Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Tatapan bi Minah


__ADS_3

Bab 101


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"


Deg..


Bi Minah diam membisu, tenggorokan terasa kering, dia berusaha menelan saliva nya, dan wajah nya tampak memucat.


Ayu mengetahui ketegangan bi Minah.


"Saya dan kak Wira adalah anak dari bi Minah nyonya.."Ayu mencoba meyakinkan Ana, dia pun merangkul pundak bi Minah.


"Tapi, bukan nya bi Minah, sudah merawat Febi dari kecil.??"Tanya Ana, dengan tatapan heran nya, sambil mengerut kan kening nya.


Bi Minah langsung gugup dengan pertanyaan Ana, wajah nya semakin memucat, dia takut sekali jika kenyataan yang sebenar nya akan terungkap.


"Karena, ibu harus menghidupi kami, setelah ayah kami meninggal.."Sela Ayu, sambil menggenggam jemari bi Minah, mencoba untuk menguat kan dan menenang kan wanita paruh baya di sampig. nya.


Ana menghela napas, entah lah pernyataan Ayu membuat nya sedih, seperti ada kekecewaan jauh di relung hati nya.


Bi Minah menunduk, tidak berani menatap wajah Ana, yang tiba-tiba berubah sendu.


Fidy yang tahu kegundahan hati Ana, langsung merangkul dan mengelus lembut pundak Ana.


Ana menoleh ke arah Fidy, dan memberi kan sebuah senyuman, sebagai tanda jika dia baik-baik saja.


Pak Basir, hanya bisa menatap orang-orang di hadapan nya, dan dia menduga pasti ada rahasia besar di balik semua nya.


"Untuk sementara pembahasan nya, sampai di sini dulu, biar saya pelajari lebih lanjut bukti-bukti yang nanti nona Ayu berikan kepada saya."Pak Basir berkata, sambil merapikan berkas-berkas.


"Baik lah, kita akan bertemu nanti di pengadilan.."Ucap Fidy sambil mengajak Ana berdiri.


Tatapan nanar Ana, masih tertuju ke arah bi Minah dan Ayu.


"Saya berjanji, akan menangani kasus ini dengan sungguh-sungguh, sekaligus membongkar semua kejahatan yang sudah tersusun sangat rapi,. selama bertahun-tahun.."Pak Basir berkata, sambil berdiri dan mengulur kan tangan pak Fidy.


"Terimakasih atas waktu dan kerja sama nya pak Basir.."Jawab Fidy, sambil membalas uluran tangan pak Basir.


"Saya yang sangat berterimakasih, karena pak Fidy telah memberikan kepercayaan kepada saya.."Balas pak Basir, sambil membungkuk hormat.


Fidy menjawab dengan anggukan.


Mereka pun keluar dari ruangan khusus kepolisian.


Saat keluar bi Minah pun langsung di hampiri para petugas kepolisian.


Ayu langsung memeluk bi Minah sambil menangis.


"Tuan, nyonya bisa kah saya menitip Ayu kepada kalian.??"Ucap bi Minah dengan suara parau, mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata.


Fidy hanya mengangguk, sambil menatap ke arah mereka.


Sedangkan Ana hanya diam mematung menatap ke arah bi Minah dan Ayu, entah kenapa perasaan Ana terasa sedih melihat kedekatan Ayu dan bi Minah.


Ada nyeri yang terasa di dada nya.


Entah kenapa, dia juga ingin sekali memeluk tubuh bi Minah. berbagai macam pertanyaan berputar di kepala nya.


Berlahan bi Minah melepas kan pelukan nya dari Ayu, mencium kening nya, kemudian mengangguk ke arah Fidy dan pak Basir.


Mereka pun membalas anggukan bi Minah.


Saat tatapan nya bertemu dengan Ana, terlihat mata yang menyimpan sesuatu, yang tidak bisa di ungkap kan lewat kata-kata.


Bi Minah pun berjalan menunduk, menuju sel tahanan di ikuti oleh dua orang petugas kepolisian.

__ADS_1


"Tuan, nyonya, boleh kah saya tinggal di rumah tuan, saya tidak ingin kembali ke Mansion.."Ucap Ayu, dengan suara bergetar.


Ana melangkah mendekati Ayu, yang membuat Fidy melepas kan rangkulan nya.


Fidy hanya bisa menatap punggung Ana, yang ber jalan mendekati Ayu.


"Kamu pasti akan mengetahui kebenaran itu, sayang.."Fidy berkata dalam hati, sambil melempar pandang dengan pak Basir.


"Jangan khawatir dan sedih lagi Ayu, kami akan bersama mu.."Ucap Ana lembut, sambil menyentuh pundak Ayu.


"Ayo, kita pulang sekarang, kamu harus istirahat.."Ajak Ana, sambil merangkul pundak Ayu.


"Terimakasih nyonya Ana.."Ucap Ayu.


Ana hanya menjawab dengan sebuah senyuman.


Mereka pun, pergi meninggal kan kantor polisi, dan langsung menuju kediaman Fidy.


****************


Tak lama mereka pun sampai di rumah mewah Fidy, Ana langsung mengajak Ayu turun.


Saat sampai di teras rumah, mereka langsung di sambut oleh Febi.


"Hai, Ayu.."Sapa Febi ramah.


"Nona.."Jawab Ayu, sambil mengangguk ke arah Febi.


"Hai, nama ku Febi bukan nona.."Febi berkata, sambil tertawa lepas.


Ana tersenyum melihat Febi, wanita cantik yang ramah dan tidak sombong, walau pun kaya dan tinggal di luar negri.


"Betapa beruntung nya, laki-laki yang bisa memiliki nya.."Gumam Ana dalam hati, sambil menatap lekat Febi yang sedang tertawa lepas.


"Ayu, kamu akan menempati kamar bi Minah.."Ucap Ana.


"Jangan panggil aku nyonya, panggil kakak saja."Pinta Ana.


"T..tapi.."Belum sempat Ayu menerus kan ucapan nya, Ana langsung menyela.


"Saat kita bertemu di Mansion, bagi ku, kamu bukan seorang pelayan, tapi kamu seperti adik ku."Sela Ana, sambil tersenyum hangat kepada Ayu.


Melihat bi Minah yang sangat menyayangi Ayu, Ana merasa kan sesuatu yang berbeda.


"Iya, kamu juga bisa memanggil aku kakak, seperti nya usia mu lebih muda dari aku.."Timpal Febi.


Ayu tidak bisa mengeluar kan kata-kata, dia tidak menyangka jika diri nya sangat di terima baik di rumah Fidy.


Hati Ayu, terasa bergetar hebat, saat Febi juga meminta nya untuk memanggil Kakak.


"Seandai nya dia tahu, siapa aku sebenar nya, apa dia masih bersedia di panggil kakak.."Batin Ayu, sambil menatap nanar wajah cantik Febi.


"Lebih baik kamu mandi Yu, setelah ini kita akan makan bersama.."Ucap Ana, yang menyadari tatapan Ayu yang penuh arti ke arah Febi.


"Ayo, Ayu biar aku antar ke kamar bi Minah.."Febi berkata, sambil menggandeng lengan Ayu.


Seperti seorang sahabat dekat, bahkan terlihat seperti seorang kakak yang menggandeng tangan adik nya.


Ayu yang terlihat kaget dan gugup pun mengikuti langkah Febi, sambil mengangguk ke arah Fidy dan Ana.


"Dari kecil memang seperti itu sifat Febi, sangat friendly.."Ucap Fidy, yang tahu jika Ana mengagumi Febi, sambil memeluk pinggang Ana dari belakang.


Ana yang tersadar dari kekaguman nya pada Febi pun, terlihat kaget dab gugup, saat merasakan pelukan Fidy di pinggang nya.


Apa lagi kini wajah Fidy sangat dekat, dan nyaris tidak ada jarak di samping wajah nya, hembusan napas hangat Fidy pun sangat terasa di telinga Ana.

__ADS_1


"I..iya, Febi wanita yang sempurna.."Ucap Ana gugup, dengan pelan melepas kan tangan Fidy dari pinggang nya.


Fidy pun tidak menguat kan pelukan nya, sehingga tangan nya langsung terlepas dari pinggang Ana.


"M..mas, maaf, a..aku mau mandi, setelah itu akan masak untuk makan kita bersama.."Ucap Ana lagi, yang masih terlihat sangat gugup.


"Aku juga ingin mandi, kenapa kita tidak mandi bersama..??"Tanya Fidy menggoda.


"Mas.."Jawab Ana, dengan wajah memerah, dan menggigit bibir bawah nya.


Fidy pun tertawa lepas melihat ekspresi Ana.


"Kamu selalu membuat aku gemas sayang.."Bisik Fidy di telinga Ana.


"Mas.."Ucap Ana lagi, mencoba menjauhi telinga nya dari bibir Fidy.


Lagi-lagi Fidy tertawa nelihat ekspresi Ana.


"Ya sudah kamu mandi sayang, tidak perlu masak, aku sudah pesan makanan.."Ucap Fidy, sambil mengacak pelan puncak kepala Ana.


Kemudian mencium kening nya, dan berlalu meninggal kan Ana, menuju kamar nya.


Tentu saja perlakuan Fidy, membuat Ana kaget.


"Ish, laki-laki ini.."Desis Ana, sambil memegangi dada nya, yang terasa berdetak sangat kencang.


Sementara itu Febi dan Ayu sudah sampai di kamar bi Minah.


"Silah kan Yu.."Febi membuka pintu kamar bi Minah, menyuruh Ayu untuk masuk


"Terimakasih nona, eh kak Febi."Ucap Ayu, saat melihat Febi yang melotot ke arah nya saat dia memanggil nya dengan sebutan nona.


Febi yang juga belum pernah masuk ke kamar bi Minah, mulai melihat-lihat keadaan kamar tersebut.


Terlihat tempat tidur dengan ukuran yang cukup untuk satu orang, lemari, dan sebuah cermin panjang yang bisa melihat seluruh tubuh saat ber cermin.


Tiba-tiba Febi mengerut kan kening nya, saat menatap pantulan diri nya di cermin.


"Ayu, cepat kesini.."Pinta Febi pada Ayu.


Ayu pun segera mendekati Febu, terlihat jelas wajah dan tubuh mereka di cermin.


Febi semakin mengerut kan kening nya.


"Yu, coba kamu lihat, kenapa wajah kita agak mirip ya..??"


Deg...


******************


Hmm...ada rahasia apa lagi ya..???


Apakah kejahatan Aksa akan terungkap..???


Bagaimana dengan hubungan Fidy dan Ana..???


Bab selanjut nya siap meluncur.


Pemberitahuan:


Untuk Novel "Penyesalan Zaidan" Aurhor ganti cover, karena tidak sesuai dengan peraturan noveltoon.


Yuk lanjut baca dan mampir 👇👇


__ADS_1



__ADS_2