
Bab 74
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Ana mengerjap kan mata nya berlahan, cahaya terang terasa sangat menyilaukan mata nya, dia mencoba menyesuaikan penglihatan nya, dan kembali mengumpulkan ingatan nya, menatap keadaan sekeliling ruangan di mana kini diri nya berada.
Ana mengerutkan kening nya sambil mencoba duduk dan menyandarkan tubuh nya di sandaran kasur, dia menyadari jika dia sedang berada di sebuah kamar, tapi kamar ini terasa asing bagi nya, dia yakin ini bukan kamar nya di rumah Fidy.
Ana mencoba mengumpulkan ingatan nya, sambil memijit pelipis kepala nya, karena dia merasakan kepala nya yang sedikit pening.
"Malam itu, aku pamit kepada bi Minah untuk tidur..."Gumam Ana, dengan terus mencoba mengumpulkan ingatan nya.
"Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati ku saat aku terlelap, setelah itu aku langsung tidak sadar..."Gumam Ana lagi.
Saat Ana sibuk dengan ingatan nya, tiba-tiba pintu kamar nya terbuka, tampak sesosok wanita cantik yang sangat di kenal nya, membawa nampan berisikan semangkok bubur dan segelas susu, beserta segelas air putih.
Ana terpaku tidak percaya, melihat sosok wanita yang kini berada nyata di hadapan nya.
"M..mama..."Ucap Ana terdengar dengan suara bergetar, dan tatapan tidak percaya,
Wanita itu tersenyum manis pada Ana, meletakkan nampan nya di atas meja, yang berada di sebelah ranjang yang di tiduri Ana.
Wanita itu pun mendekati Ana, dan duduk di pinggir kasur, mata nya tampak berkaca-kaca menatap ke arah Ana, ada kerinduan yang terpendam di mata itu.
"Kamu sudah sadar nak..."Wanita itu berkata dengan tangan yang ingin menyentuh wajah Ana.
Ana pun langsung menghindari tangan wanita itu, masih dengan tatapan tidak percaya nya menatap sesosok wanita yang berada di hadapan nya.
Ingin sekali dia memeluk wanita itu, karena rasa rindu nya, tapi luka dan kekecewaan di hati nya tidak mengijinkan.
Air mata pun langsung lolos, membasahi wajah wanita cantik itu,walaupun usia nya sudah tidak muda lagi.
"Aku tahu, saat kamu mengetahui kenyataan yang sebenar nya, pasti kamu sangat membenci kami..."Wanita itu berkata dengan suara parau, sambil mengusap air mata nya yang terus mengalir.
"Apa maksud dari semua ini...??"Tanya Ana dengan suara meninggi, menatap wanita di hadapan nya, wanita yang telah menemani nya selama 22 tahun.
__ADS_1
Walaupun wanita ini masih terlihat aura kecantikan nya, tapi penampilan nya jauh berbeda saat mereka masih bersama.
Tidak terlihat lagi barang-barang berharga yang menempel di tubuh nya, pakaian yang di pakai nya tampak sangat sederhana tanpa ada merk branded yang selalu menyertai pakaian nya.
Wajah nya pun sudah tidak se glowing dulu, tidak terlihat lagi make up mahal yang menyempurnakan kecantikan nya, hanya wajah cantik alami yang ada di hadapan Ana.
"Apa yang terjadi pada nya.??"Baru beberapa bulan tidak bertemu dengan nya, kenapa banyak sekali perubahan pada diri nya..??."Tanya Ana dalam hati, sambil menatap lekat wanita di depan nya.
Ana terus memperhatikan wanita yang sedang menangis di depan nya, tampak badan nya lebih kurus, dengan lingkaran menghitam di bawah mata nya, menandakan jika wanita itu terlalu lelah dan kurang istirahat.
"Kami sudah menerima hukuman atas perbuatan kami kepada mu An, dan kepada keluarga Satria..."Ucap wanita lirih, masih terus terisak.
"Kenapa aku bisa ada di sini.??"Permainan apa lagi ini...??"Tanya Ana, tanpa mengalihkan tatapan nya pada wanita di depan nya.
Ada perasaan sakit, saat melihat air mata yang terus berlinang membasahi wajah nya, wanita yang selalu memberikan pelukan dan belaian nya, walau pun tidak setiap saat, karena kesibukan nya sebagai wanita karir dan sosialita.
"Wira yang membawa mu kesini..."Ucap wanita itu lirih.
"Wira...??"Tanya Ana kaget.
"Setelah kamu kenyang, kamu akan tahu kenapa Wira bisa membawa mu sampai kesini..."Wanita itu berkata, sambil memberikan satu sendok bubur ke mulut Ana.
"Aku tidak lapar.."Ucap Ana sinis, sambil menghalau sendok dengan tangan nya, saat sendok itu mendekati mulut Ana.
Ada guratan kesedihan dan kekecewaan di mata sembab wanita itu, tapi dia tetap berusaha tersenyum, karena dia sudah memperkirakan jika Ana pasti sangat membenci nya.
"Aku membuat bubur ini spesial untuk mu An.."Ucap wanita itu lirih.
"Kamu ingat ga..?-?"saat kamu merengek minta di buat kan bubur dulu, tapi bubur itu malah hangus dan keasinan, dengan semangat kamu menghabiskan nya dengan lahap, kamu bilang itu bubur terenak yang pernah kamu makan..."Wanita itu tersenyum bahagia, sambil membayangkan masa lalu nya bersama Ana.
"Dan lihat, bubur ini terlihat jauh lebih baik, bentuk nya, rasa nya, bahkan aroma kaldu nya sangat harum tercium..."Wanita itu berkata, sambil memperlihatkan bubur yang bentuk nya sempurna, dengan wangi kaldu yang menggoda selera Ana, apa lagi cacing di perut Ana sudah meronta.
Tapi saat Ana mengingat kenyataan yang sudah terjadi, membuat dada nya begitu sesak, luka yang sudah mulai tertutup kini terbuka lagi.
"Cicipi lah, walau hanya sedikit.."Ucap wanita itu , dengan wajah memohon.
__ADS_1
Ana tidak menjawab, dia memalingkan wajah nya.
"Baik lah, aku akan keluar, tapi tolong jangan sampai tidak di makan, nanti kamu sakit, jangan lupa susu nya juga di minum..."Wanita itu berkata dengan wajah kecewa, dan meletakkan mangkok kembali ke atas meja.
Dengan wajah sedih, wanita itu pun beranjak dari tempat tidur, dan dengan langkah gontai dia pun meninggalkan kamar yang di tiduri Ana.
Saat sudah menutup pintu, wanita itu pun kembali menangis terisak, sambil berlari memasuki kamar lain di rumah itu.
Sepeninggal wanita yang sangat di benci sekaligus di rindukan nya itu, lolos lah kristal bening yang dari tadi di tahan Ana.
"Aku tidak tahu harus bahagia atau marah, apa aku masih pantas menganggap apa lagi memanggil nya mamah..."Isak Ana.
"Saat aku sudah ikhlas dan menerima semua kenyataan ini, kenapa harus ada pertemuan lagi..."Ana berkata, dengan dada yang semakin terasa sesak.
Hampir setengah jam Ana menangis, tiba-tiba suara nyaring di perut nya membuat nya tersadar, dengan kepala sedikit pening, karena menahan rasa lapar.
Ana menoleh ke meja di samping nya, dan segera meraih segelas susu yang sudah tidak hangat lagi, dan segera meminum nya sampai tandas, terasa sangat enak, dan menyegarkan tenggorokan dan perut nya.
Ana pun segera meraih semangkok bubur yang tadi di tolak nya, penampilan dan aroma kaldu bubur itu begitu menggoda perut nya.
Ana segera menyendok bubur itu dan memasukkan ke mulut nya, seketika Ana terperanjat kaget dengan indra perasa nya.
"Kenapa bubur ini nikmat sekali, apa benar ini buatan dia...??"Tanya Ana pada diri sendiri.
Karena Ana sangat tahu, jika wanita yang selama ini di panggil nya mamah itu, sama sekali tidak bisa memasak, karena memasak bagi nya sangat menyusahkan, hanya membuat kuku, kulit dan wajah nya menjadi rusak.
Untuk sesaat Ana tidak peduli dengan pikiran nya, dengan lahap dia menghabiskan semangkok bubur itu, walaupun sudah dingin tapi bubur itu tetap kenyal dan tak berair, apa lagi dengan rasa nya yang sangat nikmat.
Sementara di sebuah kamar, sosok wanita itu sedang menangis tersedu-sedu di lengan seorang lelaki setengah baya, dengan keadaan yang sudah tak berdaya, hanya buliran bening yang keluar dari sudut mata nya.
****************
Maaf baru up, kemarin jadwal padat merayap.
Jangan lupa untuk mampir ke novel yang juga menguras air mata 👇
__ADS_1