
Bab 38
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
Deg....
Wajah bi Minah seperti nya tidak asing bagi Ana,,wajah nya sangat familiar mengingat kan nya dengan seseorang,tapi Ana belum yakin.
"Ada apa dengan wajah saya Nyonya..?"Kenapa menatap saya seperti itu..??"Tanya bi Minah menatap tak mengerti ke wajah Ana.
"Oh,engga ko bi,,wajah bibi ko mengingat kan saya kepada seseorang ya..."Jawab Ana sambil tersenyum.
"Ya sudah lebih baik Nyonya rapikan diri, jangan sampai tuan lebih dulu datang.."Perintah bi Minah.
"Memang ada apa dengan wajah dan penampilan ku..??"Tanya Ana sambil memegang wajahnya dan memindai penampilannya, serta mencium aroma ketiaknya.
bi Minah hanya tersenyum melihat kelakuan Ana
"Aku kan tadi sudah mandi bi sebelum masak, dan baju Aku juga masih wangi nie ..."jawab Ana bingung sambil kembali menciumi baju yang di pakai nya.
"Saya sudah pernah bilang ke Nyonya kalau memanjakan suami itu ibadah apalagi di luar sana banyak wanita cantik..."Jawab bi Minah.
"Dan berdandan di depan suami salah satu ibadah Nyonya, jangan sampai di depan suami seperti topo dapur, di depan orang lain dandan seperti artis tetapi di depan suami..."Ucap bi Minah sambil menggelengkan kepala nya.
"Tapi tergantung suami nya bi...!"Ucap Ana menatap bi Minah, menandakan suatu protes.
"Kalau suami ingin istri nya tampil cantik, dia harus memberikan uang yang lebih, setidaknya untuk skin care nya, untuk memanjakan diri nya, kalau istilah sekarang mah me time untuk istri bi.."Ucap Ana dengan wajah yang mulai kesal.
"Tapi kenyataannya, sekarang itu banyak banget suami yang menuntut istri untuk tampil sempurna, tapi kalau ngasi uang belanja pas-pasan bahkan kurang,, dengan seenaknya berkata istri ku tidak bisa merawat diri, boros lah.,dan membandingkan nya dengan wanita lain...!!!!"Ana berkata dengan wajah yang semakin kesal.
"Enak banget sih jadi lelaki..!!!" Ana berkata lagi sambil melangkah pergi dengan bibir yang cemberut, tanpa mau tahu respon dari bi Minah.
Sedangkan bi Minah hanya tersenyum lagi mendengar perkataan Ana, dan kembali melanjutkan pekerjaan nya saat Ana meninggalkan dapur.
Ana berjalan sambil mengumpat kesal,, sampai...
Bug...
"Aduh...!!!"Teriak Ana saat kening nya seperti menabrak sesuatu yang sangat keras, sambil meringis dan memegang kening nya,Ana mengangkat wajahnya.
Deg...
"Kamu punya mata Ana..??"Tanya Fidy menatap kesal Ana, karena Ana sudah menabrak dada bidang nya.
"Waduh,,gawat ini..."Ucap Ana dalam hati dengan hati berdebar.
__ADS_1
"M..maaf.."Ucap Ana sambil menunduk dan menggigit bibir nya.
Fidy menarik napas menatap Ana tajam, kemudian tangan nya mengangkat dagu Ana yang sedang menunduk.
Seketika netra mereka pun bertemu.
"A..aku mau ganti pakaian dulu..."Ucap Ana semakin gugup dengan dada berdebar kencang.
"Kenapa kejadian ini terus terulang-ulang sie.."Gerutu Ana dalam hati sambil menggigit bibir nya.
"Mau aku temani...??"Tanya Fidy menggoda, sambil berbisik lembut di telinga Ana.
Tentu saja membuat tengkuk leher Ana meremang merasakan sapuan hangat napas Fidy.
"Ish.. laki-laki ini menyebalkan sekali..."Gerutu Ana dalam hati.
"Kenapa diam saja, kamu benar-benar minta aku temani atau mau aku gendong...??Tanya Fidy dengan senyum nakal nya.
"Tidak perlu...!!!"Teriak Ana sambil mendorong Fidy saat tangan nya ingin memeluk pinggang Ana.
Saat Fidy kaget dan sedikit menjauh dari Ana karena dorongan yang dia lakukan sekuat tenaga, membuat Fidy lengah, dan kesempatan itu di pakai Ana untuk berlari menjauhi Fidy menuju kamar nya.
"Si*l,.. dasar kelinci nakal...!!"Umpat Fidy sambil menatap punggung Ana yang berlari menuju kamar nya.
Senyum licik pun terpancar di wajah Fidy.
Ana segera mencuci muka dan mengganti pakaian nya,serta memoleskan sedikit make up tipis di wajah nya.
Ana tertegun saat melihat pantulan wajah nya di cermin.
"Kenapa jantung ini berdetak lebih kencang...??"Tanya Ana pada diri sendiri sambil memegang dada nya.
"Seharusnya aku tidak perlu tampil lebih baik di depan laki-laki itu.."Gumam Ana yang merasa aneh, kenapa dia mau menuruti kata-kata bi Minah untuk tampil lebih baik di depan suami nya.
"Up's suami...??"Tanya Ana lagi pada diri sendiri sambil tersenyum kecut, membuat nya kembali menyadari jika dia nikahi hanya secara siri dan kapan saja bisa di campakkan, bahkan dia hanya calon Surrogate Mother untuk pasangan yang menginginkan keturunan.
Kembali Ana merasakan luka di hati nya, membayangkan jika selama ini dia di besarkan hanya sebagai alat balas dendam, bahkan diri dan rahim nya pun tidak ada harga nya sama sekali, walaupun sampai sekarang keadaan dan hidup nya masih baik-baik saja.
Ana menarik napas dalam-dalam kemudian membuang nya berlahan, mencoba menenangkan perasaan nya, dengan langkah gontai Ana keluar dari kamar nya.
********
Ana sudah sampai di taman, tampak bi Minah, mang ujang, Wira dan pak Tarjo sedang menikmati bakso sambil bercengkerama, sesekali senyum dan tawa menghiasi wajah mereka.
Ana tersenyum bahagia melihat kebahagiaan di wajah mereka, apa lagi mereka menyantap bakso buatan nya dengan lahap, itu menandakan jika bakso yang di buat nya enak.
__ADS_1
Melihat kedatangan Ana mereka pun segera menghentikan makan dan obrolan mereka.
"Nyonya, maaf jika kami makan duluan..."Ucap mang Ujang.
"Iya, Nyonya karena tuan yang menyuruh.."Ucap pak Tarjo.
Sedangkan Wira menatap Ana sangat lekat, senyum tipis menghiasi bibir nya.
"Wira, jaga pandangan mu...!!"Bisik bi Minah penuh penekanan.
Wira pun langsung menunduk kan pandangan nya dari Ana.
"Nyonya, di tunggu tuan di taman sana.."bi Minah berkata sambil menunjuk sebuah ukiran bangku kayu yang unik yang berada di tengah taman.
Ana pun melihat ke arah yang di tunjuk bi Minah, tampak Fidy sedang duduk membelakangi mereka, terlihat dari belakang tampak Fidy sedang sibuk menelepon.
"Baik bi, teruskan makan kalian, kalau kurang nambah saja, stok bakso nya masih banyak ko.."Ucap Ana tersenyum.
"Terimakasih Nyonya.."Jawab pak Tarjo dan mang Ujang bersamaan, sedang kan Wira tetap menundukkan wajah nya tidak berani menatap Ana.
Ana mengangguk dan tersenyum.
Bi Minah memberi kode kepada Ana untuk segera menghampiri Fidy, dengan wajah malas Ana pun melangkah mendekati Fidy, wanita setengah baya yang masih terlihat ayu itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Ana.
Saat Ana sudah berada di belakang Fidy.
"Segera berikan fasilitas untuk orang tua nya,aku tidak mau dia kembali ke Indonesia, sebelum istri ku benar-benar melupakan nya...!!!"Ucap Fidy kepada orang di seberang sana dengan penuh penekanan.
Fidy tidak menyadari kehadiran Ana.
"Siapa yang di suruh nya menetap di Jerman..??"
"Apakah kekasih Nyonya Laura...??"
************
Apa sebenarnya yang di rasakan Wira kepada Ana?
Kalian tahu pasti siapa orang yang di maksud Fidy saat di telepon.
Jangan lupa untuk selalu ikuti setiap bab nya.
Mohon maaf ya belum bisa up setiap hari.
Jangan lupa mampir ke novel pertama author yang sudah tamat
__ADS_1
.