
bab 96
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "
Prang...
nampan yang berisi 3 gelas wedang jahe panas yang sedang berada di tangan bi Minah pun, langsung jatuh ke lantai, yang menyebabkan tiga gelas itu pecah berkeping-keping.
Bi Minah, tanpa sadar langsung melepaskan nampan itu, saat mendengar berita mengejutkan tentang Wira.
Bi Minah menggeleng kan kepala nya sambil menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya, dia tidak percaya dengan apa yang di dengar nya, air mata pun sudah deras membasahi wajah nya.
"Bi Minah.."Teriak Ana dan Febi bersamaan.
Mereka pun langsung menghampiri bi Minah.
Febi langsung memeluk tubuh bi Minah, sedang kan Ana langsung memeriksa kaki bi Minah yang terkena siraman dari wedang panas yang di bawa bi Minah sendiri.
"Feb, kamu bawa bi Minah untuk duduk di bangku, dan tolong kamu obati kaki nya, biar saya bersih kan lantai nya.."Ucap Ana dengan wajah penuh khawatir.
"Baik kak.."Febi segera memapah bi Minah untuk duduk di meja makan.
"Jangan kamu yang membersihkan sayang, biar aku panggil mang Ujang.."Cegah Fidy, yang langsung meraih ponsel nya, untuk menghubungi mang Ujang.
"Tidak apa-apa mas, ini hanya sedikit ko.."Jawab Ana yang akan melangkah mengambil sapu.
"Wiana Maharani..!!!"Suara Fidy terdengar lebih tinggi dengan penuh penekanan, membuat Ana berhenti melangkah.
Ana menghela napas, dengan wajah cemberut, Ana mengurung kan niat nya, dia melangkah ke meja makan menghampiri Febi dan bi Minah.
Fidy menghubungi mang Ujang melalui ponsel nya, dengan menatap tajam ke arah Ana.
Tampak Febi sedang mengoleskan gel khusus untuk luka bakar di kaki bi Minah, sedang kan bi Minah masih terus menangis, tampak pundak nya berguncang hebat.
"Bi.."Panggil Ana lembut, menyentuh pundak bi Minah.
Mang Ujang yang baru saja tiba di dapur, terkejut melihat pecahan gelas di lantai, dan bi Minah yang sedang menangis terisak, di temani Ana dan Febi.
"Tolong bersih kan pecahan gelas ini mang, setelah itu kita berangkat ke rumah sakit.."Perintah Fidy.
Mang Ujang tidak banyak bertanya, dia hanya mengangguk dan langsung membersihkan pecahan gelas.
"Tuan, saya ikut.."Bi Minah berkata dengan suara bergetar.
Fidy yang berniat ke kamar untuk bersiap-siap, langsung menghentikan langkah nya.
Dia menoleh, menatap wajah bi Minah yang penuh air mata.
Kemudian tatapan nya beralih ke Ana.
Ana tersenyum dan mengangguk, sebagai tanda agar Fidy menyetujui permintaan bi Minah.
Kalau sudah Ana yang meminta, mana bisa Fidy menolak, dia pun membalas senyuman dan anggukkan Ana.
__ADS_1
"Aku akan menemani bibi.."Ana berkata, sambil mengelus lembut pundak bi Minah.
"Terimakasih nyonya.."Ucap bi Minah dengan suara parau.
"Aku juga mau ikut, masa aku di tinggal sendirian di rumah.."Febi merajuk, menatap Fidy dan Ana bergantian.
Baru saja Fidy ingin bicara, tetapi Ana sudah memotong nya terlebih dahulu.
"Iya Feb, kita akan bersama menemani bi Minah.."Ana berkata, sambil tersenyum.
"Kalau begitu, ayo kita siap-siap bi.."Ucap Febi, sambil membantu bi Minah berdiri.
Bi Minah pun segera berdiri, dan melangkah dengan gontai di bantu oleh Febi meninggalkan dapur.
"Ayo mas, kamu siap-siap.."Ucap Ana, langsung menghampiri Fidy, dan tanpa sadar menggenggam jemari Fidy, dan membawa nya meninggalkan dapur.
Fidy yang awal nya terkejut, kini tersenyum bahagia karena perlakuan Ana.
"Aku seperti nya menjadi suami yang paling bahagia,.punya istri seperti mu An.."Fidy berkata dalam hati, dengan senyum bahagia nya.
Sesaat Fidy melupakan tentang pembunuhan Wira.
Ana tersadar dengan tingkah laku nya, saat mereka sudah tiba di depan kamar Fidy.
"M..maaf mas.."Ucap Ana dengan wajah merona merah.
Saat Ana ingin melepaskan genggaman tangan nya, tapi Fidy justru menarik nya, sehingga tubuh Ana berada di pelukan nya.
Ana membalas pelukan Fidy, dia merasakan kenyamanan dan kehangatan saat kepala nya bersandar di dada Fidy.
"Seperti nya rasa cinta ku juga sudah tumbuh untuk mu mas.."Ucap Ana juga dengan suara lirih.
"Benar kah sayang..??"Tanya Fidy, sambil melepaskan pelukan nya, dan menatap lekat bola mata Ana.
"Terimakasih ya mas."Ucap Ana sambil tersenyum.
"Untuk..??"Tanya Fidy, dengan tatapan hangat nya.
"Sudah membolehkan bi Minah ikut.."Ana berkata, sambil memberikan senyum ter manis nya.
"Apa pun yang kamu minta, selama aku mampu pasti aku berikan.."Fidy membelai lembut rambut Ana.
"Ya sudah mas siap-siap, kita akan segera berangkat.."Ucap Fidy lembut.
"Iya mas ."Jawab Ana sambil mengangguk.
"Atau kamu mau menemani mas ganti pakaian..??"Bisik Fidy, dengan senyum smirk.
"Ish, mas ini.."Ucap Ana, sambil mendorong kuat tubuh Fidy, yang hampir tak berjarak, sehingga sedikit menjauh dari tubuh nya.
Ana pun segera berlari menuju kamar nya, Fidy hanya tersenyum bahagia, melihat ketakutan Ana.
Setelah Ana tak terlihat,. senyuman Fidy berubah menjadi amarah dan penuh kesedihan.
__ADS_1
Dia marah dengan semua pembunuhan yang terjadi, tapi dia juga sangat sedih, karena cepat atau lambat akan melepas kan Ana.
"Seharus nya pagi ini adalah pagi yang penuh kebahagiaan buat ku, karena kamu mulai mencintai ku An.."Ucap Fidy dengan wajah yang berubah sendu.
"Dasar bajing**, seperti nya kamu ingin kita mengakhiri semua ini dengan cepat..!!"Geram Fidy, tatapan sendu berubah menjadi kilatan penuh amarah.
Dia pun segera, masuk ke kamar nya untuk mengganti pakaian nya.
************
Tak selang berapa lama, mereka pun sudah berada di dalam mobil, Fidy duduk di bangku depan di samping mang Ujang yang sedang menyetir.
Sedang kan bangku belakang di duduki oleh Ana, bi Minah dan Febi.
Mobil pun melaju membelah jalan raya, menuju rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit, mereka melangkah menuju ruang operasi.
Dan sesampainya di ruang operasi, tenyata jenazah Wira sudah selesai di autopsi.
Dengan ijin dari rumah sakit, mereka pun di lihat kan jenazah Wira yang sudah membengkak biru, dan banyak bekas jahitan karena autopsi.
"Wira.."Teriak bi Minah sambil memeluk jenazah Wira.
Fidy, Ana, Febi, Dokter dan perawat pun hanya menatap sendu ke arah bi Minah, tanpa berkata sepatah kata pun.
Sampai saat ini, mereka belum mengetahui apa sebenar nya hubungan bi Minah dan Wira.
Mereka enggan mencari tahu, karena masih suasana duka yang menyelimuti.
Ana dan Febi juga ikut menangis melihat bi Minah yang meraung-raung di atas jenazah Wira.
"Wira, bangun nak, jangan tinggal kan ibu.!!!"
Deg.....
***************
Ibu..???
Ayo apa maksud bi Minah..??
Apakah cinta Fidy dan Ana, akan tumbuh subur.???
Simak terus di setiap bab nya.
Maaf baru up, kemarin kerja nya sibuk sampai malam, jadi belum sempat nulisπ.
Ayo ramai kan juga dua novel author, yang sudah tamat dan baru πππ
__ADS_1