Jodoh Tak Pernah Salah Memilih

Jodoh Tak Pernah Salah Memilih
Ana dan Febi


__ADS_3

Bab 93


"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih "


Wajah Febi seketika berubah menjadi sendu, mendengar pertanyaan Ana.


"Mamah kami meninggal, saat anak menyebalkan itu baru berusia 6 bulan.."Febi berkata, dengan wajah menengadah, menatap ke atas langit-langit dapur.


"Maksud mu Bramantyo...??"Tanya Ana hati-hati.


"Iya, memang nya siapa lagi adik kami..."Ana berkata dengan wajah semakin sendu


Tapi kemudian wajah sendu nya betubah menjadi ceria kembali.


"Sudah lah kakak ipar, kita jangan cerita yang sedih-sedih, hidup itu harus berjalan dengan penuh semangat.."Ucap Febi dengan senyum ceria nya.


Ana mengangguk dan tersenyum, mereka meneruskan acara masak mereka.


Sementara Fidy dan dokter Jimmy, tampak sibuk dengan file yang di kirim ke email nya, yang berisi data-data tentang kejahatan Aksa.


"Lo yakin bro, akan segera membongkar kejahatan papah lo sendiri.."Tanya dokter Jimmy, dengan suara pelan, karena jarak mereka dengan Ana dan Febi yang sedang sibuk memasak, tidak terlalu jauh.


"Dia bukan papah gw.."Tegas Fidy, sambil terus memperhatikan file-file yang di baca nya lewat email.


"Trala...., masakan super duper nikmat sudah siap..."Teriak Febi tiba-tiba, dengan senyum dan wajah yang sangat ceria.


Fidy dan dokter Jimmy pun kaget, dan segera menghentikan aktivitas mereka.


"Wah, ternyata ga salah aku dapat calon istri seperti kamu.."Dokter Jimmy berkata, sambil menghampiri Febi yang sedang berdiri di depan meja makan, dan langsung merangkul pundak Febi.


"Aish, dokter yang sangat di kagumi kaum wanita, ternyata punya hoby nempel kayak perangko.."Protes Febi, sambil melepaskan tangan dokter Jimmy dari pundak nya.


"Sudah, jangan terlalu banyak drama, aku sudah lapar.."Ucap Fidy, yang langsung duduk di kursi meja makan.


Ana tersenyum manis ke arah Fidy.


"Kamu mau makan apa mas..??"biar aku ambil kan..."Tanya Ana lembut, sambil mengambil piring.


"Semua masakan mu mas mau makan, termasuk kamu mas juga mau makan..."Fidy berkata dengan sangat lembut dengan tatapan hangat nya.


"Ihh, mas Fidy apaan sie..."Jawab Ana tersipu malu, dengan wajah bersemu merah.


"Hmm, kenapa dua laki-laki ini sangat mesum sie.."Gerutu Febi, sambil menghempaskan pantat nya di kursi meja makan.


"Di luar sana, banyak wanita yang ingin kami mesumin sweetie.."Ucap dokter Jimny, sambil duduk di sebelah Febi, yang sedang memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Cepat lah, kalian mencari pasangan yang halal, biar bucin kalian bisa tersalur kan.."Ucap Fidy sambil tertawa menatap ke arah Febi dan dokter Jimmy.


Dokter Jimmy dan Febi, hanya mencibir dengan wajah cemberut mendengar perkataan Fidy.


"Mas.."Ana mengingatkan Fidy, dengan wajah tidak enak melihat wajah dokter Jimmy dan Febi yang terlihat bete.


"Kakak ipar, pakai ramuan apa sie, bikin mamas ku yang duper duper cuek ini, bertekuk lutut banget..."Tanya Febi, ingin tahu.


"Cinta itu datang dengan tiba-tiba tanpa permisi Feb.."Jawab dokter Jimmy sambil memasukkan sesendok nasi beserta lauk ke mulut nya.


"Ish, aku khan nanya nya ke kak Ana.."Febi berkata dengan wajah kembali cemberut, sambil juga memasukkan sesendok nasi beserta lauk ke mulut nya.


"Amazing, masakan kak Ana benar-benar lezat.."Teriak Febi, sambil memasukkan kembali satu sendok besar nasi dan lauk ke mulut nya.


"Iya An, masakan kamu benar-benar lezat banget, bersyukur banget nie si Fidy dapatin kamu..."Dokter Jimmy berkata, dan dengan semangat mengunyah makanan di mulut nya.


"Syukur, jika kalian suka.."Ucap Ana tersenyum, melihat ke arah Febi dan dokter Jimmy, yang sedang lahap menyantap masakan nya.


Menurut Ana, Dokter Jimmy sangat cocok dengan Febi, dia tidak menyangka, jika Febi wanita yang kecantikan nya sempurna ini adalah adik ipar nya.


"Tidak, bukan hanya aku kakak ipar nya, tapi ada Laura juga.."Ana berkata, sambil menggelengkan kepala nya.


"Hai sayang, kamu kenapa..???"Tanya Fidy lembut, sambil menyentuh lengan Ana.


"Ga pa pa ko mas..."Jawab Ana, sambil menggigit bibir bawah nya.


"K...kamu ga makan mas...??"Tanya Ana gugup dan malu, karena wajah Fidy yang sangat dekat, menatap wajah nya lekat.


"Aku khan nunggu di suapin sama kamu sayang.."Jawab Fidy, dengan hembusan napas yang ssngat terasa di telinga Ana, karena hampir saja mereka tidak ber jarak.


Ana semakin gugup dan malu, karena di depan mereka ada Febi dan dokter Jimmy.


Walaupun mereka sedang menikmati makan, tapi sesekali mereka mencuri pandang ke arah Fidy dan Ana.


"Sayang, aku sudah lapar.."Bisik Fidy kembali di telinga Ana, yang sukses membuat nya panas dingin.


Ana mengangguk.


Ana pun segera mengambil sendok yang di isi dengan nasi dan lauk, dengan tangan bergetar satu sendok nasi pun dia dekat kan ke mulut Fidy, sambil menahan jantung nya yang berdebar sangat kencang karena ulah Fidy, dan malu dengan Febi dan dokter Jimmy.


Satu sendok nasi beserta lauk pun berhasil sukses masuk ke dalam mulut Fidy.


Sambil mengunyah makanan nya, Fidy segera mengambil sendok, mengisi nya dengan nasi beserta lauk nya, dan segera memasukkan nya ke mulut Ana.


Awal nya Ana ingin menolak, tapi dia tahu Fidy akan memaksa, dan kebetulan cacing di dalam perut nya sudah meronta-ronta minta jatah.

__ADS_1


Mereka pun makan dengan saling menyuapi, dokter Jimmy dan Febi hanya menggeleng kan kepala mereka, sambil terus menikmati masakan Ana.


Akhir nya makan malam pun selesai.


Ana meminta Febi menginap saja, dan tidur bersama nya, selain menjadi teman ngobrol nya, Ana juga ingin mencari tahu tentang masa lalu yang menimbulkan dendam, dan di mana orang tua nya sekarang, masih hidup atau sudah tiada.


"Lho, ka Ana tidak tidur bersama mamas...??"Tanya Febi penasaran.


"Mmm.."Ana bingung untuk menjawab, dia menggaruk tekuk yang tidak gatal.


"Mereka tidur terpisah, maka nya mereka belum..."Dokter Jimmy tidak melanjutkan kata-katanya, karena mendapatkan Fidy sedang melotot ke arah nya.


Febi mengerut kan kening nya, sedang kan Ana menunduk dengan wajah memerah.


"Apa kalian belum melakukan ritual suami istri...?"Tanya Febi kepo.


"K..kami..!! Jawab Ana.


"Jangan membuat istri ku tidak nyaman, Ema..!!"Hardik Fidy.


( Fidy selalu memanggil Febi dengan sebutan Ema, karena sama dengan panggilan kesayangan mendiang mamah nya semasa hidup nya ).


"Maaf mas, aku khan hanya kepo aja..."Jawab Febi dengan wajah bete.


Febi tidak menyangka, jika kalau sudah bucin dengan seseorang, abang nya akan menjadi laki-laki yang sangat posesif.


"Menurut aku, lebih baik kamu tidur di sini saja, dari pada nginep di hotel.."Ucap dokter Jimmy, dengan tatapan hangat ke arah Febi.


"Good idea..."Ucap Febi, dengan wajah sumringah.


"Tapi benarin nie, jika aku tidur nya dengan kakak ipar..??"Tanya Febi, menatap bergantian antara Ana dan Fidy.


Ana pun tersenyum dan mengangguk, tentu saja Ana bahagia karena bisa ngobrol dengan Febi, yang akan mengorek informasi sebanyak-banyaknya.


**********


Maaf ya baru upπŸ™


Bisa kah Ana mendapatkan info dari Febi...??"


Jangan lewat kan bab berikutnya.


Jangan lupa mampir ke novel author yang tamat


dan NewπŸ‘‡πŸ‘‡

__ADS_1




__ADS_2