuat tangisan Febi pecah lagi.


Sedang kan Fidy dan dokter Jimmy hanya saling melempar pandang, sambil menatap Febi dan Bramantyo.


"Oh, ini yang bernama Bramantyo Sakti."Ucap Ana, dalam hati, sambil terus menatap kakak beradik yang sedang berpelukan melepas rindu.


Beberapa saat mereka berpelukan.


"Jangan menangis lagi, aku sangat menyayangi mu kak.."Bramantyo melepas kan pelukan nya dan menghapus air mata Febi.


Bramantyo, menatap ke arah Fidy, dokter Jimmy dan Ana.

__ADS_1


"Mas.."Panggil Bramantyo.


Sedang kan Fidy, dengan ekspresi cool nya, menatap penampilan baru Bramantyo.


"Sekian lama tidak bertemu, kenapa tatapan mu tidak berubah kepada ku..??"Tanya Bramantyo.


"Apa aku harus langsung percaya, jika belum ada bukti..??"Tanya Fidy, dengan senyum mengejek.


Bramantyo hanya menghela napas, dan menggeleng kan kepala nya.


"Aku akan segera membuktikan nya, tapi apa saat ini kamu tidak merindukan ku..??"Bramantyo berkata, sambil menatap Fidy penuh harap.


Fidy tertawa kecil, mendengar perkataan Bramantyo, dia pun merentangkan tangan nya, seketika tampak senyum mengembang di wajah Bramantyo, dia pun langsung menghambur ke pelukan Fidy.


"Maaf kan semua kesalahan papa ku mas.."Ucap Bramantyo, dengan suara terdengar bergetar.


"Sudah lah, kita akan membahas itu nanti.."Ucap Fidy sambil melepas kan pelukan nya, dan menepuk pelan pundak Bramantyo.


Bramantyo pun mengangguk, tatapan pun beralih ke arah Jimmy.


"Kak Jimmy.."Panggil Bramantyo.


"Hai Bram, apa kabar..??"Ucap dokter Jimmy, memeluk Bramantyo.


"Aku baik-baik saja, wah kak Jimmy sudah menjadi dokter hebat.."Puji Bramantyo, saat pelukan mereka terlepas.


"Kamu juga sekarang sudah menjadi pelukis yang hebat.."Puji dokter Jimmy.


"Karena aku pernah belajar dari sahabat sekaligus seorang guru yang hebat.."Ucap Bramantyo sambil tersenyum.


Bramantyo pun melirik ke arah Ana, kemudian menatap dokter Jimmy penuh tanya.


"Ini istri ku Bram, Ana nama nya..!!"Fidy berkata, sambil menghampiri Ana, dan merangkul pundak nya.


"Hah."Bramantyo menatap Fidy tidak percaya.


"Kenal kan sayang, ini adik bungsu ku.."Fidy berkata sambil berbisik lembut di telinga Ana.


Lagi-lagi Bramantyo di buat tidak percaya dengan perbuatan Fidy, setahu dia sosok kakak sulung nya ini adalah laki-laki yang dingin, sombong dan acuh apa lagi terhadap perempuan.


Dan sebelum kepergian nya ke Bali, setahu dia, jika wanita yang akan menikah dengan Fidy adalah Laura, anak dari rekan bisnis ayah nya, sekaligus teman sekolah Fidy.


Bahkan sebuah berita dari televisi sampai medsos, semua menyiarkan acara resepsi pernikahan Laura dan Fidy yang di gelar mewah dan besar-besaran.


"Ana.."Ucap Ana, sambil mengulur kan tangan nya, yang membuat Bramantyo tersadar dari kebingungan nya.


"Bramantyo kak.."Jawab nya gugup, sambil membalas uluran tangan Ana.


Saat tangan mereka bersalaman, Bramantyo menatap lekat wajah Ana. Dan seperti nya wajah Ana tidak asing bagi nya.


"Hai, jaga sikap dan pandangan mu terhadap istri ku.!!"Bentak Fidy, sambil melepas kan kasar tangan Bramantyo dari tangan Ana.


Bramantyo pun jadi salah tingkah, sedang kan Febi dan dokter Jimmy hanya saling melempar senyum.

__ADS_1


Wajah Ana memerah, dia tidak menyangka, dengan adik sendiri saja Fidy bisa bersikap posesif.


Tiba-tiba, seorang petugas keamanan di Mansion segera menghampiri mereka.


"Maaf tuan, nyonya, proses pemandian dan shalat jenazah tuan Aksa akan segera di mulai, pak ustadz sudah menunggu.."Ucap petugas itu.


"Baik lah, kami akan segera kesana, terimakasih.."Jawab Fidy.


"Ayo sayang.."Fidy berkata, sambil memeluk pinggang Ana, dan melangkah pergi melewati Febi, Bramantyo dan dokter Jimmy.


Lagi-lagi Bramantyo tidak percaya melihat kelakuan lembut dan mesra Fidy terhadap Ana.


"Kak.."Bramantyo berkata dengan wajah penasaran, sambil menyenggol lengan Febi.


"Nanti saja nanya, kita urus jenazah papa dulu."Ucap Febi sambil melangkah mengikuti Fidy dan Ana.


"Ayo, Bram.."Ajak dokter Jimmy.


Bramantyo pun, harus menahan rasa penasaran nya, sampai proses pemakaman selesai.


*****************


Setelah proses memandikan, mengkafani dan men shalat kan selesai, jenazah Aksa pun langsung di bawa ke pemakaman.


Proses pemakaman pun berjalan khidmat dan haru, walaupun Aksa bukan sosok ayah yang baik, tapi bagaimana pun, darah Aksa mengalir di tubuh Febi dan Bramantyo.


Tampak air mata menetes dari mata mereka, saat jenazah Aksa masuk ke liang lahat.


Begitu juga dengan Fidy, bagaimana pun dari kecil dia hidup bersama Aksa, dengan wajah sendu dan sesekali menetes kan air mata, Ana mencoba memberikan kekuatan kepada Fidy, dengan terus menggenggam jemari Fidy.


Setelah tabur bunga, dan do'a bersama yang di pimpin oleh ustadz, proses pemakaman pun selesai.


Pak ustadz, dan para pelayat pun, satu persatu meninggal kan area pemakaman.


Tinggal lah hanya Fidy, Ana, Febi dan dokter Jimmy, sedang kan Bramantyo sedang sibuk mengangkat telepon.


Tak lama, datang lah sesosok laki-laki yang memasuki area pemakaman, Bramantyo segera menghampiri nya, terlihat mereka bersalaman, dan berpelukan sebentar.


Bramantyo pun segera mengajak lelaki itu, menuju makam Aksa.


"Mas, kak, kenal kan ini sahabat ku sekaligus guru lukis ku.."Ucap Bramantyo, saat sudah sampai di makam Aksa.


Fidy, Ana, Febi dan dokter Jimmy pun langsung menoleh ke arah Bramantyo dan sahabat nya.


Ternyata...


**********


Kalau yang mengikuti setiap bab nya pasti tahu dong, siapa yang hobi melukis, selain Bramantyo.


Yang tahu komen ya 😁🤭


Jangan lupa untuk mampir ke 👇👇

__ADS_1




__ADS_2