
Bab 90
"Jodoh Tak Pernah Salah Memilih"
Fidy menghela napas, dan mengusap wajah nya kasar.
"Mencintai tidak harus memiliki, aku ingin kamu bahagia Ana..."Ucap Fidy, sambil memejamkan mata nya, dan menyandarkan kepala nya di sandaran sofa.
"Maaf kan aku yang telah merebut kebahagiaan mu, seandai nya aku tidak egois, mungkin kebahagiaan akan selalu hadir dalam hidup mu..."Ucap Fidy lagi, yang membuat dada nya terasa sangat sesak, dan mata nya mulai terasa memanas.
Buliran hangat pun tak bisa di tahan nya lagi, hati nya terasa begitu sakit, 10 tahun dia menunggu, tapi baru beberapa bulan memiliki nya, sekarang dia harus rela melepaskan nya.
"Sesakit ini kah..??"Apa ini yang di rasakan Ana saat perpisahan nya dengan Satria..??"Ucap Fidy, di temani dengan buliran hangat yang sudah keluar dari sudut mata nya.
Untuk beberapa saat Fidy tenggelam dengan pikiran dan kesedihan nya, sampai akhir nya suara ponsel menyadar kan nya.
"Jimmy..."Gumam Fidy, sambil menekan tanda hijau di ponsel nya.
"Hallo Jim..."Ucap Fidy saat panggilan tersambung.
"Hai, kenapa suara seorang Fidy Eka Sakti begitu lemah...??"Tanya dokter Jimmy, dengan nada suara sedikit mengejek.
"Datang lah setelah magrib kesini..."Jawab Fidy, yang saat ini sedang malas untuk banyak bicara, apa lagi berdebat dengan dokter Jimmy.
"Oke.."Jawab dokter Jimmy, memutuskan panggilan.
Fidy menarik napas dalam-dalam dan membuang nya kasar, dia pun bangkit dari sofa menuju kamar mandi.
Guyuran dingin air shower, mampu menghilangkan sedikit penat dan kegalauan di hati nya, sambil memakai handuk kimono Fidy keluar dari kamar mandi.
Dia pun meraih ponsel nya, dan menghubungi seseorang.
"Apakah dia sudah makan...??"Tanya Fidy, saat panggilan tersambung.
"Baik, aku akan segera kesana..."Ucap Fidy menutup ponsel nya.
Dia pun segera memakai pakaian, dan langsung keluar menuju meja makan, tampak Ana sudah duduk di sana.
Walaupun wajah nya masih pucat dan mata nya masih sangat terlihat sembab, tapi penampilan Ana terlihat sangat segar dengan rambut nya yang basah.
Wajah nya yang polos tanpa make up, benar-benar memancarkan aura kecantikan yang membuat Fidy sangat terpesona, untuk beberapa kali Fidy merasakan jatuh cinta kepada Ana.
Apa lagi saat Ana tersenyum tipis menyambut kedatangan nya.
"Hai, bidadari surga ku..."Ucap Fidy sambil menghampiri Ana, dan mencium kening nya.
Wajah pucat Ana pun langsung memerah, dan reflek dia langsung mengigit bibir bawah nya, Fidy menatap nya sesaat dengan tersenyum.
Perasaan gemas, bercampur dengan perasaan sedih.
"Apakah aku kuat untuk melepaskan mu...??"Tanya Fidy dalam hati, tatapan hangat nya berubah menjadi tatapan nanar.
"Ayo kita makan sayang, hari ini kita sudah melewati makan siang.."Fidy berkata sambil mengambil nasi dan beberapa lauk ke dalam piring.
__ADS_1
Kemudian menyendok nya, dan memberikan nya ke mulut Ana.
"Aku bisa makan sendiri, kamu juga belum makan mas.."Ucap Ana, sambil menahan sendok yang akan masuk ke mulut nya.
"Aku akan makan setelah ini sayang.."Fidy berkata sambil kembali memasukkan satu sendok berisi nasi dan lauk ke mulut Ana.
Ana pun membuka mulut nya, dan menerima suapan dari Fidy, senyuman pun mengembang di antara mereka, dengan saling menatap hangat.
Ana pun mengambil sendok, kemudian menyendok nasi dan lauk di piring yang sedang di pegang Fidy.
Fidy mengerutkan kening nya, tapi saat dia ingin protes, Ana langsung menyuapi nya, dan satu sendok dengan lauk nya pun langsung sukses masuk ke perut Fidy.
Mereka kembali saling menatap dan melempar senyum.
"Ya Tuhan, bisa kah waktu langsung berhenti saat ini juga..."Ucap Fidy dalam hati, sambil menatap nanar Ana.
Mereka pun sama-sama saling menyuapi, dengan senyuman dan tatapan bahagia.
Bi Minah yang melihat dari kejauhan ikut tersenyum bahagia, tapi tiba-tiba wajah nya berubah menjadi sendu, seperti tahu apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka.
**********
Tahlilan pun di laksanakan dengan khusyu, setelah selesai para tetangga yang hadir satu persatu meninggalkan kediaman Fidy.
Saat Fidy sibuk menyalami semua orang yang hadir, tiba-tiba pundak nya di tepuk pelan oleh seseorang.
"Hai bro, are u oke...??"Ucap orang itu yang tak lain dokter Jimmy sambil tersenyum.
Dokter Jimmy pun mengikuti langkah Fidy.
"Bagaimana keadaan Ana sekarang...??"Tanya Fidy, saat mereka sudah duduk di kursi.
Fidy menarik napas, dan membuang nya kasar.
"Gw hanya menciptakan kesedihan dan penderitaan untuk nya..."Fidy berkata sambil mengusap kasar wajah nya.
Dokter Jimmy menghela napas.
"Lo yakin untuk melepas Ana..."Tanya dokter Jimmy, menatap tajam Fidy.
"Melepaskan untuk membahagiakan nya..."Jawab Fidy, sambil memijit kening nya sendiri.
"Lo yakin Ana akan bahagia.??"Tanya dokter Jimmy, menatap tajam Fidy, sambil tersenyum smirk.
Fidy tidak menjawab pertanyaan dokter Jimmy, dia hanya menatap dokter Jimmy penuh tanya, sambil mengerutkan kening nya.
Dokter Jimmy tertawa kecil.
"Gw ga terlalu kenal Ana, gw juga ga tahu hubungan lo sama dia, tapi gw yakin kalau dia mulai mencintai lo..."Dokter Jimmy berkata, dengan ekspresi yang serius.
"Ana hanya melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang istri saja..."Jawab Fidy.
"Wah berarti, kalian sudah..."Dokter Jimmy berkata, sambil menaik turun kan alis nya menggoda Fidy.
__ADS_1
"Kecuali yang satu itu..."Dengus Fidy kesal.
Dokter Jimmy terdiam sesaat, sampai akhir nya tertawa terbahak-bahak, membuat pak Tarjo, bi Minah, dan mang Ujang menengok ke arah mereka.
Fidy melempar kan bantal yang berada di kursi ke arah dokter Jimmy, yang sedang tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata, sambil memegangi perut nya.
"Lo bisa ga sie berhenti ketawa...??"Hardik Fidy, dengan wajah yang mulai memerah.
"Santai dong bro, hidup jangan terlalu di bawa serius, gw aja dokter tapi hidup gw santai..."Jawab dokter Jimmy, yang ketawa nya mulai mereda.
"Oh iya bro, gw lihat sudah tidak ada lagi polisi yang berjaga..??"Tanya dokter Jimmy, sambil berbisik di telinga Fidy.
"Hari ini gw sama Ana memutuskan untuk tidak ada penjagaan lagi.."Jawab Fidy.
"Maka nya gw ingin bertemu sama dia, gw yakin bersama nya Ana akan jauh lebih baik dan aman.."Jawab Fidy lagi.
"Gw juga ingin fokus menyelesaikan kasus-kasus pembunuhan yang di lakukan oleh bajingan tua itu..."Fidy berkata, dengan kilatan amarah di bola mata nya.
"Oke, apa pun keputusan dan langkah lo, sebagai sahabat gw selalu mendukung.."dokter Jimmy berkata sambil menepuk pelan pundak Fidy.
"Bagaimana perkembangan Laura...??"Tanya Fidy, sambil menatap wajah dokter Jimmy.
"Lo nanya tentang Laura, bukan karena lo kangen sama dia khan..??"Tanya dokter Jimmy, menatap Fidy.
Fidy tidak menjawab, dia hanya menatap tajam dokter Aryo, sedang kan dokter Jimmy hanya nyengir kuda, memperlihatkan deretan gigi nya yang putih dan rapi.
"Lo pasti sudah nebak, Laura wanita seperti apa..??"Dokter Jimmy berkata, sambil tersenyum penuh arti
"Lo tidur sama dia..??"Tanya Fidy.
Dokter Jimmy tertawa lagi, tapi tidak sekencang tadi.
"Lo tau ga bro, cuma laki-laki bodoh yang ga mau di ajak tidur sama dia.."Bisik dokter Jimmy, sambil tertawa kecil.
"Yang bodoh itu laki-laki yang mengedepankan nafsu, bukan cinta.."Jawab Fidy dengan wajah sinis.
Dokter Jimmy kembali tertawa, mendengar perkataan Fidy.
"Mas Fidy.."Suara panggilan seorang wanita, membuat obrolan mereka terhenti.
Mereka pun menoleh, dan mereka pun terkejut dengan kehadiran wanita itu.
*************
Ayo siapa kah wanita itu...???
Kepada siapa kah Fidy menyerah kan Ana...???
Ikuti terus kelanjutan nya, masih panjang cerita nya dan pasti nya makin seru.
Yeay author ngeluarin novel yang benar-benar masih baru banget nie, buat ikutan lomba "You are Writer Season 8", minta dukungan dari kalian reader setia author 🥰👇
__ADS_1